Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 30


__ADS_3

Cahaya matahari terlihat remang-remang di permukaan jendela kaca, sejauh mata memandang Aku menatap jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 05.40 menit.


"Sudah pagi ternyata" Kataku lirih.


Aku menatap gorden yang di batasi antara Aku dan Sesil. Dia gadis yang baik dan sangat imut. Umurnya bahkan lebih muda dariku, kagum dengan kekuatan yang ia peroleh untuk melawan rasa sakitnya.


Pengorbanan orang tuanya yang selalu ada di sisinya tanpa meninggalkan selangkah pun di sekitar Sesil. Tapi Aku? Aku justru tidak tahu kemana kedua orang tuaku yang sedari tadi tidak menjengukku.


Sama seperti waktu di Pesantren. Abi malah lebih menungguku di pinggir jalan ketimbang menjemputku. Tak apa sebenarnya, karena Aku tahu. Orang tuaku tidak memiliki kendaraan pribadi di sini.


Kriettz..


Suara pintu yang terbuka, ku kira itu adalah kedua orang tuaku. Tapi hanya suster yang membawa beberapa obat dan makanan sehat. Apalagi? Selain bubur ayam.


"Oh, Ya Allah. Nona Mery sudah siuman kah? Kok bisa! Ini sungguh mukjizat dari Allah." Katanya kaget, setelah melihatku menatapnya.


Memangnya Aku ini kenapa, bukannya Aku itu baik-baik saja? Selama ini juga Aku sering mendengarkan orang-orang berbicara kok.


"Memangnya Aku kenapa?" Tanyaku menyelidik.


"Mending Nona Mery makan dan minum obatnya dulu yah. Setelah itu mungkin kamu bisa keluar dari rumah sakit." Katanya mulai tersenyum.


Tidak lama, suster itu berbalik badan lalu pergi. Hanya mengantarkan makanan? Bagaimana dia tahu Aku sudah siuman, sampai-sampai membawakan makanan dan obat untukku.


"Kok aneh yah, yang tahu Aku siuman itu hanya Sesil. Kenapa suster ini justru membawakan Aku makanan?" Kataku bergumam sendirian.


"Jangan di minum obatnya Kak!"


Teriak Sesil membuatku terkejut seketika. Aku mulai meraih gorden lalu menariknya supaya Aku bisa melihat Sesil.


"Kenapa Sesil?" Tanyaku mulai bingung.


"Jangan minum obat itu Kak, setelah Aku mengetahui Kakak itu orang baik. Aku menyarankan Kakak untuk kabur dari rumah sakit saja." Katanya cemas ketakutan.


"Lho, kenapa emangnya? Obat itu kan biar buat Kakak cepat sembuh Sil" Kataku mulai menenangkannya.

__ADS_1


"Enggak Kak, bukan. Itu obat tidur. Itu obat tidur" Katanya berteriak sedikit ketakutan.


Ya Allah, kenapa Sesil. Dia berhalusinasi soal obatku. Padahal obat itu di sarankan oleh susternya langsung. Apa Sesil sedang sakit depresi? Aku harus bagaimana ini.


"Sil, dengarkan Kakak baik-baik yah. Ini obat buat kesembuhan Kakak, bukan obat tidur" Kataku menasehati pelan-pelan.


"Enggak Kak. Aku lihat sendiri. Itu bukan obat Kakak yang asli. Aku takut Kakak nanti tidur lebih lama lagi." Jelasnya dengan wajah penuh kepanikkan.


Aku bingung, sedangkan orang tua Sesil sedang keluar sebentar. Danlagi hanya kami berdua saja di kamar. Jika begini, aku hanya bisa menuruti keinginannya dulu supaya dia tenang.


Aku tidak mau membuat serangan panik Sesil kambuh lagi, jika memang benar obat ini adalah obat tidur. Maka Aku harus bertanya lagi ketika Aku sakit.


Aku juga merasa heran, kenapa Aku begitu lama tertidur dan berasa tubuhku tidak bisa di gerakkan. Sepertinya ada sesuatu selama Aku sakit. Bahkan Umi yang biasanya tidak bisa melihat Aku sakit, sekarang tidak ada kabar sekalipun.


***


Sudah sore, tidak ada satu orangpun yang menjengukku. Aku hanya terdiam sambil bercakap panjang dengan Sesil begitu juga orang tuanya. Mereka sangat baik padaku, bahkan buah yang seharusnya untuk Sesil, ia bagikan untukku juga.


"Mery, apa orang tua kamu masih belum jenguk kamu?" Tanya Ibunya Sesil.


"Belum bu, mereka mungkin sedang sibuk. Oh iya ini sudah tanggal berapa dan hari apa yah bu?" Tanyaku sedikit canggung.


"Hah, apa!"


Aku langsung terkejut dan mulai mengingat-ngingat bahwa Kak Tery hari sabtu adalah hari menjelang pernikahannya. Apa kabar dengan soal itu? Bahkan mereka sibuk, tanpa memikirkan Aku yang sedang sakit.


Aku bingung, harus bagaimana ini. Aku butuh seseorang untuk menjemputku pulang. Aku ingin pulang! Aku ingin melihat hari pernikahannya Kak Tery sebelum Aku pergi dari rumah.


"Mery?"


Tiba-tiba seseorang datang berlarian ke arahku setelah membuka pintu. Yah, disana ada Anton ternyata, aku tidak paham mengapa dia bisa mengetahui Aku disini.


"Anton! Kenapa kamu ada di sini?" Tanyaku mulai heran.


"Aku tau kami disini, juga karena keponakanku ada di sini" Jawabnya dingin.

__ADS_1


"Om Anton!" Teriak Sesil di balik gorden.


Anton dengan sigap, ia langsung membuka gorden itu dengan cara mendorong. Aku bingung, mengapa Sesil bilang dan teriak itu adalah Omnya.


"Sesil, gimana keadaan kamu" Jawab Anton langsung memeluknya dengan erat.


Sesil, pertama kali Aku melihat senyuman yang sangat bahagia pun dia keluarkan saat melihat Anton datang. Dan sepertinya memang benar kalau Sesil adalah keponakannya. Kenapa bisa kebetulan yah?


"Oh, anton Aku bisa minta tolong sama kamu nggak?" Kataku sedikit malu.


"Tumben bener, ada apa?" Jawabnya dengan tatapan datar.


"Bantu Aku keluar dari sini yah, pliss!" Kataku memohon.


Anton mulai mengangguk, dia sepertinya paham akan apa yang ku minta. Tidak lama dia pergi begitu saja tanpa meninggalkan sepatah katapun.


Justru Aku takut kalau dia tidak membantuku, bagaimana Aku bisa keluar dari rumah sakit ini kalau Aku tidak ada yang menjemputku.


Seketika tangan Sesil meraih lenganku, aku langsung menoleh dan menatapnya lamat-lamat. Ia tersenyum dan sepertinya ingin meyakinkan Aku bahwa Anton akan menjanjikan.


Orang seperti dia susah untukku tebak. Dengan ekspresi yang mencurigakan danlagi wajah tampan tapi dingin. Bagaimana ada orang yang bakal suka dengannya dengan wajah begitu.


"Tenang aja Kak, Om Anton orangnya baik kok. Dia selalu baik sama perempuan. Banyak yang suka sama Om. Tapi Om engga suka wanita yang gila harta" Jelas Sesil tiba-tiba menjelaskannya denganku.


Aku bahkan tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa berharap bahwa Anton bisa membawaku pulang kerumah. Aku hanya mengangguk sembari tersenyum saat Sesil menjelaskan soal itu.


"Waktu hari Kamis, om Anton nangis lho. Hehe" Ujar Sesil lagi soal Anton.


Padahal Aku tidak mau mendengar tentangnya tapi Sesil bercerita terus tentang Omnya itu. Bagaimana Aku menyikapinya, sedangkan Aku benar-benar tidak suka dengannya.


Tapi kali ini Aku butuh bantuannya. Aku ingin dia bisa membawaku keluar dari sangkar ini. Jika Aku bisa keluar, maka Aku akan berhutang dengannya. Aduh! Sstt.. Entahlah, yang jelas Aku harus cepat keluar dahulu.


"Semalam Om Anton juga nemenin Kakak. Aku kira Kakak ini pacarnya Om Anton, jarang sekali Sesil liat Om begitu dengan perempuan." Katanya lagi, menjelaskan soal Anton. Tapi kali ini berbeda.


Anton menangis, danlagi dia semalam menungguku di sini? Bagaimana bisa. Orang tuaki saja tidak seperti itu. Apa mungkin kalau Anton itu...

__ADS_1


"Ayo, kita pulang sekarang."


Tiba-tiba suara Anton terdengar di balik pintu. Hanya kepalanya saja lah yang keluar. Aku mulai merasakan pipiku akan mekar memerah. Ada apa ini, kenapa jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya?


__ADS_2