Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Season 2, bab 70


__ADS_3

Mery lupa bahwa di rumah masih ada satu nyawa lagi yang sedang tidur di kamarnya, mery asyik mengobrol dengan abi dan umi begitu juga dengan adelia. Mereka bercerita tentang adelia yang selalu jahil ketika sedang membantu tantenya memasak, bermain atau pun tidur.


"Oh iya, nek. Di kamar tante ada cowo lho!" seru adelia tersenyum


Deg!


"Apa? Mery apa yang kau lakukan, nak? Bukankah kau hanya suka dengan anton? Bagaimana bisa kamu memasukkan pria di dalam rumah kita? Ini tidak bisa di biarkan!" Desah abi langsung bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya merah padam.


"Bi, abi ... Abi tenang dulu. Bukan seperti itu Bi, mery akan jelaskan semuanya!" desak mery menahan abi yang sedang emosi.


"Bi, coba duduk dulu. Kali aja ada salah paham. Adelia kan anak kecil ... Mungkin dia hanya tau kalau dia pria orang yang tidak benar," kata umi menenangkan sang suaminya.


"Coba kamu jelaskan, siapa pria di dalam kamarmu?" bentak abi dengan tatapan dingin.


"Aduh, abi sabar dong. Jadi gini, abi tau kan teman mery yang waktu kecil itu sewaktu mery sekolah sd bareng kak tery? Dia dev, abi. Teman mery sekaligus anak tetangga kita. Anaknya pak demo!" jelas mery dengan santai dan tersenyum.


Seketika abi mulai reda amarahnya, ia tidak lagi terlihat orang yang benar-benar akan mengusir seseorang yang dia kenal. Umi tersenyum seperti memberi isyarat "Tuh kan bener, mery tidak akan melalukan hal di luar pembatasannya." Seketika abi tersenyum dan ikut tertawa melihat malu di diri sendiri. Mery pun tertawa kecil, ekspresi sang abi begitu aneh dilihat ketika sedang marah.


"Jadi? Bagaimana... Apakah abi tetap mengusir dev atau ..." ejek mery tersenyum menggoda.


"Ya engga lah, nak. Dia kan anak kebanggaan kampung kita dulu. Masa abi ngusir sih. Hahaha" tawa abi pecah, seraya umi dan adelia pun ikutan menggoda abi dengan kesalnya tadi. Bahkan adelia memperagakan sang kakek ketika marah.


"Wajah kakek tidak cocok marah, hahaha. Yang ada encok kakek pulih lagi nanti kalau pukulin penge..." ucap adelia terpotong, bibirnya dibekam oleh mery.


"Apanya? Kok di tahan?" tanya umi.


"Hehe, jadi gini mi. Pas dev dateng adelia yang bukain pintu. Tapi adelia malah minta uang sama beras. Mery pikir itu mungkin untuk pengemis yang biasa lewat itu. Eh ternyata dev," ujar mery sedikit malu menjelaskan kepada kedua orang tuanya.


"Hah? Benarkah! Ya Allah cucuku yang pintar! Hahaha" tawa abi mengejek balik.


"Adelia, nakal. Hahaha" goda umi pun pecah tertawa memenuhi ruangan tsrsebut.


Dev yang tidak tahan lagi mendengar canda tawa mereka ternyata sudah mengganggu tidur nyenyaknya. Dev membuka mata, mendengarkan suara berbagai suara dari ruang tamu. Apakah itu Bude sama pakde? Gumam dev dalam hati. Dev akhirnya berusaha turun dari ranjang dan mengganti pakaiannya yang terlihat sopan. Dev kenal betul bagaimana orang tua mery tidak suka dengan pria berpenampilan trend di zaman sekarang. Maka dari itu, dev sudah mempersiapkan sejak awal. Menggunakan celana longgar dan pakaian polos. Dev menghadap ke kaca melihat tampilan perutnya yang berbentuk kotak-kotak dan otot yang besar terlihat kuat di lengannya. Awalnya dev tidak pede karena harus memperlihatkan kekuatannya. Namun, demi tidak di sindir anak lembek oleh abi akhirnya dev memutuskan untuk menyesuaikan kriteria kesukaan abi. Setelah selesai mengganti pakaian, dev berjalan membuka daun pintu kamar mery.


"Bude, pakde ... Apa kabar?" sapa dev tersenyum. Adelia langsung menganga menatap dev yang begitu terlihat tampan dan rapih. Mery menatap dev dengan biasa sembari tersenyum, karena dev sudah biasa cari perhatian dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ya Allah, Bi. Anaknya pak demo ganteng tenan yo!" seru umi langsung bangkit dari tempat duduknya dan mendekati dev yang tengah berdiri di depan mereka.


"Demo, demo. Punya anak jangan ganteng-ganteng gini kenapa yah, repot urusane iki," sindir abi tersenyum. Mendekat ke arah dev dan memeluknya.


"Hahaha Pakde iso ae. Gimana kabare pakde, bude?" tanya dev tersenyum


"Alhamdulillah sehat-sehat. Eh, gimana kabar bule sama pakle kamu itu? Sudah tumbuh kumis belum?" tanya abi mengajak bercanda dengan dev, dev membalas dengan tawanya.


"Haha, pakde lihat aja sana. Masih ganteng kok pakleku itu."


Mery merasa sangat senang melihat pemandangan seperti ini, serasa kembali pulang di dunianya yang dulu. Di mana sang abi sering sekali mengejek dev jika memakai celana kolor namun pakaiannya tampang preman pasar. Tery yang membolos ngaji bersama dev, hanya demi mengambil mangga muda tetangga kami. Itu sungguh kenangan yang tak terlupakan. Menatap masa lalu yang penuh keindahan.


"Oh ya, bude! Boleh ngga aku ajak mery jalan-jalann" ujar dev menatap umi dengan wajah tersenyum.


Umi dan abi seraya saling bertatap muka dengan wajah senang disertai bibir tersenyum. Mereka kemudian mengangguk secara bersamaan menandakan bahwa mereka memperbolehkan dev mengajaknya jalan-jalan. Mungkin dev sudah mengetahui masalahnya oleh sebab itu ia ingin mengajak mery menemui sesuatu yang baru.


"Tante, tante aku boleh ikut kan?" seru adelia langsung menarik hijab mery. Kemudian mery melirik ke arah dev, namun respon yang mery dapat ialah dev pura-pura tidak mendengar permintaan adelia. Adelia merasa kesal ia turun dari sofa kemudian menarik kaos dev memaksa untuk menjawab 'Iya'.


Dev tidak bisa diam terus akhirnya ia menyerah dan langsung mengatakan bahwa adelia boleh ikut bersamanya. Adelia langsung berjingkrak kesenangan, tawa pun pecah melihat dev dan adelia selalu tidak akur.


"Odev, nanti kamu gendong aku terus ya! Jangan sampai aku ilang. Ayah sama ibu nanti sedih nyari aku!" teriak adelia kepada dev.


"Kok Odev?" tanya mery singkat.


"Entahlah. Bocah memang selalu merepotkan bukan, tapi ujungnya dia ikut juga." Keluh dev merasa sangat tidak berdaya ketika mendengar berbagai teriakan dari adelia karena senang bisa ikut pergi jalan-jalan dengan mereka berdua.


"Ya udah sabar saja. Hitung-hitung kau belajar menjadi seperti seorang ayah!" seru mery mengejek.


"Hei, aku tidak mau menikah selain denganmu! Ingat itu," teriak dev ketika mery berusaha melarikan diri menjauh darinya.


****


Taman hiburan...


Dev berpenampilan sangat mempesona, menggunakan kaos berwarna hitam dan celana levis yang sedang trand di zaman sekarang benar-benar mengundang para perhatian wanita di sekitarnya. Mery biasa menggunakan kaca mata, hijab berwarna hitam polos baju lengan panjang berwarna mocca dan rok panjang memakai sepatu berwarna putih bermerek. Adelia di gendong dengan dev seraya seperti pasangan yang sedang mengajak anaknya bersenang-senang.

__ADS_1


"Odev, aku mau itu... Aku mau itu," teriak adelia menunjuk makanan arum manis membentuk bulat seperti gulali. Dev hanya bernapas panjang lalu mendekati pedagang di sebelah mereka berdiri. Mery hanya tersenyum melihat ekspresi dev yang begitu kesal dengan adelia.


"Bungkus satu!" ucap dev dingin.


"Hei, odev. Kenapa menjadi dingin seperti es batu? Tidak seperti biasanya," sindir adelia menatap wajah dev yang tanpa ekspresi.


"Adelia, sudah ya. Jangan begitu sama om kamu. Dia memang begitu dengan orang lain," ucap mery tersenyum.


Adelia mengangguk, kemudian adelia mengambil arum manis itu dan turun dari gendongan dev, adelia berlari kecil menuju tempat duduk di sebelah warung kopi. Di sebelah adelia terlihat anak kecil berpakaian kusam, wajah yang terlihat sedikit kotor. Memegang kaleng bekas berisi uang recehan. Mery kemudian mengeluarkan uang di dalam dompetnya dan memberikan sebagian uangnya pada anak tersebut.


"Terima kasih, kak!" ujar anak itu tersenyum senang melihat uang lima puluh ribu tergeletak di dalam kaleng itu ketika mery memberikannya, ia pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlari kecil menjauh dari mery, dev tersenyum. Sudah kuduga, mery sama sekali tidak berubah seperti dulu. Selalu baik dan selalu ingin berbagi walaupun ada atau tidak. Gumam dev dalam hatinya.


"Hei tunggu!" teriak adelia berusaha mengejar anak itu. Dev berusaha menangkap tubuh adelia namun tidak sampai. Akhirnya adelia mengejar anak berpakaian kusam itu berhenti di warung makan. Mery, dev dan adelia berhenti sejenak. Memperhatikan anak itu yang berusaha masuk ke dalam warung nasi yang begitu ramai.


Lepas sepuluh menit kemudian, anak berpakaian kusam itu keluar dengan membawa bingkisan plastik kresek berwarna hitam cukup besar. Ia kuwalahan membawanya. Tetapi mery, dev dan adelia berusaha untuk terus memperhatikannya. Anak itu terus berjalan meninggalkan tempat taman yang cukup ramai. Tidak di sangka pula, anak itu menerobos dinding yang berlubang cukup besar menembus jalan rel kereta.


"Tante kira-kira dia mau kemana?" tanya adelia penasaran.


"Tante tidak tahu, sayang. Sepertinya dia punya teman sekawanannya."


"Kalian berisik! Tinggal ikutin saja. Maka kalian akan tau dia ke mana," kesal dev yang sama ikutan penasaran pada anak itu. Mereka pun akhirnya mengikuti menerobos masuk ke dinding yang berlubang itu. Hasil yang mereka tidak di sangka ialah, ketika mery memberikan uang lima puluh pada anak itu. Dia berusaha berlari cepat dan membeli lima nasi bungkus beserta minuman teh yang terbungkus plastik. Dia juga membelikan sang adik-adiknya yang sekiranya berumur 1 tahun satu anak, 2 tahun dua anak kembar, dan 7 tahun satu anak.


Anak itu lebih tinggi dibanding anak yang ada di gubuk kardus di samping jalan rel kereta. Mereka tidur di rumah terbuat dari kardus-kardus dan koran bekas. Tempatnya sangat kumuh dan bau. Adelia bahkan tidak kuat mencium bau rumah tersebut. Anak yang baru saja diberi uang pada mery terkejut ketika sedang menyuap dua kali suapan dari tangannya yang kotor.


"Ka... Kalian kenapa ada di sini? Apakah kalian mau ambil uangnya lagi?" tanya anak itu gugup, wajahnya seakan-akan ketakutan. Mereka semua menatap mery dan dev seperti penjahat yang ingin mengambil makanan mereka. Mery hanya terdiam mematung melihat isi bungkusan nasi tersebut hanya terisi nasi, tahu dan kuah. Pakaian mereka juga tak kalah kotor dibanding keset di rumah mery. Sungguh hati dev sangat tersentuh melihat mereka. Mery seketika meneteskan sir matanya, menangisi nasib anak yang tidak berdosa harus berjuang dan bertahan hidup dalam keadaan seperti itu. Mery tidak kuat melihat mereka.


"Kalian kenapa ada di sini? Bahaya tau!" adelia mencoba untuk berkomunikasi pada mereka.


"Kami tidak punya rumah, kami tidak memiliki orang tua. Wajar saja kami hanya bisa bertahan hidup di bawah jalan tol dan di samping rel kereta. Karena kami takut polisi menangkap kami lalu memenjarakan kami," ucap salah satu anak itu menjawab sambil menangis, menggenggam erat nasi yang ada di atas kertas.


"Siapa nama kalian?" tanya dev menahan tangis, sehingga tenggorokannya terasa sakit. Mery tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menangis dan terus menangis.


"Yang ini adikku, namanya Leo umur 1 tahun. Mereka kembar, aku menemukannya ketika masih bayi, terbuang di samping rumah kami, umurnya 2 tahun sepertinya. Namanya Hanna dan Hanni. Dia adikku yang kedua namanya Riska, umur 8 tahun. Dan Aku Dion, umurku 10 tahun," jawab Dion seketika tersenyum senang menyambut kedatangan dev, mery dan adelia.


"Kenapa kakak ini menangis?" tanya Riska menunjuk ke arah mery.

__ADS_1


"Dia hanya kelilipan, tidak perlu pedulikannya," ucap dev berusaha tersenyum menatap Riska. Dev tidak bisa membiarkan mery terus menangis, karena dev tahu fisik mery tidak sekuat tery. "Baiklah, kakak pergi dulu. Kalian makanlah... Suatu saat nanti kakak akan datang ke sini lagi," lanjut dev tersenyum. Adelia kemudian melambaikan tangan dan melangkah pergi. Dev mempapah mery, tubuh mery seketika sudah mulai melepas karena batin kepada anak tersebut telah memukul keras hatinya.


__ADS_2