Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Season 2, bab 67


__ADS_3

Ucapan yang begitu polos membuat hati mery merasa sangat kasihan pada sang kakaknya, selama ini ia menikah enam tahun tidak ada hasil. Indra masih belum mencintai sang kakak sedangkan mery sudah sepenuhnya melupakan indra. Bagaimana bisa terjadi kata-kata itu terdengar lagi di telinga mery? Mery berpikir bagaimana caranya indra bisa melupakan mery. Dan menatap yang selalu menunggu indra untuk balik badan melihat orang yang selalu mencintainya, yaitu tery.


Bahkan mereka sudah dikaruniai anak yang cantik dan juga pintar seperti adelia. Sejak anton melamar mery, rasa suka pada indra seketika dibersihan oleh ombak lamaran dari anton. Mery menyukai anton. Rasa suka pada indra itu bukan suka. Melainkan mery terkagum pada ketampanan indra dan kecerdasan ia dalam bidang apapun. Maka dari itu mery telah tersadar, dari kata lebih baik di cintai dari pada mencintai.


Karena mencintai seseorang bukan Berarti orang tersebut akan mencintainya. Sedangkan di cintai akan terasa bahwa kita sedang ada dalam indahnya di perhatikan, di sayang dan di manja. Begitu juga tidak akan di tinggalkan oleh orang yang mencintai kita.


"Adelia, dengarkan tante baik-baik ya. Menikah itu tidak harus di dasarkan oleh cinta. Terkadang ada juga yang melewati perjodohan. Kamu sudah memikirkannya dengan baik bukan jadi asalkan ada kamu ibu dan ayah kamu akan selalu bersatu. Apapun yang terjadi mereka akan selalu bersama. Ibu dan ayah memang menikah lewat perjodohan. Tetapi, mereka itu sudah di takdirkan untuk bersama dan lagi mereka dikaruniai anak secantik kamu," jawab mey tersenyum menyentuh hidung kecil adelia. Adelia tersenyum mengangguk.


"Baiklah, kalau gitu ayo kita tidur. Sudah malam," ucap mery memeluk adelia dan menyelimutinya.


"Tapi adelia masih belum mengantuk," pungkas tersenyum menyengir lebar. "Adelia mau cerita lagi tante ... Kaya tadi sore itu." Lanjutnya memasang wajah memelas.


"Baiklah, kamu mau cerita apa?" tanya mery mulai menggoda.


"Apa aja tante, asal jangan yang serem. Haha!"


"Siap bosku ..." mery tersenyum sembari menghormat kepada adelia, adelia seketika tertawa senang.


"Suatu ketika, dilan pernah menegur milea, putrinya untuk tidak menahan kebaikan dan kasih sayangnya terhadap sesama, serta untuk mengemban tugas kemanusiaan bagi semua manusia sesuai dengan kemampuannya. Beliau berkata : Wahai anakku, janganlah kamu tahan rasa kasihmu kepada siapa pun yang mencari kebajikan dari cintamu, meskipun mereka engkau anggap tidak pantas untuk menerima kebaikanmu itu. Namun, jika engkau memenuhi apa yang dia cari, niscaya engkau akan menemukan bahwa sesungguhnya mereka layak untuk menerima kebajikanmu."


Cerita baru setengahnya, adelia sudah tertidur pulas di pelukan mery. Akhirnya mery berusaha bangun dari ranjangnya dan mematikan lampu kemudian ia menyalakan lampu tidur.


****


Alam adalah guru bagi semua makhluk yang di dalamnya banyak mengandung pelajaran hidup. Sama halnya yang di alami oleh tery. Kepala yang terbungkus oleh perban dan alat pernapasan selalu membantunya untuk bernapas. Tangan di penuhi oleh jarum infus, begitu juga luka bagian tangan kiri dan kaki susah untuk di jelaskan bagaimana bentuknya.


Indra yang selalu menemani tery di luar kamar begitu juga dengan kedua orang tuanya. Tak lupa juga menghubungi sang orang tua indra, bahwa menantu tersayangnya telah di timpakan musibah. Tery kritis, tiga hari belum juga menyadarkan diri. Kedua orang tuanya, abi dan umi berharap bisa menjenguk dan masuk ke ruangan ICU tersebut. Namun, dokter selalu saja menolak permintaannya. Bahkan sosok abi saja merasa kesal hampir mencekik seorang dokter yang berusaha membantu pemulihan tery.


"Hanya doa yang bisa membantu tery sadar, karena fisiknya sangat lemah."

__ADS_1


Itulah kata terakhir yang diucapkan oleh dokter tadi. Ia mengatakan bahwa jika bukan kritis kemungkinan meninggal dunia. Tabrakan itu sangat kencang sehingga tery banyak sekali mengeluarkan darah. Akhirnya demi melewati masa kritis sang dokter mengusulkan salah satu suster yang sangat di handal oleh rumah sakitnya, ialah suster ara.


Mendengar nama itu tidak asing bagi indra. Seketika langsung menolehkan pandangannya saat dokter mengatakan bahwa ara yang harus mengurus tery. Indra tidak yakin bahwa ara akan melakukannya dengan baik. Namun, dokter itu tetap mengusulkan bahwa ara lah yang menjadi pengurus setiap harinya tery.


"Permisi, saya suster ara. Saya di tugaskan oleh dokter untuk mengganti kantong infusnya," ucap ara seketika datang membawa alat medis dan satu kantong infus yang masih baru.


"Silahkan," ucap umi mempersilahkan ara untuk masuk ke ruangan tery.


"Kenapa umi langsung mempersilahkan dia masuk?" tanya indra langsung memotong jalan ara. Indra menghalangi pintu kamar tery.


"Indra apa yang kamu lakukan, nak? Minggirlah. Suster itu mau masuk!" tegas umi menarik tangan indra.


"Engga mi, dia itu sahabatnya mery, sekaligus musuhnya. Dialah yang membuat anton telat untuk melamar mery pada hari itu." Indra begitu dendam pada ara, karena perbuatan ara telah merusak segalanya.


"Maaf tuan indra yang terhormat, saya di sini untuk bekerja, bukan untuk mencari masalah dengan pasien maupun keluarga pasien. Permisi!" ketus ara langsung mendorong tubuh indra dengan pelan kemudian ara langsung masuk ke ruangan tery tanpa menunggu celoteh indra yang mengganggu tugas ara sekaligus rencananya.


"Tenang kak, obat ini tidak akan membuatmu mati cepat. Tetapi perlahan kau akan merasakan bagaimana reaksi obat itu, dan kau akan mati dengan tenang. Aku membantumu bertemu dengan surga. Iya kan ... Kak tery?" gumam ara sembari membelai wajahnya dengan rasa kebencian.


Kemudian, ara membuang kantong infus yang masih baru di tong sampah. Ia berpikir dengan cara beralasan seperti itu akan lebih mudah. Akhirnya ara keluar dengan alasan ia sudah menyelesaikankan tugasnya dengan baik. Ara bahkan bersandiwara untuk keluarga mery. Berkata manis untuk mendoakan tery.


****


Bandara, soekarno-hatta


Seorang pria tampan turun dari pesawat Jakarta - Jogja. Ia membawa satu koper berwarna hitam. Memakai kacamata begitu juga jaket tertulis MY BOY berwarna putih. Ia berjalan dengan elegan dan berwibawa. Dia adalah salah satu teman semasa sekolah dasar bersama Mery. Tujuan pergi ke Jakarta ialah untuk bertemu dengannya. Sudah bertahun-tahun ia menunggu mery pulang ke Jogja. Namun, tetap saja mery masih belum juga menemuinya.


Dev, namanya. Singkat, sesingkat ucapannya yang tidak terlalu mengeluarkan banyak kata dengan orang lain. Namun, ia berbeda dengan menyikapi mery dan keluarganya. Ia begitu sopan dan terlihat berkarisma. Dev dan Mery adalah sahabat yang sangat erat hubungannya. Mereka saling mengerti satu sama lain. Namun, sikap dev yang kurang di sukai oleh mery adalah rasa ingin tahu tentang masalah mery.


Dev tahu alamat rumah mery dari mbok sirah. Dev selalu memanggilnya dengan kata 'mbok' karena mereka juga saling mengenal sejak dev berteman baik dengan mery. Petualangan mereka sangat menyenangkan. Dari di mana tery memancing bersama dev dan kawan-kawannya, bermain karet gelang, kelereng dan petak umpat. Berbagai permainan yang mereka lakukan di masa kecil menjadikan kenangan yang berharga bagi dev. Kini ia akan berjumpa dengan mery.

__ADS_1


Dev berhenti berjalan. Ia menatap jalanan yang cukup luas untuk mencari taxi. Di setiap sudut taxi dan ojol 'ojek online' berdampingan di pinggir jalan. Huh, koyo urang!. (huh, kaya udang.) Gumam dev menatap taxi berderetan. Satu dua orang menawarkan dirinya untuk ikut bersama dev kemana pun tujuannya mereka siap melayani. Namun, dev tetap berjalan menuju keluar pintu masuk. Sampai di sana ia pun mulai bingung, dev harus tahu dulu ke mana ia akan pergi menuju ke rumah mery. Kemudian, dev mengambil dompet yang ada di saku celananya.


Setelah menatap beberapa detik, dev melipatnya kembali dan berjalan terus menelusuri keluar dari bandara. Tiba-tiba saat dev melirik kanan kiri di sekelilingnya. Dev bertabrakan dengan seseorang.


Brukk! "Oh ah, sory-sory. Aku tidak sengaja," ucap Anton bergegas mengambil kertas yang terjatuh tadi. Tidak sengaja pula Anton melihat alamat yang tercantum di dalamnya adalah alamat rumah mery. "Maaf, kamu siapa?" lanjut anton bangkit dari jongkoknya.


Dev membersihkan badan bagian tertabrak dengan anton, dev menoleh sekilas lalu kembali merebut alamat yang di pegang anton. Ia mengacuhkan pertanyaan yang sama sekali tidak perlu di jawab oleh dev. "Orang Jakarta kebanyakan sok kenalnya ternyata!" gerutu dev menyeringai tidak senang.


Anton mencoba untuk mengejar dev. Sayangnya anton kehilangan jejaknya. Tidak seperti itu, melainkan dev mengumpat karena penasaran mengapa anton begitu peduli pada alamat yang tertulis di kertasnya. Dalam pikir dev, kemungkinan anton mengenal alamat yang ada pada dirinya.


"Kemana dia? Cepat sekali larinya," keluh anton terengah-engah. Ia berdiri tept di mana dev sedang bersembunyi. Dev keluar dari tempat persembunyiannya lalu menepuk pundak anton dengan pelan. Anton menoleh, seketika wajahnya terkejut dan matanya terbelalak kejut.


"Kau mencariku begitu penting kah?" tanya dev menatap dingin.


"Jangan pedulikan itu, aku hanya mau tanya denganmu. Apa hubungannya kau dan alamat di kertas itu?" tanya anton sembari menunjuk jarinya ke arah kertas yang ada di genggaman dev.


Dev menoleh, menatap sedikit lama kertasnya. Dalam hatinya selalu bertanya-tanya mengapa anton begitu peduli sekali dengan alamat mery. Tidak lama pula dev langsung menatap anton yang sedang mengatur napasnya.


"Kau pemilik alamat ini?" tanya dev acuh


"Bukan, tapi aku mengenalnya. Pemilik alamat itu adalah abi uminya tunanganku, mery. Jadi siapa kau? Mengapa kau memiliki alamat calon istriku? Sebelumnya aku tidak mengenal kamu sebelumnya." Anton begitu terburu-buru mengeluarkan semua isi hatinya dengan pertanyaan-prtanyaan berikut. Dev terkejut, sahabat lamanya ingin menikah namun tidak memberikan kabar dengannya sama sekali. Rasanya begitu kesal. Namun, tidak ada gunanya ia marah dengan anton.


"Kau tunangannya?" tanya dev lagi.


"Iya. Kau banyak pertanyaan singkat namun aku sudah menjelaskan begitu panjang. Mengapa kau bertanya lagi pertanyaan yang sama, hah?" kesal anton masih dalam mengatur napasnya.


"Cerewet sekali," ucap dev. Dia langsung meninggalkan tempat di mana mengobrol dengan Anton. Sesekali anton menoleh kembali, melihat belakang punggung dev terlihat sangat cool dan memiliki punggung yang besar. Beda dari anton, walaupun tampan dan tinggi. Tetapi punggungnya mengalahkan punggung dev.


"Untung saja tampannya tidak melebihi aku, hahaha." tawa anton langsung membalikkan badan, tidak peduli lagi pada dev. Sedangkan dev melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah mery. Anton bahkan lupa, tujuan ia ke bandara adalah menjemput sang paman dan bibinya. Kemudian anton langsung bergegas dan melarikan diri menuju pintu penjemputan penumpang Indonesia-Korea.

__ADS_1


__ADS_2