
#Didalam mobil travel Pak Tono.
Setelah berdebat karena harus semobil dengan Anton yang selalu membuatku kesal dengannya. Kini justru duduk di sampingku dan jarak di antara kita pun di batasi oleh koper yang ia bawa.
"Minggir! Jangan sampai koperku kena, yang ada koperku jadi culun kaya kamu" Katanya mengancam.
Aku hanya menggelengkan kepala. Dia cowo, tapi tingkahnya sama seperti anak perempuan yang tidak mau mainannya di sentuh oleh orang lain.
Dia kira Aku ini apa? Sampah! Ya Allah. Kok bisa sih ada cowo seperti dia. Untung hanya satu, coba kalau lebih dari itu. Orang yang di sekitarnya bakal mati kaku nantinya.
Aku memikirkan panjang tentangnya sampai tidak sadarkan diri bahwa Aku telah mengejeknya di dalam hati. Bibirku gemetar saking menahan tawa yang tidak bisa Aku pendam lagi.
"Haha, lucu!" Kataku sambil menepuk-nepuk kursi jok di depan.
Anton langsung menatapku dengan rasa kesal, dia bingung sepertinya. Mengapa Aku tertawa secara tiba-tiba. Wajahnya langsung berubah, mengubah tanpa ekspresi. Aku pun mulai berhenti tertawa.
"Apa?" Tanyaku heran.
"Cantik juga kamu kalau ketawa kaya gitu" Katanya menyeringai.
Apa? Apa katanya, aku cantik? Sejak kapan dia memujiku. Aku langsung terdiam dengan jawaban yang konyol itu. Pipiku serasa merasakan tegang dan rasanya sungguh ingin meledak. Tidak mungkin kan kalau pipiku berubah memerah karena kucing liar itu.
Anton jika di lihat sangat tampan, Dia terlihat seperti aktor yang sangat populer. Wajah yang cerah, berkulit putih, rambut yang bergaya model sekarang dan juga tinggi. Sempurna! Hanya saja sikapnya membuat ku muak untuk mengagumi dirinya.
Selama di dalam mobil dia lebih banyak diam sebelumnya, mungkin dia lebih baik di dalam mobil saja ketimbang di luar. Benar-benar seperti kucing liar.
Tiba-tiba rasa kantukku datang di tengah perjalanan, dan terakhir Aku ingat sekali kalau Aku adalah pemabuk perjalanan jauh. Dari Tanggerang ke Jakarta itu membutuhkan waktu 2/3 jam.
Dan akhirnya waktu yang selama ini baru satu jam saja. Aku sudah tidak bisa menahan mataku yang sempit ini untuk terus membuka. Tanpa sadar Aku menyenderkan ke kepalaku di kopernya.
"Hei, hei, hei. Siapa yang menyuruhmu untuk nyender di koperku?" Teriaknya langsung membuatku kaget terbangun.
"Maafkan aku, tapi Aku sangat ngantuk sekali" Kataku sembari mengucek mata.
Dia sama sekali hanya menatapku sembari memeluk kopernya. Entah apa yang ada di dalam koper itu, seperti berisi milyaran emas saja.
Tubuh ku terasa lemas dan pusing, mungkin ini tanda bahwa Aku akan mabuk perjalanan lagi. Aduh, aku harap tidak terulang seperti waktu pertama kali ke Jakarta.
Di sini tidak ada Abi sama Umi, mobil travel ini hanya ada Aku, Pak Tono, Anton dan Ustadzah saja. Mereka belum mengerti Aku soal mabuk perjalanan jauh.
__ADS_1
Dan di tambah lagi, jalanan Tol macet karena ada perbaikan di sebelah kiri. Ini sulit untuk Aku percaya. Aku tidak kuat dengan aroma mobil Pak Tono ini, baunya tidak enak.
Ustadzah lalu menatapku dari depan, ia memasang wajah cemasnya ke arahku. Sudah dapat tempat begitu sempit dan tambah lagi koper Anton ada 3. Sampai barangku pun tidak muat sama sekali di bagasi.
"Mery, kamu enggak papa?" Tanya Ustadzah.
"Aduh Umi, afwan. Mery merasa mual. Sebenarnya ana tidak terlalu suka dengan aroma mobil seperti ini." Kataku sembari mengeluh memegang dadaku.
"Alasan itu, udah biarin aja." Ujar Anton sedikit menyeringai.
"Hey bocah. Sopan sedikit dong sama orang tua." Ucap Pak Tono menasehati.
"Sudahlah. Mery lebih baik kau duduk di depan. Dan Umi akan pindah ke belakang bersama Anton. Anton bolehkan!" Kata Ustadzah tersenyum dengannya, tetapi sedikit kata yang di ucap pun tidak ada.
Aku sudah muak dengan tingkahnya, aku menoleh ke arah Anton dan menepuk pundaknya sangat keras.
Puk!
"Ngangguk kek, iya kek, enggak kek. Jawab dong. Bisu yah?" Kataku mulai kesal.
"Apa si?" Anton pura-pura tidak mendengar apa yang di ucapkan Ustadzah barusan. Ia pura-pura bodoh di hadapanku.
Udara sore hari memang segar, aku sedikit terobati dengan cara keluar sebentar dari mobil. Ustadzah pun keluar, kami bertukar tempat di saat perjalanan di tol yang sangat macet.
*Tiba-tiba dering telefon Ustadzah bunyi.
Kring! Kriningg.. Kring, kriningg..
Tidak lama Ustadzah langsung mengambil ponselnya yang ada di saku sebelah kanan.
"Halo, assalamualaikum. Oh baik, terima kasih infonya" Kata Ustadzah di telefon.
Aku masih duduk tenang di depan bersama Pak Tono. Penglihatan di depan memang cukup luas. Bahkan Aku bisa menyenderkan tubuhku di jok, lalu Aku bisa menatap perjalanan tol yang macet ini penuh dengan kendaraan roda empat, pun ada juga yang lebih seperti truk.
Aku menoleh ke belakang untuk melihat Anton yang sok sombong itu, kucing liar yang tidak pernah tahu sopan santun.
"Ppfft!" Suara tawa yang tertahan.
"Apa Loh, nglirik-nglirik. Kalo suka bilang!" Anton menoleh ke arahku dengan nada bicara seolah ia tidak memiliki rasa malu.
__ADS_1
"Idih, amit-amit. Jangan sampe Aku berjodoh orang kaya kamu." Kataku mengejek.
Seketika panas api membara di kepala Anton sepertinya mulai meledak. Ia langsung melemparkan pensil ke arahku, yang entah datang dari mana.
Ustadzah hanya menggelengkan kepala yang melihat kami selalu bertengkar dengannya setiap kali waktu bertemu. Pak Tono pun demikian hanya tersenyum dan menyengir seketika melihat tingkah kami.
Umur yang seharusnya matang untuk bekerja lalu berkarir, tapi Aku hanya ingin melanjutkan pendidikanku di Pondok Darussalam.
Jika bulan depan Aku sudah lulus, maka Aku akan bersungguh-sungguh untuk mencari uang dan membantu Abi yang selama ini menafkahi kami.
***
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang, kami telah sampai di rumah kucing liar ini. Yah, siapa lagi kalau bukan Beton, eh Anton.
Setelah jendela mobil terbuka, aku menatap lamat-lamat rumah Anton yang sangat besar. Pertama kali juga Aku melihat air mancur di depan halaman rumah begitu juga taman bunga yang sangat luas di samping rumahnya.
Sungguh Aku kira ini adalah Istana Presiden. Ternyata ini adalah rumah Anton yang sangat bagus dan sangat elegan untuk di pandang. Aku hanya bisa menggigit bibir, mengapa orang yang seperti dia mau hidup di Pondok? Yang penuh dengan peraturan dan hafalan Qur'an.
Mobil berhenti di depan pintu rumah Anton, tiba-tiba semua pelayan pria dan wanita berbaris di hadapan pintu mobil. Aku sama sekali tidak mengerti apa itu maksudnya.
Pak Tono langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah pintu dekat dengan dimana Anton duduk.
"Ayo!" Kata Pak Tono tersenyum.
Anton dengan sifat dingin dan sok angkuhnya langsung keluat dari mobil dan di sambut oleh beberapa pelayan. Luar biasa.
"Selamat datang kembali Tuan muda!" Ucap pelayan bersamaan menyambutnya dengan sangat hormat. Sebenarnya siapa Anton?
Aku langsung terpaku kaku melihat Tingkah Anton yang selalu jahil denganku, kini ia terlihat dewasa di hadapan pelayannya. Pak Tono langsung masuk mobil dan mulai menginjakkan gas mobilnya.
"Umi, sebenarnya siapa Anton?" Tanyaku langsung menoleh ke belakang.
"Anton adalah anak pewaris tunggal sekaligus calon Pewaris kerajaan di Inggris. Dia baru saja datang ke Indonesia karena ada tugas dari Ayahnya. Umur Anton 22 tahun, tapi kecerdasan dan jeniusnya selalu membuat para gadis di sampingnya ingin mengejarnya." Jelas Ustadzah tersenyum.
What? Calon kerajaan di Inggris dan Aku sama sekali tidak mengenalinya. Pantas saja Ustadzah tidak berani menggubris Anton ketika sikapnya tidak sopan.
"Lalu, tujuan apa dia ke Pondok?" Tanyaku masih sangat penasaran.
Ustadzah hanya tersenyum menjawab pertanyaanku dan hanya menatapku dengan tatapan lembutnya. Aku sungguh penasaran tentangnya. Tapi Aku salut sedikit dengannya, dia sama sekali tidak menyombongkan diri yang sebenarnya.
__ADS_1