ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 59


__ADS_3

/Tok tok tok/ terdengar suara ketukan pintu, Alan yang masih berada di dalam ruangan itu pun dengan lekas menghampiri pintu tersebut untuk membukanya.


/Kreeekkkk/ pintu pun terbuka, nampak sekretaris Ken berada di sana dengan membawa sebuah nampan berisi sepiring makanan dan segelas susu.


"Ken, ada apa?" tanya Alan.


"Dan makanan itu, untuk siapa?" sambungnya sembari melihat ke arah apa yang sekretaris Ken itu bawa dikedua tangannya.


"Makanan ini untuk anda Tuan," balas sekretaris Ken.


"Sudah cukup lama anda berada di dalam sana, dan sepulang dari sekolah juga anda belum makan. Saya berpikir anda pasti merasa lapar sekarang," sambung sekretaris Ken yang mengkhawatirkan tentang kondisi Tuannya.


"Ngomong-ngomong Tuan, kalau boleh saya tahu. Apa yang sedang anda lakukan di dalam sana, wajah anda terlihat lebih tenang dan senang sekarang?"


"Benarkah? Haha tidak ada apa-apa kok Ken," balas Alan dengan wajah berseri.


"Oh yah, sini makanannya biar aku makan!" pintanya.


"Baik Tuan, ini," jawab sekretaris Ken sembari memberikan nampan berisi makanan tersebut kepada Alan.


"Terima kasih Ken, kalau begitu aku akan memakannya di ruang makan. Aku pergi dulu!" ucap Alan lalu pergi meninggalkan sekretaris Ken di sana.


"Baik Tuan."


"Tuan Alan terlihat lebih bahagia selepas keluar dari ruangan ini, sebenarnya apa yang sudah terjadi?" batin sekretaris Ken dengan melihat sedikit ke dalam ruangan pribadi tersebut.


...********...


"Tuan Alan, anda mau pergi kemana?" tanya Bi Ana kepada Alan yang hendak pergi keluar rumah dengan membawa kunci mobil miliknya.


"Alan mau pergi keluar sebentar bi, mau cari angin," jawab Alan.


"Sendiri?" tanya Bi Ana sekali lagi, lalu melihat raut wajah berpikir dari Tuannya.


"Emm."


"Anda mau pergi keluar Tuan?" terdengar suara seseorang tengah menghampiri mereka berdua. Alan yang mendengarnya menolehkan kepala melihat ke arah pria tersebut.


"Iyah Angga, aku mau pergi jalan-jalan sebentar," balas Alan.


"Mau saya temani Tuan? Biar saya yang membantu untuk mengemudikan mobilnya, sekaligus menjaga anda selama berada di luar sana. Saya takut saja kalau sampai ada sesuatu yang membahayakan keselamatan anda nanti," ujar Angga.


"Baiklah," angguk Alan setuju.


"Bi, Alan pergi keluar sebentar sama Angga yah. Kalau sekretaris Ken tanya, Bi Ana jawab saja kalau Alan sama Angga pergi jalan-jalan sebentar!"


"Baik Tuan, hati-hati Tuan!" balas Bi Ana lalu melihat kedua lelaki itu pergi berjalan keluar dari pintu rumah.

__ADS_1


"Kita pakai mobil ini Tuan?" tanya Angga sembari menunjuk ke arah sebuah mobil hitam yang terparkir di sana.


"Em em bukan," balas Alan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lalu?" tanyanya.


"Itu!" tunjuk Alan ke arah sebuah mobil Ferrari berwarna merah miliknya, yang terlihat lebih mengkilat terkena sinar matahari sore.


"Fe-ferrari Tuan?" melongo Angga lalu menelan ludah. Jarang-jarang dirinya bisa melihat mobil sultan, biasanya cuman bisa lihat di televisi kotak sambil halu berkepanjangan.


Kini dirinya bisa memegangnya, dan bahkan duduk di dalamnya.


"Iyah," angguk Alan.


"Nih, kamu yang setir yah!" pinta Alan sembari memberikan kunci mobil itu kepada Angga.


"K-kok saya Tuan?"


"Lah memangnya kenapa? Kamu nggak bisa setir mobil?" balas Alan berbalik bertanya.


"Bukan itu maksud saya Tuan. Saya hanya takut saja, itu kan mobil mahal Tuan banget malah. Kalau seumpama nanti lecet, atau nubruk bagaimana Tuan? Gaji saya saja belum tentu bisa mengganti kerusakannya," jawab Angga.


"Kamu mikirnya jauh banget sih, belom juga dinaikin. Udah tenang aja, kalau memang bisa nyetir yah gak bakalan nubruk lah. Kalau emang lecet yah tinggal dibawa ke bengkel, gampang kan?" sahut Alan.


"Simple banget yah pikirannya, duit kayak berasa daun habis tinggal petik," batin Angga.


"I-iyah Tuan," jawab Angga dengan segera pergi menyusul kepergian Tuannya.


Akhirnya mereka berdua pun berangkat, dengan Angga yang mengemudikan mobilnya.


-Di dalam mobil.


"Aaaaaa pertama kali duduk di mobil sultan, huuhh huuuhh fokus Angga fokus. Kalau sampai nubruk atau lecet bisa berabe Lu," batin Angga berusaha untuk fokus.


"Alamat makan mie instan lagi ini mah, kalau sampai mobilnya kenapa-kenapa," gumamnya.


"Santai Angga, enggak usah terlalu tegang!" tutur Alan kepada Angga.


"Aku cuman suruh kamu setir mobil, bukan bunuh diri."


"I-iyah Tuan," jawab Angga lalu dengan perlahan berusaha untuk menenangkan pikirannya.


"Emang aku nyiksa dia yah? Perasaan mobil ini gak horor, sampai-sampai wajahnya dia jadi pucet," batin Alan merasa heran.


"Kita mau pergi kemana Tuan Alan?" tanya Angga kepada Alan, mengenai kemana tempat tujuan mereka.


"Terserah kau mau bawa aku kemana, yang terpenting aku hanya ingin mengistirahatkan pikiranku saja," jawab Alan.

__ADS_1


"Baik Tuan," angguk Angga yang sudah mengerti kemana tujuan mereka pergi.


Hingga beberapa menit kemudian....


Akhirnya mereka telah sampai di sebuah tempat, dengan segera Angga pergi untuk memarkirkan mobil tersebut.


Setelah selesai memarkirkan mobil, mereka berdua dengan lekas keluar dari dalam mobil itu.


"Tempat konser musik?" bingung Alan kepada Angga dengan tempat dimana dia membawa dirinya pergi.


"Iyah," angguk Angga antusias.


"Ta-tapi, untuk apa?" tanya Alan sekali lagi yang masih merasa tidak mengerti.


"Lebih baik kita segera masuk ke dalam Tuan, saya yakin anda pasti akan menyukainya," balas Alan lalu mengajak Tuannya itu untuk lekas masuk ke dalam sana.


-Di dalam tempat konser musik tersebut.


Selepas membeli sebuah tiket, Alan dan Angga dengan segera mengambil duduk untuk menonton pertunjukan tersebut.


Di dalam sana, terdengar sebuah suara lantunan alat musik yang merdu. Piano, gitar, semuanya menyatu bersama melodi yang indah.


Tak kalah dengan suara si penyanyi yang tak kalah merdunya, mampu membuat siapapun yang mendengarnya tersihir dengan keindahan suaranya. Siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa tenang.


"Tuan!" panggil Angga sembari sibuk menonton dan menikmati pertunjukan tersebut.


"Iyah?" tanya Alan sembari menoleh ke arah Angga.


"Apa anda ingin tahu, apa alasan saya mengajak anda kemari?"


"Tidak," balas Alan.


"Karena saya ingin membuat anda merasa lebih tenang Tuan," sahut Angga.


"Dulu, tempat ini adalah tempat kesukaan Nenek saya. Beliau sangat senang mendengar lantunan musik di kedua telinganya. Menurut beliau, musik mampu menenangkan hati dan pikiran seseorang."


"Musik mampu mengerti apa yang sedang kita rasakan walau orang lain tak mampu mengetahuinya. Musik bukan hanya sekedar nada yang berjajar, tapi juga ungkapan sebuah perasaan dan isi hati pengarangnya."


"Tapi, beberapa tahun yang lalu Nenek saya sudah meninggal dunia, beliau telah pergi meninggalkan saya. Jadi, disaat saya sedang sangat merindukan dirinya, saya selalu datang ke tempat ini sendirian, mendengar musik kesukaan Nenek saya dan terkadang tanpa sadar air mata itu menetes begitu saja," ujar Angga bercerita, Alan hanya bisa diam membiarkan bodyguardnya itu mengenang masa lalunya.


"Anda tadi mengatakan kepada saya, bahwa anda ingin menenangkan pikiran anda. Jadi menurut saya ini adalah tempat yang pas untuk kondisi hati dan pikiran anda sekarang."


"Saya ingin membagi tempat favorit saya dan Nenek saya kepada anda Tuan Alan. Semoga anda menyukainya," ujar Angga dan diakhiri dengan sebuah senyuman kepada Alan.


"Yah Angga, terima kasih. Sungguh sebuah kehormatan bagiku bisa datang di tempat kesukaan dirimu dan almarhumah Nenekmu," balas Alan membalas senyuman itu.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...

__ADS_1


__ADS_2