
"Apa katamu? Katakan sekali lagi dan sebut nama jika kau berani!" Kak Tery mulai berkaca-kaca matanya.
Indra itu kenapa sih? Susah banget ngomongnya. Lagian cuma ngucapin sukanya dia ke Kak Tery kenapa kaya baca UUD di hadapan Presiden!
Aku masih di barisan tengah antara Indra dan Kak Tery. Indra terlihat bimbang, wajahnya sangat pucat sedangkan Kak Tery justru ingin menangis. Di hadapan Aku pula, suasana macam apa ini? Berasa seperti di film Korea Aku tuh.
"Tery, aku tidak bisa mengucapkan kalimat itu dua kali. Kamu, ahh. Ayolah!" Bujuk Indra mulai meraih tangan Kak Tery.
"Kalian ini apaan sih, gini yah. Kalo semisal ada masalah ya selesaikan baik-baik. Enggak seperti ini. Kalian kan sudah dewasa kan?" Kataku menengahi.
"Enggak!" Jawab Kak Tery dan Indra bersamaan.
"Em.. iya udah. Kenapa Aku harus di sini melihat drama kalian?" Tanyaku melirik Kak Tery dan Indra.
Kak Tery sebenarnya ada apa, mengapa reaksi dia itu aneh. Sedari tadi menatap Indra dan kata soal "Aku menyukaimu" Itu buat siapa?
"Aku tau, kamu pasti sengaja kan. Iyakan! Kenapa kamu tidak bisa mencintaiku sih?" Teriak Kak Tery tiba-tiba memukul dada bidangnya Indra.
Aku tertegun, genggaman keras dari Kak Tery tiba saja melepas dan langsung memukul Indra dengan sangat menggebu-gebu.
Perasaan ku melihat kelakuan Kak Tery yang mulai aneh ini membuatku kesal. Hatiku menolak, dan rasanya ingin memberontak dengannya. Tapi dia Kakakku!
Perasaan apa ini. Aku justru hanya bisa melihat Kak Tery yang sudah mulai tumpah ruah air matanya. Aku menggertakan gigiku dengan sangat kuat.
Seluruh badanku ingin merenggut Indra di sampingku, tapi Aku justru bimbang. Aku takut, apa yang Aku lakukan ini adalah sebuah kesalahan besar.
Kak Tery masih meronta-ronta menunggu alasan Indra yang selalu merapatkan bibirnya untuk berbicara. Sebenarnya Indra ini kenapa? Ya Allah, ada apa Aku dengan Kak Tery begitu juga Indra.
Mengapa Aku merasa Indra ini pernah dekat denganku. Amnesia ini mengganggu semua ingatanku tentangnya. Benturan di kepalaku bahkan ada jahitan yang sama sekali Aku tidak tahu.
Selain itu, abi dan Umi tiba-tiba muncul dengan tergesa. Mungkin mereka juga mendengarkan jeritan Kak Tery yang sedang memarahi Indra sejak dari tadi hanya diam. Bahkan mengucapkan kalimat pun tidak ada yang memahami untuk siapa yang ia sukai.
__ADS_1
"Cepat katakan Ndra, katakan. Kamu sudah lama denganku. Kita bersama, jalan bersama, makan juga pernah bersama. Kenapa kamu membuatku kesal dua-hari ini, hah? Kenapa?" Teriak Kak Tery sontak langsung terjatuh lemas dan duduk di lantai.
Terlihat tubuh Kak Tery sangat lemas, bahkan seharian ini Aku belum melihat ia makan bersama kami sebelumnya.
"Ndra! Sebenarnya apa sih yang kamu katakan. Kamu sampai buat Kakakku seperti ini. Kamu cowo, seharusnya lebih tau menghargai perasaan wanita." Kataku dengan nada menyindir.
Umi dan Abi hanya terdiam, salah satu dari mereka langsung membujuk Kak Tery untuk bangkit dari lantai. Tapi Kak Tery justru meronta-ronta tidak jelas.
Ia hanya menangis dengan sangat pilu, sampai akhirnya Umi pun merasa sedikit cemas dengan Kak Tery. Abi hanya terdiam menatap kami yang sedang ada di tengah gelombang.
"Aku minta maaf. Tapi Aku tau, apa yang harus Aku lakukan. Untukmu Mery, aku juga minta maaf." Ujarnya menyesal.
"Kamu minta maaf untuk apa?" Tanyaku menyelidik.
Kak Tery menatap Indra dengan tajam, sedangkan Indra masih menatapku dengan rasa penyesalan.
"Jujur, soal pernikahan Aku akan tetap menikah denganmu. Tapi Aku tidak bisa menyukaimu selebihnya." Katanya sembari membungkuk, ia merasa sangat bersalah sekarang.
Aku tidak bisa mendengar kenyataan pahit ini. Pantesan saja Kak Tery selalu merasa kesal dengan Indra. Bahkan ia selalu marah jika di dekatnya. Tapi siapa yang Indra sukai?
"Aku menikahinya karena Allah. Bahkan keluarga di antara Aku dan Tery sudah merencanakan perjodohan sebelum kami bertemu." Jawabnya dengan ucapan lembut.
Indra memang tidak pernah berkata kasar. Dia melakukan kesalahan tapi selalu mengakuinya. Tapi untuk kali ini, aku akui dia sangat sangat hebat. Dia mengakui soal perasaannya di hadapan orang tuaku dan Kak Tery, calon pengantinnya.
"Sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini!" Teriak Kak Tery langsung bangkit dari lantai.
"Tery! Tenanglah. Jangan gegabah begitu" Teriak Abi menengahi mereka.
Aku tidak bisa terdiam terus seperti ini. Aku harus membela Kakakku. Apapun yang Aku rasakan saat ini untuknya, bukan saatnya membahas cinta. Ini soal harga diri Kak Tery.
Kak Tery selalu membanggakan prianya. Apalagi dia juga cinta pertamanya. Kak Tery akan syok jika dia menerima sebuah kekecewaan yang sangat menyakitkan.
__ADS_1
Percuma jika pernikahan tanpa ikatan saling suka. Aku paham soal perkataannya, dia melakukannya juga karena ibadah dan sunahnya. Tetapi bagaimana perasaan Kak Tery, jika tidak di cintai?
Aku tidak bisa membayangkan kalau itu adalah Aku. Bagaimana bisa Kak Tery menjalani kehidupannya setelah menikah dan tanpa rasa cinta dari Indra?
"Bagaimana bisa kamu melakukan itu terhadap anak saya? Kamu kira anak saya adalah barang!" Sahut Umi, kini mulai membuka pembicaraannya yang sedari tadi diam.
Tidak biasanya Umi berkata seperti itu. Abi pun terlihat sangat syok mendengarkannya. Kak Tery masih menangis tersedu sejadi-jadinya.
Aku bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Sedangkan Indra pun tidak ada tindakan sekalipun, ia hanya terdiam sembari menatap suasana di kamar.
"Sekarang kamu pergi dari sini!" Teriak Kak Tery mengusir Indra dengan nada yang sangat menakutkan.
"Baiklah, aku akan pergi" Ujarnya berusaha santai.
"Kak, kenapa kamu menyuruhnya pergi. Aku harus tau kenapa dia tidak menyukai Kakak." Kataku teriak.
Plak!
"Jangan angkat bicara! Kamu masih kecil. Tau apa kamu soal cinta, hah?" Nadanya merintih dan seketika itu pula Kak Tery menamparku kesekian kalinya.
Aku terdiam sembari memegang pipi kananku yang di tampar olehnya. Tangannya begitu berat, sehingga saat mengenai pipiku rasanya seperti di pukul yang sangat kuat.
Abi tercengang melihat Kak Tery menamparku, ini pertama kalinya dia bersikap kasar denganku. Umi menangis melihat keadaan keluarga kami berantakan hanya karena satu lelaki.
Apa salahku? Aku hanya membela Kak Tery, kenapa dia harus menamparku. Pipiku sampai bengkak karenanya bahkan sampai memerah.
Reaksiku hanya terdiam, aku tidak bisa berbicara seketika. Bibirku gemetar hebat saat Kak Tery menamparku, aku tidak menyangka dia sangat histeris soal percintaan.
Aku pun langsung pergi meninggalkan kamar dan berlari keluar rumah, air mata yang berderaian membasahi pipiku membuat luka di hatiku semakin mendalam.
Silih berganti datangnya penderitaan yang Aku dapatkan sejak di rumah. Bukan hanya di rumah, di Pondok Darussalam pun Aku sampai kehilangan memori yang sangat berharga untukku.
__ADS_1