
Akhirnya malam telah tiba, bintang pun bercahaya menghiasi langit angkasa dengan rembulan yang tak kalah indahnya, ikut merasa senang dan gembira merayakan hari ulang tahun seorang remaja bernama Alan yang kini sudah genap 18 tahun usianya.
-Di dalam kamar Alan.
Laki-laki itu sekarang tengah bersiap-siap, berbaju rapi dan riasan rambut yang tampan, semuanya sudah selesai. Hanya saja, ada sesuatu yang menggangu hati kecilnya, ia merasa belum siap untuk pergi keluar dari dalam kamarnya, dan merayakan hari ulang tahunnya bersama semua orang di luar sana.
"Ulang tahun kali ini, terasa begitu hampa bagi Alan," ucap Alan menatap sedih ke arah cermin besar itu.
"Ulang tahun semewah apapun, tidak akan ada gunanya jika kakak Elang tidak ikut," sambungnya tersenyum kaku.
...#Flash back#...
Kala itu, disaat semua orang masih terlelap dalam tidurnya, pukul satu pagi dini hari seorang anak kecil belum juga tertidur dan sedang sibuk untuk menyiapkan sesuatu.
-Di dalam kamar Elang dan Alan.
"Alan Adek, bangun!" suruh Elang yang masih kecil berusia delapan tahun, tengah sibuk membangunkan Alan yang masih berusia enam tahun.
"Alaaannn ayo bangun!" suruh Elang sekali lagi sembari menggoyang-goyangkan tubuh Alan sedikit keras.
"Hoaaammm apa sih Kakak!" balas Alan menggeliat dan masih memilih untuk melanjutkan tidurnya.
"Ayo bangun!" pinta Elang mulai geram. Alan yang mendengar Kakaknya merasa kesal, dengan rasa terpaksa akhirnya Alan pun duduk dengan mata yang masih mengantuk.
"Apa sih Kak?" tanya Alan sambil mengusap kedua matanya, dirinya berusaha untuk mengumpulkan seluruh nyawanya terlebih dahulu.
"Kakak punya kejutan buat Alan," ucap Elang yang seketika membuat kedua mata Alan langsung menyala.
"Hah, apa itu Kak?" ucapnya antusias.
"Ikut Kakak yuk!" ajak Elang, lalu mengajak Alan pergi keluar kamar menuju ke suatu tempat.
Elang yang terus berjalan sembari menggandeng tangan Adiknya, dan Alan dengan kondisi mata mengantuk masih berusaha untuk tetap terjaga, dengan mereka berdua masih mengenakan baju tidur bergambar beruang. Sungguh menggemaskan!
"Kakak kita mau kemana?" tanya Alan yang sedari tadi tidak bisa berhenti menguap, rasa antusias akan kejutan yang ingin dirinya ketahui perlahan-lahan mulai menghilang, pikirannya terus membayangkan tentang kasur empuk dan boneka pinguin lembutnya di kamar. Sungguh menggoda.
"Sabar Alan, sebentar lagi kita sampai," balas Elang sembari masih memegang tangan mungil Adiknya.
Cukup lama sepasang kaki mungil itu menjelajah, akhirnya sampailah mereka berdua ditempat yang Elang maksud.
-Di dapur.
"Yey kita sudah sampai," ucap Elang merasa senang.
__ADS_1
"Dapur? Ngapain kita ke dapur Kak?" tanya Alan yang masih tidak mengerti dengan apa yang Kakaknya itu maksud.
Elang tidak menghiraukan pertanyaan dari Alan, ia langsung menggandeng tangan Adiknya dan menyuruhnya untuk duduk di sebuah kursi. "Kamu duduk di sini dulu yah!" suruh Elang.
"Iyah," angguk Alan lalu melihat Kakaknya pergi untuk mengambil sesuatu.
Beberapa saat kemudian....
"Kakak Elang kemana sih? Kok Alan ditinggal sendirian," ucap Alan bertanya-tanya, Kakaknya itu belum kunjung datang juga.
"Selamat ulang tahun Alan!" ujar Elang yang seketika langsung membuat Alan menoleh ke arahnya, ia melihat Kakaknya Elang membawa sebuah cupcake kecil di kedua tangan mungilnya dengan satu lilin menyala di atasnya.
"Ka-kakak," kaget Alan mendapat kejutan dari sang Kakak.
Dengan perlahan Elang berjalan menghampiri Alan, lalu duduk di atas kursi dan menaruh cupcake tersebut di atas meja.
"Selamat ulang tahun Adik Kakak!" ucap Elang sekali lagi dengan senyuman manis.
"Hiks hiks Kakak," ujar Alan menangis, ia merasa terharu dan tak kuasa menahan bulir-bulir air mata itu untuk keluar.
"Eh eh Alan kok nangis, kenapa? Kuenya kekecilan yah? Maaf yah Dek, uang jajan Kakak masih belum cukup buat beli kue ulang tahun yang besar," balas Elang merasa tak enak, sembari menghapus air mata di pipi Alan.
"Enggak kok Kak," dengan lekas Alan membantah dengan menggelengkan kepalanya, "Alan merasa terharu dengan kejutan yang Kakak kasih buat Alan, makasih yah Kakak!" sambungnya, lalu memeluk erat tubuh Elang.
"Lilinnya kita tiup sama-sama yuk kak!"
"K-kok sama-sama? Kan Alan yang ulang tahun," jawab Elang.
"Enggak, ini memang ulang tahun Alan, tapi gak akan jadi meriah kalau Kakak Elang nggak ikutan," sambung Alan lalu membuat Elang mengangguk paham.
"Iyah."
"Satu, dua, tiga!" ucap mereka menghitung bersama-sama, lalu "Fyuuuhhh," lilin pun ditiup dengan senangnya.
"Yeeeyyyyy!!!!"
"Ssstttttt jangan berisik Alan, nanti Ayah sama Bunda bangun!" tegur Elang mengecilkan suaranya.
"Hump iyah Kak maaf," balas Alan langsung menutup mulutnya.
Yah, Elang sudah menyiapkan ini semua tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibunda, karena dia ingin menjadi orang yang pertama kali mengucapkan kalimat selamat ulang tahun untuk Adiknya.
"Kita makan berdua yuk Kak kuenya!" ujar Alan lalu membuat cupcake tersebut menjadi dua bagian, dan memberikan separuh potongan kepada Elang.
__ADS_1
"Oke," balas Elang sambil menerima potongan cupcake tersebut.
"Hmmm enak yah Kak," senang Alan begitu lahap memakan cupcake stroberi itu.
"Iyah," jawab Elang. "Eh, di hidung kamu ada krimnya."
"Dimana?" tanya Alan, "Enggak ada kok Kak."
"Ini," Elang langsung menolet hidung Alan menggunakan krim vanilla, lalu tertawa terbahak-bahak melihat Adiknya Alan layaknya badut dengan bekas krim putih di hidungnya.
"Aaaaahhhh Kakak Elang nakal!" rengek Alan merasa kesal. Dasar jahil!
"Hahahaha iyah-iyah maaf!"
...#Flash back off#...
"Malam itu rasanya sangat menyenangkan, walaupun hanya ada aku dan Kakak, tetapi aku merasa begitu sangat bahagia," ucap Alan selepas mengenang masa lalunya.
"Alan ingin seperti itu lagi Kak, kejutan yang sederhana tapi begitu bermakna. Walaupun hari ini ulang tahun Alan dirayakan dengan begitu banyak orang di luar sana, tapi tetap terasa kurang jika Kakak Elang tidak ada."
...Bukannya aku tidak terima dengan kepergian dirinya....
...Hanya saja, semua kenangan indah akan hadirnya tidak semudah itu bisa aku lupakan. Semuanya masih tersimpan rapi dalam ingatan, dan perasaan yang sama....
...-Alan Angkasa Putra-...
/Kreeekkkk/ terdengar suara bunyi pintu terbuka, membuat Alan dengan lekas membuang semua perasaan sedihnya.
"Tuan Alan, anda sudah siap?" tanya sekretaris Ken.
"Iyah Ken, aku sudah siap," jawab Alan berusaha tersenyum semampu yang ia bisa.
"Wah Tuan Alan, anda terlihat begitu tampan," ucap Angga menatap terkesima, dia seperti melihat seorang pangeran di dunia nyata.
"Haha Angga, kau juga tak kalah tampan," balas Alan tertawa kecil mendengar ungkapan jujur dari bodyguardnya itu, dirinya memang ahli dalam menghibur suasana hati seseorang.
"Hoho harus Tuan Alan, ini adalah hari ulang tahun anda, saya harus tampil sempurna," jawab Angga sembari menunjukkan ekspresi wajah tampannya.
"Baiklah Tuan Alan, mari kami antar anda turun ke bawah!" ajak sekretaris Ken.
"Iyah," jawab Alan.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1