
Cuaca hari ini sangat mendung, bahkan awan tidak mendukung hari spesialku. Semalam Aku kenyang dengan tangis yang sangat menyakitkan. Kak Tery mengucapkan kata yang jelas sama sekali Aku tidak mengerti.
Dan pula, semalam Umi dan Abi pun tidak merayakan ulang tahunku. Mengapa? Apakah mereka lupa tanggal ulang tahunku?
Aku hanya terdiam di depan rumah sembari duduk di atas kursi untuk bersantai. Aku masih menunggu mereka untuk mengingat ulang tahunku yang ke 21 tahun.
Yah! Walaupun umurku semakin menua, setidaknya Aku akan menjadi gadis semakin dewasa. Semakin dewasa pula Aku berpikir lebih menatap masa depan. Masalah semakin menjadi-jadi dan Aku harus belajar semua itu mulai sekarang.
"Abi mau kemana?" Tanyaku kepada Abi yang tiba-tiba keluar rumah dengan tergesa-gesa.
"Mm.. Mau ke rumah Om Jaya, mery mau ikut?" Jawabnya tersenyum.
"Siapa Om Jaya? Kok Mery engga tau Abi punya temen di sini" Kataku bingung.
"Lho! Bukannya kamu pernah Abi ajak kesana yah? Kok udah lupa aja sih" Ujar Abi berjalan mendekatiku.
Tatapan Abi heran, aku pun sama. Akhirnya Abi duduk di kursi berdampingan denganku. Aku menatap Abi yang mulai duduk.
"Dek! Koe neng opo seh?" Tanya Abi lagi.
"Abi yang kenapa! Sejak kapan Abi mengajakku jalan-jalan selama di Jakarta" Kataku mendengus sedikit kesal.
Ia langsung kaget dan menggelengkan kepalanya. Aku juga bingung. Kapan Abi mengajakku jalan. Seingatku Abi hanya mengantarkan Aku ke Pondok, itu saja.
"Enggak dek. Aduh! Ada apa ini? Masa kamu sama sekali enggak ingat sih dek, dek" Kata Abi mulai bingung.
Obrolan kami belum selesai, tiba saja Kak Tery keluar rumah dan membawa tas berwarna hijau kesukaannya. Terlihat baju syar'i yang di kenakannya sangat bagus, dia mungkin mau pergi ke suatu tempat yang istimewa.
"Mau kemana Mbak? Ikut dong." Kataku berseru.
Kak Tery menoleh, ia menatapku dan Abi yang sedang duduk di kursi tamu luar. Lalu Kak Tery langsung memalingkan wajahnya dan mencari-cari barangnya di dalam tas.
"Cari apa?" Kataku. Kak Tery hanya menoleh, dan tidak menjawab pertanyaanku lagi.
__ADS_1
Abi pun hanya menatap tingkah Kak Tery yang tidak seperti biasanya menyikapi Aku seperti ini. Lantas Kak Tery menyodorkan uang sejumlah 200 ribu kepadaku.
"Nah, pergi dan bersenang-senang dek!" Katanya sedikit dingin.
"Ini uang apa Tery?" Tanya Abi kesal.
"Apa maksudnya? Mbak ini kenapa sama Adek?" Sahutku dengan rasa curiga terhadap Kak Tery.
"Lah opo seh, koe dino iki kan ulang tahun. Sopo meneh sing inget yen dudu Aku!" Katanya kesal dan menatapku dengan tajam. "Ini uang buat kau dan temanmu makan-makan. Selebihnya minta sama Umi atau Abi. Mbak mau kerja dulu" Katanya mulai meninggalkanku dan Abi.
Aku tertegun dengan sikapnya, aku kaget dengan ucapannya. Ia kira Aku ini siapa? Aku ini adiknya. Seberapa penting pekerjaan Kak Tery denganku.
Dulu Kak Tery selalu mengutamakan kegiatanku, kepentinganku dan semua tentangku. Bahkan 5 tahun lalu, kak Tery ada Study tour di Bandung kegiatan dari sekolah. Tapi Kak Tery memilih untuk tidak mengikuti kegiatan sekolahnya demi merayakan ulang tahunku.
Tapi mengapa sekarang dia sangat berbeda. Kak Tery bukanlah lagi dirinya, dan sejak kapan Kak Tery mulai kerja? Bahkan Aku-pun tidak mengetahuinya.
Aku terdiam sembari menatap uang yang ia berikan dan menaruhnya di atas meja. Abi kesal, lalu menatapku dengan perasaan sedih. Mereka pun sama, ia tidak mengingat ulang tahunku atau mereka lupa dengan umurku yang sekarang?
"Mmm biar Abi hitung dulu yah" Jawabnya ragu.
"Cukup! Adek tau sekarang. Abi sama sekali tidak mengingat ulang tahunku yang ke-3 kalinya dan Umi yang ke-2 kalinya. Sedangkan Kak Tery selalu mengingat tanggal dan bulan kelahiranku. Tapi Abi lihat sekarang, bagaimana Kak Tery menyikapi Aku sebagai adik kesayangannya?" Kataku dengan rasa kesal.
Mataku mulai berkaca-kaca, aku masih menatap uang itu. Aku kesal, marah, dan merasa sedih di hari ulang tahunku ini. Kak Tery sepertinya menyimpan sesuatu dariku, tapi Aku tidak tahu apa itu.
Seakan batinku berteriak dengan sangat kencang, hatiku seperti di cabik-cabik dengan batu yang sangat kasar.
Sontak kepalaku tiba-tiba mulai sakit, dan Aku seperti membayangkan seseorang yang sedang bersamaku. Ia menatapku dengan rasa sedih, aku tidak bisa melihat wajahnya.
Aarrght! Sakit!
Teriakku mengagetkan Abi, aku langsung memegang kepala bagian yang sangat sakit dan penglihatanku mulai kabur. Aku dengar teriakan Abi yang cemas. Tiba saja Aku terjatuh pingsan.
***
__ADS_1
Tubuhku terasa lemas. Ternyata Aku terbaring di atas ranjang kamarku. Aku melirik ke arah pintu yang tertutup rapat. Tidak ada suara sama sekali, hanya saja jam detik yang terus berdetak.
Kepalaku sangat pusing dan masih terasa sakit. Bibirku bergetar hebat dan suhu tubuhku sangat panas. Nafasku terasa panas dan tenggorokanku sangat sakit. Ada apa ini? Apakah Aku mulai demam?
"Umi!" Panggilku sedikit tidak bertenaga untuk berteriak.
"Umi, abi" Panggilku lagi. Hening..
"Ab.. Aaahh! Sakit" Panggilan ke tiga, aku mulai merasa mual dan rasanya benar-benar tidak enak. Seketika ada suara seseorang yang ingin membuka kamarku.
Cetak! Kriet,,
Benar dugaanku, ada orang yang masuk ke kamarku dan dia adalah Indra dan Kak Tery. Mereka barengan lagi? Tapi Aku merasa pusing dan sangat sangat mual saat Aku berusaha untuk bangun.
"Tunggu, jangan lakukan dulu. Kamu butuh istirahat" Teriaknya berusaha meraihku untuk tetap berbaring.
"Jangan pegang Aku!" Teriakku mulai berontak saat Indra mau memegang lenganku.
Kak Tery masih terdiam menatapku di depan pintu, lalu wajahnya sangat terlihat cemburu padaku. Kenapa Indra begitu padaku, reaksinya akan membuat salah paham di antara Aku dan dengannya.
Tidak, ini tidak benar. Aku harus menjauh darinya, tapi kenapa setiap Aku mengatakan menjauh darinya hatiku semakin sakit. Ada apa ini? Batinku mulai bimbang.
"Mbak!" Ujarku menatap Kak Tery.
Lalu Indra menoleh ke arah Kak Tery. Sangat dramatis, kak Tery justru pergi dan meninggalkan kami berdua di kamar. Apa apaan ini.
"Cepat! Susul Mbak Tery. Ayo!" Aku berteriak ke Indra.
"Untuk apa? Bukankah dia yang ingin pergi sendiri" Katanya heran dan memasang wajah datar.
"Bodoh. Kejar dia atau akan menambahkan kesalahpahaman di antara Aku denganmu!" Kataku mengancam, melotot. Indra kaget, dan langsung pergi dari kamarku.
Dia berusaha untuk mengejar Kak Tery yang sedang di serang oleh cemburunya. Tapi kenapa Aku juga merasakan sakit hati? Apakah sebelum Aku amnesia, aku pernah punya rasa dengannya? Enggak! Itu tidak mungkin. Gumamku membatin.
__ADS_1