Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Series 2, bab 51


__ADS_3

Dikala dalam tenggelamnya kebahagiaan sang Abi yang melihat anaknya datang membawa tubuh dengan masih tertutup auratnya. Abi sangat merasa bangga terhadap Mery, putri bungsunya.


Mery menatap langit-langit rumah sembari memegang foto masa kecilnya bersama Tery. Ia pun tersenyum haru sembari meneteskan air matanya. Abi melihatnya, ia pun menunjukan dimana Tery sedang tertidur pulas dikamarnya. Sang Abi tidak tega jika Mery terus mengeluarkan air matanya yang berharga.


"Kemarilah, sapa mbakmu yang lagi tidur dikamarnya," ujar Abi mempersilahkan Mery untuk membuka pintu.


Mbak ada dirumah? Gumam Mery sembari memegang gagang pintu kamarnya. Tanpa berpikir panjang ia langsung membuka pintu dan melihat Tery tergeletak di atas ranjang, wajahnya tertutup dengan guling, warna rambut pun berbeda.


"Masih seperti dulu, posisi tidur mbak Tery lucu sekali," ujar Mery sembari duduk disamping kakaknya.


Emmm... Tery mengigau, ia membalikkan tubuhnya lalu menindih tangan Mery yang tadinya mau menyibakkan rambut kakaknya. Tetapi tangannya justru terselip dibagian bahu Tery.


Aduh, tanganku tertindih nih. Kalau Aku tarik tanganku pasti mbak Tery bakal kebangun tidurnya. Haa.. Desah Mery sembari menunggu Tery memindahkan posisi tidurnya.


Mery sengaja menahan rasa sakit dan tangannya pun mulai sedikit kebas dan kesemutan. Tapi disisi lain, Mery tidak mau mengganggu lelap tidur sang kakak.


Walaupun hatinya pernah dibuat luka oleh Tery, Mery tidak pernah berpikir untuk balas dendam terhadapnya. Rasa sayang lebih besar dibanding dengan rasa kecewanya. Ia lebih memilih untuk mengalah, karena selama masa kecil mereka, Tery lah yang selalu mengalah untuknya.


Mbak Tery tambah cantik, kulitnya pun putih bersih. Tapi kenapa warna rambutnya berubah yah? Apa karena Mbak bosen sama warna rambut aslinya? Tapikan Mbak Tery pakai hijab... Gumam Mery berpikir tentang perubahan rambut kakaknya.


"Mer, ayo kesini sebentar."


Ucap Abi sambil melambaikan tangannya, Mery terdiam sembari menunjuk jarinya kearah tangan dirinya yang sedang tertindih oleh kakaknya. Abi tersenyum dan pergi meninggalkan Mery sendiri dikamar menunggu Tery bangun.

__ADS_1


Haa.. mau sampai kapan nih, aku ngantuk sekali. Tidur aja deh disampingnya. Lirih Mery sembari membetulkan posisi duduknya. Ia pun tertidur sambil duduk, tangannya masih tertindih oleh kakakmya, Tery.


Beberapa menit kemudian, Tery merasa udara dikamar semakin panas. Ia pun membuka matanya perlahan, ternyata lampu dikamarnya masih menyala, AC dimatikan sedangkan jendela kamarnya terbuka sehingga cahaya matahari masuk kedalam kamarnya.


Tery merasakan ada sesuatu dibahunya, ia pun terbangun dari tidurnya. Tery terkejut melihat tangan Mery tertindih saat dirinya tertidur lelap. Mery? Astaghfirullah. Apa yang aku lakukan! Dia pasti menahan sakit ditangannya. Katanya dalam hati.


"Mery..," panggil Tery pelan.


"Ehmm, mbak Tery," ucap Mery terbangun, ia pun mengucek kedua matanya.


"Kapan kamu pulang? Kok gak bangunin mbak?" katanya sambil memegang tangan Mery.


Mery terbengong linglung, suara yang di dengar masih samar-samar ditelinganya, Mery pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin mencuci muka dan menyadarkan dirinya terlebih dulu.


"Mery, ya Allah... Mery!" teriak Umi berusaha memeluk Mery.


"Ehh, siapa nih. Aduh, tanganku sakit. Sakit!" teriak Mery sambil berontak dari pelukan Uminya.


Umi terkejut dan kaget, sikap Mery membuatnya bingung. Pada saat itu, Tery pun keluar dari kamarnya dan berusaha membantu memulihkan kesadaran Mery. Dia pun benar-benar tidak sadar atas apa yang dia lakukan. Mery merasakan pusing dan sakit di tangan kanannya.


Gubrakk!


"Mery! Astaghfirullah..."

__ADS_1


"Dek, adek.. bangun dek," teriak Tery sambil menepuk pipi kanan kirinya Mery. Tapi ia tak kunjung sadar juga.


"Mi, bawa ke Klinik aja Mi, ayo!" tutur Tery cemas


Ia pun segera memakai pakaian panjang tanpa mengenakan hijabnya. Tery hanya menggulungkan rambut panjangnya dengan sedikit acakan. Setelah berusaha membantu Mery dibawa ke Klinik. Indra dan anaknya, Adelia datang membawa motor beat merah.


"Ayah? Yah, tolong bantu Ibu bawa adek ke Klinik terdekat Yah, tolong!" ucap Tery memohon dengan Indra.


Indra tanpa membalas kata dari Tery langsung menggendong Mery yang sedang pingsan, Umi pun menyerahkan tubuh Mery kepada Indra sembari matanya berkaca-kaca.


Indra langsung membawa Mery dan Umi menjaganya dari belakang, Tery hanya terdiam memaku melihat sang adik tiba-tiba pingsan di depan matanya.


"Ibu, tante cantik kenapa?" ujar Adelia ketakutan.


"Gak papa sayang, tante Mery cuma lelah. Yuk masuk," kata Tery berusaha menenangkannya, "Oh iya, kok dede Lia tau tante itu?" lanjut Tery penasaran.


"Tadi tante cantik itu nolong dede nemuin papah."


"Memangnya dede kenapa?" katanya lagi.


"Dede nyeset Bu, eh.. apa ya itu. Dede palu," ucap Adelia bingung.


"Hehe, dede tersesat maksudnya? Tapi dede lupa ya?" Tery tertawa ketika anaknya suka bercanda dengan memainkan jari dan bola matanya. Sama persis ketika Mery masih kecil.

__ADS_1


__ADS_2