
Matahari menanjak tinggi tandanya siang pun menyapa hari yang bahagia bagi Mery. Umi, Tery dan Mery menyiapkan berbagai makanan ringan dan kue kue yang sudah dipesan sejak pagi.
Acara pertunangan secara keluarga pun tiga jam lagi akan terlaksanakan, hari bahagia Mery sudah menyambutnya sejak pagi tadi. Mery berdandan selayaknya, menggunakan gamis panjang berwarna putih dengan hijab berwarna putih pula dan dihiasi oleh mahkota kecil seperti putri.
Mery tersenyum sendiri dihadapan meja riasnya menatap dirinya yang menggunakan pakaian serba putih dan terlihat tidak seperti biasanya, sangat cantik. Umi pun terpukau dengan kecantikan Mery menggunakan gamis tersebut.
Tery yang sedari tadi membantu Umi menyiapkan makanan. Kini terdiam diri di daun pintu kamarnya menatap sang Umi yang selalu memuji Mery dengan gaunnya.
Indra dan Abi mengobrol diruang tamu bercakap - cakap soal pertunangan Mery dengan Anton. Walaupun wajah Indra datar tidak terlalu menanggapi pertunangan tersebut, ia lebih memikirkan kabar dari Anton. Tidak ada tanda - tanda bahwa ia akan datang dari jam sekian ia sampai dirumah Mery.
"Bi, kenapa Anton tidak memberi kabar kita untuk kedatangannya? Sepertinya sejak pagi saya belum mendengar kabarnya," ucap Indra melirik dan menatap kosong ke arah Tery.
"Iya juga, mungkin anton sudah memberi kabar dengan Mery. Coba Abi tanyakan dulu sebentar ya."
Abi bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengarah ke kamar Mery, abi terkejut ketika melihat sang anak bungsu duduk manis menghadap ke arah depan kaca meja riasnya. Mery terlihat sangat elegan dan cantik. Dengan make up tidak terlalu tebal membuat Mery terlihat mempesona.
Matanya berkaca - kaca mendekatkan dirinya disamping Mery. Mery hanya tersenyum menanggapi tatapan Abi, akhirnya Abi pun langsung memeluk sang putrinya yang tidak lama lagi akan meninggalkannya.
"Kamu cantik sekali, Nak," ucap abi dengan bibir gemetar sembarj memeluk Mery dari belakang.
Mery tersenyum, "Bi, jangan sedih gitu dong. Mery kan jadinya pengen nangis." Mery akhirnya membalas pelukan Abinya. Seketika Abi teringat tujuannya memasuki kamar sang anak.
"Oh iya, apa Anton sudah mengabari kamu, Dek? Soalnya belum ada kabar," ucap Abi sedikit cemas.
"Mery juga gak tau, Bi. Anton belum kasih kabar. Mungkin dia sibuk dengan persiapannya," ucap Mery sedikit menenangkan hati Abinya.
Tery berjalan menuju Indra yang terdiam diri diruang tamu sembari mencuri dengar obrolan Mery dengan Abinya. Indra merasa sedikit cemas, ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi.
"Mas, kamu kenapa sih dari tadi diam terus?" tanya Tery langsung duduk disebelah Indra.
"Aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi nantinya," nadanya terdengar lirih, wajahnya terlihat panik.
"Kamu jangan mikir begitu, Mery pasti akan menikah kok. Apa kamu ..." ucap Tery ragu ragu.
Indra menoleh, "Kenapa?" Ia merasa bahwa Tery akan berkata A**pa kamu tidak terima dengan acara adikku?
Sebentar lagi, jangan terlalu terburu - buru aku mengatakan yang tidak tidak. Akan lebih baik aku diam saja. Gumam Tery menggertakan giginya.
Indra akhirnya terdiam kembali sambil memikirkan kabar dari Anton yang tak kunjung terdengar kabar dirinya. Entah dalam keadaan senang ataupun sedih, Indra ada diposisi tersebut.
Mery hanya terdiam sejak Abi bertanya soal Anton yang tak tahu kabarnya, sedari pagi tadi Mery pun Chating Anton namun tidak ada balasan sedikitpun. Mery akhirnya mencoba untuk menelpon Anton, tetapi tetap saja tidak ada kabar maupun jawaban darinya.
__ADS_1
Mery mencemaskan keadaan Anton, takut terjadi sesuatu dirumahnya. Mery selalu berharap dan terus berharap bahwa Anton menepati janji untuk menikahi dirinya.
Ya Allah, aku berharap anton datang tepat waktu. Tapi kenapa hatiku begitu gelisah seperti ini .. Gumam Mery terus menggenggam erat ponselnya, berharap Anton mengabari ketika ia sedang dalam perjalanan.
Diluar rumah Mery terdengar riuh, beramai datang menghapiri rumahnya. Mery tersenyum bahagia, ia menduga bahwa keramaian diluar rumahnya adalah rombongan keluarga Anton.
Umi dan Abi tersenyum bahagia, akhirnya mereka keluar dari kamar Mery kecuali Mery yang tetap dikamarnya. Umi akan menyambut kedatangan Anton dan keluarganya beserta Indra yang merasa sesak didadanya.
Tery tersenyum senang, langsung berdiri dihadapan pintu rumahnya yang masih tertutup rapat. Abi dan Umi bersiap membuka pintu. Daun pintu mulai terbuka setengahnya terlihat, tubuh separuh bayanya terlihat sekitar tiga dua orang.
"Assalamualaikum tante," salam Wilky tersenyum sembari membawa buah - buahan segar. Danlagi teman sewaktu Mery mondok ada dibelakang tubuh Wilky juga. Lela dan Putri, mereka datang menjumpai rumah Mery disaat Mery akan bertunangan dengan Anton.
"Waalaikumsalam, lho ... kok kalian yang datang?" kejut Umi langsung terdiam.
"Hah? Kami datang mau menjenguk Mery, Tante. Katanya dia baru pulang dari rumah sakit beberapa hari lalu," ucap Wilky sedikit bingung.
"Kamu tau dari siapa?" tanya Abi mulai bingung.
"Dari Kak Anton," nada Wilky merendah disertai kebingungan.
Lela dan Putri pun saling bertatapan muka dan hanya terdiam karena mereka juga bingung. Sambutan kedua orang tua dan kakak Mery dengan pakaian yang rapih dan terlihat diwajah Tery dan Uminya berdandan elegan.
"Dimana Anton? Kok dia gak bareng kamu?" tanya Abi mulai khawatir.
Umi mulai panik dan mencemaskan keadaan yang sangat mengkhawatirkan ini. Wajahnya seperti bertanya Bagaimana ini? dengan senyum pahitnya.
Tery pun ikut khawatir jikalau pertunangan itu akan dibatalkan hanya karena kehadiran Anton yang amat mengkhawatirkan. Indra hanya terdiam memaku melihat sahabat Mery dulu ketika dipondok kini datang dengan menatap dirinya heran dengan wajah bertanya Kenapa ada Indra disini?
"Eng.. Jadi begini, Anton sudah berjanji akan melamar Mery dihari ini juga. Kami kira kedatangan kalian itu adalah Anton beserta keluarganya," ucap Tery pelan menjelaskan.
"Apa? kakak melamar Mery! Tapi ... tapi dia pergi dari tadi pagi dengan terburu - buru kak," kaget Wilky sangat kebingungan. "Danlagi dia seperti ingin bertemu orang," lanjutnya nada rendah.
Mery yang mendengar dari balik pintu kamarnya terkejut dengan mata yang melotot menatap dinding. Ada apa sebenarnya ini? Gumam Mery, tangannya bergetar dengan rasa yang sangat gelisah. Ia pun menggigit bibirnya karena tidak bisa berkata apa - apa.
"Terus kenapa ada Indra disini Om, Tante," tanya heran Putri menatap Indra. "Terus dimana Mery-nya?" lanjutnya dengan tatapan mencari.
"Mery ada dikamar. Wilky apakah ada masalah dikeluargamu?" tanya Tery menepuk pundak Wilky.
"Kak sebenarnya semalam itu ... Anu," ucapnya ragu. "Eeh ... Kak Anton bertemu dengan Ara. Lebih tepatnya Ara datang kerumah kami."
"Apa hubungannya Ara dengan Anton!" Tery sedikit membentak, wajahnya terlihat kesal dan marah.
__ADS_1
Mery terkejut dan langsung keluar dari kamarnya, dengan wajah yang sudah dibasahi oleh air matanya. Ia hanya menangis mengisak dan rasa ingin mengenal Anton benar - benar telah memukul dirinya. Mery meminta penjelasan dari Anton yang katanya anak penerus di Inggris dan lain sebagainya kepada Wilky.
"Kedatanganku kemari untuk menjelaskan soal ini," Lela menyodorkan koper kecil. "Ini adalah semua baju milik kau Mer, aku mengambil pakaian kamu saat dipondok karena aku merasa kesal denganmu. Aku minta maaf yang selalu terdiam, aku menutupi rahasiaku sebagai wanita aneh, tapi sebenarnya aku itu indigo," ucap Lela dengan membungkukan pandangannya.
"Lela mengambil semua pakaianmu supaya kamu tidak bisa pulang kerumah, ia kesal karena melihat Anton denganmu di aula. Lela pikir kamu adalah penyebab semuanya karena Ara keluar dari pondok waktu itu," jelas Wilky menggenggam erat tangan Mery, mery hanya menangis mendengarkan ceritanya.
"Saat itu kakak datang kepondok karena disuruh oleh bibi kami, yaitu Ibu Ustadzah. Kamu masih ingat kan Mer? Bibi mendekatkan kalian lewat aula dengan menyuruh kak Anton pergi ke aula untuk menaruh beberapa buku atau mengambil buku, aku lupa. Bibi cerita padaku, danlagi soal kak Anton yang katanya penerus kerajaan inggris itu hanya cerita belaka bibi. Untuk mengetes kamu, apakah kamu suka kak Anton atau tidak. Kami sebenarnya tau dari awal sebelum pulang itu. Itu ... Itu sudah direncanakan oleh paman dan bibiku," jelas Wilky merasa bersalah dengan Mery.
"Inti dari itu apa hubungannya dengan Ara?" tanya Mery kesal dengan isakan tangis yang sangat memukul.
"Ara ... Ara adalah kekasih lamanya kak Anton, dia meninggalkan kak Anton karena dikira kak Anton adalah orang miskin. Setelah itu dikabarkan bahwa Ara bertunangan dengan orang lain. Kak Anton merasa kesal dan marah. Ketika kepulangannya dari Korea hanya tiga hari lamanya, Kak Anton langsung pulang ke Indonesia dan menjemputku saat itulah bertemu denganmu," Wilky langsung tersenyum dan menatap Mery.
"Lalu saat Aku bertemu dengan Anton bibi kalian merencanakan itu hanya untuk membuat Anton melupakan masa lalunya, iya? dan kau merestui hubunganku dan selalu mendorongku untuk menyukainya? Disaat aku sudah mulai menyukainya, Ara datang dan ingin balikkan dengan Anton begitu?" Tanya Mery serontak kesal dan merasa dipermainkan.
"Bukan begitu mer, bukan itu maksudku!" nada Wilky mulai panik.
"Lalu apa?" bentak Mery kesal.
Semua orang langsung terdiam memaku, umi pun ikut menangis dengan apa yang selama ini yang dideritakan oleh Mery. Tery juga merasa bersalah, ia sangat kecewa atas apa yang Anton dan keluarganya lakukan. Namun, terlintas pertanyaan dibenaknya.
"Lalu, dimana orang tua anton?" tanya Tery melotot kesal.
"Orang tuaku, tidak memperdulikanku dengan kak Anton. Sebab itulah yang membuat kak Anton seperti tidak dapat pendidikan dari orang tua kami, dan ketika ditanya keberadaan orang tua kami. Kak Anton akan selalu kesal, sebab itulah aku terkejut mendengar Mery akan dilamar oleh kak Anton tanpa persetujuan kedua orang tua kami," jelas Wilky menangis terisak-isak saat menjelaskan keberadaan kedua orang tuanya.
Mery terkejut, rasa amarahnya pecah. Air matanya seakan tidak mau berhenti. Bukan hanya kebohongan, Mery juga mendapatkan cinta bertepuk sebelah tangan begitu juga rasa kekecewaannya ketika mendengar melamar dirinya tanpa persetujuan orang tua. Mery seakan dirinya tidak ada harganya lagi.
Mery akhirnya memutuskan untuk menemui Anton, ia langsung berlari keluar rumah dengan gamis putihnya yang terlihat bercahaya ketika terkena sinar matahari. Wajah mery terlihat hancur karena make up yang luntur. Tery langsung mengenar sang adik karena kekecewaanya.
"Mery berhenti ..." teriak Tery terus memanggil Mery untuk berhenti ditempat. Tetapi Mery terus berlari sehingga menyeberangi jalanan besar. Mery tidak perduli dengan sekitarnya sehingga mobil yang melaju cepat dari arah timur hampir menabrak Mery.
Tery melihat sang adik menangis berlari menyeberangi jalanan. Ia takut begitu juga panik, tanpa memikirkan Mobil yang melaju cepat akhirnya Tery memutuskan untuk mengejarnya. Indra, umi dan Abi pun ikut mengejarnya begitu juga teman Mery.
"Awas!!!"
Brakk! Suara teriakan berbagai teriakan histeris telah menghentikan langkah lari Mery, ia merasa terpaku kaku ditempatnya. Indra berteriak Tery!!! dari kejauhan. Mery membalikkan tubuhnya.
Terlihat sangat ramai ditengah jalan sehingga membuat kemacetan hanya terhitung detik. Mery sontak terkejut dan tubuhnya bergetar hebat. Tubuh sang kakak terbaring lemas dipenuhi oleh cucuran darah yang mengalir deras dari kepala sampai ujung kakinya.
"Mba!!!" teriak Mery langsung berlari menuju Tery yang tertabrak mobil box. Berbagai orang berkerumun di sekeliling Tery dan menatapnya penuh kasihan. Mery menangis sembari memanggil nama kakaknya, Indra menangis memeluk sang istrinya.
Umi menyaksikan ketika Tery tertabrak mobil tersebut, melihat darah disekujur tubuh Tery mengalir. Umi pun pingsan setelah berteriak nama anaknya. Abi menangis dan memangku umi yang terbaring lemas.
__ADS_1
Indra terus menangis sambil menutupi kening sang istri yang darahnya tidak mau berhenti. Beberapa orang yang melihat langsung saling mendorong menyuruh untuk membantunya. Mery menngis berteriak merasa bersalah. Karena dirinya merasa egois sehingga mengakibatkan sang kakak cedera tertabrak oleh mobil. Orang yang menabrak berdiri kaku ketakutan, ia pun langsung menelpon ambulans untuk datang secepatnya.