
Katakanlah jika memang ada beban berat dalam pikiranmu, karena apa yang kau rasakan itu sama halnya yang pernah Aku rasakan saat itu.
Gumamku dalam diam, sesaat mobil berhenti seketika dan Aku langsung melihat jendela mobil. Ternyata sudah ada di depan gang dekat rumahku.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama Nona," jawab supir keluar dan membukakan pintu untukku.
"Biarkan Anton tertidur, bawa dia pulang yah Pak," kataku berusaha keluar dari mobil.
Anton terlelap tidur, menyender di bahuku. Setelah Aku sampai depan gang dekat rumah. Aku pun memalingkan kepalanya untuk menyender ke pintu mobil sebelah kanan.
Aku mulai beranjak keluar dari mobil. Namun, tiba-tiba Anton menyergap tanganku dan berusaha menahanku pergi.
"Tunggu."
"Ada apa," jawabku langsung merespon.
"Duduk di mobil sebentar. Aku mau berbicara denganmu."
"Bukannya kau tak mau membicarakannya?"
"Itu tadi," ujarnya memelas.
Tiba saja Anton memohon padaku untuk bertahan sebentar di dalam mobil, sepertinya sesuatu yang memberatkan hatinya ingin ia luapkan padaku.
Aku pun kembali masuk ke mobil, sedangkan Bapak tadi menunggunya di luar. Hanya ada Aku dan Anton sekarang, ia menatapku bingung.
"Kenapa?"
"Tidak," jawabnya sedikit dingin.
"Kalau tidak ada apa, ya aku pergi sekarang."
"Oke, Aku cerita sekarang," sahutnya langsung duduk dengan tegak, "Aku ingin mengajakmu untuk pergi bersamaku ke Korea, besok? Apakah kau sedia?"
Aku tercengang kaget saat Anton ingin mengajakku bersamanya, tidak hanya itu. Aku harus bersamanya, berdua?
"Enggak!"
"Kenapa?"
"Karna.., karna Aku tidak punya uang ke sana," kataku mencoba untuk menolak.
"Ada Aku," Katanya menepuk dada.
"Eh, eenngg.. Aku harus balik ke Pondok."
"Aku sudah izin untukmu."
"Apaa!" teriakku kaget, "Kenapa begitu?"
__ADS_1
"Aku sudah mendapatkan izin dari bokap lo, apalagi? Bersiaplah besok jam 9, Aku akan menjemputmu nanti," kata Anton langsung membuka pintu mobil dan menyuruhku untuk keluar dari mobilnya.
Aku pun langsung keluar tanpa berkata apa-apa padanya, dan langsung meninggalkan Anton di tempat. Aku berlari kencang untuk cepat sampai ke rumah.
Tidak tahu apa rencana Abi selanjutnya, mengapa ia mengizinkan Aku pergi bersama Anton tanpa pengecualian. Bahkan memberiku kabar pun sama sekali tidak.
Sesampai dirumah, Aku langsung mendorong pintu tanpa salam. Entahlah yang kupikirkan saat ini itu apa, yang jelas Aku ingin tahu alasan dari Abi.
"Abi," teriakku sembari membuka pintu.
"Waalaikumsalam"
"Eh, assalamualaikum Abi," kataku merendah.
Aku bahkan sampai ngos-ngosan tidak karuan, di hadapan Abi, Aku langsung berpaling dan duduk di sofa panjang.
"Kamu habis di kejar kucing?" tanya Abi membungkuk.
"Enggak kok," kataku menghindar heran.
"Lalu."
"Lalu, kenapa Adek di suruh ikut sama Anton ke Korea? Abi kan tahu, Adek mana bisa bahasa begituan," kataku mengomel.
"Ulu.. uluh.. Anakku sudah besar ternyata. Abi menyuruh kamu pergi bersamanya karena Abi tau Anton itu anak yang baik," kata Abi mengelus kepalaku.
"Kenapa?"
"Baik, Adek paham Bi."
Yah, orang mana yang ingin pernikahannya terganggu, apalagi masih anget seperti mereka, Batinku.
Aku bangkit dari tempat duduk dan langsung berusaha membuka pintu kamar. Ternyata di dalam kamar ada Kak Tery yang sedang melipat baju.
"Mbak."
Kak Tery mendongak dan menatapku dengan tatapan kosong, seketika Aku berjalan menuju ke arahnya dan duduk disamping Kak Tery.
"Nah, baju kau sudah Mbak bereskan, besok tinggal berangkatnya saja. Mbak harap kau hidup selamanya di sana dan jangan kembali lagi," katanya memperingatiku sembari menyodorkan pakaian yang sudah terlipat rapih.
"Mbak, jangan gitu.. Adek nggak mau pergi jauh dari keluarga," kataku memohon, memegang erat tangannya.
"Mbak nggak peduli sekarang dengan kamu, dek. Kau sudah membuat Mas Indra sekarat di rumah sakit."
"Ampun Mbak, ampun," kataku mulai menangis.
Abi langsung masuk ke dalam kamarku dan menatapku yang sedang memohon kepada Kak Tery.
Sikap acuh tak acuh Kak Tery terhadapku membuat Abi teriris sakit hati karena sikapnya. Ia tidak seperti dulu yang Tery kenal sebagai Kakak paling menyayangi adiknya ditimbang barang favoritnya sekaligus.
Abi mencoba menasehati Kak Tery. Namun, tetap saja sikap dinginnya terhadapku kian semakin meninggi.
__ADS_1
"Tery, sudahlah, maafkan Adek kau itu. Dia sudah berusaha untuk memohon padamu. Tidakkah kau lihat deraian air matanya mengalir hanya untuk memohon ampun kepadamu?" kata Abi menunjuk pipiku penuh dengan air mata.
Lantas, Kak Tery langsung membungkuk dan bertatap muka denganku. Wajahnya mulai merasa bersalah, mata yang sipit itu pun mulai berkaca-kaca seakan-akan ia ingin menangis.
"Mery, maafkan Mbakmu," ujar Kak Tery menunduk dan mencium tanganku.
Aku merasa sangat sedih saat melihat Kak Tery mengucapkan kata "Maaf" untukku. Dia menyadari semua kesalahan yang telah ia perbuat terhadapku.
Aku pun merasa sudah mengkhianati Kakakku sendiri, telah mencintai suaminya dan memeluknya sebagai seorang kekasih dalam 5 menit saja. Aku benar-benar merasa sangat bodoh saat itu.
Pekik tangisku sangat menusuk, kejiwaanku sudah mulai tidak bisa kukendalikan lagi sehingga Aku telah melupakan seseorang yang dulu selalu menjagaku saat itu. Aku yang seharusnya meminta maaf padanya!
Harapanku sudah mencapai sedikit ke tujuan, walaupun sedikit merasa menyesal. Tapi inilah takdir, Aku tidak bisa menyalahkannya. Allah sudah merencanakan sesuatu yang sangat indah untukku di kemudian hari.
"Mbak, Mery sudah maafin Mbak," ujarku menangis dan langsung memeluk Kak Tery.
Mungkin dengan kepergianku ke Korea, Aku bisa melupakan kenangan manis pahitnya cinta yang kurasakan sendiri.
Dengan begitu, Aku bisa membuka lembaran baru yang jauh lebih baik dari hari sebelumnya, Aku tidak ingin mengenal cinta seperti ini lagi.
Abi pun merasa sangat lega karena Kak Tery denganku sudah baikkan. Jika Umi mendengar kabar ini langsung, mungkin dialah jauh lebih bahagia ketimbang diriku dan Kak Tery.
Di saat bersamaan, ponsel Abi berdering sangat keras sehingga membuyarkan tangis bahagia ini.
"Haloo, assalamualaikum," sahut Abi di telefon.
"Oh, Anton? Iya dia ada disini."
Seketika Abi berjalan mendekatiku dan menyodorkan ponselnya kepadaku, Aku merasa bingung mengapa ia menelfon Abi semalam ini.
*Dalam Telefon.
"Halo."
"Halo, Mery, aku harap kau sudah mempersiapkan barang yang kau bawa untuk besok, sekarang Aku tidak bisa menunda lagi."
"Apa maksudmu?"
"Sesil, dia harus cepat di bawa ke rumah sakit di Korea. Karena dia harus cepat ditangani oleh Dokter spesialis. Aku harap kau mengerti sekarang! Dalam waktu 15 menit, Aku sudah ada di gang seperti biasa," suara Anton terdengar sangat terburu-buru dengan terdengar sangat berat.
"Baiklah, Aku sudah siap," Dengan gigih, Aku langsung mengatakan tanpa berpikir panjang. Mungkin sewaktu Anton merasa sedih saat di mobil itu adalah karena Sesil. Sebenarnya Sesil sakit apa?
Kebetulan, Abi dan Umi sudah ada dihadapanku. Aku ingin berpamitan padanya, untuk berangkat ke Korea malam ini juga. Perasaan berat yang harus meninggalkan mereka pun sangat menusuk atmaku.
Demi mematikan cintaku pada Indra, demi kebahagiaan Kakakku, demi menatap masa depanku dan demi kebahagiaan bersama orang di sekitarku. Aku ingin pergi jauh supaya Aku bisa melupakan semua yang sudah terjadi.
Aku pun menatap Umi dengan lamat-lamat, tidak bisa terbendung lagi air mataku pun langsung menetes. Umi berlari kecil mengarahku dan memelukku dengan sangat erat.
Kebahagiaan yang sekarang ini sudah cukup untukku, setidaknya saat Aku pergi jauh tanpa mereka. Masalah di antara Aku dan Kak Tery sudah tidak ada lagi.
Jakarta, terima kasih sudah membuatku merasa dewasa, membuatku akan selalu kuat, selalu tabah dan sabar menjalani percobaan dan masalah yang rumit, sudah kulewati. Kini Aku akan mengejar kebahagiaanku bersama Anton, partner sekaligus menjadi keluarga bagiku.
__ADS_1