
..."Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu kembali dengan Adikku. Tetapi Tuhan belum memberiku kesempatan, untuk dia bisa mengenali siapa diriku."...
...-Garuda Alvian Putra-...
...********...
Setelah Alan telah terlebih dahulu pulang karena sudah dijemput oleh sopirnya. Sama dengan Al, selepas selesai melepas penat sehabis bekerja. Dirinya segera pergi menuju parkiran sekolah untuk mengambil sepeda kayuhnya.
Al pun pulang dengan mengendarai sepeda kayuhnya, menuju kost-kostan tempat dirinya tinggal.
Sesampainya di sana....
-Tempat kost.
Al memarkirkan sepeda kayuhnya itu di teras rumah, membuka pintu kamar kostnya yang terkunci, dan dengan segera masuk ke dalam.
Ia langsung bersiap-siap untuk mandi, membersihkan badannya terlebih dahulu yang sudah berbau keringat.
Beberapa menit kemudian....
Selesai membersihkan badan, Al mengenakan baju abu-abu polos dengan bawahan celana hitam selutut. Berjalan pergi ke ruang tengah untuk menonton televisi dan menyalakan kipas angin.
Dia hanya memencet-mencet tombol remote televisi di tangannya, dia terus-menerus mengganti saluran televisi tersebut. Ia merasa bosan, tidak ada channel yang menarik untuk dirinya tonton.
Lalu /tok tok tok/ terdengar suara ketukan dari pintu rumah, membuat Al berdiri dari tempat duduknya berjalan untuk membukakan pintu tersebut.
"Iyah siapa?" tanya Al sembari membuka pintu rumahnya, raut wajahnya yang tadi hanya biasa saja kini tertekuk berubah menjadi lebih dingin dan datar. Selepas tahu siapa yang sedang berdiri di hadapannya sekarang.
"Halo Nyonya putra, ada perlu apa anda datang kemari?" sambungnya terdengar sinis.
"Garuda!" panggil Ibunda dengan mata berkaca-kaca.
"Garuda? Siapa Garuda?" balas Al ketus.
"Saya Al bukan Garuda, anak pembantu yang orang tuanya pernah bekerja di rumah anda bukan?" sambung Al membuat sang Ibunda menitikkan satu air mata, dirinya merasa menyesal karena telah mengatakan hal itu.
"Garuda, ini Bunda Garuda. Kamu sudah besar sekarang nak. Apa kamu sudah lupa dengan orang yang melahirkan mu ke dunia ini sayang?" ucap sang Ibunda sembari memegang tangan anaknya itu.
"Cih lupa?" ulang Al berdecak sebal.
"Bukankah kalian yang sudah lupa, untuk menjemput anak ini beberapa tahun yang lalu," ujar Al seperti ada sambaran petir besar menyambar tubuh Ibunda. Membuat dirinya kembali teringat akan peristiwa itu.
__ADS_1
"Dulu, kalian berdua berjanji kepada anak kecil ini. Kalian berjanji akan menjemput ku dari panti asuhan setelah satu bulan," ucap Al mengenang kembali masa lalunya.
"Kalian menelantarkan ku seperti halnya diriku tidak mempunyai orang tua, seperti tidak mempunyai sebuah keluarga, kalian menjauhkan ku dari Elang. Dan bahkan sekarang aku sudah mempunyai satu adik lagi, tetapi dirinya bahkan tidak mengetahui bahwa aku adalah Kakak pertamanya."
"Apa Bunda tahu?! Dulu sewaktu kecil saat aku masih tinggal di panti asuhan Abyakta. Aku selalu menunggu seperti orang bodoh di depan pintu gerbang panti asuhan, menunggu mobil Ayah datang untuk menjemput aku pulang," jelas Al, membuat sang Ibunda yang mendengarnya hanya bisa terdiam seraya menangis.
...#Flash back#...
-Di depan pintu gerbang panti asuhan Abyakta.
Terdapat seorang anak kecil berbaju garis-garis, sedang memegang pagar besi pintu gerbang dengan tatapan tertuju ke arah depan, ke arah jalan raya di sana.
"Ayah, Bunda!" panggilnya memanggil kedua orang tuanya yang tak kunjung datang juga untuk menjemput dirinya, ini sudah lebih dari satu bulan.
"Garuda pingin pulang, Garuda pingin main bareng lagi sama Adik Elang," gumamnya dengan tatapan masih lurus ke arah jalan raya.
"Garuda!" panggil seorang wanita pengurus panti asuhan kepada Al.
"Kamu ngapain ada disini? Ayo masuk! Teman-teman kamu pada nyariin loh mau main bareng lagi sama kamu."
"Enggak!" tolak Al menggelengkan kepalanya.
Si wanita pengurus panti asuhan hanya bisa menatap anak itu kasihan, orang tuanya sudah tidak menghubungi panti asuhan sejak mereka menitipkan putranya di sana. Seperti telah menyerahkan sepenuhnya anak itu kepada mereka.
Tetapi, anak kecil bernama Garuda Alvian Putra itu masih berharap bahwa kedua orang tuanya akan datang menjemput dia sekarang. Membawanya kembali pulang ke rumah.
"Garuda sayang, sekarang sudah mau malam," balas si wanita pengurus panti asuhan itu sembari berjongkok mengelus kepala Al.
"Tapi Garuda mau nungguin Ayah sama Bunda," ujar Al dengan suara serak.
"Besok, besok pasti Ayah sama Bunda Garuda dateng buat jemput Garuda."
"Beneran Kakak?" tanya Al kembali antusias.
"He em iyah, besok pasti Garuda pulang. Sekarang Garuda masuk dulu yah, sudah mau malam entar ada hantu loh!"
"He em iyah kakak," balas Al menurut apa yang wanita pengurus panti asuhan itu katakan.
...#Flash back off#...
...*********...
__ADS_1
"Wanita itu selalu bilang, besok besok besok dan besok!" ucap Al penuh penekanan selepas mengenang masa lalunya.
"Aku yang dulu masih kecil selalu percaya dengan apa yang wanita pengurus panti asuhan itu katakan, aku selalu menunggu kedatangan kalian untuk menjemput ku di sana."
"Hingga aku mulai beranjak remaja dan paham, kalau apa yang dikatakan wanita pengurus panti asuhan itu hanyalah kebohongan. Dirinya hanya ingin menghibur diriku saja."
"Dan saat itu juga aku mulai menyadari. Kalau keluarga ku sendiri ingin membuang ku, mencampakkan ku, dan tidak pernah ingin mempunyai anak seperti diriku."
"Tidak sayang, itu salah nak!" tangis sang Ibunda merasa bersalah.
"Ayah sama Bunda sayang sama Garuda, kami berdua mencintai kamu sayang," sambung Ibunda lalu membuat Al terkekeh geli mendengarnya.
"Hahahaha sayang?" ulang Al tertawa.
"Pulanglah Bunda! Kalau memang Bunda masih menganggap ku sebagai anak maka pergilah! Jangan pernah untuk mencoba menemui diriku lagi!"
"Aku sudah tidak butuh dengan apa yang namanya keluarga. Bagaimana Ayah? Apakah sekarang dia sudah kaya raya dan menyandang status sebagai pemilik perusahaan terkenal."
"Aku yang mendengarnya saja sudah merasa jijik. Memiliki kekayaan melimpah, mobil mewah, rumah besar, tetapi dari hasil membuang anak kandungnya sendiri di panti asuhan. Sebab dulu tidak mampu menafkahi kedua anak laki-lakinya."
Yah, dulu keluarga Putra tak sesukses dan seterkenal sekarang. Bahkan, dulu perusahaan milik Tuan Putra banyak sekali yang bangkrut bahkan tidak bisa berjalan lagi.
Karena keterbatasan ekonomi, dan sudah hampir tidak memiliki uang lagi, serta tabungan mereka juga sudah terkuras habis. Tuan Putra memiliki ide gila, untuk menitipkan salah satu putranya yakni Garuda Alvian Putra yang pada saat itu masih kecil berusia tujuh tahun ke panti asuhan Abyakta.
Karena Elang yang pada saat itu masih bayi dan digendong oleh Ibundanya. Tuan putra berpikir, dengan dititipkannya Al di panti asuhan maka tanggung jawab untuk menafkahi keluarga bisa berkurang.
"Dia itu tetap Ayah kamu Garuda!" ucap Ibunda sedikit meninggikan nada suaranya.
"Tetapi seorang Ayah tidak akan pernah tega membuang putra kandungnya sendiri Bunda!" sahut Al sedikit membentak.
"Pulanglah Bunda! Jangan sampai aku berkata kasar untuk meluapkan semua kebencian ku kepada kalian selama ini. Bunda pasti tidak mau mendengarnya bukan?" sambung Al mulai menurunkan nada bicaranya.
"Tidak ada gunanya Bunda datang kemari, aku sudah tidak berniat untuk kembali ke rumah itu lagi," ujar Al, lalu langsung menutup pintu rumahnya.
"Garuda, sayang! Buka pintunya nak, Bunda masih ingin bicara sama kamu!" pinta Ibunda sembari terus-menerus menggedor pintu.
Sedangkan Al masih berada di belakang pintu tersebut, dirinya mendengar Ibundanya tengah memanggil-manggil namanya. "Kenapa kalian harus kembali ke dalam kehidupan ku lagi?" ucap Al dengan setetes air mata melewati pipinya.
"Apa kalian berpikir, luka yang sudah ada selama bertahun-tahun dapat disembuhkan dengan satu kata maaf saja?" batinnya kecewa.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1