ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 7


__ADS_3

"Saya Bu! Saya ingin satu kelompok dengan Alan," ucap seorang siswa bernama Riza sembari mengangkat tangan kanannya.


"Baiklah," angguk Bu Yati mempersilahkan.


"Oke, karna semua kelompok sudah terbentuk. Maka dari itu, Ibu akan menjelaskan tentang tugas apa yang akan Ibu beri kepada kalian," akhirnya Bu Yati menerangkan tentang tugas kelompok yang beliau maksud itu. Semua anak terlihat begitu antusias, sembari saling berdiskusi bersama teman satu kelompok mereka.


Berbeda dengan kelompok Alan dan Riza. Sedari tadi mereka berdua hanya diam, tidak saling bertukar pendapat sama sekali.


"Kok cuman diem aja sih? Gak asik ah!" sebal Riza kepada Alan dengan wajah juteknya. Bukannya tugas kelompok itu ngerjainnya bareng, mikirnya bareng, bukan malah diem-dieman mirip orang ngambek, canda ngambek.


"Eeemm," deham Alan merasa gugup. Bukannya dia sombong atau tak suka bila Riza satu kelompok dengannya. Ia hanya merasa gugup sekaligus bingung, karna baru kali ini ada anak yang mau mengajukan diri untuk satu kelompok bersamanya.


"Ka-kamu kenapa mau satu kelompok sama aku? Emang, kamu gak takut apa sama Kakak aku?"


"Gak lah," jawab Riza enteng.


"Buat apa aku harus takut sama Kakak kamu, orang yang paling aku takuti di dunia ini itu cuman emak, gak ada yang lain kecuali emak!" sambung Riza.


"Emang kenapa sih kamu nanyain itu?"


"Eng... enggak kok, cuman- cuman...."


"Cuman apa? Udahlah kalau gini terus kapan selesai tugasnya?" balas Riza lalu membuka sebuah buku paket IPA.


"Eh iyah."


"Ternyata gini yah, rasanya punya teman," batin Alan tersenyum simpul.


...*******...


-Perusahaan Putra.


"Tuan Elang, saya sudah melakukan yang anda," ujar sekretaris Ken sembari membuka pintu.


"TUAN!!" kejutnya, ketika melihat Elang terjatuh dari kursi kerjanya, sembari memegang dada.


"Tuan!" sontak sekretaris Ken langsung berlari menghampiri Elang untuk melihat keadaannya. "Anda tidak apa-apa Tuan?" tanya sekretaris Ken khawatir.


"Ke-Ken, dimana... dimana obat yang aku auchss...." Elang merasakan sesak dibagian dadanya, membuat dirinya kesulitan untuk bicara. Tangan kanannya semakin mencengkeram erat bajunya, Elang merasakan sakit yang sangat.


"Tuan, sebaiknya saya membawa anda pergi ke rumah sakit sekarang!" ujar sekretaris Ken yang sudah panik sekaligus khawatir melihat kondisi Tuannya.


Ia menggerogoh saku celananya, mengambil sebuah ponsel dan bergegas menelpon sopir pribadi Elang.

__ADS_1


...-Dalam panggilan-...


Sekretaris Ken: "Pak, tolong cepat datang ke kantor yah pak!"


...********...


Beberapa menit kemudian, akhirnya sang sopir pun datang. Dengan terburu-buru, sekretaris Ken bersama para pekerja kantor lainnya membantu untuk memapah Elang yang tengah kesakitan menuju masuk ke dalam mobilnya.


-Rumah sakit negara Y.


Sesampainya di sana, dengan cepat Elang langsung dibawa menuju ke ruang pasien dan langsung ditangani oleh dokter.


-Di luar ruang pasien.


Sekretaris Ken hanya bisa menunggu, mondar-mandir ke sana kemari sembari berdoa agar Tuannya baik-baik saja, ia merasa sangat gelisah akan keadaan Elang.


"Semoga Tuan Elang baik-baik saja!"


Akhirnya pintu ruang pasien pun terbuka, nampak seorang dokter keluar dari ruangan pasien Elang. Sekretaris Ken langsung berlari menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan keadaan Tuannya.


"Bagaimana keadaan Tuan saya dok?" Tanya Sekretaris Ken tak sabar.


"Tenang saja, keadaan Tuan Elang sudah mulai membaik," jawab sang dokter membuat sekretaris Ken menghela napas lega.


"Sekretaris Ken, saya ingatkan sekali lagi, penyakit yang derita oleh Tuan anda bisa saja kambuh kapan saja, katakan kepadanya untuk lebih bisa menjaga kesehatannya."


"Dan daripada memikirkan tentang kebahagiaan Adiknya, lebih baik dia memikirkan tentang kebahagiaan dirinya sendiri, apalagi disaat-saat terakhir seperti ini," sambung sang dokter lalu berjalan pergi.


"Baik dokter terimakasih," balas sekretaris Ken sedikit menunduk.


"Tapi, dengan menjaga Adiknya, hanya itulah yang bisa membuat Tuan Elang bahagia," batin sekretaris Ken dengan mata berkaca-kaca. Apa yang dokter itu katakan, akan benar-benar menjadi nyata?


Sekretaris Ken kembali mengangkat kepala, memantapkan hati untuk membuka pintu ruang pasien, dan menemui Tuannya.


Baru setengah pintu itu terbuka, sekretaris Ken sudah menyaksikan Elang yang hendak melepas paksa infus di pergelangan tangannya.


"Tuan Elang!!!" panggil sekretaris Ken yang berlari terburu-buru menghampiri Elang, berusaha untuk menghentikan dirinya.


"Tuan, apa yang anda lakukan?" tanya sekretaris Ken heran dengan apa yang ia lakukan. Berusaha untuk melepas paksa infus dari pergelangan tangannya dalam kondisi lemah, apa dia sudah gila?


"Ken cepat bantu aku untuk melepas infus ini, aku harus segera pulang untuk menemui Alan, sekarang dia pasti sudah sampai di rumah," pinta Elang yang masih sibuk berkutik dengan infus dipergelangan tangan kanannya.


"Cukup... cukup!" batin sekretaris Ken sudah tidak kuat dengan semua ini.

__ADS_1


Merasa bersalah boleh. Akan tetapi, tidak semua hal harus disalahkan dan dibebankan kepada dirinya bukan?


"CUKUP TUAN!!!" belungsang sekretaris Ken kepada Tuannya, seketika membuat Elang terkejut, dan mata mereka saling bertatapan.


"Maafkan saya tuan! Tapi apakah anda sudah hilang akal? Saya mohon, untuk saat ini saja pikirkan tentang keadaan anda sendiri. Berhenti untuk memikirkan orang lain!"


"Apa maksudmu, kebahagiaan Adikku itu tidaklah penting?" lirih Elang tajam.


"Bu... bukan seperti itu Tuan, hanya saja... hanya saja apakah anda sudah lupa dengan apa yang telah dokter itu katakan?"


"Tidak Ken, setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik aku selalu memikirkan tentang sebaris kalimat itu," balas Elang seraya menunduk, memandang sendu ke arah kedua tangannya.


"Aku tidak pernah percaya bahwa apa yang dikatakannya itu benar, hanya saja... kalau seandainya itu memang benar akan terjadi, aku serahkan Alan kepada mu Ken," sambung Elang yang seketika membuat sekretaris Ken terbungkam.


"Tolong panggilkan dokter cepat, aku ingin segera pulang!" titah Elang yang sudah merasa tak nyaman berlama-lama di sana.


"Baik tuan," balas sekretaris Ken lalu pergi untuk segera memanggil dokter, sama seperti apa yang Tuannya inginkan.


"Anda pasti sembuh tuan, saya yakin," batinnya.


Tak lama kemudian, akhirnya sekretaris Ken bersama dengan dokter serta satu suster datang menghampiri ruang pasien untuk menemui Elang.


Dokter mengizinkan Elang untuk pulang dan menyuruh suster tersebut untuk membantu melepaskan infus dari pergelangan tangannya.


...********...


-Di depan rumah sakit negara Y.


Elang dan sekretaris Ken berjalan keluar, menuju mobil putih yang telah disiapkan oleh sopir.


Pak sopir membukakan pintu untuk Elang dan sekretaris Ken. Lalu masuk kembali ke dalam mobil, berlalu pergi meninggalkan area rumah sakit.


-Didalam mobil.


"Sekretaris Ken!" panggil Elang yang pandangannya menatap ke arah luar kaca mobil.


"Iyah Tuan?"


"Rahasiakan semua hal ini dari Alan, jangan sampai ia mengetahuinya! Aku tidak mau menambah beban pikiran anak itu. Karna keadaan dia sudah cukup menyiksa, dan aku tidak ingin menambahnya."


"Baik tuan," jawan sekretaris Ken.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...

__ADS_1


__ADS_2