Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 18


__ADS_3

Gelap sekali, aku begitu mendengarkan suara berbagai suara dari telingaku. Mungkin ada beberapa orang di samping dan menungguku bangun. Tanpa sadar pelan-pelan ku buka mata dan ada sinar yang sangat menyilaukan.


Badanku terasa kaku dan lemas, tiada tenaga sampai Aku ingin mengangkat tangan pun terasa berat. Saat Aku membuka mata, tiba saja di sekelilingku di kerumuhin banyak santri dan kedua Ustadzah yang duduk di sebelahku. Ada apa ini? Pikirku dalam hati.


"Wah! Mery sudah sadar" Seru Willy tersenyum bahagia.


Seketika semua orang menatapku dengan tatapan kosong dan yang tadinya jaraknya jauh menjadi mendekat hanya karena Aku sadar. Aku pun tidak tau mengapa tiba-tiba sudah ada di atas ranjang kamar asramaku.


"Mery! Apa kamu sudah baikkan sekarang?" Tanya Ustadzah membuyarkan lamunanku.


"Eh? Emang saya kenapa Umi?" Tanyaku pelan, suara yang tiba saja menjadi serak dan terasa sakit untuk mengeluarkan kata panjang.


Aku hanya duduk sembari melihat mereka yang begitu menatapku dengan rasa kasihan, meja di samping pun penuh dengan minuman, wewangian dan buah segar.


"Kamu pingsan pas kamu teriak-teriak kemarin sore. Masa enggak inget?" Ujar Putri curiga.


"Apa? Pingsan! Ma.. Masa sih?" Kagetku, menatap Putri yang sedang bersedekap berdiri.


"Ah, ya sudah. Lebih baik Mery istirahat aja dulu yah. Umi dan lainnya tidak akan mengganggu kamu dulu. Istirahatlah!" Ujar Ustadzah sambil bangkit dari tempat duduk.


"Kalian jaga Mery yah" Lanjut Ustadzah sambil menunjuk ku dengan penuh ketegasan.


Diamnya Aku masih mempertanyakan dan mulai mengingat-ingat apa yang terjadi padaku tadi sore. Tapi kepalaku sangat sakit dan sangat berat sekali mencoba mengingat kejadian yang membuatku lupa seketika.


"Ssstt! Sakit sekali. Btw ini sudah jam berapa Will?" Tanyaku sembari memegangi kepala di bagian yang sakit.


"Jam 11 siang, dimana waktu istirahat dan mulai untuk sholat dzuhur. Kau pingsan sangat lama, atau memang kelelahan Mer?" Tanya Willy mendekatiku dan berjongkok di hadapanku.


"Hah? Selama itukah? Memangnya apa yang terjadi padaku. Aku benar-benar tidak ingat sama sekali. Bagaimana mungkin Aku bisa lupa seperti ini" Ujarku kebingungan.


"Kau ingat Aku kan, aku Putri!" Kata Putri sembari menepuk dadanya.

__ADS_1


"Iyah, Aku Willy. Kau ingat Aku kan, kan?" Willy pun mengucapkan kata yang sama.


Dari perkataan mereka Aku hanya terdiam keheranan, mereka memastikan dirinya sendiri bahwa Aku bakal melupakan mereka. Heng! Tidak mungkin. Pikirku.


"Kata dokter, kau amnesia tapi hanya bagian yang membuatmu depresi. Ada apa denganmu sebenarnya Mer? Jika ada yang membuatmu merasa sedih cobalah untuk cerita padaku" Kata Willy memastikan dengan percaya diri.


"Iya benar" Lanjut Putri mengiyakan ucap Willy, lela hanya mengangguk dan tersenyum padaku.


Bagian yang hilang sepertinya banyak. Aku hanya ingat bahwa Aku bertemu dengan Abi dan Kak Tery di sini. Setelah itu Aku sama sekali tidak mengingatnya. Ada apa denganku? Separah apa depresiku sehingga banyak sekali hal-hal yang penting pun Aku tidak ingat.


Aku berusaha untuk terus mengingat tapi kepalaku sangat pusing dan terasa sakit, rasanya seperti ingin pecah. Tetapi di bagian belakang kepalaku terasa berat dan seperti ada balutan perban yang tebal. Apakah Aku terjatuh atau terpeleset di kamar mandi kah? Pikirku semakin menjadi-jadi.


"Lupakan, jangan untuk mengingatnya. Jika kau berusaha untuk mengingat Aku akan keras denganmu untuk berkata JANGAN. Lagi pula itu tidak penting, yang terpenting adalah kesehatanmu dulu." Kata Willy mengeryitkan dahi dan bernada tinggi denganku.


"Bisakah kau tidak meneriakiku, aku sungguh sakit Will" Ucapku berpura-pura sedih.


"Willy! Kau!" Seru Putri dan Lela bersamaan meneriaki Willy.


Aku tertawa melihat tingkah mereka yang sama seperti anak kecil membela temannya yang tertindas. Bahkan kepalaku sampai terasa nyut-nyutan mendengar teriakan mereka karna kesal dengan Willy.


"Will, Put, La! Kalian lihat orang tuaku datang kesini tidak?" Tanyaku penuh penasaran.


Willy langsung tersendat batuk dan Putri pun langsung menatap Lela dengan tajam. Mereka seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh Aku tahu.


Aku pun terdiam seketika dan menatap jendela yang menembus cahaya dari luar. Sejauh mata memandang di sana juga terlihat lapangan yang lebar.


Putri menatapku dengan penuh keraguan, sepertinya benar dugaanku. Mereka menyembunyikan sesuatu yang tidak perlu Aku tahu. Baiklah, aku mengertikan mereka.


"Sudahlah, jangan canggung begini. Aku baik-baik saja kok. Katakanlah!" Ucapku sembari tersenyum manis.


"Sebenarnya!" Ucap Willy mulai membuka pembicaraannya.

__ADS_1


"Sebenarnya orang tuamu sudah datang kesini, tapi mereka sudah pulang lebih awal sebelum kau sadar Mer!" Ucap Putri langsung tersenyum padaku.


"Benarkah? Hmm..Sayang sekali." kataku lesu.


Putri menjelaskan dengan terang-terangam denganku tapi Willy dan Lela terlihat tidak senang dengan penjelasan Putri untukku.


Willy pun langsung menarik Putri keluar dan mengatakan padaku bahwa ada sesuatu yang harus di selesaikan di kelas. Aku pun mengangguk sembari tersenyum lepas.


Lela duduk di sebelahku dan meraih buah segar lalu ia mengupas dengan penuh telitinya. Setelah itu, Lela memberikan Jeruk untukku.


"Nah, supaya kau cepat sembuh" Kata Lela


Aku mengangguk dan mengucapkan "Terima Kasih" padanya. Lela pun tersenyum dan kembali membuka buku yang sering dia baca setiap kali ada waktu luang.


"Aku kok merasa ada yang kurang" Ucapku membuyarkan keseriusan Lela membaca buku. Seketika Lela mengangkat wajahnya dan melirikku dengan pelan.


"Apa itu?" Kata Lela menyelidik.


Aku tersenyum dan tertawa kecil padanya lalu Lela hanya mengangkat alis kanannya dengan penuh keanehan dariku. Tapi firasatku seperti ingin mempertanyakan tentangnya. Namun, aku sungguh bingung untuk bertanya apa. Sama sekali tidak mengingat apapun darinya.


***


#Taman


Kini Aku bagaikan daun yang kering yang tertiup angin, tersirat kesana kemari, takkan tertentu arah. Dunia seakan membisu soal ingatanku.


Bahkan awanpun mendukung bisuan yang membuatku seperti daun yang kering. Tetapi Aku tidak bisa membenci soal amnesiaku ini, karena pada dasarnya Daun yang jatuh tidak pernah sekalipun membenci angin.


Aku belajar dari berbagai Novel yang terbaik sewaktu di Jogja. Mengingat soal kenangan di sana pun terasa sangat merindukan. Aku mulai mengingat Mbok Sirah yang selalu menemaniku setelah sepulang sekolah.


Ia sangat murah senyum dan Aku belajar darinya. Mbok Sirah tidak pernah marah sekalipun itu kesalahanku. Hal-hal yang membuatku mengeluh soal kerja keras Si Mbok selalu membuatku bangkit untuk bersemangat.

__ADS_1


Lalu bagaimana yah keadaan Mbok Sirah sekarang? Karna dia sendirian di rumah hanya ada tetanggalah yang selalu menjenguk Mbok Sirah. Ingin sekali pulang Ke Jogja.


"Mery! Kau kah itu?" Teriak sosok paruh baya membelakangiku. Degupan jantungku tiba-tiba terhenti seketika saat mendengar suara itu. Suara yang sangat familiar bagiku. Siapa dia? Pikirku bergumam di dalam hati.


__ADS_2