Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 28


__ADS_3

Tidakkah Kak Tery mengerti betapa sayangnya Aku dengannya. Tapi mengapa dia tega menamparku di hadapan Indra dan kedua orang tua kita.


Sempat Abi ingin mengejarku pergi, tapi Aku berusaha terus berlari dan tidak menoleh sedikitpun. Rasa sakit hatiku sangat kacau. Ini sangat buruk!


Indah kenangan masa lalu waktu kita bersama itu sangat manis. Tapi kenapa kenangan itu seakan-akan hancur karena tamparan. Aku tidak bisa menerimanya.


Rasa sakit tamparannya tidak seberapa, tapi sakit hatiku jauh lebih menyakitkan. Aku pun bingung harus berbuat apa, aku tidak mengerti harus berkata apa.


"Hiks! Hiks, kenapa kamu tega denganku Mbak! Kenapa? Apa salahku"


Aku menangis sejadi-jadinya sambil berlari tanpa tujuan. Aku masih terus berlari dengan deraian air mata ini yang tidak mau berhenti. Seketika Aku merasa lelah, kepalaku sakit.


Pandanganku semuanya kabur, aku mulai memperlahan pelarianku. Sakitnya tidak bisa di katakan. Ini sangat menyiksa, aku hanya berharap semoga Aku baik-baik saja nantinya.


Aku tidak mau membuat semua orang di sekitar sini memperhatikan Aku. Tapi Aku sungguh tidak sanggup dengan rasa sakit ini. Ya Allah, bantu Aku! Bantu Aku.


Seketika tubuhku terasa melayang, aku terjatuh di pinggir jalan dekat dengan taman bunga. Di sekitar banyak sekali orang-orang yang sedang berbahagia.


Aku tidak kuat lagi, rasa sakit bercampur aduk. Aku tidak kuat! Aku sungguh tidak kuat. Gumamku dalam hati.


***


#Rumah sakit.


"Tidak mungkin!" Teriak seseorang terdengar bergemang di telingaku.


Seluruh tubuhku terasa sakit semua, bagian di kepalaku juga sangat terasa sakit. Di mana Aku ini? Aku mencium bau yang sangat tidak enak.


Aroma baunya sangat khas di penciumanku seperti bau karbol. Apakah ini di rumah sakit? Mataku sulit untuk ku buka, tenagaku sudah habis terkuras untuk berlari. Aku justru berlari saat masalah tiba.

__ADS_1


"Maafkan saya bu, karena kemungkinan anak Ibu sudah sakit lama" Jelas seorang wanita dengan nada lembut.


"Anak saya baik-baik saja Dok. Dia tidak pernah sakit sebelumnya, mengapa anda berbicara kalau anakku amnesia lebih dari sebulan?" Suara Umi terdengar sangat kebingungan dan suara isak-tangisannya sangat jelas.


"Saya melihat ada luka di bagian kepala, dan jahitannya terlihat sudah lama. Lukanya hampir sembuh total, tapi karena anak Ibu terjatuh pingsan. Mungkin terbentur oleh aspal atau kerikil. Makanya luka itu tergores dan berdarah lagi" Jelas sang Dokter masih tetap ramah.


"Tidak! Itu tidak mungkin. Mery anak yang kuat, dia tidak mungkin amnesia-kan Bi, ayo katakan padanya!" Jerit Umi histeris.


Aku hanya bisa mendengar, kepalaku sangat sakit jika di geserkan, dan seluruh tubuhku sangat kaku. Mata pun Aku tidak bisa membuka lebar.


Aku hanya bisa mendengar sembari terbaring di atas ranjang dan menutup mata ini. Aku ingin memeluk Umi, umi butuh pelukkan untuk menenangkannya. Aku mendengar suara tangisannya.


Aku juga mendengar desahan dari Abi yang sepertinya mulai sedih. Ada apa denganku? Kenapa Aku sama sekali tidak mengingat apa-apa.


"Abi lihat! Mery menangis Bi, mery menangis. Hiks.. Hiks.." Seru Umi dengan tangisan pilunya tiba saja memelukku dengan erat.


"Mery sayang, bangun nak. Bangun!" Ujar Abi menyuruhku bangun sambil mengelap air mataku yang tumbah dan mengalir ke arah telinga.


"Dok! Kenapa anakku tidak bangun? Kenapa. Barusan dia menangis, kau lihat kan dia menangis? Dia mengeluarkan air matanya yang sangat berharga itu!"


Jeritan dari Abi, tetapi Aku tidak bisa melihat reaksinya. Aku hanya bisa mendengarkannya. Umi tolong Aku, abi bantu Aku! Kak Tery dimana kamu Kak, aku membutuhkanmu sekarang untuk menenangkan mereka. Bantu Aku! Jeritku dalam hati.


Aku hanya bisa berbicara lewat batin, aku tidak bisa mengutarakan perasaanku pada mereka. Abi dan Umi menangis dengan keadaanku yang seperti ini.


"Maaf bu, pak. Kemungkinan anak terkena saraf di bagian otaknya, sehingga menimbulkan geger otak. Dia mengalami amnesia yang tidak begitu jauh dari ingatan-ingatannya. Segala sesuatu yang masih berada disamping ingatan, masih dapat dia ingat." Jelas sang Dokter.


"Dia akan sadar setelah dua atau tiga hari setelahnya, karena anak Bapa dan Ibu mengalami tekanan batin yang membuat daya ingatannya sulit dan pola pikirnya terganggu. Anak Bapa hanya perlu istirahat dan menenangkan suasana hatinya." Lanjutnya.


"Memang jenis amnesia apa yang anak saya alami Dok?" Tanya Umi mulai sedikit tenang.

__ADS_1


"Kemungkinan Autrograde amnesi, amnesia yang juga hal-hal yang sesudah terjadinya peristiwa itu terlupakan. Dan seperti yang tadi saya jelaskan. Dia bisa mendengar suara kita, tetapi hanya bisa mendengar, jika tidak ada perubahan maka saya akan periksanya kembali secara rutin." Kata sang Dokter menjelaskan tentang sakitku.


"Itu sebabnya Mery menangiskah Dok, apakah dia menangis karena kami?" Selidik Abi mulai menjadi-jadi.


"Iya Pak, berikan berita yang membuatnya sangat di senangi. Itu akan membantu perkembangan kesehatannya juga" Jelasnya lagi.


"Baik Dok, terima kasih sudah menjelaskan secara detailnya tentang anakku." Umi menjawabnya, kini suaranya terdengar mulai baikkan.


Lalu Aku mendengar suara langkah kaki yang mulai menjauh dan terdengar pintu terbuka-tutupnya. Mungkin Dokter sudah pergi dari tempat ruanganku.


Seketika Aku tidak mendengar apapun selain detakkan detik jam, dan alat di rumah sakit. Selain itu, tidak ada lagi suara Abi dan Umi. Apakah mereka pergi?


Sama sekali Aku tidak bisa menggerakan tubuhku, rasanya sangat pegal. Kalau Aku tidak cepat sembuh bagaimana kabar tulang-tulangku nanti?


Dan kenapa sedari tadi mereka terdiam, apakah benar Aku di tinggal sendirian di rumah sakit-kah. Sentuhan lembut dari Umi pun tidak ku rasakan lagi. Dimana mereka?


"Umi, mungkin benar kata Dokter. Kau ingat kan saat Mery bertanya soal Om Jaya dan Indra?" Tiba-tiba suara Abi terdengar lagi.


"Uusstt! Pelankan suaramu. Ayo kita keluar sebentar. Biarkan Mery istirahat." Jawab Umi melangkah sedikit menjauh dariku.


Benarkan. Apa yang ku pikirkan akan terjadi juga, aku di tinggalkan seorang diri di rumah sakit ini. Mereka malah membicarakan Aku, membuatku sangat penasaran.


Eh! Sebentar. Ku kira di sini tidak hanya Aku yang ada di ruangan ini. Aku merasakan seperti ada seseorang lagi disini, dan ia pun sepertinya juga sakit. Suara nafasnya sangat jelas di sampingku.


Hening, detakkan detik jam, dan suara alat dari rumah sakit terdengar. Aku hanya bisa mendengar namun tidak melihat. Dan ini juga sebagai pelajaran untukku yang merasakan bernasib sama dengan orang yang buta, tunanetra.


Mungkin seperti inilah rasanya, hanya warna hitam, terkadang juga merah dan ada juga bintik putihnya. hanya warna itulah yang bisa Aku lihat.


Aku merasakan dunia asing dan penuh kegelapan, aku juga tiba-tiba memikirkan soal kematian. Jika Aku meninggal, mungkinkah Aku akan menatap sedikit cahaya terang?

__ADS_1


Like & comment, jangan lupa yah :)


__ADS_2