Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 19


__ADS_3

#Kejadian sebelum Mery hilang ingatan.


Mery berteriak kencang sampai otot-otot di tangan pun kelihatan tegang, sepertinya ia mengunakan tenaga dalam yang sangat angkuh.


Mery menangis di pembatasan gerbang dekat dengan ruang belajar santri wati. Ia berteriak histeris sampai tubuhnya terjatuh dan terlihat lemah.


Banyak santri yang mencoba mendekati dan membantunya untuk tenang supaya tidak seperti orang kehilangan hal yang paling ia cintai. Namun, tidak ada satupun yang berani mendekatinya.


Willy yang senantiasa mencoba mendekati pun sampai terpukul di bagian dada. Tetapi semangat untuk membuat Mery tenang tetap saja tidak berhasil.


Alhasil Ustadzah yang berlari datang untuk membuat bubar semua santri yang berkerumuhan di sekeliling Mery. Sikap yang Mery buat tidak seperti dirinya, ia bahkan berontak ke semua orang yang ingin mencoba menenangkannya.


Sampai Akhirnya di suatu titik Mery memundurkan diri sembari mengancam dirinya untuk mencelakai salah satu santri. Willy merasa ketakutan dan perbuatan yang terjadi pada Mery pun hampir sama seperti 2 tahun lalu yang menimpa Ara.


Willy mencoba untuk memanggil Lela yang mempunyai keahlian tersendiri. Sesampai di kamar asramanya, Willy meminta bantuan pada Lela. Akhirnya mereka berlarian dengan tergesa-gesa.


Saat mereka berlari pun Indra melihat mereka. Indra penasaran dengan teman sekamarnya Mery, akhirnya dia mengikuti larian Willy dan Lela menuju Mery yang sedang memberontak diri sendiri.


Di tempat kejadian itu, indra sangat terkejut melihat wanita di hadapan matanya itu seperti tidak sadarkan diri. Lela mencoba untuk membuatnya tenang tetapi selalu gagal.


Mery menatap orang-orang yang ada di sekitarnya, ia menatap tajam seperti burung elang yang mencoba untuk menerkam mangsanya.


Mery memegang ranting kayu yang cukup tajam dan alat itu di pergunakan untuk mengancam dirinya. Semua orang ketakutan bahkan sampai gemetaran melihat Mery yang seperti orang kesurupan.


Indra mencoba memberontak untuk membantu Mery sadar. Sayangnya ia berdiri di perbatasan santri wati dan ikhwan. Ia tidak di perbolehkan masuk, beberapa teman di sekitarnya pun mencoba menahan Indra untuk menerobos masuk kawasan santri wati.


Indra berteriak meronta-ronta sembari memanggil nama "Mery!". Ia masih berusaha untuk masuk di kawasan santri wati tetapi beberapa santri pria menahannya.


Ustad mendengar teriakan mereka dari ruangannya, untuk tidak masuk ke kawasan santri wati. Ia pun keluar melihat apa yang sedang terjadi di luar.


Lalu Ustad melihat Indra yang sedang berontak dengan sahabatnya dekat perbatasan yang di larang oleh para santri di Pondok Darussalam.


Ustad pun menatap sejauh mata memandang melihat ada keributan di perbatasan luar area. Ia menatap beberapa santri dan Ustadzah yang sedang berusaha membuatnya tenang.

__ADS_1


Ia pun turun tangan dan menghampiri Indra.


"Ada apa ini?" Ucap Ustad senantiasa membuat Indra tertegun dan langsung terdiam sembari menatap Mery yang masih memberontak mengancam dirinya.


Suasana di Pondok Darussalam itu terlihat sangat menegangkan, semua santri ikut menyaksikan kejadian yang tidak terduga ini.


"Ustad, mohon beri saya masuk ke kawasan santri wati. Di sana ada salah satu keluargaku yang sedang membutuhkan bantuanku." Ucap Indra memecahkan keheningan.


Lalu Ustad pun menatap Indra lamat-lamat dan mencoba untuk mempertimbangkannya lagi. Tidak lama, ustad mengangguk seperti memahami apa yang sedang terjadi, karena sebelum masalah itu terjadi memang sudah terlihat. Bahwa Indra memiliki aura akrab dengan Mery.


"Baiklah, lakukan apa yang kamu bisa." Ucap Ustadzah membuat semua santri pria di samping Indra menatap Indra dengan penuh keheranan. Sedangkan Indra tersenyum sambil mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk.


Tanpa ragu, Indra langsung meloncat perbatasan santri wanita dan pria itu dengan penuh semangatnya. Ia berlari dengan terbirit-birit membawa semangatnya untuk membuat Mery lebih baik.


Mery pun langsung melihat Indra di tengah padang rumput menyelimuti tanah yang subur itu berlarian menghampirinya.


Mery langsung mengingat-ingat dialog mereka saat di taman bunga yang kecil itu. Mery langsung menangis dan menangis, hanya itu yang dia lakukan saat melihat Indra berlarian menghampirinya.


Mery adalah wanita yang selalu mementingkan orang di sekitarnya, selagi itu membuatnya mereka bahagia. Mery akan melakukannya sebisa mungkin walaupun itu akan menyayat hatinya.


Indra pun sudah sampai di hadapan Mery, ia terengah-engah dengan nafasnya yang tidak beraturan itu. Indra merukuk sembari mengatur nafasnya sebelum mengucapkan kata demi kata untuk membujuk Mery tidak melakukan hal yang bodoh.


"Maaf! Aku terlalu bodoh. Aku sungguh bodoh. Aku membenci diriku yang sekarang!" Ucap Mery tenang namun membuat Indra khawatir padanya.


Mery mengangkat kedua tangannya dan mencoba untuk menusukkan ranting itu di bagian perut. Tetapi Indra yang menatapnya, langsung mendorong dan merebut ranting yang kuat dan tajam itu di genggaman tangan Mery.


Lalu Mery terjatuh dan kepalanya terbentur oleh Batu di dekat pohon, batu itu terlihat cukup besar. Sehingga mampu membuatnya Mery pingsan.


"Mery!!!" Teriak Indra langsung menggapai tubuh Mery yang sudah melemah. Namun Mery masih mendengar teriakkan Indra yang histeris.


Indra yang selama ini terpandang ketampanannya dan keangkuhan yang ia miliki, dingin dengan orang lain selain sahabatnya. Kini ia menunjukkan kasih sayangnya kepada Mery, ia rapuh melihat Mery lemah oleh dorongannya.


Mery masih samar-samar menatap Indra, dan pandangannya mulai berkabut. Mery merasakan kesakitan di bagian kepalanya, ia pun meraih kepalanya yang terbentur oleh batu.

__ADS_1


Indra menatap wajah Mery sembari memegangi kepalanya. Dan mencoba untuk membantunya bangun tetapi di tangannya seperti ada yang basah di bagian kepala Mery.


Saat Indra mencoba untuk melihatnya, ternyata darah Mery bercucuran dan keluar sangat banyak. Mery hanya tersenyum menatap Indra dan seperti ingin mengatakan sesuatu padanya. Mery merasa bahwa dirinya sudah saatnya untuk pergi selamanya.


"Indra, aku mencintaimu" Kata Mery dengan suara pelan yang menahan sakit tiba-tiba tubuhnya terangkat lemas dan pingsan di pelukkan Indra.


Indra terkejut mendengarkan ucapan Mery. Dan ia pun menangis, sampai menitikkan air matanya yang sama sekali belum pernah orang lain melihatnya, Indra begitu rapuh.


Ia pun tubuhnya terlihat melemas dan sangat merasa sedih melihat Mery terdiam sembari memejamkan matanya dengan sedikit tersenyum.


Lalu Ustadzah yang gemeteran dan ketakutan itu langsung berteriak untuk memanggil Ambulans datang ke Pondok. Tapi Indra yang mendengarkannya, langsung menolak bantuan dari rumah sakit.


Akhirnya Ustadzah mengusulkan untuk memberitahukan orang tua Mery, agar mereka mengetahui bahwa anaknya mengalami kecelakaan yang tidak terduganya itu.


Tetapi Indra pun menolak, ia takut jika orang tua Mery mengetahui anaknya seperti ini dan membawanya pulang. Sampai akhirnya Lela dan Willy membantu Mery untuk ia angkat. Tetapi Indra pun menolaknya.


Sepertinya hanya dialah yang mau mengurus Mery. Tetapi Ustadzah menolak jika Indra yang mengurusnya. Masalah yang ada di hadapannya bukanlah soal kekacauan tetapi nyawa Mery sedang dalam bahaya.


Indra pun menatap Mery yang masih di pelukkannya dan Indra mengiyakan usul Ustadzah. Tetapi dengan kedua syarat itu Indra akan melepaskan Mery dan menyerahkannya kepada Ustadzah.


Ustadzah hanya mengiyakan dan memahami situasinya. Indra pun memberi usul untuk memanggil dokter ke Pondok Darussalam untuk menangani Mery. Ustadzah mengangguk dan mengiyakan usul Indra.


Dan di sarankan untuk semua santri tidak di perbolehkan untuk membicarakan masalah Mery dan Indra. Mereka di peringati untuk tidak menyebarkan berita ini.


Apalagi jika Mery bisa mengingat kejadian ini, maka kejadian seperti ini akan terulang lagi yang lebih sangat tidak di duganya. Para santri hanya mengangguk dan mengiyakan saran dari Ustadzah.


Setelah itu semua di harapkan untuk membubarkan diri dan sholat berjamaah seperti biasa. Indra pun di harapkan untuk istirahat dan tidak di perbolehkan keluar asrama selama 3 jam. Indra mengangguk.


Setengah jam kemudian Mery masih di tangani oleh Dokter di ruang UKS. Di luar ada Willy, Putri dan Lela yang menunggu di temani oleh Ustadzah.


Setelah beberapa menit menunggu, dokter itu keluar dan mengatakan bahwa Mery baik-baik saja. Ia hanya membutuhkan ketenangan dan istirahat yang cukup.


Begitu juga kemungkinan Mery akan mengalami amnesia yang entah itu kapan bisa sembuhnya kecuali ada yang berusaha mengingatnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2