
Seseorang mengetuk pintu kamarku.
Tok.. tok.. tok..
Terdiamku diiringi suara isakan sepertinya membangunkan Abi di tengah kelelapan tidurnya. Aku mulai menyibakkan air mataku di pipi, dan berusaha turun dari ranjang.
Aku takut jika Abi mengetahuiku menangis lagi, ia akan sedih dan merasa bersalah terhadapku. Aku akan berpura-pura baik saja dan tidak ada masalah apapun selain hari kemarin.
"Mery!" Suaranya terdengar nyaring di kamarku.
"Iya Bi. Tunggu sebentar, mery pakai hijab dulu." jawabku sembari merapihkan hijab yang berantakan.
Cetak!
"Mer, kau mau ikut dengan Abi tidak?"
"Kemana Bi?" Tanyaku linglung.
"Ke rumah sakit, jenguk Indra. Tadi Umi telfon kalau Indra sudah siuman, kita kesana yuk!" Seru Abi mulai tersenyum.
Aku hanya membalas senyuman pahit, aku memikirkan dan mengimbangi soal Kak Tery melarangku untuk menemuinya. Jika Aku tetap kesana apa akan baik-baik saja?
Hatiku mulai bimbang sekarang, sedangkan Abi menunggu jawabanku untuk ikut bersamanya. Jika Aku menolak, abi mungkin merasa sedih, tapi bagaimana kalau Aku ke sana.
Aku ingin menemui Indra dan menanyakan kabarnya, tapi Aku juga sadar, siapa diriku yang sebenarnya.
"Maaflah Bi, adek gak bisa!" Kataku berseru malas.
Abi hanya menatapku lamat-lamat sembari menganggukkan kepalanya saja. Yang Abi lakukan itu sebenarnya tau betul, mengapa Aku menolak untuk menjenguknya.
Saat Abi mulai keluar dari kamarku, tiba saja ada seseorang mengetuk pintu dengan sangat keras sekali, Aku pun hampir di buat kaget olehnya.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
Assalamualaikum..
Suaranya nyaring dari kamarku, siapa dia? Sepagi ini rumahku mendapatkan tamu yang tak di undang. Aku mulai beranjak dari kasur dan mencoba untuk membukakan pintu.
Namun, setelah Aku keluar dari kamar. Ternyata Abi sudah ada di depan pintu, ia hanya berdiri di depannya. Tangannya masih tidak mau menggerakan memegang kunci.
Seketika Aku mulai bingung dengan Abi, bukannya membuka pintu, ia justru hanya berdiri diam saja di depannya.
"Kenapa Abi diam saja? Di luar ada tamu!" Kataku merengut, sedikit curiga.
Abi pun tersenyum seolah-olah tidak ada yang di sembunyikannua dariku. Tapi tidak masalah, Aku menganggapnya semuanya adalah butiran debu.
Cetak!
"Waalaikumsalam." Ucapku menjawab salam.
"Ehh?" Kagetku membeku.
"Masa tidak di suruh masuk?" Katanya tersenyum.
Aku tercengang dengan mulut menganga, saat dia masuk-pun Aku hanya plonga-plongo (Plin-plan) sembari menatap wajah dan gayanya.
Rasanya tidak asing dengan orangnya, tapi dengan adanya tampilan yang berbeda. Aku justru terpaku dengan kehadirannya yang aneh itu.
"Wahh!" Sahut Abi tersenyum bahagia.
"Bagaimana dengan tampilanku?" Ujarnya sembari berputar-putar badannya.
"Bagus, sangat bagus. Saya suka!" Jawab Abi sembari memegang bahunya dan melihat tampilan darinya yang berubah drastis.
__ADS_1
"Ini apa maksudnya? Kok kamu tiba-tiba jadi begini, kebentur tembok apa kau?" Kataku heran sembari melihat dari atas ke bawah.
Dia tersenyum manis, sambil menyengir sebentar. Abi sepertinya yang mengidekan soal begituan, tidak di sangka dia berubah dalam waktu sehari saja rupanya.
Aku tersenyum melihat tampilan yang dia kenakan, terlihat sangat elegan, begitu jugaa.. Kegagahan yang dia miliki-pun sangat mencolok.
"Woi, kenapa pipimu merah begitu?" Tanyanya membuyarkan semua pandanganku terhadapnya.
"Eh, masa?" Ucapku langsung memegang pipi yang memanas ini.
Wahh, sungguh Aku merasa sangat malu. Dia bahkan menyadari bahwa Aku terpesona melihat gayanya yang sangat Aku sukai seperti gayanya Indra.
Ck. Kenapa Indra lagi dalam ingatanku? Seketika Aku mulai terdiam dan memasang wajah yang lesu. Bagaimana bisa Aku move on darinya! Payah sekali diriku ini Ya Allah.
Dia, langsung menatapku dengan tatapan kosong. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Kemudian, ia berpaling arah menuju ke Abi.
"Saya mau membawa Mery ikut bersamaku!"
Katanya spontan, tetapi terdengar sangat lembut. Biasanya kata yang terlontar dari mulutnya ialah pedas begitu juga dengan ekspresinya yang dingin.
"Hah? Mau kemana!" Kataku spontan kaget.
"Ke Korea, Aku ingin mengajakmu kuliah di sana. Aapkah kau mau?" Ajaknya sembari mengulurkan tangan kanannya.
Aku langsung terkejut, bukan main intinya. Aku bingung harus mengatakan iya atau tidak. Karena jika Aku ikut bersamanya bagaimana dengan Abi dan Umi, begitu juga dengan Pondokku.
Besok akan ada penjemputan ke Asrama. Aku tidak mungkin ikut bersamanya, kalaupun Aku tidak ikut, Aku akan terus bertemu dengan Indra. Jika sebaliknya, maka Aku akan selamanya tidak berjumpa dengannya.
"Boleh, bawa saja!" Kata Abi menyetujui Aku ikut dengannya.
Aku langsung menoleh ke arah Abi dan mendengus kesal. Tanpa berpikir panjang, Abi justru mengiyakan permintaannya.
__ADS_1