
"Terimakasih, Kak Andhika," ucap Alan tersenyum kaku, sembari melihat ke arah kontak Andhika dilayar handphonenya.
"Kalau seandainya Kak Andhika tidak ada di sisiku saat ini, mungkin untuk selamanya aku tidak akan pernah bisa untuk menerima kepergian Kak Elang, dan aku akan depresi. Mungkin juga, aku sudah pergi dari dunia ini dan menemui Kakak Elang di sana."
"Tapi tidak, sekarang Alan masih hidup," sambungnya sembari melihat ke arah luka sayat di pergelangan tangannya yang sudah mengering.
...********...
Keesokan harinya.....
Alan sudah siap berdiri di depan pintu rumahnya, dengan memakai baju seragam sekolah.
"Mari Tuan Alan, kita berangkat!" ucap Angga dengan membawakan tas ransel Tuannya.
"Iyah Angga," angguk Alan.
"Kalian berdua hati-hati yah! Angga, tolong jaga Tuan Alan!" ujar sekretaris Ken.
"Baik sekretaris Ken, tenang saja aku pasti akan menjaga Tuan Alan," jawab Angga.
"Kalau begitu Ken, kami berangkat dulu," ujar Alan lalu dibukakan pintu mobil oleh Angga.
"Iyah Tuan, hati-hati!" balas sekretaris Ken, lalu melihat mobil tersebut berlalu pergi.
...********...
Sesampainya di depan gerbang SMA Garuda Sakti, dengan lekas Angga turun dari dalam mobil tersebut bergegas untuk membukakan pintu mobil untuk Alan.
"Terima kasih Angga!" ucap Alan, sembari keluar dari dalam mobil.
"Lain kali jangan lakukan ini lagi, aku bisa melakukannya sendiri. Aku takut kalau sampai ada anak yang curiga soal identitas mu," sambungnya, membuat Angga mengangguk paham.
"Baik Tuan Alan."
"Ayo, kita masuk!" ajak Alan, dan mereka berdua pun bergegas berjalan masuk ke dalam sekolah menuju ke kelas.
Sesampainya di kelas, tak lama kemudian akhirnya bel masuk jam pertama pun berbunyi. Terlihat Bu guru berjalan memasuki kelas dan pelajaran pertama pun dimulai.
Selang beberapa jam kemudian.....
/Kriiinggg/ bel jam istirahat pun berbunyi, Bu guru mengakhiri materi jam pertama. Dengan segera, semua murid keluar dari dalam kelas mereka menuju ke kantin sekolah, begitupun juga dengan Alan dan Angga perut kedua laki-laki itu sudah meronta kelaparan.
-Di kantin sekolah.
Hari ini keadaan kantin sungguh ramai dan sesak, dipenuhi akan punggung-punggung manusia yang kelaparan.
"Rame banget," ujar Angga yang hanya bisa melihat pemandangan punggung-punggung manusia di sana.
"Iyah," balas Alan.
"Pemandangan ini sudah biasa Angga. Karena mereka semua mempunyai motto 'siapa cepat dia dapat, walau berhimpitan harus rela, mencium bau-bau badan dan ketiak yang tak sedap sudah nasibnya. Kalau gak begitu gak bakal dapet makan', paham?"
__ADS_1
"Astaga, ternyata mottonya penuh perjuangan banget yah, tapi geli juga," batin Angga.
"Iyah Tuan, saya paham."
"Ya udahlah yuk! Kalau nggak cepet-cepet entar makanannya keburu habis," ajak Alan kepada Angga, lalu mereka berdua pun bergegas untuk membeli makanan.
...********...
Disaat-saat mereka berdua sedang sibuk mengantri untuk membeli makanan, tiba-tiba Alan panik sembari menggerayangi kedua saku celananya. "Eh, handphone aku mana?" batin Alan sedang sibuk mencari-cari benda pipih tersebut.
"Mmm Angga!" panggil Alan kepada bodyguardnya itu.
"Iyah?" tanya Angga sembari menoleh ke arah Alan.
"Aku balik ke kelas bentar yah, handphone aku ketinggalan," ujar Alan.
"Apa perlu saya antar?"
"Enggak usah, kalau kamu ikut nanti makin kelamaan ngantri makanannya," jawab Alan menolak.
"Baik Tuan, hati-hati yah Tuan Alan!" ujar Angga, seketika membuat perhatian seluruh anak tertuju ke arah mereka berdua, semua anak merasa terkejut ketika mendengar Angga memanggil Alan dengan sebutan 'Tuan'.
"Hah Tuan, gak salah denger gua?" bisik mereka.
"Angga!" geram Alan sembari mengerenyitkan dahinya.
"Mak-maksud aku, Alan. Cepatlah kembali, aku tunggu di sini!" panik Angga sedikit terbata-bata, dirinya merasa takut dengan semua tatapan yang tertuju kepada mereka berdua sekarang.
"Baiklah, aku akan segera kembali," balas Alan lalu lekas pergi dari sana, menuju kembali ke kelasnya untuk mengambil handphone.
Sesampainya di kelas 11 A.
Alan bergegas masuk ke dalam sana, menuju ke tempat duduknya. Kedua matanya mencari-cari dimana keberadaan handphone nya itu. "Ah itu dia," mata Alan menangkapnya, benda pipih tersebut tergeletak di dalam kolong meja.
"Sebaiknya aku cepat kembali, kasihan Angga," gumam Alan sembari memasukkan benda tersebut ke dalam saku celananya.
"Maaf Kak, aku enggak punya uang," terdengar suara seorang perempuan yang tak jauh dari tempat Alan berada.
"Itu suara siapa?" pikir Alan penasaran, dan memutuskan berjalan keluar kelas untuk mencari tahu asal suara tersebut.
"KITA INI LAPAR, BURUAN MANA UANG LO!" bentak salah satu dari mereka.
"Eh mereka kan," Alan cukup terkejut dengan apa yang dia lihat. Terdapat seorang gadis kecil berkuncir kuda, dengan ke-empat remaja yang sedang memalak dirinya.
Siapa lagi kalau bukan geng yang pernah memiliki masalah dengan Alan, 'Preman Gans bar-bar' sebuah geng yang kala itu pernah Elang pukuli karna telah menyakiti Alan ketika dirinya masih lumpuh.
"Mereka berulah lagi," ujar Alan sembari masih melihat ke arah mereka, "Apa aku harus menolong gadis itu?" sambungnya merasa ragu, ia ingin sekali membantu perempuan tersebut.
"Yah, aku harus membantunya," batin Alan lalu mencoba mengambil langkah pertama untuk menghampiri mereka. "Tidak," urungnya.
"Kalau aku ke sana pun percuma, aku hanya akan semakin menambah masalah. Dan, diriku juga pasti akan dipukuli habis-habisan oleh mereka," gumam Alan yang sudah bisa membayangkan semua dipikirannya.
__ADS_1
"Tapi dia, ck aahhh," decak Alan merasa sebal sekaligus tertekan. Bagaimana dirinya bisa memiliki sifat pengecut seperti ini.
"Huh yah, aku harus pergi ke sana dan membantunya," ujar Alan mencoba memantapkan hatinya, lalu berjalan dengan sedikit rasa ketakutan menghampiri mereka.
"HEY KALIAN, HENTIKAN!" teriak Alan, membuat perhatian mereka berlima kini beralih kepada dirinya.
"Mati lo Alan," batin Alan merasa ketakutan dengan tatapan bengis ke-empat anak remaja itu.
"Lepasin cewek itu, nggak usah kalian ganggu dia!" suruh Alan sembari menunjuk ke arah gadis kecil itu.
"Eh Alan, emang lo mau apa? Udah bosen hidup lo," ucap Kemal, membuat Alan menelan ludah dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
"Oy Bima, ada yang mau jadi superman dadakan nih," tambah Hans kepada ketua mereka. Bima yang mendengarnya pun tersenyum sinis.
"Cih," decak Bima dengan tatapan dinginnya, lalu berjalan menghampiri Alan disusul dengan Aldo, Hans, dan Kemal di belakangnya.
"Bi-bima," ucap Alan dengan nada gemetar, kini ketua geng dan anak buahnya sudah berdiri di hadapan dirinya.
"Lo ngomong apa tadi? Sorry telinga gua gak denger, coba diulang lagi!" pinta Bima, sambil mendekatkan wajahnya kepada Alan, membuat remaja itu mundur beberapa langkah.
"A-aku bilang, lepasin cewek itu. Jangan kalian ganggu dia!" ujar Alan pelan, dirinya merasa takut dengan raut wajah yang Bima tunjukkan.
"Haaahhh, lo ngomong apa sih? Lo itu ngomong apa ngedumel, ngomong itu yang keras biar orang bisa denger!" balas Bima sedikit membentak, "Ulang-ulang!" pintanya sekali lagi, sambil mendekatkan telinganya ke arah Alan.
"Le-" /BUGH/ belum sempat Alan menyelesaikan kalimatnya, pukulan keras langsung Bima layangkan tepat mengenai wajah Alan.
Membuat Alan meringis kesakitan sambil memegangi wajahnya, yang sudah mengeluarkan darah dibagian hidungnya.
"Kalian tunggu apa, ayo kita habisin dia!" suruh Bima kepada teman-temannya.
"Yokk gaslah!"
"Let's go brother!" balas senang mereka bertiga, lalu dengan segera ke-empat anak itu mengeroyok Alan. Pukulan, tendangan, semua rasa sakit itu menyelimuti seluruh tubuh Alan, membuat dirinya tak berdaya untuk melawan.
Selang beberapa detik kemudian, akhirnya mereka berempat sudah puas memukuli Alan, kini dirinya telah terkapar di tanah dengan luka lebam di wajah dan tubuhnya.
"Hahahaha hahaha," tawa mereka terbahak-bahak.
"Woi Alan, dengerin yah! Lo mau apa? Mukulin kita? Sini pukul sini!" ledek Hans sembari menunjuk ke arah pipinya.
"Kita gak bakalan takut buat bully lo lagi sekarang, emang siapa yang mau bantuin lo hah? Si kakak Elang lo itu?" sahut Bima.
"Dia udah mati kan, terus lo mau ngadu kemana lagi? Alan Alan, kasihan banget anak Mama," sambungnya, lalu mereka berempat pun pergi dengan tertawa yang masih bisa Alan dengar.
"Cih hiks," batin Alan menangis sambil mengepal erat kedua tangannya. Sungguh, dirinya terlihat begitu buruk sekarang.
Kakak Elang bisa melindungi dan membela semua orang yang dirinya sayang. sedangkan dirinya, satu orang pun tidak bisa.
"Kalau Kakak Elang sedang berada diposisi ku saat ini, pasti dia bisa langsung membereskan mereka semua dengan cepat. Haha, kau itu siapa Alan? Kau bukan Kakak Elang. Kau hanya seseorang yang lemah dan tak berdaya, yang hanya bisa bersembunyi dibalik punggung Kakakmu," batin Alan merasa benci kepada dirinya sendiri.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1