
Dev menoleh, dan tersenyum kepada mery. "Baikalah, aku mau makan dulu saja. Lagian aku sudsh lama tidak merasakan masakan gosong punyamu, mer. Hahaha ..."
"Hei, jangan mengungkit masa kecil. Aku terlalu parah untuk di ingat!" teriak mery dari dapur, suaranya terdengar nyaring melepaskan teriakannya.
"Hahaha. Cindil bisa memasak? Itu keajaiban dunia!" tawa dev semakin mengeras, seketika adelia membuka pintu kamar mery. Ia melihat dev tertawa seperti orang miskin melihat harta berserakan di rumahnya.
"Om! Usstt... Jangan berisik!" bisik adelia menatap kosong ketika dev berpaling pandangannya melihat daun pintu kamar mery terlihat hanya kepala kecil yang keluar sedangkan tubuhnya tertutup oleh daun pintu tersebut. Dev langsung terdiam sejenak dan adelia pun menutup pintunya kembali. Dev menghampiri kamar itu.
"Apakah ada orang di sini?" tanya dev membuka pintu dan menatap tubuh mungil di atas kasur dengan duduk berdiam sembari memegang mainan rubiknya. "Hei, sedang apa kau tery kecil?" tanya dev masuk ke kamar dan merayap di atas ranjang mendekati adelia. "Siapa namamu?" lanjutnya.
"Namaku adelia, om siapa?" jawab adelia singkat.
"Om adalah teman baik ibu kamu, tery. Dan tante kamu, mery. Kita dulu teman dekat lho." goda dev kepada adelia. Selagi mery masih menyiapkan makanan, dev mencoba berhubungan baik dengan anak kecil. Walaupun sangat tidak suka dengan anak kecil. Tetapi adelia cukup membuat dev tertarik padanya.
"Sedekat apa emang?" tanyanya lagi.
"Sedekat om duduk di samping kamu! Hahaha" canda dev seraya pecah dalam ruangan. Adelia terdiam merasa tidak lucu.
"Om genit! Adelia harus jauhkan om sama tante. Tante mery cantik gak pantes sama om kaya pengemis gini!" ketus adelia menatap dev sepa.
Ya Allah, ini anak pedes banget klo ngomong kaya emaknya pas kecil. Klo marah suka gini. Gerutu dev dalam hatinya. Dev berusah turun dari ranjang sembari menatap terus ke arah adelia. Adelia tidak peduli pada dev yang selalu menatapnya, ia justru melotot menatap dev mundur keluar dari kamarnya. Mery memanggil dev dan adelia akhirnya mereka berjalan menuju meja makan. Dev dan adelia seperti musuh, mereka duduk berjarak satu meter dan tatapannya kosong memandang meja makan.
Ada apa ini? Kok suasana canggung kaya gak ada suara sama sekali. Padahal kan kita bertiga. Gumam mery dalam hati. Mery melihat wajah dev seperti memikirkan sesuatu yang sangat sulit untuk di jawab. Mery menatap adelia yang tengah duduk di sampingnya, wajahnya tidak mengekspresikan apa-apa tetapi adelia terdiam sejak keluar dari kamarnya.
"Adelia sakit?" tanya mery mengelus kepalanya dengan lembut.
"Engga tante, tadi ada serangga besar nganggu adelia di kamar," jawab adelia datar.
"Hah serangga?" bingung mery menatap langit-langit dinding rumahnya, kembali menatap dev. "Dev, kenapa kamu? Apakah ada sesuatu?" tanya mery menatap dev.
"Gak papa, mer. Cuma tadi ada semut kerangkang."
__ADS_1
"Semut kerangkang? Masa sih, kalian ini musuhan apa gimana. Sikapnya mencurigakan sekali?" mery merasa bahwa kedua orang yang sedang di tatapnya memiliki rasa tidak suka. Dari dulu dev memang tidak menyukai anak kecil seusia adelia. Mery mungkin memiliki jawaban yang sama. Adelia tidak suka pula dengan sikap terlalu humoris seperti dev. Walaupun aslinya dingin seperti es. Mereka akan bisa bersama ketika di luar rumah.
"Oke baiklah, jika kalian tidak mau makan. Maka makananya cuma untuk saya bagaimana?" Mery langsung mengambil balik masakannya dan berusaha membersihkan makanannya yang belum sama sekali di sentuh oleh kedua orang tersebut.
Dev dan adelia langsung berebutan mengambil nasi dan lauk yang sama, mery tersenyum sendiri. Sikap mereka bagaikan melihat versi kecil kakaknya. Dulu tery dan dev selalu berantem seperti ini di manapun berada. Namun, ketika mereka melindungiku. Mereka bagaikan jeruji besi berdiri kokoh untuk melindungiku. Sama halnya melihat adelia dan dev, suka berebut dan berantem di kala bersama.
****
Anton yang sedari tadi mengobrol banyak dengan sang pamannya, duduk di ruang tamu rumahnya yang megah. Terlihat wilky sedang asyik bermain ponselnya di sebelah pamannya. Wilky sangat suka bermanja kepadanya karena sejak kecil dialah yang mengasuh kedua anak dari sang kakak. Anton menceritakan tentang masalahnya dengan mery pada pamannya. Namun, tidak banyak pendapat dari sang pamannya. Ia hanya mengusulkan anton untuk bersabar dan berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan hati kecil mery. Anton mengangguk paham maksud dari sang paman.
"Baiklah paman, anton yakin. Keputusan paman selalu benar. Maka aku akan berjuang untuknya," ucap anton yakin menggenggam erat jemari besarnya.
"Bagus, kau itu calon kepala keluarga. Harus pandai memutar otak." Sang paman tersenyum menatap wajah anton yang sangat kuat hatinya dalam melangkahkan hatinya. Berbeda dari wilky, sikapnya masih kekanakan. Ia lebih menyukai main ponselnya dan bercanda ria dengan sahabatnya.
****
Rumah sakit...
Umi sontak terkejut dan langsung berlari menuju daun pintu yang terbuka lebar, sang petugas kebersihan langsung berlari dari ruangan. Indra berusaha masuk ke kamar tery begitu juga abi yang ikutan panik mendengar teriakan petugas barusan.
"Tery! Tery ... Apa yang terjadi padamu, nak?" teriak umi langsung masuk melihat tery yang terus kejang-kejang hebat. "Ya Allah, ada ap ini!" teriak histeris umi menatap sang anak.
Indra dan abi panik, indra berusaha memanggil dokter, ia keluar dari ruangan dan berlari sangat cepat. Abi terus menatap sang anak yang sedang berjuang dalam hidupnya. Bagaimana orang yang kritis ketika bangun langsung kejang? Gumam abi berontak tidak karuan. Umi terus berteriak memanggil nama tery.
Tery hanya melotot terbelalak tangan dan kakinya gemetar begitu juga tubuhnya terguncang diatas ranjang. Seluruh tubuhnya ikut kejang-kejang. Indra datang bersama suster ara dan dokter yang biasa menangani tery. Mereka berpura-pura berusaha untuk menolong tery. Namun, tery dengan mudahnya langsung tenang ketika di suntikan oleh dokter. Kemudian ia memerika bola matanya.
"Nyonya tery tidak apa apa, ia hanya merespon obat yang baru saja di minum," ucap dokter tersenyum paksa. Wajahnya berkeringat dingin. Bibirnya sedikit gemetar.
"Ada apa ini, tidak mungkin orang kritis di beri obat? Dokter mau membunuh istri saya kan? Hah!" geram indra langsung mencengkram kemeja dotker tersebut, ia langsung sangat berkeringat tidak bisa menjawab dengan santai.
"Indra tenanglah, Nak. Mungkin benar yang di katakan oleh dokter. Mereka lebih mengetahui kesehatan medis ketimbang kita. Bersabarlah," ucap abi seraya menepuk pundak indra dan melepaskan cengkraman tangannya dengan perlahan. Sang dokter sedikit tenang. Ara hanya tersenyum kecil menatap keluarga mery yang begitu keras kepala, dalam pikirnya.
__ADS_1
Akhirnya semua orang yang ada di dalam ruangan ICU langsung keluar membiarkan tery untuk istirahat. Umi terus menerus menangis dan menyenderkan kepalanya di bahu abi. Indra syok, tidak tahu harus bagaimana lagi ia menatap sang istri terbaring di rumah sakit begitu lama. Indra juga sudah empat hari tidak masuk ke kantor. Beberapa panggilan masuk dari sana tidak pernah terangkat olehnya, bahkan pesan maupun telpon dari mery.
"Indra, lebih baik kau pulang saja dulu. Kita sudah melewati berhari-hari di rumah sakit. Kau pulanglah... Dan manjakan adelia sebentar, kasian dia," kata abi.
"Bagaimana dengan abi dan umi? Apakah kalian akan pulang atau tidak. Apakah kalian tidak peduli lagi dengan mery? Dia sekarang sedang membutuhkan kalian," ucap indra menatap kosong lantai yang tidak bermotif. Indra tahu, bahwa abi dan umi mereka pasti merasa kesal karena mery. Mau bagaimana pun itu bukan salahnya, melainkan takdir sudah mencatatnya lebih dulu ketimbang mery berlari untuk anton.
"Baiklah, umi dan abi akan pulang dulu. Kau telpon orang tuamu untuk kembali ke sini ya? Agar kamu ada teman untuk mengobrol." ucap umi mengusap air matanya.
Indra mengangguk, abi dan umi pergi meninggalkannya sendiri. Indra menatap punggung mereka yang mulai menua. Jarak di anataranya semakin jauh sampai di mana titik mereka menuruni anak tangga.
****
Adelia sedang bermain sepeda di depan rumah di temani oleh mery yang sedang membaca buku novel. Dev sedang berada di dalam kamar mery untuk istirahat karena perjalanan yang begitu panjang telah mematahkan semangatnya untuk terus mengobrol dengan mery.
"Adelia, hati-hati mainnya. Jangan sampai kamu jatuh ke dalam got itu ya?" teriak mery memperhatikan adelia bermain sepeda dengan girangnya. Mery senang melihat adelia yang begitu penurut, lepas menanyakan kabar orang tuannya benar-benar membuat hati mery sedikit lega.
"Wah! Nenek, kakek pulang! Asyik ..." teriak adelia sontak membuat mery terkejut, dan langsung memalingkan wajahnya menatap kedua orang datang dengan wajah tersenyum.
Abi dan umi angsung memeluk sang cucuk dan menggendongnya dengan tawa mereka. Mery sangat senang melihat sang umi pulang dengan wajah yang lepas dari masalah di rumah sakit. Abi yang terlihat matanya membengkak karena kekurangan tidur, menatap mery anak gadisnya sedang sedang berdiri di depan pintu dengan mata yang berkaca-kaca, bibir tersenyum senang. Seolah mery telah menyambut kedatangan mereka.
Umi melangkahkan kakinya bertatap muka dengan mery, umi menatap lamat-lamat wajah mery yang sudah beruraian air mata di pipinya. Seketika tangis mereka pecah bersamaan, umi langsung memeluk erat anaknya dengan rasa penyesalan, rasa tidak bertanggung jawab, rasa bersalah terhadapnya. Begitu juga dengan mery yang merindukan sosok seorang ibu yang membutuhkan pelukan terhangatnya. Rasanya benar-benar susah untuk di ucapka oleh mery. Abi pun akhirnya melangkah maju, menatap wajah mery yang terlihat susah memerah karena menumpahkan rasa kerinduan.
Abi langsung menuruni adelia yang sedang di pelukannya. Bergantian dengan umi yang menggendong sang cucu. Abi memeluk erat putrinya, putri kesayangannya. Namun di lubuk hati yang terdalam bagi abi ialah dia belum bisa membahagiakan putrinya itu. Hanya penderitaan yang mery rasakan sebelumnya. Abi tidak tahu lagi harus bagaimana. Yang ada dalam pikirannya kedua anaknya sangat penting dalam kehidupannya.
"Bagaimana kabarmu, nak?" tanya abi mencium kening mery dengan lembut. Menatap bola mata mery yang penuh dengan air mata.
"Mery baik, bi. Sangat baik, mery kangen sama abi dan umi. Jangan tinggalkan mery lagi ya!" seru mery dalam tangisnya mencengkram lengan sang abi. Abi langsung mengangguk mengiyakannya.
Kemudian mery langsung mengajak kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah, adelia mengikuti mereka dengan kegirangan senang melihat nenek dan kakeknya pulang. Mery kemudian masuk ke dalam dapur dan membuatkan minuman begitu juga camilan untuk kedua orang tuanya. Tak lupa pula mery menyiapkan makanan diatas meja makan.
Dev mendengar kebisingan tetap saja tidurnya tidak bisa terganggu, ia tetap tidur terlelap menghabiskan sisa sisa mimpinya memasuki pelaminan dengan gadis impiannya. Dev tidak peduli dengan kebisikan di ruang tamu, ia berpikir bahwa itu adalah adelia yang sedang bermain dengan mery, bercerita yang membosankan baginya.
__ADS_1