
Tatapan yang ku ingat adalah dimana tempat yang ku tempati, dia selalu menatapku dengan penuh cinta. Aku juga merasa begitu, ingin rasanya menuangkan perasaanku padanya.
Tapi Aku begitu bodoh sehingga mengagumi diam-diamku padanya telah menyakiti diriku sendiri. Terlalu pendiam soal cinta, saat seperti ini telah tiba. Apa yang ku harapkan darinya?
Semuanya telah menjadi abu, keinginan dan harapanku sirna seketika. Mas Indra yang kukagumi selama ini sudah menjadi milik orang lain.
Bahkan jika di bilang orang lain pun bukan! Dia adalah wanita yang pernah tumbuh besar denganku, selalu melindungiku, selalu memberikan Aku yang terbaik.
Namun, di balik semua kenangan manis. Menimbulkan rasa kekecewaan yang sangat dahsyat rupanya. Aku tidak bisa mengeluarkan kata sedikitpun untuknya.
Orang yang selama ini bersamaku, dan bahkan 20 tahun lamanya Aku di sekitar mereka. Sekarang mereka hanya menatapku saat terjatuh di atas kebahagiaan.
Oh Tuhan! Apa dosa dan salahku? Aku bahkan tidak pernah menyakiti mereka, aku tidak pernah membenci mereka. Orang tuaku membuatku kecewa, saudariku membuatku kecewa. Apa yang harus Aku lakukan selain mengadu, menangis bersujud di hadapanmu.
Tubuhku sangat lemas, melihat Kak Tery yang terus tersenyum dan menggandeng tangan Mas Indra. Umi terpaku kaku menangis sambil menggenggam erat tangannya dan juga, abi yang selama ini kubanggakan hanya menatapku penuh sukarela Aku terjatuh di hadapannya.
"Cepat bangunlah, untuk apa kau bersujud seperti ini di hadapan semua orang! Tidak pantas mereka kau tangisi" Geram Anton berusaha menarikku bangkit.
"Aaarggghhtt! Kalian jahat! Kalian jahat. Aku benci kalian semua, aku benci." Teriakku meluapkan semua perasaanku yang selama ini Aku pendam.
Aku menangis di hadapan semua para tamu dan di hadapan kedua keluarga yang berikatan pernikahan Kak Tery. Mereka semua terkejut, semuanya terdiam memaku.
Mereka menatapku dengan tatapan kosong, bahkan tidak ada satu orang pun yang menghampiriku untuk ketenangan suasana. Hanya Anton-lah yang berdiri di sampingku sambil melihat deraian air mata yang terus ku keluarkan.
"Hahaha! Bagus, maaf ya adik tersayangku, mbak mencintaimu. Tapi cintaku lebih besar kepada Mas Indra. Aku akan mendapatkannya bagaimanapun caranya." Kata Kak Tery turun dari panggung pengantin sambil bertepuk tangan.
Wajah yang cantik tetapi mulutnya sangat pedas lantas untuk apa selama ini dia membaiki Aku?
Indra langsung menyusul Kak Tery yang sedang berjalan ke arahku. Semua orang menatap drama yang tidak bisa di jelaskan. Tamu yang di undang begitu juga orang tua kami, umi dan Abi hanya menonton saja.
"Cukup Tery, aku tidak menyukai sikapmu ini terhadap adik kandungmu sendiri" Ucap Indra menahan lengan Kak Tery dan menatapnya dengan sangat lembut.
"Baiklah suamiku sayang, aku hanya sebentar menatap adik kecilku ini dari jarak dekat saja." Ucapnya manja sambil menyenderkan kepalanya di pundak Indra.
__ADS_1
"Cuih! Najis. Aku benci lelaki banci sepertimu Ndra. Rupanya saja yang tampan! Tapi hatimu busuk!" Teriak Anton sembari membuang ludah.
"Apa maksudmu Anton? Aku tidak mengerti dengan perkataanmu. Bukankah kau juga yang.." Ucap Indra tiba saja terhalang dengan teriakkanku.
"Cukup! Kau jujur sekarang. Kau menikahi Mbak Tery karena apa? Kamu pernah bilang, kalau kau menyukaiku, bukan?" Teriakku langsung mendepati Anton dan bertatapan langsung dengan Indra.
Kak Tery terkejut dan langsung melotot mengarah Indra, anton pun langsung kaget "Apa!" terdengar sangat keras di telingaku.
Indra menatapku lamat-lamat dan wajahnya yang berseri itu kian memerah saat Aku mengatakan itu, mungkin dia memahami soal perasaan yang selama ini dia rasakan.
"Iya!"
Sontak Indra tanpa melirik ke arah Kak Tery lantas mengatakan bahwa dirinya pernah menyatakan cinta kepadaku, dan sebaliknya Aku juga pernah mengatakannya sekali saat di Pondok Pesantren.
"Hah, lupakan sekarang!" Ucapku menekan nada tinggi.
"Tidak!" Ujarnya masih menatapku.
Dia tidak pernah berbohong dari mitosnya, tapi sekarang Aku mendengarkannya langsung. Semua orang masih menatap kami dengan perasaan bingung. Mereka hanya menyimak dari percakapanku.
Bugh.. Brakk!
Dengan emosi yang selama itu Anton tahan, kini dia meluapkan rasa kesalnya kepada Indra dan memukulinya hingga terjatuh lalu menabrak pagar rumah tetangga.
Semua orang menggila ketakutan, mereka berteriak dan meminta bantuan untuk tidak merusak kekacauan di pesta pernikahan.
Umi histeris menangis dan berteriak "Hentikan!" Sedari tadi Anton memukuli pengantin pria yaitu Indra.
Kak Tery menghalangi Anton untuk berhenti memukulinya, tapi ia masih meluapkan rasa kesalnya dan melampiaskan kepada Indra.
Aku masih terdiam dengan berdiri terhuyung pusing. Tenagaku lemas tidak berdaya, aku cukup merasakan pukulan di hati dan sangat hancur sekarang.
Kami saling mencintai, tapi mengapa menikahnya dengan Kak Tery? Alasan yang sebenarnya belum Aku ketahui. Aku tidak mau mati hanya karena cinta.
__ADS_1
"Hentikan! Hentikan Anton, hentikan!"
Teriakku dengan nada tinggi, seluruh tenaga kukeluarkan demi menghentikan Anton yang sedang kesetanan.
Seketika Anton berhenti dan menatapku, semua orang merasa merinding dengan adegan yang tidak terduga ini telah terjadi di hadapan mereka. Aku tidak peduli, yang ku pedulikan hanyalah kepastian alasan Indra menikahi Kak Tery tanpa cinta.
Antar-keluarga yang sangat membingungkan. Sebelumnya Umi dan Abi tidak pernah memperlakukan Aku seperti ini.
Walaupun tubuhku utuh, tapi hatiku hancur, sakitnya tidak bisa di utarakan di banding kekecewaan yang mereka lihat semua yang kulakukan ini.
Indra terbaring lemas kesakitan di tanah yang di penuhi kerikil kecil. Aku menatapnya dan langsung menghampiri dirinya. Ia terlihat sangat puas dengan pukulan yang Anton lakukan.
Aku mendekati tanpa ada satu orang pun yang menghalangiku kecuali Kak Tery, dia berusaha ingin mendekatiku. Namun, anton menghalanginya. Kak Tery pun berontak meronta-ronta sambil menangis memanggil nama Indra tersayangnya.
"Bagaimana rasanya?" Tanyaku menarik nafas panjang sembari menangis.
"Aku tidak akan marah kepadanya, karena ini memang salahku. Aku mengakui semua itu." Jawabnya sambil menahan rasa sakit.
"Karena kamu, Indra. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi karena kau juga Aku merasa kecewa!" Ucapku menangis, sambil duduk di sampingnya.
Indra pun tiba-tiba meneteskan air matanya dan menangis pertama kalinya Aku melihat, ia pun meraih wajahku, mengusap air mataku yang sudah membasahi pipi sejak tadi.
"Indra dengan bibirku Aku ingin berjanji untuk menyayangimu dan mencintaimu, tapi kini bibirku terpatuk. Aku tidak bisa bicara. Aku tak bisa mengatakan apa-apa." Kataku sambil menangis di telapak tangannya.
Tangan Indra sangat lembut saat menyentuh pipiku dan menyibakkan air mataku, aku merasa sedikit tenang. Aku ingin sekali waktu berhenti seketika.
Indra pun menangis dan terus menangis hanya mendengarkan kata-kata dariku.
"Hapuslah tanda cintaku dengan tanganmu, sebab tanganku tak mampu menghapusnya" Ucapku lirih dan hanya Indra yang mungkin bisa mendengarkannya.
"Tidak. Tidak! tanda cintaku tak akan Aku hapus. Karna apa yang Aku ucapkan harus menjadi kenyataan. Di hatiku sudah ada namamu, cintamu. Aku sangat mencintaimu Mery!" Teriaknya dengan nada tinggi dan matanya sangat tajam saat menatapku.
Aku terkejut mendengar jawabannya, tapi takdir telah mengubah alur cerita cinta kami. Aku tidak bisa dengan raganya, tapi Aku merasakan cintanya.
__ADS_1
Aku menangis pilu di hadapannya tanpa memikirkan orang yang menatap kami sedari tadi, cinta yang telah di pisahkan oleh keluarga kami. Aku tidak memperdulikannya.
Aku langsung memeluk tubuh Indra yang sedang terbaring lemas dengan sangat penuh kekecewaan. Aku benci perpisahan, tapi Aku sangat mencintainya. Walaupun hatinya tetap milikku. Tapi seluruh tubuhnya sudah menjadi hak Istrinya, kak Tery.