
Setelah lima hari lamanya Aku ada di rumah sakit. Akhirnya bisa keluar juga dari sangkar yang penuh dengan aroma karbol. Anton mengajakku langsung pulang kerumah.
Aku tidak tahu lagi suasana di rumah, aku hanya berpikir jika Abi datang menjengukku sedangkan Aku sudah keluar dari rumah sakit bagaimana?
Aku juga meminta tolong dengan Anton untuk memberikan diagnosa obat tersebut. Aku berharap bahwa apa yang di katakan oleh Sesil adalah suatu halusinasi darinya.
Jika itu adalah obat tidur, mungkin selama ini ada orang yang mau berbuat jahat terhadapku. Syukurnya Anton ada di sini Aku membutuhkan bantuan darinya.
"Mer, kamu kenapa keliatan gelisah gitu?"
Anton tiba saja membuka bicara, terakhir ia bicara pun saat di kamar rawatku. Itupun saat dia mengatakan bahwa Aku boleh pulang sekarang.
"Aku takut, hari ini adalah hari pernikahan Kakakku. Gimana yah kabarnya" Kataku mulai resah.
Sontak Anton langsung meraih tanganku dan menggenggamnya dengan sangat erat, aku mulai merasa tenang saat Anton menatapku dengan sangat lama.
"Eh, jangan!" Ucapku langsung tersadar.
Aku hampir saja terhanyut oleh genggaman yang sangat hangat itu. Jantungku mulai berdetak tidak karuan, aku takut semisal kedekatanku akan menimbulkan fitnah.
Selama ini Aku tidak pernah dekat dengan pria, kehadiran Anton pun tanpa sengaja kami bertemu lalu bertengkar tidak jelas. Aku mulai senyum-senyum saat mengingat hal itu.
"Heh, kenapa luh!" Dinginnya sambil menatapku tajam
"Apaan sih, aku cuma lagi inget aja pas kamu tuh gagalin rencana Aku mau ambil makanan." Kataku mulai menyinggungnya.
Anton hanya terdiam sambil menyetir mobil miliknya. Memang yah, anak sultan kemana-mana pun bawa mobil pribadinya. Apalah Aku yang hanya ingin hidup sederhana seperti Abi dan Umi.
***
Lama sudah di setiap perjalanan Aku sudah sampai di gang menuju rumahku. Anton pun mulai menjalankan gasnya dan memakirkan mobilnya di depan Indomart terdekat.
Aku melihat sejauh mata memandang, ia terlihat bersinar di bawah cahaya senja. Aku melihatnya dengan sangat kagum. Ketampanan yang ia miliki dan kekayaan yang ia punya. Aku sama sekali tidak tertarik padanya, karena Aku hanya menganggapnya sebagai teman saja.
Di samping gang, tiba saja ada janur kuning yang menandakan ada pesta pernikahan yang orang adakan. Mungkinkah janur itu milik Kak Tery?
Sepertinya janur ini sudah terlihat sangat layu, kemungkinan janur yang di pasang sejak tadi pagi. Aku harus bergegas ke rumah. Aku ingin melihat keadaan Kak Tery.
__ADS_1
Anton berlarian menuju ku di depan gang kecil, ia menyampingkan rambutnya dan memakai masker begitu juga kaca mata hitamnya.
Ma Syaa Allah, siapa yang ku lihat itu. Walaupun pakaiannya sangat acak-acakan, tapi terlihat sangat menonjol saat di luar. Baru saja keluar dari pintu mobil pun wanita di sekelilingnya menatapnya dengan nafsu. Astaghfirullah, apa yang ku bicarakan ini.
"Calon pengantin wanitanya cantik yah, dan lagi pengantin prianya sangat tampan"
Ribut-ribut seseorang saat melewatiku di sampingnya, mereka mengarah dari gang yang menuju kerumahku. Aku berpikir bahwa itu adalah pernikahan Kak Tery.
Menunggu Anton terlalu lama, ia terlalu narsis di setiap langkahnya. Cahaya senja mulai tak terlihat hanya awan hitamlah yang menemani sore ini. Aku tidak bisa menunggu lagi, aku harus sampai di rumah.
"Anton, aku pergi dulu yah!" Teriakku sambil melambaikan tangan.
Tanpa menunggu jawaban dari Anton, aku bergegas dan mulai berlarian menuju ke rumah. Benar saja, di setiap tikungan selalu ada janur kuning yang melengkung. Namun, tidak ada papan nama calon pengantinnya.
Aku berlarian dengan terbirit-birit. Dengan berpakaian seadanya Aku sedikit mudah untuk berlari. Tidak seperti biasanya, kedua tangan kanan kiriku mengangkat gamis supaya tidak menghalang pelarianku.
Tidak disangka, anton justru ikut mengejar dan berlari menyusulku. Dia lebih cepat larinya dariku sehingga saat Aku hampir mendekati rumah, anton sudah ada di sampingku.
Dengan nafas yang terpenggal Aku menatap wajah Anton yang berkeringatan, air keringat bercucuran di sekitar wajahnya. Biasanya Aku membawa tisu, tapi karena Aku pulang hanya membawa pakaian yang ku kenakan mana mungkin membawa tisu.
"Keringatmu,," Ucapku ragu.
"Apa kamu kecapean?" Tanya Anton mulai tersenyum.
"Hah? Tumben kamu tersenyum gitu, habis minum obat yah?" Tanyaku mengejek.
Anton justru meringis tawa, ia merasa bahwa Aku sedang melawak di hadapannya. Banyak juga orang yang menatap kami dengan tatapan sengit.
"Kok aneh yah, orang liatin kita." Kataku sedikit malu.
"Karena gue ganteng, dan luh itu culun. Ya jelaslah orang liatnya aneh. Dikiranya masa pasangannya ganteng, cewenya cupu" Ledek Anton dengan membanggakan dirinya.
Aku mulai kesal sekarang di buatnya. Maksudnya apa coba, kan kacamata tanpa kaca itu sedang trending. Kenapa harus di perdebatkan sama dia.
Dianya saja yang tertinggal zaman sekarang. Memakai pakaian kemeja longgar dan celana jeans ketat bolong-bolong.
"Mending Aku lah. Kamu tuh, celana sobek aja di beli" Ejekku sembari menunjuk celana bagian yang robek.
__ADS_1
"Eh, ini itu lagi trending di Korea tau, luh tuh yah. Nggak tau gaya masih ngeyel lagi. Dasar cewe!" Nadanya sedikit tinggi dan langsung bangkit dari tempat duduknya di atas batu.
"Haha! Halo? Pak, disini tuh Indonesia. Bukan Korea!" Ejekku menunjuk tanah.
Anton sepertinya mulai kesal denganku, dia tidak menerima dengan semua perkataanku. Apalagi kalo bukan karena anak sultan yang tidak mau kalah dari tandingannya.
Sayangnya, dia tampan tapi masih jomblo. Aneh, padahal banyak wanita cantik di sekelilingnya. Aku dengar cerita ini pun dari Sesil. Keponakannya.
Dengan sedikit jail. Aku mencubit bagian pinggang sensitifnya sehingga Anton merasa geli saat kusentuh.
Anton tidak terima, aku langsung melarikan diri di pinggir jalan. Yang kuingat, disini adalah tempat dimana Aku jatuh pingsan lima hari yang lalu.
Anton mengejarku karena berusaha ingin membalas dendam gelitikan dariku. Ia mengejarku dengan sangat cepat, aku pun berusaha berlari sekuat tenaga. Kami seperti sepasang-kekasih yang sedang kasmaran saja yah. Haha..
Tiba-tiba motor dengan jalan yang cukup cepat hampir saja ingin mencelakaiku. Aku pun menghindar darinya, tanpa sengaja Aku terbentur pohon kelapa dekat di pinggir jalan.
Aku terbentur cukup kuat. Mataku berkunang-kunang dan seperti melihat adegan berbagai cerita. Ahh, kepalaku mulai sakit lagi. Siapa itu, kenapa Aku ada di sana. Begitu juga dengan Indra?
#Ingatan lewat mimpi Mery kembali.
"Lalu bagaimana kebahagiaan untukmu?" Indra.
"Pergilah, bukankah kamu sudah tidak di sini lagi. Mengapa kau masih di sini" Mery.
"Cukup! Aku ingin mengakhiri rasa ini, aku tidak mau terlihat lemah hanya karena menyukai orang yang sama. Aku akan merelakan demi kebahagiaan orang lain, apalagi orang itu adalah saudara kandungku." Mery.
"Abi! Kak Tery! Tunggu" Mery.
"Maaf! Aku terlalu bodoh. Aku sungguh bodoh. Aku membenci diriku yang sekarang!" Mery.
"Indra, aku mencintaimu" Mery.
Ingatanku mulai timbul setelah kepalaku terbentur yang sangat kencang di pohon tersebut. Aku ingat tentang Indra. Aku mengerti sekarang, aku paham.
Aku langsung tersadar di pelukkan Anton ternyata. Mataku terbuka pelan-pelan. Aku melihat wajah cemas Anton. Bahkan ia meneriaki namaku saat di pelukkannya.
Tapi Aku mengingat Mas Indra, aku ingin bertemu dengannya dan ingin menjelaskan semuanya bahwa Aku sangat mencintainya,
__ADS_1
karena dia Aku jatuh cinta dan Aku tidak mau karena dia juga Aku kecewa. Semoga Aku tidak terlambat, hari ini pernikahan Kak Tery dengannya Aku harus membatalkan pernikahan mereka. Harus!