
"Ha-hai Kak, maaf! A-apa Kakak tidak apa-apa?" tanya perempuan itu sembari jongkok di samping tubuh Alan, dirinya merasa tidak enak sekaligus bersalah. Ia merasa, akibat dirinya lah Alan dalam kondisi seperti ini.
"Enggak, aku baik-baik aja kok," jawab Alan sembari perlahan berusaha untuk duduk.
"Maaf yah Kak! Gara-gara aku Kakak jadi di pukuli sama mereka," pintanya mengucap kata maaf sembari memasang raut wajah bersalah.
"Santai aja," balas Alan.
"Ini bukan salah kamu, tapi aku yang salah, karena belum terlalu kuat buat bisa melindungi seseorang.... maaf yah!" sambung Alan mengucap kata maaf, sembari memberikan sebuah senyuman manis tetapi juga tersirat sebuah rasa sedih di dalamnya.
"Ka-Kakak ini kenapa?" batin siswi itu bertanya. Padahal ia sudah babak belur karena dipukuli, bajunya lusuh bahkan kotor terkena tanah. Tetapi malah tidak menunjukkan raut wajah marah ataupun sedih sama sekali, hanya rasa sesal serta masih sempatnya dirinya untuk tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku balik ke kelas dulu yah," pamit Alan sambil berdiri.
"Kakak gak mau pergi ke UKS dulu, biar aku yang obatin luka Kakak," tawar siswi tersebut.
"Enggak usah, lebih baik kamu cepet balik ke kelas gih! Sebentar lagi bel masuk bunyi. Kamu gak perlu khawatir aku bisa mengobatinya sendiri," jawab Alan, dan berlalu pergi meninggalkan gadis itu sendirian.
...*********...
-Di lorong sekolah.
Angga berjalan dengan penuh rasa gelisah sembari membawa dua kresek makanan yang tadi dirinya pesan di kantin sekolah. Angga merasa cemas, karena sedari tadi ia mencari-cari dimana keberadaan Tuannya Alan berada.
"Tuan, anda dimana?" batinnya, lalu melihat seorang remaja diujung lorong sekolah sembari berjalan memegang lengan kanannya. Angga yang mengira itu adalah Tuannya, dirinya langsung bergegas untuk menghampiri anak tersebut.
"Tuan Alan!" panggil Angga yang kini sudah berdiri di hadapan dirinya, Angga merasa sangat terkejut dengan keadaan Alan sekarang. "Tuan Alan, apa yang sudah terjadi dengan anda?"
"A-aku tidak apa-apa Angga," jawab Alan kepada Angga yang kini sedang mencemaskan keadaan dirinya.
"Tidak apa-apa bagaimana Tuan? Wajah anda babak belur, dan lengan kanan anda juga terluka. Cepat katakan kepada saya Tuan, siapa yang berani melakukan ini kepada anda!"
"Tidak ada Angga, aku hanya kurang berhati-hati saja dan terpeleset waktu berjalan di depan kelas tadi," jawab Alan mencoba menyembunyikan tentang kejadian sebenarnya kepada Angga.
"Terpeleset?" batin Angga merasa curiga
"Baiklah Tuan, kalau begitu mari saya antar untuk mengganti baju seragam anda, serta mengobati luka di wajah anda itu," ujar Angga lalu dibalas anggukan oleh Alan. Dan mereka berdua pun berjalan menuju ke ruang UKS untuk mengobati luka Alan terlebih dahulu.
...********...
Setelah selesai mengobati luka Alan dan mengganti baju seragamnya, kedua laki-laki itu akhirnya kembali menuju ke kelas untuk mengikuti pelajaran.
Beberapa jam kemudian....
/Kriiinggg/ bel pulang pun berbunyi dengan indahnya, menggelegar di seluruh sudut sekolah. Membuat seluruh penghuni SMA terutama para siswa-siswi yang semula suntuk dan mengantuk karena pelajaran. Kini kembali fresh dan bersemangat untuk pulang.
-Kelas 11 A.
__ADS_1
"Baiklah anak-anak, karena bel pulang sudah berbunyi Ibu akhiri pembelajaran untuk hari ini. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas rumah yang Ibu beri!"
"Baik Bu," jawab serentak seluruh murid.
"Ibu akhiri, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh!" salamnya lalu berjalan pergi meninggalkan kelas.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh Bu," balas salam seluruh murid, dan bergegas untuk membereskan buku-buku dan peralatan tulis mereka masing-masing.
"Ayo Angga kita pulang!" ajak Alan.
"Iyah," angguk Angga, lalu mereka berdua pun berjalan menuju keluar kelas.
Tepatnya di dekat lapangan upacara, lagi-lagi Alan melihat keberadaan geng 'Preman Gans bar-bar' di sana. Membuat dirinya menatap cemas ke arah mereka.
"Tuan Alan kenapa?" batin Angga merasa penasaran, karena sedari tadi Tuannya hanya melihat ke arah ke-empat remaja yang sedang berkumpul di tengah lapangan upacara itu.
"Apa mungkin," lirihnya lalu tersenyum kecil.
"Tuan Alan!" panggil Angga kepada Alan, membuat langkah mereka berdua berhenti.
"Iyah, Angga ada apa?" tanya Alan, menunggu apa yang akan bodyguardnya itu katakan.
"Tunggu di sini sebentar yah Tuan!" suruh Angga, lalu tiba-tiba berlari meninggalkan dirinya menuju ke arah ke-empat remaja tersebut.
"Eh Angga, kau mau pergi kemana?"
"Gawat, bagaimana kalau nanti Angga sampai dipukuli oleh mereka," ujarnya khawatir.
Sedangkan disisi lain....
"Hallo Mas-Mas ganteng!" sapa Angga yang kini sudah berdiri di hadapan 'Preman Gans bar-bar'.
"Tahu aja kalau gua ganteng," ucap Aldo percaya diri.
/Plak/ "Dia bilang kita, bukan lo doang," tegur Hans sambil menepuk keras punggung Aldo.
"Ish, biasa aja kali," kesal Aldo merasa panas dibagian punggungnya.
"Iyah, ada apa?" tanya Bima.
"Aku ada urusan bentar nih sama Mas-Mas ganteng, boleh ikut aku sebentar enggak?" balas Angga dengan nada lembut dan polosnya.
"Urusan apa?" tanya Kemal.
"Ngomong aja di sini, sepenting apa sih emangnya? Pake harus ke tempat lain segala," tambah Bima.
"Nggak bisa kalau ngomong di sini, karna ini super rahasia dan penting. Emang Mas-Mas ganteng enggak penasaran?"
__ADS_1
"Bim!" panggil Kemal dan kedua temannya kepada Bima, mereka sedang menunggu keputusan dari ketuanya itu.
"Yaudah deh iyah, awas lo yah kalau sampai bohongi kita!" balas Bima.
"Tenang, yuk ikut!" ajak Angga lalu berjalan bersama ke-empat remaja tersebut.
"Eh, mereka semua mau pergi kemana?" tanya Alan yang sedang sibuk memperhatikan mereka berlima. Lalu mengikuti kemana kepergian mereka.
...********...
Angga membawa ke-empat remaja itu menuju ke sebuah kelas yang keberadaannya lumayan terpencil dan sepi. Di sana tidak ada siapapun selain Angga dan geng preman Gans bar-bar itu.
"Woi, lo ngapain ngajak kita ke sini?" tanya Bima kepada Angga yang sedang berdiri di depan membelakangi mereka berempat.
"Nih tempat serem bener, eh cepet omongin lo mau ngomong apa tadi?" pinta Hans yang sudah ketakutan, dirinya tak ingin berada terlalu lama di sana.
"Eh lo tuli atau apa sih," sahut Bima mulai marah.
"Gua cuman mau ngomong," ujar Angga mulai membuka suara sembari membalikkan badannya menghadap ke arah mereka berempat. Tatapan lelaki itu kini berubah menjadi lebih serius dan dingin.
"Kalian berempat kan yang habis pukuli Alan," sambungnya sambil mengendorkan dasinya, membuka dua kancing atas baju seragam, dan menyingsingkan kedua lengan bajunya.
"Hahahaha," tawa Bima keras.
"Memangnya kenapa kalau kita berempat habis pukuli si Alan? Lo gak terima? Terus, sekarang lo mau balas dendam sama kita?"
"Alan si cowok lemah itu memang pantas mendapat pelajaran dari kita. Karna dia, kita semua dipukul habis-habisan sama Kakaknya," sambung Bima, pukulan yang dulu Elang pernah hadiahkan untuknya. Membuat remaja itu memiliki dendam yang sangat kepada Alan.
"Tidak boleh ada orang yang menghina Tuan Alan, apalagi sampai menyangkut pautkan Tuan Elang di dalamnya!" lirih Angga tajam sambil mengepal erat kedua tangannya.
Sedangkan di sisi lain, Alan sempat kehilangan jejak mereka berlima. "Anggaaa, kau dimana?" ucap Alan memanggil-manggil nama Angga, dia terus mencari-cari dimana keberadaan bodyguardnya itu.
/Bag bug bag bug/ "hah, suara apa itu?" pikir Alan sempat mendengar suara kegaduhan tak jauh dari tempatnya berada.
Dengan rasa penasaran dan juga khawatir, Alan memutuskan untuk mencari tahu asal suara tersebut. Dirinya takut kalau itu adalah Angga yang sedang dipukuli oleh ke-empat remaja itu. "Angga, semoga kau baik-baik saja."
Akhirnya Alan telah sampai di sebuah kelas yang lumayan sepi dan terpencil, alih-alih melihat Angga yang sudah babak belur karena dipukuli. Tetapi, Alan malah melihat Angga yang sedang menjambak rambut Bima dengan ketiga temannya yang sudah terkapar penuh luka.
"A-Angga," cengang Alan melihat pemandangan mengerikan di hadapannya.
"Tuan Alan," ujar Angga sembari melihat ke arah Tuannya.
"Sekarang anda sudah aman," sambungnya sembari memberikan sebuah senyuman manis di sana.
"Ti-tidak tidak mungkin," batin Alan masih tidak percaya dengan pemandangan apa yang ia saksikan sekarang, dirinya seperti melihat duplikat Kakaknya Elang di depan sana. Senyum itu, dengan aura membunuh itu semuanya tampak sama.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1