
/Brak/ "Hosh hosh hosh," Riza kembali dengan keringat yang bercucuran, dengan lekas ia merapikan semua buku tulisnya, memasukkannya ke dalam tas ranselnya.
"Riza, kamu kenapa?" tanya Alan kepada Riza yang tiba-tiba datang dengan wajah ketakutan.
"A-Alan, gua... gua pulang dulu yah!" ucap Riza dengan nada gemetar.
"Kamu kenapa sih? Semuanya baik-baik aja kan? Emang udah selesai ke toilet nya?"
"Gak jadi deh, gua buang air kecil di rumah gua sendiri aja, gua pamit yah Alan, bye assalamualaikum!"
"Eh Riza tunggu!" teriak Alan merasa heran sekaligus bingung, sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada Riza.
"Sebenarnya dia kenapa?" batin Alan merasa penasaran.
...********...
-Ruang makan.
Hari ini, Alan sama sekali tidak merasa selera dengan makanan yang dihidangkan, sedari tadi ia hanya memainkan sendok makannya. Pikirannya terus memikirkan, kenapa Riza dengan tiba-tiba ingin pulang begitu saja. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
"Makan makananmu dengan benar Alan," lirih Elang kepada Adiknya.
"Alan gak selera Kak," jawab Alan seraya mendorong pelan piring makanan tersebut menjauh darinya.
"Kenapa?" tanya Elang.
"Tadi teman Alan, dia tiba-tiba pamit pulang begitu aja Kak, dan Alan gak tahu kenapa."
"Haha, teman mu yang konyol itu?" balas Elang seketika membuat Alan terkejut mendengarnya.
"Kakak.... Kakak tahu darimana?" tanya Alan dengan nada serius kepada Elang.
"Bukan urusan mu Alan."
"Alan berhak tahu Kak, Kakak Elang tahu darimana? Sedangkan, Alan belum sama sekali memperkenalkan dia dengan Kakak," ujar Alan.
"Aku hanya memberikan dia sedikit pelajaran atas kesalahannya," jawab Elang.
"Apa?! Apa yang sudah Kakak lakukan kepada teman Alan?"
"Hanya menodongkan sebuah pistol, itu saja," jawab Elang dengan santainya.
"Kenapa... KENAPA KAKAK MELAKUKAN ITU KAK!!!" bentak Alan naik pitam dengan apa yang telah Kakaknya itu lakukan.
"Memangnya teman Alan salah apa!" sambung Alan.
"Karna dia sudah masuk ke dalam ruangan pribadi Kakak, dan aku sama sekali tidak menyukai hal itu," jawab Elang dengan dinginnya.
"Apa ruangan itu amat berharga Kak?" lirih Alan pelan.
"Sangat amat berharga," jawab Elang.
__ADS_1
"Benarkah? Hiks JADI RUANGAN ITU LEBIH BERHARGA DARIPADA KEBAHAGIAAN ADIKMU SENDIRI, IYAH!!!" bentak Alan sekali lagi kepada Kakaknya, dengan bulir air mata yang meluncur deras melewati pipinya.
Akhirnya Alan punya teman!
Tapi apa yang Kakak lakukan? Kakak mengambil dan merenggutnya. Membuat Alan kembali dalam kesepian.
Baru sehari Alan mengerti apa itu arti pertemanan.
Tapi apa yang Kakak lakukan, Kakak menghancurkannya tanpa sisa. Membuat Alan kembali dalam kesendirian.
"Tidak, bagi Kakak, kebahagiaan mu itu jauh lebih penting Alan, lebih penting dari segalanya."
"Memangnya kenapa? Kalau memang dia tidak mau berteman denganmu, tinggal cari saja yang lain, manusia di dunia ini banyak Alan, bukan hanya dia," sambung Elang.
"Cih, bagaimana bisa aku mempunyai teman, jika siapapun yang ingin mendekati Alan takut karna kekejaman dan kebengisan Kakaknya," lirih Alan tajam.
"Haha, mungkin di dunia ini aku akan selalu kesepian, teman? Memang siapa yang mau menjadi teman Alan?" gumam Alan lalu memutar kursi rodanya.
"Alan sudah kenyang," lirih Alan kepada Elang, lalu berlalu pergi menuju kamarnya.
"Kebahagiaan apanya? Kalau memang Kakak ingin Alan bahagia, seharusnya Kakak tidak melakukan itu semua," batin Alan.
Elang menatap sedih, melihat punggung Adiknya yang mulai menjauh, hatinya merasakan sakit dan kecewa. "Apa temanmu itu lebih penting daripada Kakakmu ini Alan?" pikir Elang.
"Ken!" panggil Elang kepada sekretarisnya, yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Menyaksikan pertengkaran antara kakak beradik itu.
"Iyah Tuan?" tanya sekretaris Ken.
"M-mmmm setahu saya tidak Tuan, mungkin Tuan Alan tadi sampai marah besar, karena anak yang datang kemari tadi adalah teman pertama bagi Tuan Alan."
"Cih, apa mereka semua harus memandang fisik untuk berteman?" decak Elang sebal.
"Bawalah sepiring makanan itu kepada Alan, suruh dia untuk makan! Aku tidak peduli dia marah kepadaku ataupun tidak. Karna aku hanya mengkhawatirkan tentang kesehatannya," suruh Elang.
"Baik tuan," jawab sekretaris Ken lalu membawa sepiring makanan tersebut menuju kamar Alan.
...********...
Sesampainya didepan pintu kamar Alan.
/Tok tok tok/ mengetuk pintu.
"Tuan Alan, saya membawakan makanan untuk anda, Tuan harus makan," ujar sekretaris Ken dari luar kamar Alan.
"Apa Kakak yang menyuruhmu? Pergilah! Tidak ada gunanya kau membawakan aku makanan, aku tidak selera," jawab Alan dari dalam kamar.
"Tuan Elang menyuruh anda untuk makan, karna ia khawatir akan kesehatan anda."
"Haha, khawatir?" Lirih Alan tertawa kecil.
"Setiap hari kau selalu mengatakan, bahwa kau akan membuat aku bahagia, tapi apa kenyatannya? Hanya derita yang aku rasakan."
__ADS_1
...********...
Keesokan harinya.....
Alan sudah berada di depan pintu rumah, duduk manis di atas kursi rodanya, ia sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Tuan Alan, maaf sudah membuat anda menunggu lama," ucap sekretaris Ken kepada Alan.
"Sekretaris Ken kok ada di sini? Bukannya harus pergi kerja sama Kakak?" heran Alan.
"Tuan Elang sudah berangkat sedari pagi tadi Tuan, dan beliau menyuruh saya untuk mengantar anda ke sekolah, karena beliau takut kalau nanti sampai terjadi sesuatu kepada anda."
"Sampai kapan Kakak harus terus mengkhawatirkan tentang Alan, bagaimana dengan diri Kakak sendiri?" batin Alan yang tiba-tiba mengkhawatirkan tentang kondisi Kakaknya.
"Mari Tuan, saya bantu anda masuk ke dalam mobil."
"Oke," angguk Alan lalu masuk ke dalam mobil dengan dibantu oleh sekretaris Ken.
...********...
-Didalam mobil.
"Sekretaris Ken!" panggil Alan kepada seorang lelaki yang sedang duduk di sampingnya.
"Iyah tuan?" tanya sekretaris Ken.
"Apa kau punya Kakak?"
"Tidak Tuan, saya anak tunggal," jawab sekretaris Ken sedikit menundukkan kepalanya.
"Owh begitu yah," balas Alan manggut-manggut.
"Memangnya kenapa Tuan?" balas sekretaris Ken balik bertanya.
"Tidak, aku hanya penasaran saja, kalau memang sekretaris Ken punya seorang Kakak, kira-kira bagaimana sikapnya."
"Tuan Elang adalah kakak yang baik Tuan Alan," ucap sekretaris Ken sontak membuat Alan sedikit terkejut.
"Saya tahu, alasan anda menanyakan hal itu hanya untuk membandingkan sikap Tuan Elang dengan yang lainnya," sambung sekretaris Ken dengan mudah menebak isi pikiran Alan.
"Apa Kakak ku baik-baik saja sekretaris Ken?" lirih Alan pelan sembari menundukkan kepalanya, tatapannya menerawang ke arah kedua sepatunya.
"Entah kenapa aku khawatir dengan keadaan Kakak, setiap hari Kakak Elang selalu mengkhawatirkan kondisi orang lain, tanpa memikirkan tentang dirinya sendiri."
"Kakak Elang baik-baik saja kan sekretaris Ken?" tanya Alan sekali lagi.
"Iyah Tuan Alan, Kakak anda baik-baik saja, selama anda selalu tersenyum dan bahagia, maka anda tidak perlu khawatir akan kondisi Tuan Elang," jawab sekretaris Ken tersenyum.
"Iyah, semoga," balas Alan.
"Andai anda juga ada disini Tuan Elang, saya yakin anda pasti akan merasa sangat senang, karna jauh didalam lubuk hati Adik anda, ia sangat menyayangi Kakaknya," batin sekretaris Ken.
__ADS_1
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...