ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 33


__ADS_3

..."Pentingnya menghargai sesuatu."...


...********...


"Tuan Andhika, anda ada di sini," ucap sekretaris Ken sembari masuk ke dalam kamar pasien.


"Yah Ken, aku baru saja datang," jawab Andhika.


"Oh yah, dimana Nyonya putra dan Tuan putra? Mereka tidak datang kemari untuk menemani Elang?" tanya Andhika yang tidak melihat keberadaan kedua orang tua Elang di sana.


"Nyonya sedang sakit Tuan, beliau sedang dirawat di rumah, dan Tuan putra berada di sana untuk menemaninya," jawab sekretaris Ken.


"Sakit, parah kah?"


"Tidak Tuan, hanya demam saja. Ini semua akibat beliau terlalu mengkhawatirkan tentang kondisi Tuan Elang, dari kemarin malam beliau tidak bisa berhenti menangis dan terus menemani Tuan Elang disisinya," jelas sekretaris Ken.


"Yah, beliau pasti sangat mengkhawatirkan anaknya," balas Andhika sembari menoleh melihat Elang.


"Bagaimana tentang kasus kecelakaan Elang, apa kau sudah menemukan sesuatu?" sambung Andhika bertanya.


"Sudah Tuan, dari informasi yang saya dapat Tuan Elang mengalami kecelakaan tunggal, dan menabrak pembatas jalan. Ini semua akibat tingkat kecepatan mobil Tuan Elang yang tinggi, dan ditambah lagi, pada saat itu juga penyakit Tuan Elang sedang kambuh," jawab sekretaris Ken.


"Syukurlah ini hanya sebuah kecelakaan tunggal, dan tidak ada campur tangan orang jahat di dalamnya. Kalau mungkin saja ada, aku tidak akan membiarkannya."


"Dan mengenai soal penyakit Elang, apa Alan sudah mengetahuinya?" sambung Andhika bertanya sekali lagi.


"Iyah Tuan, kemarin tuan Alan mengetahuinya dan sedikit berdebat hebat dengan Nyonya," jawab sekretaris Ken menundukkan kepala, ia merasa gagal karena tidak bisa menjalankan perintah Tuannya untuk menyembunyikan tentang penyakit tersebut.


"Sudahlah Ken, ini memang sudah waktunya untuk Alan mengetahui semuanya. Sebaik-baik kau menyembunyikan sebuah rahasia, suatu saat pasti akan terbongkar juga," balas Andhika sembari menepuk pelan bahu sekretaris Ken.


"Baiklah, aku harus pergi. Masih banyak pekerjaan kantor yang belum ku selesaikan," ujar Andhika.


"Baik Tuan, terima kasih karena telah menyempatkan waktu untuk datang kemari," balas sekretaris Ken.


"Tentu saja Ken, dia temanku. Sesibuk apapun diriku, pasti aku akan menyempatkan waktu untuk menjenguknya kemari," ucap Andhika, lalu diantar oleh sekretaris Ken menuju pintu keluar.


...********...


-Di luar kamar pasien.


"Sekretaris Ken, kau sudah Kembali," ucap Alan yang baru saja tiba, setelah selesai mengisi perutnya.


"Iyah Tuan, baru saja saya sampai," balas sekretaris Ken.


"Bagaimana Alan, kau sudah kenyang?" tanya Andhika dengan senyumnya.


"Sudah Kak Andhika, terima kasih atas makanannya," balas Alan.

__ADS_1


"Bagus, lain kali jangan sampai telat makan. Baiklah, kalau begitu aku pamit pergi dulu!"


"Mau saya antar sampai depan Tuan?" tawar sekretaris Ken.


"Tidak perlu Ken, aku bisa sendiri. Baiklah aku pamit dulu, bye!" pamit Andhika dan berjalan pergi.


"Sekretaris Ken!" panggil Alan.


"Iyah Tuan?" tanya sekretaris Ken menunggu apa yang akan Tuannya itu katakan.


"Bagaimana keadaan Bunda?" tanya Alan yang sedang mengkhawatirkan kondisi Ibundanya. Di Satu sisi Bunda, dan disisi lain Kakaknya entah kenapa hari ini terasa begitu kacau.


"Alhamdulillah Tuan, kata dokter keadaan Nyonya sudah mulai membaik, dan beliau juga sudah mau makan walaupun sedikit," jawab sekretaris Ken.


"Alhamdulillah," balas Alan merasa sedikit lega.


/Drrrtt drrrtt drrrtt/ getar ponsel sekretaris Ken, membuat pria itu menggerogoh saku celananya dan mengambilnya.


"Sebentar Tuan, saya harus mengangkat panggilan dulu," ujar sekretaris Ken.


"Baik sekretaris Ken," angguk Alan lalu melihat sekretaris Ken sedikit pergi menjauh untuk mengangkat panggilan tersebut.


Sekretaris Ken: "Hm yah baiklah, saya akan segera pergi ke sana. Terima kasih!"


/Tut Tut Tut/ panggilan diakhiri.


"Tuan, saya harus pergi sebentar ke suatu tempat," ucap sekretaris Ken kepada Alan.


"Kemana? Apa aku boleh ikut?" tanya Alan.


"Mmm," deham sekretaris Ken berpikir. "Baiklah Tuan anda boleh ikut."


"Oke, tapi... kita mau pergi kemana?" tanya Alan sekali lagi.


"Nanti anda juga akan segera mengetahuinya. Ayo Tuan, kita pergi!" jawab sekretaris Ken tidak mau memberi tahukannya kepada Alan.


"Baiklah," balas Alan.


"Kemana?" batin Alan bertanya-tanya, kemana sekretaris Ken akan membawa dirinya pergi.


Tak lama kemudian, akhirnya mereka berdua pun pergi dengan menaiki sebuah mobil, menuju ke suatu tempat dan bahkan Alan pun tidak mengetahui dimana itu.


Didalam mobil Alan terus bertanya kemana tempat tujuan mereka, tapi sekretaris Ken hanya menjawab untuk menunggu dan sabar. Hal itu membuat hati dan pikiran Alan semakin penasaran.


...********...


Hingga tibalah, sekretaris Ken dan Alan di sebuah tempat tujuan mereka. Mereka berdua segera turun dari dalam mobil dan bergegas untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Toko perlengkapan medis?" batin Alan merasa terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini, untuk apa sekretaris Ken membawanya kemari.


"Sekertaris Ken, kenapa kita ke sini?" tanya Alan bingung.


"Nanti anda juga akan mengetahuinya Tuan, sebaiknya kita segera masuk ke dalam," balas sekretaris Ken yang sekali lagi mencoba menyembunyikan sesuatu kepada Alan, lalu berjalan mendahuluinya untuk masuk ke dalam toko tersebut.


"Untuk apa kita kemari?" batin Alan bertanya-tanya, lalu bergegas pergi menyusul sekretaris Ken.


Lama mereka berjalan dan mengelilingi toko tersebut, hingga langkah mereka berhenti di suatu tempat. Tempat yang penuh dengan kursi roda di sana.


Alan mengedarkan pandangannya kepada semua kursi roda yang berjejer rapi, remaja itu seketika mengingat kembali akan masa lalu kelamnya.


"Aku sudah berubah," batin Alan lalu melihat ke arah kedua kakinya, yang kini sudah bisa berdiri tegap.


"Tuan Alan!" Alan mendengar suara seseorang yang sedang memanggil namanya, membuat dirinya mengalihkan pandangan menoleh ke arah sumber suara.


Alan melihat sekretaris Ken yang sedang berjalan menghampiri dirinya, dengan mendorong sebuah kursi roda.


"Sekretaris Ken, untuk siapa kursi roda itu?" tanya Alan semakin dibuat bingung.


"Tentu saja untuk anda Tuan Alan," jawab sekretaris Ken yang lantas membuat Alan terkejut mendengarnya.


"Un-untuk aku, apa maksudmu sekretaris Ken, liha-"


"Tuan Alan," ujar sekretaris Ken memotong perkataan Alan.


"Ini hadiah ulang tahun dari Tuan Elang untuk anda," sambung sekretaris Ken. Seketika membuat pelupuk mata Alan memanas.


"Tuan Elang membelinya dengan penuh cinta dan kasih sayang, dengan harapan nanti Adiknya akan sangat senang melihatnya dan bahkan sangat menyukainya."


"Waktu pertama kali Tuan Elang melihat kursi roda ini di negara Z, Tuan Elang teringat akan Adiknya dan ingin menjadikannya sebuah hadiah. Apa anda tahu Tuan? Pada saat perjalanan pulang pun beliau terus memikirkan tentang ekspresi anda saat menerima kejutan ini nantinya."


"Ka-kakak," batin Alan yang sudah tidak bisa menahan setetes air mata itu untuk keluar.


"Saya sendiripun merasa cukup terkejut dengan raut wajah Tuan Elang saat itu, dirinya tidak bisa berhenti untuk terus tersenyum. Tapi, Tuan Elang mungkin tidak pernah menyangka, disaat kami berdua pulang ke rumah anda sudah bisa berdiri tegap dengan kedua kaki anda."


"Mendengarnya saja, anda pasti bisa paham bagaimana perasaan Kakak anda pada saat itu bukan?"


"Mungkin sekarang anda sudah tidak membutuhkannya, tapi setidaknya hargailah pemberian Kakak anda ini Tuan," ucap sekretaris Ken sembari memberikan kursi roda tersebut kepada Alan, dan remaja itu memegangnya.


"Hiks hiks Kakak," tangis Alan semakin menjadi, ketika melihat namanya terukir di sana. Memang benar, Elang membelikan kursi roda ini khusus dibuat untuk dirinya.


Alan terlalu fokus dengan derita lumpuhnya pada saat itu, hingga ia lupa kalau sebenarnya ada sesuatu yang lebih penting dan lebih berharga dari hal itu.


"Hiks kakak maafin Alan, hiks Adikmu ini terlalu egois."


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...

__ADS_1


__ADS_2