
"Haahh akhirnya kelar juga," ucap Riza seraya merenggangkan kedua tangannya.
"Iyah, alhamdulilah," tambah Alan.
"Kamu laper gak?" sambung Alan bertanya kepada Riza.
"Iyah nih, sedikit."
"Oke, Bi Ana masuk aja Bi!" teriak Alan memanggil seseorang, membuat Riza penasaran sembari mengikuti pandangan Alan ke arah pintu.
Seorang wanita paruh baya yang bernama Bi Ana itu masuk ke dalam ruangan dengan mendorong sebuah troli makanan, wangi harum makanan yang lezat langsung menyeruak masuk ke dalam Indra penciuman Riza.
"Ini Tuan Alan, makanan dan minuman yang anda minta sudah saya siapkan," ujar Bi Ana memberhentikan troli makanan tersebut di depan mereka berdua.
"Terima kasih Bi Ana, maaf Alan sudah membuat repot Bi Ana!" balas Alan kepada Bi Ana sedikit merasa tak enak.
"Tidak apa-apa kok Tuan, ini sudah menjadi kewajiban saya. Silahkan dimakan Tuan, Den, Bibi permisi dulu yah!" ucap Bi Ana pamit, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Alan!" panggil Riza yang tak henti-hentinya menatap lekat ke arah puluhan hidangan makanan tersebut.
"Yah?"
"Itu.... itu makanan buat kita?"
"Iyah, ambil aja kamu mau yang mana," balas Alan.
"Waaahhhh makasih yah Alan, makin betah nih buat kerja kelompok di sini terus," jawab Riza tak membuang kesempatan, dengan segera ia langsung melahap satu persatu makanan yang berada di atas troli makanan tersebut.
"Yah sama-sama, jadi.... kita sekarang teman kan?" tanya Alan yang sempat menjeda perkataannya.
"Iywah dwong, kita teman," ucap Riza dengan mulut penuh, mengulurkan jabatan pertemanannya kepada Alan.
"Yah," segera Alan langsung menyambut jabatan tangan Riza, dengan ukiran senyum yang terus mengembang di bibirnya.
"Akhirnya Alan, kamu mendapatkan seorang teman yang nyata," batin Alan bahagia.
Sedangkan di sisi lain.....
Elang hanya bisa menatap kesal dengan sesekali berdecak sebal ke arah layar cctv yang sedari tadi ia lihat, ia masih terus memperhatikan Adiknya bersama temannya di sana. Kekesalan Elang semakin memuncak ketika ia melihat Alan Adiknya menerima jabat tangan dari temannya dengan senyum manisnya.
"SEKRETARIS KEN!!!" teriak Elang.
"I... iyah tuan?" tanya sekretaris Ken yang sedang berdiri disampingnya sontak terkejut.
"Bawakan aku kopi lagi!" suruh Elang penuh penekanan.
"Ta-tapi Tuan, anda sudah habis lima gelas kopi hari ini, saya takut kalau nanti anda-"
"Apa sekarang kau sudah mulai berani melawan ku Ken!?" potong Elang menatap tajam ke arah sekretarisnya. Benar yang sekretaris Ken katakan, sekarang sudah ada lima gelas cangkir kopi kosong berjejer di atas meja kerja Elang.
"Ba-baik Tuan, akan saya buatkan," bata sekretaris Ken ketakutan, melihat tatapan tajam dari Tuannya.
Beberapa menit kemudian....
__ADS_1
"Ini tuan," ucap sekretaris Ken sembari menaruh secangkir kopi hitam di atas meja kerja Elang.
"Terima kasih," jawab Elang lalu menyeruput segelas kopi hitam ala sekretaris Ken itu.
"Achhss, kopi apa ini Ken, tidak enak! Buatkan yang lain!" decak Elang kesal dan kembali menaruh secangkir kopi hitam tersebut.
"Tapi ini kopi yang sama seperti yang saya buatkan awal tadi Tuan," jawab sekretaris Ken merasa heran, sebenarnya ada apa dengan Tuannya. pekerjaan kantor sudah beres dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sedangkan sedari tadi laki-laki itu hanya duduk manis, menatap layar cctv untuk mengawasi Adiknya.
"Maaf kalau saya lancang Tuan! Sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada anda, tidak seperti biasanya anda meminum kopi sebanyak ini," tanya sekretaris Ken kepada Elang.
"Aku hanya tidak suka melihat senyuman manis itu," lirih Elang sembari masih melihat ke arah layar cctv.
"Apa maksud anda? Sepertinya tuan Alan sedang sangat menikmati waktu belajar bersama temannya."
"Itulah maksud ku Ken, aku ingin sekali meremas wajah anak itu dan mencekiknya," balas Elang sembari meremas erat tangan kanannya, membuat sekretaris Ken bergidik ngeri melihat tingkah Tuannya.
"Bukankah itu hal yang bagus Tuan, akhirnya Adik anda bisa memiliki seorang teman," sahut sekretaris.
"Hanya berteman saja kan, bukan berarti senyuman dan kebahagiannya juga untuk temannya," jawab Elang sedikit keras.
"Aku lebih lama disisinya, aku lebih sering melindunginya dari semua masalah, dan aku adalah Kakaknya, tapi Alan jarang sekali memperlakukan diriku semanis dia memperlakukan temannya, padahal baru sehari mereka berteman," sambung Elang kesal, sehingga mengundang gelak tawa kecil dari sekretaris Ken.
"Apa ada yang lucu Ken?" tanya Elang yang sontak membuat sekretaris Ken menutup mulutnya.
"Maaf maafkan saya Tuan," ujar sekretaris Ken menundukkan kepala.
"Hm, cek ulang data yang aku berikan! Aku tidak ingin ada kesalahan," titah Elang lalu berdiri dari kursi kerjanya, berjalan menuju pintu lalu berhenti.
"Tetaplah di sini, aku akan segera kembali," pamit Elang dan menutup pintu.
"Haha, apakah anda sedang cemburu Tuan," batin sekretaris Ken terkekeh kecil.
...********...
"Alan, gua mau pergi ke toilet sebentar," ucap Riza kepada Alan.
"Oke, mau aku anterin?" tawar Alan.
"Gak perlu, ngomong aja dimana tempatnya."
"Oke," angguk Alan lalu memberitahukan letak dimana tempat toiletnya berada.
"Sip, kalau begitu gua pergi dulu yah," pamit Riza sambil berjalan pergi keluar ruangan.
"Iyah."
Akhirnya, Riza pun berjalan melaksanakan misinya, mencari-cari dimana letak toilet itu berada, mengikuti arahan yang telah Alan katakan kepada dirinya.
"Kata Alan setelah lewat sini, tinggal lewat lorong terus belok kiri," gumam Riza mengulang kembali peta yang ada dalam otaknya.
Riza terus berjalan, hingga sampailah ia di sebuah lorong. Pandangannya tertuju kepada sebuah ruangan kecil di ujung sana, dengan pintu sedikit terbuka.
"Apa ini yah tempatnya?" gumam Riza bertanya-tanya, seraya menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Udahlah samperin aja, udah kebelet banget nih," sambung Riza lalu berlari terburu-buru, menghampiri sebuah ruangan kecil yang ia kira tempat toilet itu.
/Kreeekkkk/ bunyi decitan pintu. Tempat itu lumayan gelap, hampir semua tidak bisa dilihat dengan jelas. Sedikit cahaya masuk melalui sela-sela jendela dengan tirai setengah terbuka.
"Ini mah bukan toilet namanya," gumam Riza merasa sedikit takut.
"Uhuk-uhuk, banyak debu lagi," Riza tetap berada di dalam sana, ia masih merasa penasaran, sebenarnya ruangan apa yang sedang ia masuki ini.
"Ini gudang?" batin Riza.
//Bruk// "Aucsshh!!!" kaki Riza membentur sesuatu, sehingga membuat dirinya terjatuh tersungkur.
"Kacamata.... dimana kacamataku!" panik Riza dengan posisi tengkurap, tangannya meraba-raba lantai, sibuk mencari dimana keberadaan kacamatanya.
"Siapa kau?" tanya seseorang dengan suara penuh penekanan, kepada remaja yang berada di hadapannya.
"Si... siapa di sana!" ucap Riza berbalik badan, tanpa kacamata ia tidak bisa melihat apapun.
"Aku bertanya, kau ini siapa?"
"Sa.... saya temannya Alan," jawab Riza ketakutan.
"Owh temannya Alan yah, apa yang kau lakukan di sini, dan bagaimana kau bisa sampai kemari?"
"Sa-saya hanya ingin pergi ke toilet, ta-tapi saya tidak tahu dimana tempatnya, lalu saya kira-" ucapan Riza terhenti seketika, disaat telinganya mendengar suara seseorang yang sedang mengisi peluru pistol.
"Ap... apa anda memegang pistol!?" gemetar Riza dengan keringat bercucuran, sebenarnya siapa yang berada di hadapannya saat ini. Sayangnya, ia tidak bisa melihat dengan jelas sekarang.
"Memangnya kenapa? Apa kau ingin mencoba panas pelurunya?"
"Hahaha, i-itu pasti pistol mainan kan? Anda pasti ingin bermain-main dengan saya," balas Riza mencoba membuang semua pikiran negatif dipikirannya.
"Pistol... mainan!?" lirih orang tersebut.
/DOR/
"Hah," isak Riza semakin menjadi, tubuhnya seketika mematung, detakan jantungnya sesaat berhenti. Dia bisa merasakan peluru panas itu melewati telinganya, disertai suara dentuman.
/Tak tak tak/ terdengar suara langkah kaki menghampiri Riza.
Orang itu menempelkan mulut pistol tepat di kening Riza, sehingga membuat tubuhnya semakin bergemetar hebat, rasa ketakutan Riza sama sekali tidak bisa dibayangkan.
"Kenapa? Apa kau ingin aku menguji keaslian pistol ini, menembak tepat di kepalamu hingga menembus ke belakang sekaligus menghancurkan isi pikiranmu yang konyol itu."
"Ti... tidak tuan! Saya tidak bermaksud untuk-"
"Ini, kau mencari ini bukan?" ucapnya sembari menyodorkan sebuah kacamata.
"Ka.... kacamata ku," batin Riza seraya meraba benda yang kini ia pegang.
"Dengarkan kan aku baik-baik, segeralah pergi dari sini, dan jangan pernah kembali lagi," ancamnya sembari menekan kalimat terakhir. "Ku beri kau waktu sepuluh detik."
"Ba... baik tuan," angguk Riza ketakutan, dengan segera ia langsung berlari keluar dari dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Ck, teman mu sangat konyol Alan," gumam Elang tersenyum smirk.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...