ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 63 [END]


__ADS_3

"Oooeekk ooeekk," terdengar suara jerit tangis seorang bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan.


"Selamat yah Bu, anak Ibu sehat dia bayi laki-laki yang tampan," ucap seorang bidan sembari menggendong bayi laki-laki tersebut.


Sang suami yang mendengar suara jerit tangisan dari si buah hati yang baru saja dilahirkan oleh istrinya, dengan rasa haru berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Masya Allah Bunda, lihat! Sekarang aku menjadi seorang Ayah," bahagia sang Ayah dengan mata berkaca-kaca, melihat buah hati yang selama ini dirinya tunggu telah lahir ke dunia.


"Aku akan menamainya Garuda, aku berjanji akan menjadikan dirinya seorang anak yang paling bahagia di dunia."


...********...


"Ayah, sini biar Bunda gendong dulu Garuda nya! Ayah kan mau berangkat kerja," ucap Ibunda kepada sang Ayah tengah menggendong putra mereka.


"Iyah Bunda, sebentar! Garuda masih mau digendong sama ayah," balas sang Ayah yang masih ingin bermain bersama bayi menggemaskan itu.


"Iyah iyah, tapi ini sudah pukul tujuh loh Ayah. Memang Ayah mau telat berangkat ke kantornya?" sahut Ibunda.


"Oh iyah, Ayah sampai lupa kalau sekarang ada rapat dengan perusahaan penting. Makasih yah Bunda sudah mau ngingetin Ayah."


"Garuda digendong sama Bunda dulu yah!" ucap sang Ayah menyerahkan bayi tersebut kepada istrinya.


"Hap, Garuda sama Bunda dulu yah. Ayah mau berangkat kerja," ujar Ibunda.


"Mobil anda sudah siap Tuan," ucap seorang sekretaris dari Tuan putra kepada dirinya.


"Hm baiklah, aku akan segera pergi ke sana," balas sang Ayah.


"Bunda, Ayah pergi berangkat kerja dulu yah!" pamitnya sembari mencium kening sang istri.


"Iyah Ayah, hati-hati!"


"Garuda, Ayah pergi cari uang dulu yah, buat Bunda sama Garuda."


"A-Yah," jawab Al berusaha mengucapkan kata 'Ayah' dengan nada kesulitan. Tuan putra yang mendengarnya menjadi senang, dirinya langsung mencium gemas kedua pipi anaknya.


Dulu aku sudah pernah berjanji untuk membahagiakan dirinya, untuk menjadikan ia anak yang paling beruntung di dunia.


Tetapi, tanpa sadar aku telah gagal, hanya demi harta diriku tega menitipkan dirinya di sebuah panti asuhan. Memisahkan hubungannya dengan orang-orang yang ia sayang.


Maafkan Ayah Garuda, aku memang pantas untuk mendapat gelar 'ayah terburuk di dunia'.


...********...


"Garuda," ucap sang Ayah meneteskan sebutir air mata, dirinya terbangun dari tidurnya selepas bermimpi indah akan masa kecil antara seorang Ayah bersama anaknya.


Tuan putra mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, semuanya berwarna putih dengan bau aroma khas seperti obat. Nampak seorang dokter berjalan menghampiri dirinya.


"Bapak, syukurlah anda sudah sadar," ucap sang dokter tersebut kepada Tuan putra.


"Dokter, siapa yang membawa saya kemari?"


"Keluarga anda yang membawa anda kemari. Anda tadi sempat tidak sadarkan diri, jantung anda juga mengalami pembengkakan, tapi untungnya ada seseorang yang memiliki darah sama seperti Bapak dan mau mendonorkannya untuk anda," jelas sang dokter.


"Si-siapa orang itu dokter?" tanya Ayah penasaran.


"Dia orang yang sangat baik Pak, bahkan ia rela diambil sebanyak apapun darahnya hanya untuk menolong anda," jawab dokter tersebut.


"Be-benarkah?" gumam Tuan putra tertegun.


"Katakan kepada saya siapa orang itu dokter!? Dia orang yang sangat baik. Saya ingin sekali mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada dirinya."


"Anda ingin tahu siapa orang itu?"


"Iyah dok, saya mau tahu," balas sang Ayah sungguh.


"Dia berada di balik tirai ini Pak, tunggu sebentar!" ujar dokter itu lalu membuka sebuah tirai berwarna hijau yang menjadi sekat penghalang antara keduanya.

__ADS_1


Tirai pun terbuka, betapa terkejutnya Tuan putra melihat siapa orang yang telah mendonorkan darahnya untuk dirinya. "Ga, Garuda!" Kejut sang Ayah melihat putra kandung sendirinya lah yang berada di balik tirai tersebut, Al sudah mendengar semuanya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu!" pamit sangam dokter lalu berjalan pergi, dan hanya menyisakan mereka berdua di dalam ruangan.


"Ga-ruda!" panggil sang Ayah yang masih terbata-bata.


"Yah ayah?" balas Al.


"Kenapa kau mau mendonorkan darah mu untuk seorang Ayah, yang bahkan tidak peduli dengan keadaan mu sewaktu kecil dulu nak?" ucapnya bertanya, dengan berusaha menahan air mata itu supaya tidak keluar.


"Jawabannya singkat," jawab Al.


"Karena aku anakmu," sambungnya seketika membuat tangisan sang Ayah pecah begitu saja. Bulir-bulir air mata dengan deras keluar dari pelupuk mata Tuan putra.


"Tidak perduli apa yang telah kau perbuat kepada diriku sewaktu kecil dulu. Jujur, aku sampai sekarang masih tidak bisa melupakan ataupun menerima hal itu."


"Tapi.... walaupun sewaktu kecil dulu kau mencampakkan ku. Aku percaya, disaat pertama kali diriku lahir ke dunia ini, kau pasti sangat menyayangi ku Ayah, kau pasti merasa sebagai laki-laki yang paling bahagia di dunia."


"Aku hanya ingin membalas cinta kasih mu yang begitu tulus waktu itu, dengan mendonorkan darah ku," pungkas Al, membuat Tuan putra begitu terpukul dan merasa malu berada di hadapan anaknya saat ini.


Anak laki-laki itu mampu bersikap dewasa, dia tidak memilih untuk mendahulukan ego maupun keinginannya. Walaupun telah disakiti hingga terasa begitu pedih, tetapi ia masih mau untuk memikirkan tentang kebaikan orang lain.


Tanpa pikir panjang, Tuan putra langsung memeluk tubuh anaknya. Al dibuat cukup terkejut dengan apa yang Ayahnya itu lakukan.


"Hiks, maafkan ayah nak! Maafkan Ayah!" pinta sang Ayah dengan masih memeluk tubuhnya.


"A-Ayah?!" batin Al meneteskan sebutir air mata, pelupuk matanya menjadi panas, tubuhnya merasa hangat. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa merasakan kembali rasa ini di dalam hidupnya.


"Ayah sudah gagal menjadi orang tua yang baik untuk kamu, Ayah membiarkan kamu hidup sengsara di luar sana, kamu harus berjuang keras untuk mencari uang, sedangkan Ayah sibuk menikmati gelimang harta tanpa memikirkan nasib anaknya," Al merasa sedih dan juga senang mendengar perkataan dari Ayahnya, akhirnya ada orang terdekat yang mau mengerti akan apa yang ia alami selama ini.


Al hanya terdiam, bibirnya seperti terkunci tak mampu untuk berbicara. Dengan tubuh yang masih dipeluk oleh sang Ayah, ia hanya bisa mendengarkan apa yang Tuan putra katakan, dengan perasaan yang tidak mampu untuk di jelaskan.


...********...


Selepas keadaan Tuan putra sudah membaik, akhirnya dokter mengizinkan dirinya untuk bisa kembali pulang ke rumah.


-Di kediaman putra.


Sesampainya di sana, mereka semua pun turun dari dalam mobil dan lekas memasuki rumah. Dengan Tuan putra yang dibantu dengan kursi roda.


...********...


-Di dalam rumah.


"Syukurlah, kita bisa sampai di rumah dengan selamat," ucap Ibunda.


"Baiklah, urusanku di sini sudah selesai. Maaf kalau sudah mengganggu waktu kalian," ucap Al.


"Aku pamit pergi dulu, assalamualaikum!"


"Hei nak, kau mau pergi kemana?" tanya Tuan putra seketika membuat Al menghentikan langkahnya.


"Tentu saja aku mau pulang, tempatku bukan di sini," jawab Al tanpa berbalik badan.


"Sudahlah, aku tidak mau mengganggu ketentraman keluarga kalian. Jadi, biarkan aku pergi!" sambungnya dengan nada dingin, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi.


"Alan!" panggil sang Ayah kepada Alan.


"Iyah Ayah?" tanya Alan.


"Kejar dia, suruh dia kembali!" pinta sang Ayah.


"Ta-tapi kenapa Ayah? Kak Al mau pulang, kita tidak bisa melarang dia."


"Dia Garuda Alan! Dia bukan Al. Dia Kakakmu, dia adalah Kakak pertamamu," ujar sang Ayah membuat Alan terkejut.


"A-apa?!" batinnya terkejut.

__ADS_1


"Ma-maksud Ayah!"


...********...


Anak itu kini sudah sampai di dekat pintu gerbang kediaman putra, disaat ia hendak melangkah untuk segera pergi dari sana. Terdengar suara teriakan memanggil dirinya.


"KAK AAALLLLLLL!!!" teriak Alan sembari berlari secepat-cepatnya menghampiri dirinya.


Tubuh Al berbalik arah, menghadap Alan.


"Iyah, ada apa Alan?" tanya Al dengan raut wajah datar, kearahnya Alan yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Alan, katakan ada apa?" tanyanya sekali lagi, karena sedari tadi Alan hanya diam tidak berbicara sama sekali.


//Grep//


.


Tanpa sepatah kata, ataupun aba-aba. Alan langsung memeluk tubuh Al dengan erat.


"Hiks Kakak," tangis Alan.


"A-Alan, ada apa denganmu? Kakak? Apa maksudmu memanggil ku dengan nada seperti itu?" bingung Garuda dengan posisi Alan masih memeluk dirinya.


"Kak Garuda, kenapa Kakak tidak pernah mengatakan kalau Kakak adalah Kakak pertama Alan, kenapa Kakak Garuda hanya diam saja?" tanya Alan.


"Katakan kepadaku, darimana dirimu tahu nama asliku?" balas Al dengan nada serius seraya melepaskan pelukan Alan dari dirinya.


"Dari Ayah, dia tadi sudah menceritakan segalanya kepada Alan. Aku tahu, kalau kau adalah Garuda Alvian Putra, putra pertama dari keluarga putra. Dan juga Kakak dari orang yang paling aku sayang, Elang."


"Lalu apa yang Pak tua itu katakan, ingin membawaku kembali ke keluarga ini lagi?"


"Iyah, Ayah ingin Kak Garuda kembali lagi bersama dengan kami semua," jawab Alan.


"Hah, buat apa aku kembali ke dalam keluarga ini lagi," ketusnya.


"Elang sudah tiada, jadi tidak ada gunanya aku kembali ke dalam rumah ini lagi,".


"Tapi aku Adikmu kan!" sahut Alan dengan nada membentak.


"Aku juga Adikmu Kak, aku tahu semua orang sangat menyayangi Kakak Elang. Disaat Kakak Elang tiada semua orang merasa begitu sedih dan juga kehilangan. Dan..."


"Aku sebagai Adiknya yang selama ini selalu dia jaga, memberikan seluruh hidupnya kepada diriku hanya untuk melindungi dan menjagaku. Hiks, aku merasa sangat terpukul ketika melihat Kakak Elang pergi meninggalkan ku."


"Sepanjang hari Alan hanya bisa menangis, hidupku seperti kehilangan arah, rasanya aku ingin mati saja. Tetapi, disaat aku mau berputus asa, kau datang Kak Garuda. Kau hadir di dalam hidup Alan dan memberi warna baru di sana."


"Belum lagi mata mu yang sangat mirip seperti Kakak Elang, hal itu membuatku selalu teringat akan dirinya. Dan sekarang, akhirnya aku mengetahui bahwa kau adalah Kakak ku."


"Aku merasa sangat bahagia ketika mendengar akan hal itu, tetapi sekarang kau mau pergi meninggalkan Adikmu ini? Setelah sekian lama kita berpisah, setelah sekian lama akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan orang yang bisa ku panggil 'Kakak'. Kau mau meninggalkan aku, dalam kesendirian lagi?"


"Hiks pulanglah Kak! Aku mohon kembalilah!" pinta Alan dengan kepala menunduk.


Aura hangat dan menenangkan mulai menyelimuti tubuh Alan, Al memberikan sebuah pelukan yang nyaman untuk Adiknya.


"Maaf sudah membuat mu menangis," ucapnya dengan posisi masih memeluk tubuh Alan, dan mengelus lembut kepala Adiknya.


"Hiks, Kak Garuda pulang yah Kak, Alan mohon!" pinta Alan.


"Hm yah baiklah, untukmu aku akan pulang dan berkumpul lagi bersama kalian," Jawab laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


...*******...


Sejak saat itu, keluarga putra kembali berbahagia, tidak ada lagi rasa kesedihan ataupun rahasia di sana.


Kepergian Elang telah digantikan oleh kembali datangnya Garuda di dalam kehidupan mereka. Namun untuk di hati, Elang masihlah dalam posisi yang paling istimewa.


"Jaga saudara dan keluarga mu selagi mereka masih ada kawan, sebelum kau menyesal dikemudian hari."

__ADS_1


...-TAMAT-...


__ADS_2