
-Di dalam rumah kediaman Elang.
"Tuan Alan, anda sudah pulang. Maaf Tuan, telah membuat anda menunggu lama di sana. Ban mobil tadi sedikit mengalami masalah," ujar sekretaris Ken kepada Alan.
"Tidak apa-apa Ken, itu sama sekali tidak menjadi masalah," balas Alan.
"Baiklah Tuan, saya berjanji hal seperti ini tidak akan terulang lagi."
"Apa anda mau langsung pergi ke kamar anda Tuan?" sambung sekretaris Ken bertanya.
"Emmm tidak," jawab Alan menggelengkan kepalanya, lalu berjalan beberapa langkah mendahului sekretaris Ken dan berhenti.
"Aku mau pergi ke ruangan pribadi Kakak Elang, tolong jangan ganggu aku sebentar yah!" pinta Alan menolehkan kepalanya ke arah sekretaris Ken, membuat pria itu mengangguk paham.
"Baik Tuan," balas sekretaris Ken, lalu melihat Tuannya itu pergi menuju ke ruangan pribadi Elang.
...********...
Sesampainya Alan di depan pintu ruangan pribadi tersebut, dengan segera ia membuka pintu itu dengan sebuah kunci yang ia ambil dari dalam saku celananya.
/Klek/ bunyi pintu terbuka, Alan melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana.
-Di dalam ruangan.
Alan menghirup napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Matanya menatap sendu ke seluruh sudut ruangan. Terdapat rasa yang tidak dapat dirinya ungkapan di sana.
"Kakak!" panggil Alan merindukan satu kata itu yang biasa dirinya tujukan untuk seseorang. Seseorang yang teramat spesial di dalam hidupnya dan sudah merasa damai di atas sana.
Alan melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju kearahnya sebuah kursi roda, sejenak Alan memandangnya. Lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi roda tersebut.
"Dulu Alan duduk di sini yah Kak."
"Dulu Kakak Elang yang selalu bantu dorong kursi roda Alan," ujar Alan berucap sendiri, sembari merasakan kembali kenangan masa lalu dengan duduk di atas kursi roda hadiah pemberian dari Kakaknya itu.
"Dulu Alan egois yah Kak, dulu Alan nggak pernah mau mengerti akan bagaimana perasaan Kakak Elang," hingga sebulir air mata jatuh dari dalam pelupuk matanya.
"Sudah lama Kakak pergi ninggalin Alan, tapi Kakak Elang nggak pernah mampir di mimpi Alan."
"Kenapa?"
"Kakak Elang benci yah sama Alan, Kakak Elang sudah gak suka lagi yah sama Alan. Haha, iyah sih kak, Adik egois seperti Alan memang pantas untuk mendapatkan ini semua," gumam Alan tersenyum kaku dengan air mata yang masih mengalir deras.
__ADS_1
Ternyata memang benar, rindu yang paling menyakitkan dan sangat menyesakkan ialah merindukan dirinya yang sudah tiada dari dunia ini.
Bukan tak kuat untuk menahan rasa. Tapi mustahil untuk bisa bertemu lagi dengan dirinya, karena dunia kita yang sudah berbeda.
"Kakak tidak membencimu Alan," sahut seseorang dari arah belakang melingkarkan tangannya ke pundak Alan.
"Hah," isak Alan terkejut mendengar suara yang amat sangat dirinya rindukan itu. Dengan lekas Alan menolehkan kepalanya menghadap ke arah pria tersebut.
"Ka-Kakak!" bata Alan dengan kedua mata membulat, memandang kembali senyuman hangat dan sorotan mata tajamnya dari sesosok pria yang tengah berdiri di sana.
Perlahan Alan berdiri dari kursi rodanya, dengan kaki gemetar dan perasaan yang masih tidak percaya. Berdiri menghadap pria tersebut.
"Ka-Kakak!" panggil Alan sekali lagi.
"Alan," balas Elang sembari tersenyum kepada Adiknya.
"Ka-Kakak!" ucap Alan seketika tangisnya pecah begitu saja, tubuhnya langsung tertarik untuk memeluk Kakaknya.
Yah, suara itu yang aku rindukan. Ini yang selama ini diriku inginkan.
"Hiks Kakak, kenapa Kakak nggak pernah datang di mimpi Alan?! Kenapa Kakak nggak pernah muncul sesekali di dalam pikiran Alan," ujar Alan menangis dalam pelukannya.
"Iyah, sekarang Kakak di sini. Sekarang Kakak Elang sudah di sini bersama Alan," balas Elang sembari mengelus lembut kepala Alan.
"Adik kenapa nangis, masih ingat pesan Kakak waktu itu kan? Kalau laki-laki itu nggak boleh nangis," tutur Elang, lalu membuat Alan menggeleng pelan.
"Alan rindu Kakak Elang, Alan ingin terus bersama Kakak," balas Alan lalu membuat Elang geleng-geleng kepala.
"Ternyata kau masih saja sama seperti dulu Alan, bersikap manja seperti ini kepadaku," ujar Elang lalu membuat Alan memanyunkan bibirnya.
"Salah siapa Kakak pergi ninggalin Alan? Kenapa Kakak gak pernah jujur sama Alan kalau Kakak Elang punya penyakit kanker," balas Alan.
"Apa kau mau membuat pertemuan kita yang hanya sebentar ini terbuang sia-sia begitu saja?" sahut Elang lalu membuat Alan terkejut mendengarnya.
"Se-sebentar?" ulang Alan, entah kenapa dirinya tidak suka mendengar satu kata itu.
"Kakak Elang nggak boleh pergi ninggalin Alan! Kakak harus tetap di sini temenin Alan!" kesal Alan membuat Elang menghela napas.
"Sekarang kita sudah berbeda dunia Adik, dan kau harus menerima hal itu," ujar Elang sembari mengelus lembut pipi Alan, membuat Alan kembali tersadar dengan kenyataan.
"Benar, Kakak Elang sudah tiada, dan mungkin ini hanya arwahnya saja. Alan, kapan kau bisa menyadari dan menerima semua kenyataan yang pahit ini," batin Alan merasa sedih.
__ADS_1
"Alan!" panggil Elang sembari memegang kepala Alan, membuat remaja itu yang semula tertunduk kini mengangkat kepalanya.
"Kita pasti akan bertemu lagi Alan," ucapnya.
"Bukan berarti aku sudah pergi jauh dari mu, aku pasti akan meninggalkanmu."
"Alan, aku akan selalu berada di dalam pikiranmu, dan juga di hatimu," sambung Elang sembari menunjuk ke arah dahi Alan dan dadanya secara bergantian.
"Kakak Elang akan selalu ada di dalam pikiran dan juga hati Alan. Tapi Alan juga ingin selalu bisa bertemu dengan Kakak." balas Alan.
"Yah Alan," sahut Elang tersenyum.
"Jangan lupa, aku masih seorang Kakak dan masih memiliki kewajiban kepada Adiknya. Aku akan selalu melindungi mu dan selalu berada di sisimu walau kau tidak menyadari hal itu."
"Yah, sekarang sudah waktunya aku untuk pergi," ujar Elang pamit.
"Eeeehhh Kakak Elang mau pergi kemana?" tanya Alan merasa tak terima.
"Tentu saja kembali ke tempat asalku Alan," jawab Elang.
"Hiks, Kakak Elang mau pergi buru-buru ninggalin Alan. Padahal Alan masih mau ngabisin waktu sama Kakak," balas Alan menitikkan air mata, Elang yang melihatnya merasa tak tega hingga memutuskan untuk memeluk Adiknya.
"Anggap saja ini adalah pelukan awal, kalau kita akan bertemu lagi," ucap Elang memeluk Elang dan dibalas penuh kehangatan oleh Alan.
"Hiks, peluk Alan terus yah Kak! Jangan tinggalin Alan!" pinta Alan.
"Iyah," jawab Elang.
Kedua kakak beradik itu saling berpelukan, hingga Alan merasakan tubuh Kakaknya yang dirinya peluk dengan erat mulai perlahan menghilang.
"Kakak," batin Alan semakin mengeratkan pelukannya, dirinya tidak ingin Kakaknya Elang pergi meninggalkan dirinya.
"Sampai jumpa Alan!" pamit Elang berbisik manis di telinga Alan.
"Kakak!" panggil Alan langsung membuka kedua matanya, tubuh yang dirinya tadi peluk kini sudah hilang, senyuman hangat itu sekarang sudah sirna.
"Hiks Kakak," tangis Alan mencoba mengingat kembali masa indah namun sebentar itu.
"Terima kasih Kak, sudah mau mengobati sedikit rasa rindu Alan kepada Kakak Elang," sambungnya tersenyum simpul.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1