
"Sekarang bagaimana?"
Kataku sembari berjalan menuju kamar. Willy langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatapku heran.
"Sekarang bagaimana?"
Kataku mengulang, selagi mereka masih terdiam Aku akan tetap mengulang kata itu setiap kali mereka ingin menghindarinya. Aku butuh penjelasan yang sebenarnya.
"Mery!"
Teriak seorang santri sejauh mata memandang Aku menatapnya ada di tengah lapangan, ia berlari begitu cepat untuk menghampiriku.
Tap! Tap! Tap! Suara kaki melangkah setelah Dia datang, dihadapanku. Dengan nafas terengah-engah pun masih sempat untuk berbicara padaku.
"Ada apa?." Kataku
"Kamu cepetan kesana" Sembari menunjuk gerbang utama Pondok Darussalam.
Terdiam membisu sembari menatap gerbang yang terbuka dan ada satu dua mobil berwarna hitam mulai masuk. Disana juga ada beberapa Ustad dan Ustadzah yang menyambut kedatangan mobil tersebut.
Aku pun melirik ke santri tersebut dan Aku juga penasaran mengapa ia mengenal namaku. Padahal Aku sama sekali tidak mengenalnya.
Willy memasang wajah tanpa ekspresi saat ku lihat, tidak ada Putri dan Lela karna mereka sedang ada jadwal hafalan dengan Ustadzah.
Bahkan Aku hampir bingung, tidak ada sama sekali mobil tersebut berhubungan denganku. Mengapa santri ini berlari begitu terbirit-birit memanggil namaku dan menyuruhku untuk melihatnya?
Willy pun menghampiri santri itu, mungkin dia kenal. Ia mendekat sembari menepuk punggungnya yang sedang duduk di lantai mengatur nafasnya.
"Del, kau panggil Mery ada apa? Kok kamu kenal Mery." Kata Willy sembari menjongkok.
"Bagaimana mungkin Aku tidak mengenalnya. Dia sangat populer di Pondok Will." Katanya sembari menunjuk jarinya ke arahku.
Hah! Bagaimana bisa? Pikirku dalam hati. Aku sontak kaget mendengar jawabannya, sejak kapan Aku menjadi populer. Bahkan Aku belum ada di sini selama sebulan penuh, bagaimana mungkin.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Populer apanya." Kata Willy bingung.
"Will, kau tak denger berita yah di Pondok sini. Dia ternyata diam-diam bertemu dengan Indra tadi pagi loh. Sampai akhirnya Indra di panggil ke Ustad dan akan di keluarkan katanya, karena sudah melanggar peraturan di Pondok Darussalam. Sekarang orang tuanya akan menjemput dia pulang. Ini semua gara-gara kau Mer." Jelas teman Willy dengan rasa kesal dan penuh ambisius langsung menunjuk jari ke arahku.
Aku pun langsung terbengong, diam sambil mendengar ulang di otakku karena ucapannya barusan. Kenapa bisa jadi seperti ini, padahal sewaktu Aku dengannya tidak ada satu kata pun yang terucap.
Itu tidak mungkin, aku dengannya tidak ada hubungan apa-apa. Mengapa bisa seperti ini? Pikirku.
"Dela, itu tidak mungkin. Mery tadi pagi ada di kamar. Bahkan kami sempat juga berpamitan dengan Ara sebelum dia pulang." Bela Willy kepadaku memastikan, bahwa Aku tidak bertemu dengannya sewaktu pagi.
"Serius kau Will? Ara pulang kah? Apakah dia baik-baik saja! Engga seperti 2 tahun lalu kan?" Ujar Dela menyelidik.
"Apa maksud dari 2 tahun lalu Will?" Tanyaku kepada Willy, ia pun langsung memasang wajah bingung dan cemas.
Dela pun menatapku dengan rasa bingung juga, mungkin dia juga berpikir bahwa Aku belum mengetahui masalah Ara, apalagi dengan Lela.
Tiba-tiba Putri dateng dengan membawa beberapa minuman jus. Ia pun menatap kami bertiga, dengan berjalan cepat Putri pun sampai di hadapan kami.
Bahkan tidak lama kemudian, lela datang dengan membawa bingkisan makanan. Entah mereka mendapatkan makanan seperti itu dari mana.
Willy pun langsung meninggalkan tempat itu dan pergi bersama Lela, dela masih di tempat sepertinya ia bingung untuk ikut dengan siapa di antara Willy dan Aku.
Sesampai di depan pintu ruang pertemuan tamu, lalu putri tersenyum denganku dan berkata "Masuklah!" Sembari mendorongku ke dalam.
Aku kaget, dan langsung merasa gelisah karena dorongan dari Putri. Saat Aku berbalik wajah, ternyata di sana ada Abi dan Om Jaya. Ma Syaa Allah. Hatiku langsung berdegup kencang seperti lari dari ujung ke ujung.
Tiba saja Om Jaya menatapku lamat-lamat sembari tersenyum sedikit. Aku bingung, bahkan benar-benar bingung saat itu, canggung pun Aku rasakan.
Aku tidak siap untuk bertemu mereka, walaupun sebenarnya Aku malu dan rindu dengan Abi.
Aku langsung berbalik badan untuk keluar dan tiba saja "Brakk!" Aku menabrak seseorang yang ingin masuk ke dalam. Ku kira Ustad atau Ustadzah, tapi ternyata.
Ternyata itu adalah Kak Tery dan Mas Indra. Hah! Yang benar saja. Aku menyaksikan mereka berdua sedang bersama. Padahal Aku sudah berusaha keras untuk menghindar dari kejadian seperti ini.
__ADS_1
Namun, tanpa ku duga peristiwa seperti ini pun terjadi di luar pemahamanku. Rasanya begitu sakit saat melihat mereka. Tapi mempunyai rasa bahagia saat melihat Kak Tery yang ku rindukan.
"Mery, ayo masuk dulu" Ujar Om Jaya menghampiriku. Ia pun menuntunku masuk dan duduk bersama dengannya.
"Jadi bagaimana? Apakah nak Mery ini akan di jemput pulang, atau akan tetap di Pondok yah Pak?." Ujar Ustad sembari melirikku sekilas.
"Pulang?" Kataku langsung terucap begitu saja.
Mereka pun mendadak menatapku dengan tajam. Rencana yang sama sekali tidak Aku pahami ini membuatku bingung. Rasanya ingin menangis, karna diriku sama sekali tidak ada artinya.
Pembicaraan apapun Aku tidak tau, bahkan yang mereka maksud dengan kata "Pulang" pun Aku sama sekali tidak memahaminya. Sebegitunya mereka takut untuk Aku pahami. Ada namun tidak di anggap, seperti angin lewat. Begitulah Aku.
"Aku mau tetap dia di Pondok!" Ucap Indra menatapku dengan penuh harap yang sama sekali tidak ku pahami.
Aku hanya terdiam membisu sembari mendengarkan apa saja yang mereka katakan, aku akan mendengarkannya. Jika Aku pulang pun tidak ada gunanya, dan misal Aku tetap disini. Maka hidupku di penuhi oleh hafalan dan persahabatan.
"Baik, kalau begitu. Mery akan tetap di sini, tapi setelah kalian menikah, mery tetap harus pulang. Agar dia juga bisa melihat kebahagiaan kalian dan keluarga kita." Jelas Abi tersenyum dan mengusap kepalaku.
"Abi, kenapa tidak tanyakan dulu dengan Dek Merynya. Kali aja dia ingin pulang." Usul Kak Tery kepada Abi.
"Oh iya benar juga, jadi gimana dek?" Tanya Abi menatapku.
Aku bergemetar di tangan, rasanya ingin berkata tidak sembari memukul sofa yang ku duduki. Tapi rasa itu bukan Aku. Mereka Akan kaget jika mengetahui Aku seperti itu.
Akhirnya Aku mengisyaratkan dengan cara menggelengkan kepalaku sambil menggigit bibir yang hampir mengering karena sejak pagi belum minum sedikitpun.
Kak Tery langsung menghampiriku dan menatap mataku, tapi Aku menghindar dari tatapannya.
"Kamu kenapa dek?" Tanya Kak Tery merasa sedih.
Aku mencoba untuk tersenyum di hadapan mereka, rasa yang sebenarnya sakit karna orang yang ku suka akan menikah dengan Kakakku sendiri. Dan rasa itu melebihi dari patah hati.
"Aku enggak papa. Aku pergi dulu ke kamar yah. Abi, Om Mery pamit dulu. Assalamu'alaikum!" Ucapku mengakhiri percakapan dari mereka.
__ADS_1
Aku langsung berdiri dan hampir saja air mataku tumpah saat melirik sebentar ke arah Mas Indra. Ia pun mengernyitkan dahi seolah-olah ikut merasakan apa yang ku rasa. Aku hanya berdo'a untuk mereka, semoga berbahagia untuk selamanya.