
Usai berteriak begitu kencang dan keras, hatiku mulai lega dan merasa tenang. Semua beban yang ada di dalam pikiran, hati yang selalu gelisah itu semua telah lenyap seketika saat Aku meluapkannya.
Suaraku pun bergemang terbawa ombakan air laut yang besar, kemudian Aku menatap wajah Anton masih memejamkan matanya.
Bulu mata Anton yang lentik dan bibir yang seksi itu, membuat diriku tersenyum-senyum sendiri melihatnya.
"Bagaimana?" Ucap Anton.
"Aku sangat suka!" Seruku mulai tersenyum.
Anton kemudian membukakan matanya dan menatap langit berwarna biru di iringi oleh awan putih yang menggumpal.
Lantas Aku-pun mengikuti cara tatapan Anton terhadap langit tersebut. Memang menyilaukan tapi Aku tetap senang memandangi langit biru tersebut.
"Sebenarnya yang kau katakan soal Aku adalah calon kerajaan Inggris itu tidak benar." Ujar Anton langsung memalingkan pandangannya dan menatapku.
"Apa?"
Aku terkejut langsung membalas tatapannya, jika Anton bukan ahli waris kerajaan Inggris. Kenapa Ustadzah mengatakan soal itu kepadaku? Pasti ada yang tidak beres.
"Lalu kau ini siapa?" Kataku menyelidik.
"Aku ke Pondok cuma menjemput adikku. Tapi setelah Aku melihatmu, aku ingin berkenalan denganmu. Itu saja!" Katanya melirik ke arahku.
"Hah? terus pas kamu bawa buku itu di,," Kataku terpotong.
Aku baru mengingat sekarang, lagi pula siapa juga yang mau memasukkan anak seperti Anton itu ke Pondok.
"Aku cuma mengikutimu dan menyuruh beberapa orangku untuk bersandiwara begitu juga dengan Pamanku." Lanjut Anton mulai mengada.
Aku mulai kebingungan, sebenarnya yang ia maksud paman itu siapa? tidak mungkin kan bahwa yang ku tebak itu adalah Ustad.
"Siapa Adikmu?" Kataku sembari mengangkat alis.
"Haha, kau bertanya adikku? sedangkan kau selalu dekat dengannya. Haha" Tawa Anton mengejekku.
Sesuatu yang kebetulan saat hari itu adalah Willy di jemput oleh Kakaknya. Memang belum sempat Aku bertemu dengan keluarga Willy karena dia sangat tertutup tentang keluarganya. Apa iya adiknya itu adalah Willy?
"Willy?" Kataku mulai menebak.
"Tepat sekali, dia adalah adikku satu-satunya." Ujar Anton menyenderkan bahunya di mobil.
Pantas saja sifatnya hampir sama, jika ada masalah selalu menjadi penengah yang cukup baik, tapi menurutku masih bagusan Willy ketimbang Anton.
Mengingat soal Willy Aku jadi merindukannya, bagaimana kabar Willy, Putri dan Lela yah? Seketika Aku pun duduk di atas mobil Anton dan membayangkan saat-saat kebersamaanku dengan mereka.
Tin..tiinn..!!!
Klakson mobil tiba-tiba saja membuatku terkejut dan Aku langsung berusaha turun dari mobil yang sedari tadi ku duduki. Anton memang selalu senang membuatku menderita soal kejahilannya itu.
Aku menatap di dalam mobil tersebut dan benar saja dia sudah ada di dalam mobil sembari tertawa terbahak-bahak. Aku pun mulai kesal dengannya.
"Apa sih maksud kamu itu!" Teriakku memarahi Anton.
"Haha, lucu sekali ekspresimu itu, hahaha" Ejek Anton sembari tertawa.
Aku langsung menarik pintu mobil dan membuka pintu, tanpa berpikir panjang Aku mulai masuk dan duduk beriringan dengan Anton. Dia terlihat bahagia sepertinya saat mengejekku tadi.
"Mau kerumahku tidak? mungkin kau bisa bertemu dengan Wilkyku" Ajak Anton mulai menyalakan mobil.
"Wilky? siapa lagi dia" Kataku kebingungan.
Anton menatapku dan langsung memalingkan pandangannya lalu ia fokus pada setirannya. Padahal Aku masih menunggu siapa itu Wilky.
Akhirnya Aku hanya terdiam sembari menatap ke depan. Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun untuk mengajaknya bercanda, tetapi di tengah perjalanan Aku merasa sangat mengantuk dan lelah.
Mataku mulai sayup tidak karuan, tidak bisa menahannya lagi akhirnya Aku untuk menyerah dan mulai tidur di mobil.
***
"Woi, bangun udah sampai"
Aku terbangun dan langsung mengucek kedua mataku, masih merasa sangat mengantuk. Bahkan Aku tidur pun tidak ada was-was selama terlelap. Untungnya Anton tidak seperti orang jahat, ia ternyata membawaku ke rumahnya.
"Kenapa ke rumahmu?"
Aku kebingungan dan hanya bisa terbengong di tempat, Anton menyuruhku untuk keluar dari mobil dan mengikutinya dari belakang. Aku sedikit merasa malu dan canggung. Pertama kali Aku di ajaknya untuk pergi bersamanya.
Anton tersenyum padaku lalu mengulurkan tangannya ke arahku, kupikir ia mengetahui apa yang Aku ragukan untuk masuk ke rumahnya.
__ADS_1
Sedikit rasa gelisah dan kecanggunganku mulai turun saat Aku menyalurkan tanganku dengan tangannya. Anton mulai membuka pintu dan saat ia ingin membuka, ternyata beberapa pelayan sudah ada di depan pintu untuk menyambutnya.
Mereka semua menunduk dan tersenyum pada Anton, tetapi Anton justru membalasnya dengan tatapan datar dan tidak membalas kata sedikitpun.
"Dimana Wilky?"
"Ada di kamarnya, Tuan Muda." Jawab sang pelayan.
Anton mulai mencari-cari dan menatapnya ke atas. Rumahnya sangat mewah dan megah, mungkin bagi Aku ini mirip dengan istana. Tapi Anton bilang padaku bahwa ia bukan calon kerajaan Inggris.
Dengan kemewahan yang ia miliki mungkin semua orang juga akan percaya padanya. Namun, di tengah kecurigaanku terhadao Anton, ia justru mengatakannya tidak.
Aku bingung harus menyimpulkannya seperti apa, sedangkan di rumahnya banyak sekali pelayan yang berkeliaran di sekitar rumahnya dan pelayan pribadi sekaligus pun ada, herannya dia tidak mengakui dirinya.
"Wilky!" Teriak Anton memanggil.
"Iya Kak, tunggu!"
Sahut seseorang dari lantai 2. Terdengar suara pintu terbuka dan berlari menuju ke anak tangga. Aku masih menatap dengan rasa penasaran siapa Wilky selain Willy.
Anton pun mulai berjalan menuju sofa ruang tamu dan duduk dengan santai, beberapa pelayan menyediakan minuman jus dan buah segar untuknya. Tanpa di minta pun mereka melakukannya dengan profesional.
"Wah, ada Mery!"
Aku langsung mendongak ke atas saat suara wanita itu memanggil namaku. Aku pun terkejut dan sangat tidak percaya bahwa yang di sebut nama Wilky itu adalah Willy. Ku kira mereka adalah orang yang berbeda wajah.
"Willy, Ma Syaa Allah.. Rindu sekali Aku"
Aku berteriak dan langsung berlari kecil menuju ke arah Willy atau Wilky itu. Tanpa memikirkan suasana canggung namun Aku merasa sedikit lega saat melihat Willy ada di sini.
"Mer, kau kok jadi kurusan sih!" Serunya memelukku dengan erat.
"Haha, bisa aja kamu." Sahutku tertawa.
"Hei, hei. Kalian tidak lihat di sini ada siapa?" Ujar Anton memecahkan suasanaku dengan Willy.
"Issh kakak nih, jarang pulang ke rumah. Sekalinya pulang langsung bawa cewe, hahaha" Ejek Willy kepada Anton.
Anton langsung terdiam dan memasang wajah malu-malu, Aku hanya tersenyum melihat wajahnya yang mulai memerah itu.
"Mer, ke kamarku yuk. Kita berbincang-bincang di sana." Ajak Willy
"Eh, tap.."
Willy langsung menarikku ke atas dan membawaku ke dalam kamarnya, saat Aku menatap lantai 2 ternyata ada taman bunga dan di sampingnya ada ayunan panjang.
Aku tertegun, ternyata rumah sebesar inipun ada taman bunga yang sangat indah. Pertama kali Aku melihat bahwa rumah seperti ini nyata adanya, biasanya Aku hanya bisa melihat lewat televisi dan film-film di layar.
Bahkan di kampungku sendiripun tidak ada rumah yang sebesar milik Willy. Di samping itu, saat Aku mulai memasuki kamar Willy ada teras di luar kamarnya. Aku pun membuka gorden itu untuk melihat di bawah dari kamar Willy.
Saat Aku mulai membuka Willy hanya tersenyum menatapku yang bertingkah katro saja. Karena Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Jadi tidak heran pula kan kalau Aku bertingkah seperti ini.
"Wahh, Will. Rumahmu keren sekali, ada kolam renang juga ternyata di lantai bawah yah!" Seruku berteriak jingkrak-jingkrak.
"Haha, kau baru pernah lihat rumah seperti ini kah? Lucu sekali ekspresi polosmu itu Mer." Kata Willy tertawa memandangku.
"Haha, tidak nyangka yah. Kau juga ternyata adiknya Anton. Kebetulan sekali"
"Soal itu, Kakakku memang sedang menyelidiki soal kasus Ara sih. Gimana yah keadaannya sekarang." Ujar Willy langsung berubah ekspresi.
Tiba-tiba Aku merasa tidak asing dengan nama itu, tapi Aku tidak mengenalnya. Saat Willy mengatakan soal nama "Ara" Aku juga spontan merasakan kesedihan.
"Siapa itu Ara?" Tanyaku meraih kursi rias milik Willy.
Setelah Aku memegang kursi tersebut, di meja Willy terdapat foto Willy, Lela, Putri dan satunya Aku merasa familiar.
Aku mengambil foto tersebut dan mulai mengingat-ingat dengan wajahnya itu. Sontak kepalaku langsung terasa nyut-nyutan sewaktu Aku berusaha untuk mengingat nama Ara dan wajah di foto tersebut.
"Itu yang di samping Lela adalah Ara. Kau mungkin melupakannya karena kamu amnesia, Mer!" Ucap Willy
Willy pun langsung mendekati Aku dan memasang wajah sedih, matanya sedikit berkaca-kaca, hidungnya pun memerah. Kedalaman yang ia rasakan pada Ara mungkin sangat ia pedulikan.
"Ceritakan padaku Will, apa yang terjadi pada Ara?" Kataku memohon.
"Ara, dia adalah wanita yang baik dan peramah sama sepertimu. Dulu Kak Anton juga menyukainya. Tapi sesuatu terjadi pada saudari kandung Ara saat di pondok bersamanya." Ucap Willy menjelaskannya.
"Kakakku ingin tahu siapa pelaku yang telah memperkosa dan membunuh saudari Ara saat bersamanya, Ara menyaksikan kejadian itu waktu saudarinya meminta bantuan, namun Ara tidak berdaya karena sekapan dari mereka yang bertopeng." Lanjut Willy menjelaskannya padaku.
Aku pun terkejut dan sangat merinding saat mendengar penjelasan dari Willy, bahkan Aku tidak menyangka bahwa Anton pernah menyukai Ara.
__ADS_1
"Ara menjadi trauma, setelah ia tahu siapa pelakunya. Lewat ramalan dari Lela, ia pun terkejut. Namun, bukti untuk menuntutnya tidak ada. Sehingga setiap kali Ara melihat wajah pria itu sangat membencinya dan.."
"Ramalan?"
Aku memotong penjelasan dari Willy saat mengatakan bahwa Lela adalah seorang peramal? Itu tidak mungkin, Lela adalah seorang kutu buku.
Willy pun menjelaskannya lagi kepadaku, bahwa Lela adalah seorang anak indigo. Ia bisa melihat makhluk halus dan meramal masa yang akan datang dan masa lampau.
Aku tersontak kaget bahwa apa yang Aku dengar tentang Lela itu nyata adanya. Pantas saja sewaktu pertama kali Aku bertemu dengannya, ia menolakku untuk memperkenalkan diri, karena Lela sudah melihat kejadian yang akan datang.
Aku hanya mengangguk memahami yang Willy jelaskan padaku. Namun, tetap sama saja. Aku belum mengenal Ara walaupun sudah memandanginya lewat foto yang Willy miliki.
"Mer, kemungkinan Kak Anton menyukai kau deh, karna yah.. sifat kamu hampir mirip dengan Ara."
"Jangan bicara yang mengada-ngada kau" Kataku memperingati.
Kalau saja benar, Anton menyukaiku karena mirip dengan Ara. Kenapa dia harus mendekatiku, sedangkan Ara masih sehat walafiat yang ku tahu.
Sesil juga pernah bilang padaku, selama ini Anton tidak pernah dekat dengan wanita luar selain Aku. Mengapa Willy merumitkan diriku untuk menebak sikapnya itu sih.
"Kau kenal Sesil?" Kataku menyelidik.
"Hmm.. Yah, dia ponakanku. Kenapa?"
"Kau tau Sesil itu sakit?" Tanyaku memastikan.
"What? Sakit? Sejak kapan. Eh, tunggu sebentar. Mengapa kau tau nama ponakanku?" Tanya balik Willy bingung.
"Aku kenal dia saat di rumah sakit, dan kebetulannya lagi. Kami satu kamar." Jawabku jujur.
Willy mengangguk, sepertinya hanya Anton yang tahu jawaban soal sakitnya Sesil. Mau bagaimanapun, Sesil adalah gadis yang baik. Ia membantuku dan memberitahukan soal obat yang ku minum. Jikalau bukan karena dia, kemungkinan Aku masih ada di atas ranjang rumah sakit itu.
Dengan bantuan dari Anton juga, Aku bisa sampai ke tempat tujuan walaupun sudah terlambat. Ck, ahh! Kenapa Aku memikirkan itu lagi sih.
Tiba-tiba di tengah perbincangan Aku dengan Willy. Anton membuka pintu kamar Willy dan memanggilku untuk pulang ke rumah, Aku pun mulai berpamitan pada Willy.
"Will, Aku pulang dulu yah. Sudah sore juga ternyata."
"Yah! Gak Asyik nih. Perasaan baru sebentar ngobrol denganmu Mer." Jawabnya mengeluh.
"Makannya, jangan pake perasaan dong!" Ejek Anton langsung menarikku keluar dari kamar Willy dan menutup pintunya.
"Hei, awas kalau kau sudah pulang, hah!"
Teriak Willy nyaring dari luar kamar, dan sepertinya Willy melemparkan bantalnya ke pintu. Aku hanya tertawa dengan canda mereka berdua, sepertinya asyik juga jika memiliki saudara laki-laki.
Aku sedari kecil hanya memiliki satu laki-laki itupun hanya Abi. Setiap Aku bermain selalu dengan Kak Tery, mau berebut mainan atau jenis makan minum apapun kami selalu berebutan.
Tapi itu masa yang dulu, dimana letak kasih sayang Kak Tery masih tulus menyayangiku. Tetapi sekarang, dia lebih memperjuangkan cinta dari pada adik kandungnya sendiri.
Dengan segala cara apa yang dia perbuat demi mendapatkannya. Maka ia akan melakukannya hari itu juga. Aku tidak akan menyalahkan Kak Tery, mau bagaimanapun dia. Kak Tery tetaplah Kakakku.
***
Sepanjang jalan, Aku dengan Anton hanya duduk terdiam sembari menatap jendela. Wajah Anton terlihat muram tidak seperti biasanya. Bahkan ponsel miliknya selalu ada di genggaman tangannya.
"Ada apa?" Kataku memecahkan keheningan.
"Tidak ada." Jawabnya dingin.
Suasana hati Anton terlihat berbeda dari sebelumnya. Apakah karena Aku yang telah membuatnya tersinggung? Setahuku dia tidak pernah kesal dengan apa yang ku katakan padanya.
"Ceritakanlah, kalau itu akan membuatmu nyaman." Kataku berusaha membuatnya untuk bicara.
Anton pun langsung menatapku lamat-lamat sembari matanya sedikit sayup, Aku melihat dari kedua bola matanya. Sepertinya ia habis menangis.
Seketika Anton menurunkan kepalanya, dan menyenderkan ke bahuku. Kepalanya sangat berkeringatan dan juga tangan yang sedang memegang ponsel itu bergetar.
Ku kira dia hanya berpura-pura berekspresi suram dan selalu terdiam. Namun yang ku lihat sekarang ialah dia sedang ada di titik melemah. Jika pun dia sakit, mungkin suhu tubuhnya terasa panas, tapi beda yang ku lihat.
Aku pun merasa sedikit tidak nyaman karena kepalanya masih menyenderkan ke bahuku, sedangkan di depan ada supir pribadi Anton yang sedang fokus menyetir.
Tiba-tiba Aku merasakan seperti ada yang menetes di tanganku, saat ku lihat ternyata itu hanyalah sebuah air. Ku kira itu hanyalah keringat Anton yang menetes, tetapi bukan.
Setelah Aku terdiam sembari mengatur nafas, Aku mendengar sekilas suara isakkan tangis. Ku pikir hanya firasatku, tetapi yang ku dengar adalah sumber suara dari Anton.
"Kau menangis?"
"Biarkan Aku untuk menyederkan kepalaku di bahumu, sebentar saja."
__ADS_1
Jawab Anton berusaha menutupi tangisannya. Aku hanya mengangguk sembari menunggu apa yang sebenarnya terjadi pada Anton.
Karena ini adalah bukan dirinya yang sebenarnya, menangis di hadapan wanita dan lebih anehnya lagi ialah menyender di bahu wanita, dan wanita itu adalah Aku.