
-Kelas 11 B.
"Baiklah anak-anak, silahkan kumpulkan tugas yang sudah Ibu beri kepada kalian! Kumpulkan di meja depan sekarang!" suruh Bu Yati.
"Baik Bu," jawab semua murid yang kemudian bergegas untuk mengumpulkan tugas makalah kerja kelompok mereka.
"Biar gua aja Lan lo di sini aja," ucap Riza yang ingin mengumpulkan tugas kerja kelompok mereka.
"Iyah," angguk Alan, lalu melihat Riza maju ke depan untuk menaruh makalah tugas kerja kelompok mereka tersebut di atas meja guru.
Akhirnya Bu Yati mengecek satu persatu tugas mereka, dengan pulpen merah ditangan kanannya.
"Kira-kira kita dapet berapa yah Za?" tanya Alan merasa cemas kepada teman yang sedang duduk disebelahnya, Riza. Ngapain harus cemas, padahal kan bukan rapotan.
"Udahlah Alan, santuy aja jadi orang, tenang, kita pasti dapet nilai tertinggi di kelas," balas Riza dengan percaya dirinya berbanding terbalik dengan Alan.
Tak lama kemudian, akhirnya Bu Yati sudah selesai mengoreksi tugas kerja kelompok semua anak, dan sekarang dia sudah siap untuk mengumumkan sesuatu.
"Baiklah, dari hasil tugas yang sudah Ibu periksa yang berhasil mendapatkan nilai terbaik adalah...." ucap Bu Yati semangat menjeda perkataannya, untuk menambah rasa tegang kepada semua anak. "Cepetan kenapa Bu!" pikir mereka tak sabar.
"Siapa siapa?" batin Alan penasaran.
"Riza dan Alan, selamat yah tugas makalah kalian berdua bagus sekali!" sambung Bu Yati kepada Alan dan Riza, semua murid hanya bisa terdiam menatap iri sekaligus tak percaya.
"Ck, kalau tahu begini gua satu kelompok aja sama si Alan, biar di geprek sama kakaknya juga rela gua," decak salah satu siswa.
"Si Alan sama si Riza, haaahh si duo cupu itu dapet nilai tertinggi di kelas, gua gak lagi mimpi kan?" ujar salah satu siswi kepada teman sebangkunya.
"Iyah Bu terima kasih," jawab Alan dan Riza merasa sangat senang, karena hasil kerja keras mereka berdua tidak terbuang sia-sia begitu saja.
"Karna kalian mendapatkan nilai tertinggi dikelas, jadi seperti yang Ibu sudah janjikan waktu itu. Bila, nanti nilai ujian kalian rendah maka kalian berdua tidak perlu ikut ujian ulang atau remidi. Karena nilai kalian sudah tertolong oleh hasil tugas kerja kelompok kalian ini."
"Baik Bu, terima kasih," jawab Alan dan Riza sekali lagi, dengan senyuman yang terus mengembang di bibir mereka.
"Untuk kalian yang masih belum bisa mendapatkan nilai tertinggi jangan berkecil hati," ujar Bu Yati.
"Baiklah, karena sebentar lagi para guru akan mengikuti rapat dan mungkin juga akan berlangsung lama, jadi kalian dipulangkan lebih awal."
"Yeeyyyy pulang cepet, pulang cepet!!!"
"Pulang-pulang!!!"
"Woooaaaahhhh, guys entar langsung kumpul di sana oke!!" riuh seluruh siswa bersorak gembira, seraya menggebrak-gebrak meja. Tak sadar kalau Bu Yati masih berdiri di hadapan mereka, menatap tajam ke seluruh anak yang menurut dirinya sudah hilang akal.
"Pulang cepet woey, coba tiap...."
"Ssshhhtt diem Jono! Masih ada guru tuh!" tegur salah satu siswi kepada temannya, Bu Yati masih berdiri dengan sorotan matanya yang tajam. Kelas seketika menjadi hening tak bersuara.
"Dasar anak jaman sekarang, giliran pulang cepet aja seneng, tadi waktu pelajaran wajahnya pada pucet," batin Bu Yati merasa heran kepada kelas yang dihuni oleh anak-anak pintar tapi akhlaknya perlu di servis semua.
"Ya sudah langsung pulang! Gak usah mampir kemana-mana, kalau nanti sampai ketemu Ibu dijalan masih pake seragam sekolah, saya pecel kalian!" ancam Bu Yati seraya menunjukkan kedua kepalan tangan mautnya.
Semua murid hanya bisa menelan ludah dan mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sungguh menakutkan!
__ADS_1
"Saya permisi, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh!" pamit Bu Yati lalu berjalan pergi meninggalkan kelas.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh Bu!"
"Alan!" panggil Riza.
"Iyah?" tanya Alan yang sedang sibuk memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas ransel.
"Lo langsung pulang?"
"Iyah, emang kenapa?" balas Alan berbalik bertanya.
"Owh nggak apa-apa kok, eemmm hati-hati yah!"
"Iyah, makasih yah!" balas Alan.
"Gua beneran gak nyangka, kalau kita berdua bakal dapet nilai tertinggi dikelas," ujar Riza.
"Iyah aku juga."
"Nanti kapan-kapan, kalau seumpama ada tugas kerja kelompok lagi.... kita satu kelompok lagi yuk!" ajak Riza kepada Alan, membuat kedua bola mata remaja itu membulat.
"Iyah!" angguk Alan senang.
...********...
Selesai makan siang bersama di restoran, akhirnya ketiga lelaki itu memutuskan untuk pulang menuju ke kediaman Elang.
Sesampainya di sana....
"Biasa aja," lirih Elang menjawab, lalu berjalan mendahului Andhika.
"Mari tuan Andhika!" ujar sekretaris Ken mempersilahkan.
"Iyah," angguk Andhika, lalu segera menyusul Elang masuk ke dalam rumahnya.
-Di dalam rumah.
"Mana Alan?" tanya Andhika.
"Dia masih sekolah, tunggu aja," balas Elang seraya melepaskan jas, dan memberikannya kepada salah satu pelayan. Lalu berjalan menuju sebuah sofa dan duduk.
"Hm oke," balas Andhika ikut duduk di sofa dekat Elang.
"Bi Ana, tolong buatkan kami minuman!" pinta Elang kepada seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Baik tuan, segera saya buatkan," balas Bi Ana kepada tuannya, lalu segera pergi untuk membuatkan minuman.
"Assalamualaikum Kakak, Alan pulang!" salam Alan masuk ke dalam rumah dengan menaiki kursi rodanya.
"Waalaikumussalam, Yoo Alan!"
"Loh, Kakak Andhika ada di sini juga?!" kejut Alan melihat Andhika yang sedang duduk berdua bersama Kakaknya di ruang tamu.
__ADS_1
"Waalaikumussalam, kau pulang cepat Alan," balas Elang.
"Iyah kak, guru Alan sedang ada rapat jadi kami semua dipulangkan lebih awal," jawab Alan.
"Kalau begitu, Alan pergi ke kamar dulu yah kak, mau ganti baju."
"Iyah," balas Elang, lalu melihat Alan adiknya berlalu pergi menuju kamarnya.
...********...
-Di dalam kamar Alan.
Selesai berganti pakaian, Alan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
/Drrrtt drrrtt/ getar ponsel Alan, membuat tangan laki-laki itu meraba laci meja yang berada di samping kasurnya, untuk mengambil sebuah handphone.
Alan membuka notif pesan tersebut dan membacanya.
...-Nomor tidak dikenal-...
Orang asing: "Assalamualaikum!"
"Eh ini nomernya siapa?" gumam Alan bertanya.
^^^Alan: "Waalaikumussalam, ini siapa?"^^^
Orang asing: "Hehehe ini gua Riza, save yah!"
^^^Alan: "Owalah kamu, kirain siapa"^^^
Orang asing: "Iyah, lo lagi apa? Gua bosen nih, kalau lo ada waktu luang keluar yuk!"
"Keluar? Aku sih mau tapi kakak," batin Alan seketika merasa kecewa, ia tahu pasti Kakaknya tidak akan mengizinkan dirinya untuk keluar bersama temannya.
Alan hendak mengetik sebuah pesan, tapi tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
"Hallo Alan!" sapa Andhika.
"Kak Andhika bikin orang kaget aja!" sebal Alan kepada Andhika yang sempat membuat dirinya terkejut, Alan tadi mengira kalau itu adalah Elang.
"Ciiieee lagi chat an sama siapa hayo?" goda Andhika kepada Alan.
"Nggak sama siapa-siapa," balas Alan kesal mengerutkan keningnya.
"Iyah-iyah, kumpul di luar yuk bareng-bareng, jarang-jarang tahu bisa kayak gini," ajak Andhika.
"Iyah," angguk Alan.
"Kak Andhika bantuin yah!" ucap Andhika lalu membantu Alan untuk duduk di atas kursi rodanya, lalu mendorongnya menuju keluar kamar.
Baru saja mereka sampai di ruang keluarga, kedua bola mata mereka sudah dikejutkan dengan pemandangan di depan sana.
"TUAN ANDHIKA, TOLONG BANTU SAYA!!!" teriak sekretaris Ken meminta bantuan.
__ADS_1
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...