ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 21


__ADS_3

"Ri-Riza, a... apa yang kau lakukan?"


"Tuan Alan, kenapa? Apa kau terkejut hah?" ucap Riza kepada Alan dengan raut wajah mengerikan.


"Apa yang kau lakukan Riza, kenapa aku bisa berada di sini, dan... dan kenapa kedua tanganku diikat?" tanya Alan yang masih tidak mengerti dengan ini semua, sebenarnya, apa yang telah terjadi dengan temannya.


"Kau sungguh polos Alan, dan sangat bodoh!" ucap Riza menekan kalimat terakhir, sembari melayangkan pukulannya tepat diperut Alan sehingga membuat dirinya mengerang kesakitan.


"Uhuk," mulut Alan sedikit mengeluarkan darah.


"Hahahaha hahahaha," tawa Riza begitu puas, melihat Alan kesakitan dan tidak berdaya.


"Ri-Riza!" lirih Alan pelan seraya mengangkat kepala, "Kenapa, kau melakukan ini?"


"Kita teman bukan?"


"Apa, teman?" balas Riza menepis keras dengan apa yang Alan katakan.


"Hahahaha, kita bukan teman Alan, bukan," sambung Riza dengan santainya sembari sedikit tergelak tawa, Alan yang melihatnya merasakan sesak. Hatinya serasa remuk dan hancur begitu saja.


Kau teman pertama yang aku dapatkan, kau orang pertama yang mau mengajakku berbicara, dan kau orang pertama yang membuatku mengerti apa itu arti sebuah pertemanan.


Teman pura-pura, ternyata selama ini kau hanya memakai topeng Riza.


"Tapi... tapi kenapa?" tanya Alan dengan nada gemetar.


"Lo tanya kenapa?" lirih Riza.


"LO TANYA KENAPA!!!" sambung Riza membentak.


"Ini semua karena Kakak lo Alan, ini semua karena dia!"


"Ka-Kakak ku? Memang Kakak ku salah apa Riza?" tanya Alan semakin dibuat ketakutan setelah mendapat bentakan dari Riza.


"Dia telah membunuhnya Alan, Kakak lo yang bernama Elang sudah membunuh Kakak gua Alan!" ucap Riza marah, tanpa sadar sebulir air mata telah jatuh dari pelupuk matanya.


"Apa lo pernah merasakan, betapa sakitnya kehilangan seorang saudara?" sambung Riza seraya mencengkeram kuat dadanya, ia merasakan sakit yang sangat di sana.


"A-apa?! Dia tidak mungkin melakukan itu Riza!" tolak Alan merasa tak percaya, yang masih membela Kakaknya. Elang tidak mungkin melakukan hal sekeji itu bukan.


"Tidak mungkin?!" lirih Riza lalu tertawa geli, entah kenapa hal ini teramat lucu baginya.


"Apa lo sudah lupa Alan?" tanya Riza.


"Dengan anak yang bernama Indra?" sambungnya.


"In... Indra?" batin Alan lumayan terkejut, nama itu terdengar cukup familiar.

__ADS_1


"Apa gua harus cerita dulu, agar lo paham," ujar Riza kepada Alan, lalu mulai menceritakan tentang seorang anak yang bernama Indra.


...#Flash back#...


Indra, yah Indra ia adalah seorang Kakak yang sangat disayangi oleh Riza. Mereka adalah sepasang saudara yang akrab dan bahkan tidak pernah ada pertengkaran.


Indra memiliki hobi lari jarak jauh sama seperti Alan, ia sering mengikuti perlombaan dan bahkan memenangkannya. Sang Adik Riza yang selalu menyemangati sang Kakak di tribun penonton merasa sangat senang melihat Kakaknya berlari di lintasan perlombaan.


"Semangat Kakak Indra, Kakak pasti menang!!!" sebaris kalimat itulah yang selalu Riza teriakkan ketika menonton perlombaan Kakaknya, ucapan semangat dari Riza yang menjadi energi untuk Indra dalam memenangkan perlombaan, ia tak ingin membuat Adik kecilnya itu kecewa.


Tapi, juara kedua. Gelar itulah yang selalu Indra dapat walau sudah berusaha begitu keras. Sedangkan sang juara pertama, dia adalah Alan yang dulu masih bisa berlari dengan kedua kakinya.


"Cih," decak Indra kesal dengan medali perak yang mengalung di lehernya, ia menginginkan sebuah medali emas yang Alan dapatkan.


Indra selalu berusaha melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan gelar juara pertama, tapi Alan sama sekali tidak bisa disingkirkan dari gelar juara bertahan.


"Nggak apa-apa kok Kak," ujar Riza kepada Indra, walaupun sekali lagi ia mendapatkan gelar juara kedua Riza tetap senang dengan apa yang Kakaknya itu raih, bagaimanapun juga ia telah berjuang.


"Iyah," angguk Indra lalu mengelus lembut kepala Riza.


"Kita pulang yuk kak, Riza udah lapar!" pinta Riza.


"Iyah."


...#Flash back off#...


"Orang tua kami telah meninggal dunia akibat kecelakaan, dan hanya Kak Indra saja yang aku punya."


Dari raut wajahnya saja Alan bisa paham, kalau Riza amat begitu menyayangi laki-laki itu.


"Dia selalu berusaha untuk mendapatkan gelar juara pertama, ia selalu berlatih dengan giat tanpa kenal lelah. Hingga... kami mendengar kalau lo Alan, mengalami kecelakaan dan tidak bisa lagi mengikuti perlombaan," sambung Riza membuat Alan teringat kembali akan peristiwa kelam. Kedua bola matanya menatap nanar ke arah kedua kaki lumpuhnya.


"Kakak Indra yang mendengar berita itu merasa kasihan tapi juga senang, ia merasa ada peluang besar untuk mewujudkan mimpinya menjadi orang pertama yang melewati garis finis dan mendapatkan sebuah medali emas."


"Dan, akhirnya Kakak mengikuti perlombaan lari jarak jauh itu lagi, yang benar saja dia mendapatkan apa yang ia inginkan, medali emas itu mengalung bangga di lehernya."


"Tapi, itu malah menjadi sebuah bumerang untuk kakak. Semua orang mengucilkannya, semua orang mengejeknya. Mereka berpikir, bahwa Kak Indra bisa memenangkannya hanya karna lo lumpuh Alan."


"Ini semua hanya keberuntungan, ini semua hanya kepalsuan, semua ejekan itu membuat Kakak tertekan."


...#Flash back#...


"Gua menang dengan adil, gua menang karna hasil usaha gua sendiri, bukan karena bocah yang bernama Alan itu!" kesal Indra dengan menatap sebuah cermin di kamarnya.


Ketika kita sudah berusaha dengan keras, dan akhirnya mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi, malah dipandang sebelah mata oleh semua orang, mereka berpikir gelar itu tak pantas untuk kita, kita mendapatkannya hanya karna sebab orang lain, itu hanyalah sebuah keberuntungan.


Bagaimana perasaan kalian?

__ADS_1


"Gua harus diakui semua orang, dan gua harus menyingkirkan Alan dari pikiran mereka, yah gua harus melakukannya!"


...********...


"Malam itu Kakak tiba-tiba ingin keluar dari rumah, gua tanya sama dia mau pergi kemana, kak Indra cuman jawab kalau dia mau latihan sebentar, gua yang masih kecil hanya bisa percaya, sampai...."


...********...


"Kakak, ini es krim Kakak!" ucap Riza membawa dua buah es krim di kedua tangannya, langkah kaki anak kecil itu seketika berhenti dan membeku.


Ia melihat Kakaknya yang sudah dijambak dengan todongan pistol tepat diwajahnya. Riza yang menyaksikan peristiwa mengerikan itu langsung ketakutan, ia memilih untuk bersembunyi dibalik dinding.


"Kau yang bernama Indra bukan?" tanyanya.


"Ma-maafkan saya Tuan Elang, saya tidak...." belum sempat Indra menyelesaikan kalimatnya, perutnya sudah ditendang keras oleh Elang.


//BUGH//


"Aku bertanya, kau yang bernama Indra bukan?!"


"I... iyah tuan!" angguk Indra cepat, dengan sedikit tetesan darah keluar dari dalam mulutnya.


"Saya mohon, maafkan saya Tuan, saya tahu saya salah. Maafkan saya karena telah menyakiti Alan!"


Riza hanya bisa diam dengan tubuh yang bergemetar, ia merasa tak terima melihat Kakaknya diperlakukan seperti itu. Riza ingin membantu, tapi bagaimana caranya? Dia masih kecil.


"Saya masih punya Adik tuan, dia harus saya jaga. Saya tidak bisa mening...."


//Dor// peluru panas terlepas dari pelatuknya tepat mengenai kepala Indra.


"Kedatangan ku kemari, bukan untuk mendengarkan ceramah darimu," dingin Elang disertai sorot mata tajam. Lalu pergi, meninggalkan mayat Indra begitu saja.


"KAKAAAAKKK!!!" teriak Riza seketika menjatuhkan es krim yang ia pegang, berlari menghampiri Indra yang sudah terkapar berlumur darah.


"Hiks hiks, Kakak!" Riza terus memanggil nama kakaknya dengan bulir air mata deras yang mengalir begitu saja, Indra yang masih bertahan dengan setengah mata terbuka.


"Mana es krimnya?" tanya Indra masih ingin menghibur adiknya.


"Kakak hiks, jangan tinggalin Riza Kak, jangan tinggalin Riza sama seperti Ayah dan mama Kak!"


Indra hanya bisa menjawab dengan senyuman lemah, lalu perlahan menutup matanya.


"Kakak!"


"Kak, bangun kak! Kak Indra bangun Kak, hiks Kak!" pinta Riza terus menerus menggoyang-goyangkan tubuh Kakaknya, berusaha mencoba untuk membangunkan dirinya.


"Kakak jangan tinggalin Riza Kak, Kakak bangun Kak!"

__ADS_1


"KAKAAKK!!!" teriak Riza dengan tangis sejadi-jadinya sembari memeluk jasad sang Kakak. Seorang anak kecil yang hanya memiliki seorang Kakak dalam hidupnya, selepas kepergian kedua orang tua mereka, dan kini Indra juga harus pergi meninggalkan dirinya.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2