
Akhirnya, Alan pun pergi keluar kamar menuju ke ruang tengah, ditemani sekretaris Ken dan bodyguardnya Angga di belakangnya.
Begitu ramai dan banyak sekali orang yang sudah menunggu kedatangan Alan di bawah sana, disaat anak itu dengan perlahan menuruni anak tangga, puluhan pasang mata tertuju kepada dirinya.
"Eh, jadi itu anak yang ulang tahun."
"Hm iyah, ganteng yah."
"Siapa namanya? Alan yah," bisik-bisik para tamu membicarakan tentang kedatangan Alan, dengan pandangan mereka yang sama sekali tidak bisa teralihkan dari dirinya.
Hingga remaja itu telah selesai menuruni tangga, dan kini sedang berjalan menuju ke tempat Ayah dan Ibundanya berada.
"Ayah Bunda!" panggil Alan.
"Alan, selamat ulang tahun sayang!" ucap Ibunda lalu memeluk hangat putra kesayangannya itu.
"Selamat ulang tahun yah Alan!" sahut Pak Reno sambil mengelus lembut kepala Alan.
"Iyah Om, terima kasih sudah mau datang di acara ulang tahunnya Alan," balas Alan sopan.
"Iyah dong Alan, masa Om gak datang di acara ulang tahun keponakannya Om sendiri. Ada-ada aja kamu ini, oh yah ini," ucap Pak Reno lalu memberikan sesuatu kepada Alan.
"Ini apa Om?" tanya Alan dengan memegang sebuah kotak kecil bertalikan pita merah yang baru saja pak Reno berikan kepadanya.
"Hadiah Om buat Alan, terima yah!" balas pak Reno melihat keponakannya itu menganggukkan kepala.
"Iyah Om, terima kasih yah hadiahnya!" jawab Alan sopan.
"Boleh Alan buka Om hadiahnya?"
"Boleh Kok, buka aja," jawab pak Reno, dan Alan pun mulai membuka kotak kecil tersebut.
Setelah membuka benda itu, dan melihat apa isi di dalamnya. "Kun-kunci? Ini kunci apa Om?" tanya Alan sembari memegang sebuah kunci ditangan kanannya.
"Iyah, itu kunci untuk mobil mainan yang Om belikan buat Alan," balas pak Reno.
"Mo-mobil mainan?" bingung Alan mengerenyitkan dahinya, mengulang kembali ucapan pak Reno, memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
"Iyah mobil mainan, tuh udah Om parkir di
luar," jawab Pak Reno menunjuk ke arah sebuah mobil Ferrari berwarna merah yang sudah terparkir di teras rumah, sebuah mobil yang sangat keren dan terlihat mewah.
Alan yang merasa penasaran, bola matanya mengikuti kemana arah jari telunjuk Pak Reno pergi. "A-APAAA MO-MOBIL FERRARI!!!" batin Alan menjerit histeris.
"O-Om Reno, Om Reno beneran beliin mobil Ferrari merah itu buat Alan?" tanya Alan mencoba untuk memastikan, hadiah ini sungguh di luar dugaannya.
__ADS_1
"Iyah Alan," jawab Pak Reno sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Gimana? Bagus kan mobil mainannya?"
"Mobil semahal itu dibilang mobil mainan, ITU FERRARI WOY!!!" batin Alan seperti ada petir besar yang sedang menyambar tubuhnya, hingga membuat ia terbungkam dan tak bisa berkata apa-apa. Sungguh sultan Pak Reno!
"Iyah Om bagus, tapi kalau Alan boleh tahu, memang harga mobil mainan itu berapa Om?" tanya Alan sedikit merasa mual mengatakan kata mainan.
"Gak mahal kok Alan, cuman dua belas miliyar aja," nawab Pak Reno dengan mulus bin lancar mengatakan kata miliyar.
"Du-dua belas miliyar Om!" kejut Alan dengan mata membulat dan perut yang semakin terasa mual, mendengar harga fantastis yang Pak Reno katakan. Dia merasa tak kuat dengan aura sultan yang terpancar dari dalam diri Pak Reno.
"Mobil mahal dibilang cuman mainan, uang miliyaran dianggap biasa aja. Sultan mah bebas yah om," batin Alan menatap heran ke arah pak Reno.
"Alan!" panggil sang Ayah sambil menepuk pundak Alan.
"Iyah Yah?"
"Ayo ikut Ayah! Acara ulang tahun kamu sebentar lagi mau dimulai," ajaknya kepada Alan.
"Hm iyah Yah, ayo!" jawab Alan lalu berjalan bersama Ayah, menuju ke sebuah meja yang sudah terdapat kue ulang tahun besar di atasnya dengan berhiaskan lilin berbentuk angka delapan belas.
Sekarang Alan sudah berada di sana, berdiri tepat di belakang kue ulang tahunnya dengan didampingi oleh Ayah dan Ibunda.
Acara pun dimulai, semua orang mulai menghitung sebagai aba-aba Alan meniup lilin ulang tahunnya.
"Satu dua tiga!!!" serentak semua orang menghitung bersama, dan tepat diangka '3', "Fyuuuhhh," dengan perasaan senang Alan langsung meniup lilin ulang tahunnya.
"Selamat ulang tahun Alan!!!" ucap semua orang dengan diakhiri tepukan tangan meriah.
"Selamat ulang tahun Alan," batin Alan merasa senang dengan kedua sudut bibir yang mengembang sesuai meniup lilin ulang tahunnya.
"A-apa!" batin Alan terbelalak, dia terkejut dengan keberadaan seseorang yang sedang berdiri di antara para tamu undangan. Tepatnya di barisan depan, Alan melihat... Kakaknya Elang sedang berdiri di sana dengan senyuman yang tertuju kepada dirinya.
"Ka-kakak!" batin Alan tercengang.
"Kakak, Kak tunggu Alan Kak!" teriak Alan memanggil Kakaknya, dirinya melihat sesosok Elang itu mulai berjalan pergi dari sana.
"Alan, ayo kita potong kuenya!" ucap Ibunda.
"Bentar yah Bunda, Alan.... Alan mau ke toilet sebentar!" jawab Alan kepada Ibunda terburu-buru, ia ingin sekali segera mengejar sosok yang amat mirip dengan almarhum Kakaknya itu.
"Iyah deh iyah, cepetan yah!" balas Ibunda mengizinkan, lalu melihat Alan segera pergi dari sana.
...********...
__ADS_1
-Di dekat tempat parkir.
Alan terus mengejar sosok yang sangat mirip dengan almarhum kakaknya itu, bercampur rasa penasaran dan juga rindu.
Alan tahu kalau Kakaknya Elang sudah tiada, tapi.... rasa inilah yang membuatnya untuk terus mengejar sosok tersebut.
"Kakak Elang, Kak!"
"Kak, tunggu Alan Kak!" teriak Alan terus menerus memanggil nama Kakaknya, berharap sesosok itu berhenti dan berbalik badan menghadap dirinya.
Laju lari Alan semakin cepat, ketika melihat sosok yang mirip dengan Elang itu mulai melambatkan langkahnya.
"Kak Elang!!!" Alan tak membuang kesempatan sosok itu kini telah berhenti tepat di hadapannya, Alan ingin dengan segera menggenggam tangannya, ia ingin dengan segera memeluk dirinya, melepas semua rasa kerinduannya.
"Kakak," ucapnya sembari langsung memegang tangan sosok itu, namun....
"Hah," kejut Alan ketika sosok tersebut seketika menghilang.
"Kak Elang Kak! Kakak dimana Kak!" cemas Alan sembari melihat sekelilingnya, bola matanya terus menerus mencari dimana keberadaan sosok tersebut.
Alan yakin kalau sosok tadi itu adalah Kakaknya Elang. Badannya yang proporsional, matanya yang tegas, punggungnya yang lebar, semuanya tampak sama. Ia sangat mengenali Elang, dan tidak mungkin kalau sampai pengelihatannya salah.
"Kak Elang," sedih Alan sambil menatap sendu ke arah salah satu kaca mobil di sana, kaca mobil yang gelap memantulkan bayangan Alan sehingga ia dapat melihat pantulan dirinya dengan jelas.
Benar kata orang, dengan memakai pakaian itu Alan terlihat mirip seperti mendiang Kakaknya. "Hiks, Kakak," isak Alan sembari mencengkeram erat jas yang ia kenakan.
Alan merasa senang ketika sosok tersebut muncul di hadapannya, serasa seluruh kebahagiaan telah kembali ke dalam hidupnya. Dan ketika sosok itu menghilang, ada rasa kecewa serta sedih yang tertinggal di dalam hatinya.
"Hiks hiks Kakak, Alan rindu Kak."
"Alan rindu Kakak Elang," tangisnya dengan bulir air mata yang jatuh semakin deras membasahi pipinya.
...Aku rindu dirinya, aku rindu dia yang sudah ...
...pergi jauh di atas sana....
...Aku hanya bisa menangis, meneriakkan namanya, memutar kembali memori indah yang sangat ingin kembali kurasakan bersama dengan dia....
...Hanya sebatas itu yang bisa kulakukan, untuk memuaskan rasa kerinduan walau tidak sepenuhnya....
...Kalau dengan melakukan itu semua dapat membuat dirinya kembali ke dalam pelukan, aku rela melakukannya setiap saat....
...-Alan Angkasa Putra-...
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1