ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 39


__ADS_3

-Di luar ruang UKS.


"Gimana keadaannya?" tanya Elang.


"Dia udah baikan kok, lukanya juga sudah diobati sama anak PMR. Kamu sendiri?"


"Aku nggak kenapa-kenapa, ayo balik ke kelas!" ajak Elang lalu berbalik badan, berjalan mendahului Andhika.


"Eh tunggu!" seru Andhika bergegas menyusul kepergian Elang.


...Aku selalu ingin menjadi seperti Elang....


...Aku selalu ingin kuat seperti dirinya, berani melawan siapapun demi membela apa yang menurut dirinya benar....


...Aku selalu ingin berada di sisinya, menjadi temannya dan sekaligus sahabatnya....


...-Andhika Andaresta-...


-Rooftop sekolah.


Langit berwarna jingga bercampur kuning keemasan, sebagai pertanda bahwa sebentar lagi malam akan tiba. Akan tetapi, dua remaja, Andhika dan Elang belum juga pulang, mereka berdua memilih untuk beristirahat dan bersantai sejenak di rooftop sekolah.


"Andhika!" panggil Elang sembari sibuk memandang langit senja yang begitu indah.


"Iyah?" balas Andhika yang juga tidak mau kehilangan momen berharga itu. Dari atas sana, mereka bisa melihat pemandangan seluruh kota.


"Aku sebentar lagi mau pindah sekolah, selamat yah! Bangku sebelah mu kosong lagi," ucap Elang yang sontak membuat Andhika langsung berdiri mendengarnya.


"APA!!!" kejutnya.


"Kok kamu pindah sih, terus aku sama siapa?" protes Andhika merasa tak terima.


"Memangnya kenapa? Teman kamu kan banyak," balas Elang bingung. Anak itu terlalu bergantung kepada dirinya.


"Enggak ada! Gak ada yang seru dari mereka," manyun Andhika sembari mengalihkan pandangannya. Semua teman sekolahnya hanya memandang pangkat keluarga untuk bisa menjalin hubungan sebuah pertemanan, dan Andhika sama sekali tidak menyukai hal itu. Tapi Elang, dia berbeda.


"Haha, dasar bodoh!" gelak Elang tertawa melihat ekspresi lucu Andhika.


"Haaahh, kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa anak ingusan," sambung Elang sembari berdiri, lalu berjalan pergi hendak meninggalkan rooftop sekolah.

__ADS_1


"Kok pulang?" tanya Andhika dengan melihat ke arah punggung Elang.


"Kalau gak pulang terus apa? Lo mau bantuin Pak satpam kunci sekolah," balas Elang sembari memutar badannya sembilan puluh derajat, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.


"Kamu mau pindah kemana? Aku ikut yah!"


"Hah ikut?" ulang Elang sedikit memiringkan kepala.


"Iyah ikut. Kamu mau pindah sekolah dimana? Aku mau daftar di sana juga, biar kita bisa satu sekolah lagi," balas Andhika menatap serius, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya bersungguh-sungguh.


"Dasar bocah," batin Elang tersenyum simpul mendengarnya.


"Negara Y SMP Pandawa, ku tunggu kau di sana," balas Elang seraya memutar badannya, dan kembali berjalan pergi melanjutkan langkahnya.


"Yah baiklah," jawab Andhika bersemangat.


"Tunggu aku Elang, kita akan bersama lagi," batin Andhika tersenyum lebar.


...*******...


"Dulu aku rela pindah sekolah demi bisa berteman dengan dirimu Elang," ucap Andhika setelah usai mengenang masa lalunya.


"Dulu gua cengeng banget yah. Sebutan anak ingusan memang cocok banget buat diri gua yang dulu," sambung Andhika mengingat kembali akan sebutan Elang yang selalu ia gunakan untuk memanggil dirinya.


"Dan teman itu harus selalu bersama, dan saat ini aku menginginkannya," Andhika menempelkan mulut pistol tersebut tepat di sebelah kanan kepalanya.


Wuuussshhhh, semilir angin berhembus begitu lembut, semakin terasa dingin dan menusuk, membuat Andhika memejamkan kedua matanya, dengan tangan yang sudah siap untuk menarik pelatuk pistol tersebut.


"Elang... tunggu aku!" batin Andhika


/DOR/


"Tuan Andhika!" kejut sekretaris Jean mendengar suara dentuman tembakan berasal dari rooftop, tempat dimana saat ini Tuannya berada.


Dengan segera sekretaris Jean bergegas naik ke atas, berlari terburu-buru menemui Andhika.


"Tuan Tuan Andhika!" dengan perasaan panik, sekretaris Jean mengetuk pintu rooftop yang dalam kondisi tertutup.


/Tok tok tok/

__ADS_1


"Tidak ada jawaban," batin sekretaris Jean, yang sama sekali tidak mendengar sahutan suara dari Tuannya di dalam sana.


"Tuan Andhika, Tuan! Anda ada di dalam? Tuan, tolong jawab saya Tuan!" masih tidak terdengar jawaban dari Tuannya, hingga sekretaris Jean memutuskan untuk mencoba mendobrak pintu tersebut.


/Bug bug bug/ berkali-kali sekretaris Jean mencoba untuk mendobraknya dengan sekuat tenaga, tetapi pintu tersebut masih belum terbuka juga. Pintu itu bisa dikunci ganda, pasti Andhika telah menguncinya dari dalam hingga membuat sekretaris Jean kesulitan.


"Gawat," perasaan sekretaris Jean semakin tidak karuan, suara dentuman tembakan tadi membuatnya ketakutan. Ia takut, kalau sampai terjadi apa-apa dengan Tuannya di dalam sana.


Ia tidak memiliki pilihan lain selain harus menghancurkan pintu itu, sekretaris Jean mengambil sebuah tongkat baseball besi yang kebetulan ada di sana. Dia menggunakannya untuk menghancurkan gagang pintu, lalu mendobraknya sekuat tenaga menggunakan kakinya, hingga /brak/ akhirnya pintu tersebut berhasil terbuka.


Dengan segera sekretaris Jean masuk ke dalam sana, untuk melihat bagaimana keadaan Tuannya.


"Tuan Andhika!" panggil sekretaris Jean panik, dengan keringat dingin yang bercucuran.


Alih-alih melihat sebuah kejadian yang mengerikan, dirinya malah melihat Tuannya tengah duduk santai di sebuah kursi sembari menikmati minumannya.


"Tu-Tuan a.... anda," bata sekretaris Jean menganga, terkejut melihat keadaan Tuannya baik-baik saja, sangat berbeda jauh dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Apa?" tanya Andhika memasang raut wajah datar, seusai meminum jus alpukat itu, menatap dingin ke arah sekretarisnya yang masih dengan ekspresi wajah konyolnya.


"Tuan sa... saya tadi mendengar su-suara te... tembakan, ta-tapi anda."


"Tapi apa? Kau mengganggu waktu sendiri ku Jean. Kan sudah aku bilang, kalau mau masuk ketuk pintu dulu. Terus, ngapain pintunya pakai dirusak segala? Mau main kasar iyah, emang nggak bisa lembut sedikit tangannya?" potong Andhika, sedangkan sekretaris Jean hanya bisa menatap aneh ke arah Tuannya.


"Tu-Tuan Andhika waras kan?" batin sekretaris Jean merasa bingung. Siapa yang nggak panik coba, ada suara dentuman pistol berasal dari rooftop rumah, dan di sana ada Tuannya sedang sendirian. Siapapun yang mendengarnya pasti bakalan mikir yang aneh-aneh kan?


"I-iyah Tuan maafkan saya!" balas sekretaris Jean menundukkan kepala.


"Sama Tuan harus ngalah, biar nggak dipecat, biarpun kelakukan nya gak jelas!" itulah yang sedang sekretaris Jean pikirkan sekarang.


"Hm yah, sekarang pergilah! Aku tidak mau diganggu," titah Andhika dengan penekanan.


"Baik Tuan," jawab sekretaris Jean lalu segera pergi dari sana, melewati sebuah pintu yang sudah rusak akibat ulah dirinya.


Tubuh sekretaris Jean terasa sakit terutama bagian bahu, ini semua akibat dia yang terlalu panik untuk membuka pintu tersebut, berpikir Tuannya sedang dalam bahaya dan ternyata malah duduk santai di kursinya. "Tuan Andhika memang suka membuat orang jantungan."


"Apa dia berpikir aku sedang bunuh diri," gumam Andhika tertawa kecil, lalu kembali membayangkan raut wajah panik sekretarisnya yang menurut dirinya sangat konyol dan lucu itu.


"Hahaha Jean Jean, tenang saja aku tidak akan melakukan hal itu."

__ADS_1


"Aku tidak harus bunuh diri untuk bisa bertemu dengan Elang, cukup menutup kedua mataku dan rasakan," ucap Andhika sembari memegang dadanya. Yah Elang berada di sana, Elang tumbuh dan hidup di hati Andhika, untuk saat ini dan selamanya.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2