
"Yaudah-yaudah, nak Angga kamu mau duduk sama siapa?" sambung Bu guru bertanya.
"Saya mau duduk bersama anak yang bernama Alan bu," pinta Angga kepada Bu guru lalu menoleh ke arah Alan. Para anak perempuan yang tak percaya sekaligus merasa cemburu kepada Alan, seketika semua tatapan penuh kebencian dan rasa amarah menyoroti dirinya.
"A-apa?" ucap Alan sedikit merasa ketakutan dengan semua tatapan yang terasa aura ingin membunuhnya, sungguh mengerikan.
"Baiklah kalau begitu, Alan kamu duduk dengan Angga," ucap Bu guru lalu mempersilahkan Angga untuk berjalan menghampiri Alan, ia pun lalu duduk di sampingnya.
"Kenapa kau ingin duduk bersamaku Angga?" tanya Alan pelan.
"Tentu saja, karena anda adalah tanggung jawab saya Tuan, sebagai bodyguard saya harus selalu berada di sisi anda," balas Angga.
"Hm, baiklah."
"M-mmm Angga," sambung Alan.
"Iyah?"
"Hanya di sekolah saja, jangan panggil aku dengan sebutan Tuan, cukup Alan saja," pinta Alan kepada Angga, lalu dibalas anggukan olehnya,
"Baik, Alan."
"Mungkin akan terasa sedikit aneh bagi saya, tapi saya akan berusaha untuk mencobanya."
Akhirnya pelajaran pun dimulai, Ibu guru yang sedang sibuk menulis di papan putih mengenai pelajaran yang sedang mereka bahas hari ini.
"Silahkan ditulis dulu anak-anak, kalau sudah selesai akan Ibu terangkan," ucap Bu guru.
Seluruh murid mengerjakan apa yang Ibu guru perintahkan, ditengah-tengah jam pelajaran Alan sama sekali tidak bisa fokus. "Udah kebelet nih," batin Alan yang ingin segera pergi ke kamar kecil.
"Bu!" panggil Alan kepada Bu guru, sambil mengangkat tangan kanannya.
"Iyah?" balas Bu guru menatap Alan.
"Saya izin ke kamar kecil Bu!"
"Baiklah, cepat yah!" angguk Bu guru mengizinkan.
"BU!" kini bergantian, Angga juga ikut mengangkat tangan kanannya.
"Yah Angga?" tanya Bu guru kepada murid barunya itu.
__ADS_1
"Saya juga izin ke kemar kecil bu!" pinta Angga membuat Alan terkejut mendengarnya.
"Di-dia," batin Alan mengerenyitkan dahinya.
"Kamu juga? Haah baiklah. Ingat jangan lama-lama, bilangnya ke kamar kecil tapi beloknya ke kantin, awas Ibu akan beri kalian berdua sanksi, walaupun kamu murid baru di sini Angga," ancam Bu guru kepada mereka. Ia tidak ingin tertipu lagi oleh trik murid masa kini, bilangnya ke toilet tapi beloknya ke kantin. Hayo ngaku siapa yang pernah kayak gini?
"Baik Bu," jawab Alan dan Angga, lalu segera pergi keluar kelas untuk melaksanakan ritual mereka.
Alan berjalan menuju ke kamar kecil dengan dibantu Angga untuk mendorong kursi rodanya.
"Kenapa kamu ikut? Emang mau buang air kecil juga?" tanya Alan.
"M-mmmm enggak," jawab Angga.
"Terus?"
"Saya hanya ingin menemani anda Tuan Alan, Tuan Elang menitipkan pesan kepada saya kalau saya harus selalu berada di sisi anda, dan mencatat, serta melaporkan tentang semua kegiatan yang sedang anda lakukan, begitupun juga dengan kondisi kesehatan Tuan," balas Angga membuat Alan menundukkan kepalanya.
"Jadi ini semua karena kakak," gumamnya.
...**********...
Seusai Alan melakukan ritualnya, akhirnya mereka berdua pun kembali menuju ke kelas, dan kembali mengikuti pelajaran.
Sama seperti sebelumnya, Alan pergi ke sana dengan didampingi Angga. Sedetikpun Angga tidak pernah bisa lepas dari sisi Tuannya. Alan hanya bisa menghela napas, ia harus mengerti kalau sekarang dirinya sudah mempunyai seorang bodyguard, Alan harus bisa membiasakan dirinya.
Selanjutnya ke kelas, ke perpustakaan, ruang guru dan tempat yang lainnya, Angga terus berada di sisinya. Hingga membuat beberapa siswa menatap aneh kerah mereka.
...********...
"Baiklah anak-anak, karena bel pulang sudah berbunyi, Ibu akhiri untuk pelajaran hari ini. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh!" salam Bu guru lalu berjalan pergi meninggalkan kelas.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," balas salam semua murid, lalu merapikan dan memasukkan semua buku serta alat tulis mereka ke dalam tas, bergegas untuk pulang.
-Di depan kelas 11 B.
"Tuan!"
"Eh maksud saya Alan," sambung Angga yang sempat salah ucap, ia masih belum terbiasa.
"Hm yah?" tanya Alan.
__ADS_1
"Tadi pagi kepala sekolah mengatakan kepada saya, kalau sepulang sekolah saya harus menemuinya lagi di ruangannya. Jadi, saya pamit pergi ke sana sebentar yah Tuan."
"Baiklah," balas Alan mengiyakan, lalu melihat Angga yang mulai berjalan pergi meninggalkannya.
Tepatnya di koridor sekolah, Angga sempat dihadang oleh dua perempuan yang tidak ia kenal.
"Hai, lo Angga kan?" sapa salah satu dari mereka.
"Iyah, kenapa?" tanya Angga mengangkat satu alisnya.
"Gua mau tanya sesuatu nih, penasaran soalnya," balas siswi temannya, lalu dibalas dehaman oleh Angga sebagai jawaban ya.
"Lo baru kan sekolah di sini, kok udah deket aja sama si Alan? Kemana-mana aja selalu bareng, gua jadi curiga kalau lu berdua gay," sambungnya dengan mengangkat satu sudut bibirnya.
"Hahahaha iyah nih, gua jadi ikut berempati, ganteng-ganteng kok gay. Alan itu cuman cowok lumpuh dan nggak berguna tahu gak, dia bisa sekolah di sini itu cuman karena kepala sekolah takut sama Kakaknya, kalau enggak dia pasti sudah diusir dari sekolah dan jadi sampah. Jadi, daripada lo main sama anak gak jelas kayak dia, mending main sama kita aja," tambah temannya.
"Cih buat apa gua mau main sama kalian?" lirih Angga mendecak, aura remaja itu seketika berubah menjadi menakutkan.
"Kalian berdua yang hanya bisa mencaci maki Alan dan menjelek-jelekkan dirinya, tanpa mengetahui siapa dia sebenarnya. Siapa yang pantas disebut sampah?" sambung Angga menatap jijik ke arah wajah mereka.
"Ma-maksut lo apa hah!" marah salah satu siswi setelah mendengar apa yang Angga katakan.
"Maksud lo kita sampah!?" tambah temannya.
"Haha, sadar diri juga," kekeh Angga lalu berjalan beberapa langkah dan berhenti.
"Gua saranin aja, kalau mau ngomongin orang langsung di depan orangnya aja, lebih asik," lirih Angga tanpa membalikkan badannya lalu kembali pergi melanjutkan langkahnya, membuat kedua siswi itu mendengus sebal.
"Ck, nyesel gua ngomong sama dia," sebal salah satu dari mereka.
Sedangkan di depan gerbang pintu sekolah SMA Garuda Sakti, Alan sudah berada di sana menunggu kedatangan Angga.
"Kok lama?" ucap Alan sembari sesekali menengok ke dalam gerbang, untuk mencari-cari keberadaan bodyguard barunya itu.
"Tuan Alan, maaf telah membuat anda menunggu lama," ujar Angga yang kini sudah berdiri di hadapan dirinya.
"Iyah tidak apa-apa," balas Alan.
"Mari Tuan, saya bantu anda untuk masuk ke dalam mobil."
"Baiklah," angguk Alan, lalu dibantu masuk ke dalam mobilnya dengan bantuan Angga dan Pak sopir.
__ADS_1
"Ada apa dengan Angga? Aura dirinya terasa sedikit berbeda. Apa telah terjadi sesuatu sebelumnya?" batin Alan penasaran.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...