
/Tok tok tok/ terdengar suara ketukan berasal dari pintu rumah, membuat Alan berjalan menghampiri pintu tersebut dan membukanya.
/Kreeekkkk/ pintu pun terbuka, seketika Alan terkejut dengan siapa yang berada dibalik benda persegi panjang itu.
"Sayaaaanggg!!!" ucapnya sembari langsung memeluk Alan.
"Bun-Bunda," kejut Alan dengan Ibunda masih memeluk erat tubuh anaknya.
Ibunda melepaskan pelukannya, lalu melihat ke arah wajah Alan yang masih dengan ekspresi muka terkejut itu.
"Bunda kok di sini? Ngapain enggak bilang dulu sama Alan kalau Bunda mau ke sini," ujar Alan.
"Memang kenapa sih kalau Bunda enggak bilang dulu sama Alan, kamu kan anak Bunda. Jadi biasa dong kalau Bunda datang ke sini buat nemuin Alan," balas sang Ibunda memasang wajah cemberut.
Jauh-jauh datang ke sini, bukannya seneng Bundanya dateng. Eh si anak malah masang muka syok. "Demi toples khongguan yang Bapaknya belom pulang, hati bunda sakit!" batin Ibunda miris.
"Iyah-iyah, nggak kenapa-kenapa kok Bunda. Alan malahan seneng kalau Bunda dateng ke sini," jawab Alan mengalah, setelah melihat raut wajah cemberut dari Ibundanya.
"Nah gitu dong, dari tadi kek ngomong kayak gitu."
"Haaahhh iyah-iyah Bunda Alan salah. Ya udahlah yuk Bunda masuk dulu!" hela Alan lalu mengajak Ibundanya untuk masuk ke dalam.
-Di dalam rumah.
"Rumah ini gede banget loh Alan, kamu gak bosen di sini sendirian?" tanya Ibunda sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian rumah.
"Enggak lah Bunda, di sini kan ada Angga, sekretaris Ken, bi Ana dan pelayan rumah lainnya. Mana mungkin Alan kesepian," jawab Alan kepada Ibunda.
"Eh Kak Al, udah selesai ke kamar kecilnya?" tanya Alan yang sudah melihat Al kembali dari kamar mandi selepas melaksanakan misinya.
"Iyah Alan, udah lega," balas Al lalu pandangannya bertemu dengan mata Nyonya putra. Tatapan mereka saling beradu, dan terdiam satu sama lain.
"Eh mereka berdua kenapa? Udah saling kenal yah?" batin Alan merasa bingung dengan tatapan antara Al dan Ibunda.
"Emmm Kak Al!" panggil Alan kepada Al, membuat dirinya mengalihkan pandangannya kepada Alan.
"Yah Alan?" tanya Al.
"Kak Al udah kenal sama Bundanya Alan?" balas Alan kini berbalik bertanya, lalu Al hanya terdiam tidak mau menjawab.
"Emm kalau belum, biar Alan kenalin yah! Kak Al kenalkan dia Nyonya putra, Ibundanya Alan. Bunda kenalkan, dia Kak Al temannya Alan," ujar Alan saling memperkenalkan mereka berdua.
"Hallo Nyonya, senang bertemu dengan anda!" ujar Al dengan raut wajah dinginnya, sembari sedikit menundukkan kepala.
__ADS_1
"Eh i-iyah Al, saya juga merasa senang bisa bertemu sama kamu," balas Ibunda.
"Bunda, lihat deh matanya kak Al! Mirip banget kan sama punyanya Kakak Elang," ujar Alan kepada Ibunda.
"Masa sih?" balas Ibunda dengan gelagat aneh.
"Iyah Bunda mirip, coba lihat lagi deh Bunda. Apa jangan-jangan Kak Al itu anak kecil yang ada di foto itu yah," ucap Alan tanpa sengaja mengatakan hal tersebut.
"A-apa, fo-foto itu?" batin Ibunda merasa terkejut.
"Gawat, jangan sampai Alan tahu kalau Al itu..."
"Ah iyah, foto itu yah Alan!" balas Ibunda.
"Eh Bunda tahu?" tanya Alan cukup terkejut.
"Yah tahu dong Alan, Bunda baru inget sekarang. Al dulu pernah tinggal di rumah kita waktu kecil, dia anaknya pembantu yang waktu itu bekerja di rumah kita," jawab Ibunda.
"Yang bener Kak Al! Wah Alan baru tahu ternyata. Gak nyangka yah bisa ketemu sama Kak Al lagi," ujar Alan sembari tersenyum menatap ke arah Al yang tengah tertunduk memasang wajah gelap.
"A-anak ... pem-pembantu?" batin Al menggertakkan giginya, mengepalkan kedua tangannya kuat, rahang anak itu mengeras.
"K-kak Al!" panggil Alan merasa aneh melihat sikap dari Al.
"Tapi kenapa Kak? Makanannya baru aja siap," balas Alan.
"Tidak usah Alan, aku bisa makan di luar. Aku takut, kalau si anak pembantu ini sampai mengotori meja makan mu nanti," ujar Al sembari mengangkat kepalanya.
"Nyonya putra, terima kasih kalau anda masih mau mengingat saya di dalam pikiran anda. Itu menjadi sebuah hadiah terbesar bagi saya, anda masih mau mengingat si anak pembantu ini," sambung Al melihat ke arah Ibunda Alan lalu tersenyum kecut.
"Aku permisi dulu Alan, terimakasih banyak atas undangan mu untukku. Kau anak yang sangat baik," ujar Al lalu dengan segera pergi keluar dari dalam rumah tersebut.
"KAK AL!!!" teriak Alan memanggil nama Al yang sudah pergi menjauh.
"Kak Al kenapa sih?" gumam Alan semakin dibuat bingung dengan sikap pria itu.
"Bunda!" panggil Alan kini beralih kepada Ibundanya yang terdiam dengan tatapan mata kosong ke bawah.
"Nyonya putra, terima kasih kalau anda masih mau mengingat saya di dalam pikiran anda. Itu menjadi sebuah hadiah terbesar bagi saya, anda masih mau mengingat si anak pembantu ini."
Ibunda mengulang kembali apa yang pria bernama Al itu tadi katakan di dalam pikirannya, tanpa ia sadari setitik air mata menetes jatuh.
"Apa yang sudah ku katakan kepada dirinya barusan," batin ibunda.
__ADS_1
...********...
Tak terasa malam pun tiba, bulan muncul menampakkan wujudnya dengan disertai semilir angin malam yang cukup dingin.
Seorang pria yang tengah duduk di dalam kamar kost-an nya, sebuah kost-kostan kecil tak jauh dari pinggir jalan.
"Hah anak pembantu?" gumam pria bernama Al itu mengulang kembali apa yang Ibunda Alan tadi katakan kepada dirinya, sembari memegang sebuah foto yang berisikan tiga orang di dalamnya.
"Bunda, bahkan kau juga melupakanku sama seperti Ayah," ucapnya dengan setetes air mata berselancar bebas melewati pipi putihnya.
"Kalian menitipkan ku ke panti asuhan disaat diriku masih kecil dan tidak tahu apa-apa, kalian melakukan ini semua hanya demi harta."
"Cih, apa itu yang pantas disebut sebagai orang tua?"
"Mulai sekarang, aku tidak akan percaya lagi apa itu keluarga!" ucap Al sembari menyobek foto tersebut. Sebuah foto yang berisikan dirinya sewaktu kecil digendong oleh Nyonya putra, dan Tuan putra di sisinya.
"GARUDAAA!!!" terdengar suara seseorang berteriak sembari menggedor-gedor pintu cukup keras, membuat Al dengan segera pergi untuk membukakan pintu tersebut.
"Kalau mau masuk ke rumah orang itu salam, bukan gedor-gedor kayak mau nagih hutang!" tutur Al kepada seorang pria di hadapannya.
"Hehehehe iyah-iyah Mas Garuda yang ganteng," ucapnya cengengesan.
"Assalamualaikum mas Garuda ganteng!" salamnya.
"Waalaikumussalam, ada perlu apa lo datang ke kamar kost-an gua?"
"Hehehehe, Mas Garuda ganteng. Gua takut habis lihat film horor, gua numpang tidur disini dong!" pintanya sembari membawa bantal berbentuk Doraemon miliknya.
"Haaahh, yaudah deh cepet masuk!" balas Al mengiyakan.
Yah, nama asli anak itu bukanlah Al. Tetapi Garuda Alvian Putra. Dia menggunakan nama 'Al' untuk menyembunyikan identitas aslinya sebagai anak dari keluarga putra. Hanya beberapa orang yang cukup dekat dengan dirinya saja yang mengetahui tentang nama aslinya.
Dulu sewaktu Tuan putra menitipkan Garuda ke panti asuhan Abyakta, pria itu juga menyuruh kepada Garuda, tidak boleh ada siapapun yang tahu mengenai marga keluarga putra dari dirinya.
Tapi sekarang dia sudah besar. Mempunyai marga atupun tidak, itu sama sekali tidak penting baginya. Karena itu semua hanyalah sampah dan tidak ada berguna sama sekali.
Buat apa harus mempunyai marga dari keluarga terkenal, kalau keberadaannya dirinya sana sama sekali tidak diakui di sana.
..."Keluarga ada untuk mendidik dan menyayangi anak-anaknya. Bukan membuangnya hanya demi sebuah kekayaan."...
...-Garuda Alvian Putra-...
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1