Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Season 2, bab 71


__ADS_3

Dev mencoba untuk mengajak mery mengobrol dan berusaha untuk membangkitkan semangatnya lagi, adelia hanya menggenggam tangan mery menatap wajahnya yang penuh dengan air mata.


Di suatu tempat yang cukup ramai di penuhi oleh beberapa pedagang kecil berbagai barang, alat dapur, pakaian, dan makanan minuman. Dev mengajak mery ke pasar malam yang tempatnya tidak jauh dari taman. Terlihat di wajah mungil adelia, ia sangat lelah.


"Adelia, kau mau minum apa?" tanya dev memilih minuman yang ada di warung sebelah. Di mana mereka duduk di kursi milik warung tersebut.


"Aqua," ucap adelia singkat. "Mau itu juga odev," lanjutnya sembari menunjuk salah satu makanan ringan terbuat dari singkong. Dev mengangguk, dan mengambilkannya.


"Mer, kau mau minum atau melamun terus?" sindir dev menatap datar. "Kalau engga ya udah."


"Ambilkan aqua, samaan kaya adelia." jawab mery cepat merespon. Namun, tatapannya masih saja melamun. "Dev, bagaimana kalau kits bantu mereka?" tanya mery seketika langsung memalingkan pandangannya. Dev menoleh, tangannya di penuhi oleh makanan ringam dan tiga botol air mineral.


"Bantu? Di mana kau ingin membelikan mereka baju, celana, makanan, mainan, sebuah tempat tinggal dan ..." ucap dev seketika terpotong oleh mery.


"Iya! Kau tau aku. Kau bisa membaca pikiranku. Oleh karena itu, aku tak perlu memberimu penjelasan yang jelas olehmu. Aku tau kau seorang jenius dan dokter terkenal. Jadi kumohon padamu ya? Plis ..." ucap mery langsung memecahkan apa yang ada di dalam benaknya. Mery berusaha membujuk dev, mery tahu bahwa dev tidak begitu suka dengan anak kecil. Namun, dengan adanya mereka memperlihatkan keadaan mereka yang masih kekurangan kasih sayang, panganan dan lain sebagainya. Kemungkinan dev akan membantunya.


"Baik. Tapi aku sarankan ... Sebentar! Kau tau apa maksudku kan mereka akan tinggal di mana?" ucap dev tersenyum kecil.


"Ya, di mana lagi kalau bukan panti asuhan atau yatim piatu?" sambung mery.


"Tepat sekali," ucap dev menyengir. " Kalau begitu selesai kita makan. Kita berbelanja untuk mereka besok? Bagaimana?" lanjutnya. Mery langsung mengangguk bersemangat. Adelia asyik menghabiskan camilan yang ada di genggaman tangannya.


****


"Ya! Bagus... Hahaha," teriak anton asyik bermain game di ponselnya, ia duduk di ayunan dekat kolam renang. Terlihat sang adik pula sedang asyik berenang di kedalaman air. Beberapa hari ini anton menghabiskan waktunya bermain game, game, dan game. Wilky saja yang melihat sang kakak sangat membosankan. Bahkan pamannya tidak pernah mengusik anton untuk beraktivitas di kantornya.


"Kak!"


"Kakak!"


"Woi, bolot!"


Plak ... Aahhh! Suara lemparan keras di kepala anton adalah sandal milik sang adiknya. Sedari tadi wilky berusaha memanggilnya namun anton sama sekali tidak mendengarkan teriakan yang begitu keras. Bahkan dari beberapa pembantu yang melintas pun kaget karena teriakan wilky.


"Kenapa dari tadi di panggil gak jawab si!" kesal wilky duduk di sudut kolam renang.


"Kamu ini, memangnya ada apa? Hah!" jawab anton sedikit geram.

__ADS_1


"Kenapa kakak terus di rumah? Harusnya kakak ikut paman ke kantor. Itukan kantor suatu saat nanti kakak penerusnya. Harusnya kakak ke kantor sekarang juga! Jangan main game terus," gerutu wilky naik ke daratan.


"Males," jawab anton singkat.


Wilky langsung pergi meninggalkan anton sendirian. Anton seketika mematikan ponselnya, merenggangkan kedua tangannya kemudian menyangga kepalanya sembari tiduran. Sekejap anton memikirkan bagaimana keadaan mery terakhir kali anton berjumpa dengannya. Bahkan anton pun sempat bertemu dengan pria yang memiliki alamat yang sama dengan mery. Siapa dia ya? Gumam anton dalam hati. Tiba-tiba matanya mulai terasa berat, pandangannya sedikit blur. Anton tertidur di atas ayunan sembari menikmati angin sore yang menyegarkan.


****


"Assalamualaikum ..." salam mery ketika membuka daun pintu rumahnya. Terdengar suara lantunan ayat suci Al Qur'an dari suara umi. Sepertinya Umi sedang mengaji di kamarnya. Lain dengan abi, justru asyik menikmati kopi buatan umi sembari membaca cerita tentang sahabat nabi.


"Lho kok mery gak salam dulu?" tanya abi terkejut yang tiba-tiba tidak tahu bahwa mery sudah di rumah.


"Kakek, kan tadi tante sudah salam lho. Kakek saja yang tidak dengar," sindir adelia memasang wajah cemberutnya.


"Oh ya ampun, kakek di marahi sama cucu kakek? Hahaha... Adelia beli apa? Kok banyak banget bawaanya," ucap abi tersenyum sambil melirik barang bungkusan yang di bawa adelia, dev dan mery.


"Ada deh, kakek kepo! Ayo tante, odev. Kenapa kalian diam. Ayo masuk kamar!" teriak adelia begitu semangat ingin membantu dion dan adik-adiknya.


"Baiklah, jagoan. Ayo!" ucap mery tersenyum senang dan menatap dev mengisyaratkan untuk masuk bersama ke kamarnya. Abi turut senang melihat mery sebahagia itu. Wajahnya tidak terlihat seperti orang yang linglung lagi. Kini wajah mery di penuhi keceriaan sejak dev datang dalam kehidupannya. Dev memang selalu bertemab baik dengan mery.


Alhamdulillah ya Allah, sekarang putriku sudah mulai sebahagia seperti dulu lagi. Semoga dengan kedatangan sahabat lamanya. Ia bisa merubah mery menjadi anak yang selalu hangat seperti dulu. Desah abi dalam hatinya.


"Sudah habis banyak uang kita membelikan untuk mereka," ucap dev menyengir.


"Hei, jika membelikan sesuatu pada orang lain jangan perhitungan. Itu gak baik, dev. Dari pada uangmu tersimpan di atm begitu banyak. Lebih baik kau belikan yang bermanfaat." Desak mery langsung memarahi dev karena terlalu perhitungan.


"Tau! Gitu aja gak tahu. Dasar odev!" ejek adelia menjulurkan lidah.


"Hei, hei... Tidak sopan mengejek orang tua ya. Lagian aku kok baru ngeh kau panggil namaku aneh begitu?" ucap dev tidak terima. Ia langsung bangkit dari ranjang dan berusaha ingin memberi pelajaran pada adelia. Adelia sontak langsung terbangun dan berlari meraih mery untuk mencari perlindungan. Dev tidak peduli, ia terus meraih tubuh mungilnya dan berusaha untuk menggelitiki adelia. Tawanya pecah memenuhi kamar mery, mereka pun bercanda di dalam kamar. Berseru saling berteriak meminta ampun untuk berhenti menggelitik.


****


Jarum masih menusuk di tangannya, mata terpejam rapat. Detak jam seraya memenuhi ruangan tersebut. Tery bernapas normal namun tak kunjung ada tanda-tanya kesembuhan darinya. Indra masih menunggu di samping tery dengan menopang tangannya. Tidak tahu sampai kapan tery akan terus bertahan diatas ranjang rumah sakit, udara di ruangan penuh dengan bau karbol anti bakteri. Tidak ada sinar matahari, bahkan hembusan angin di pagi hari. Indra terus berharap bahwa tery harus berusaha melawan masa kritisnya demi adelia dan suaminya.


Indra juga berjanji dengan dirinya sendiri, jika tery sembuh maka ia akan menebus semua kesalahannya selama enam tahun lalu. Indra akan mencoba melupakan mery, indra akan berusaha mencintainya. Sepuluh menit lamanya indra terus membuang air mata yang jarang sekali ia keluarkan. Seketika tangan tery tergerak pelan-pelan. Gerakan itu di rasakan oleh indra ketika menggenggam tangannya.


Kemudian indra langsung menoleh pandangannya ke tery. Namun, wajah tery tidak ada perubahan. Mata masih terpejam, bibir tertutup rapat. Tetapi karena gerakan dari tangan sang istri menandakan bahwa dirinya akan sembuh. Indra sontak terkejut senang, ia menekan tombol berwarna merah di dekat ranjang tery. Tombol itu berfungsi untuk memanggil dokter agar cepat datang ke ruangannya. Seketika dokter pun datang dengan suster ara.

__ADS_1


"Apakah ada masalah dengannya?" tanya suster ara mendesak.


"Iya, iya... Tadi istri saya merespon saya. Dia menggerakan tangannya. Tolong periksakan segera!" sahut indra dengan semangat.


"Baiklah. Saya minta anda keluar dulu. Biarkan kami yang berusaha untuknya," ucap suster ara mencoba mengusir indra dengan lembut. Selangkah demi selangkah indra mundur dan akhirnya sampai di titik di mana ia keluar dari ruangannya.


Indra langsung menghubungi umi dan abi agar cepat datang ke rumah sakit segera. Indra menelpon begitu semangat.


"Tidak di duga, dia sangat bertahan dengan obat ini." Ara sangat geram melihat perkembangan tery, entah kekuatan apa yang dia miliki sampai bertahan seperti ini.


"Kenapa kau begitu menginginkan nyawanya? Kasihan dia," ucap dokter memelas pada tery.


"Diam! Aku tidak suka orang lain berkomentar tentang rencanaku. Gara-gara adiknya dia, aku menjadi sengsara karena harus mengemis cinta kekasihku lagi, mery telah merebut kebahagiaanku. Jika saja dia tidak datang di pondok waktu itu. Mungkin aku sudah lama bersamanya," ara berkhayal bisa kembali lagi dengan Anton namun itu tidak mungkin. Anton telah melupakan semu masa lalu dengannya.


****


Jalan rel kereta...


Dev berusaha membawa dua kardus besar yang terisi oleh beberapa yang mereka belanjakan untuk dion dan adiknya. Adelia begitu banyak mengobrol dengan mery sedangkan dev, susah payah dia mengimbangi keseimbangannya agar barang yang ia bawa tidak jatuh.


"Tante lihat, dia begitu payah kan?" bisik adelia menunjuk-nunjuk dev. Mery tersenyum sembari menahan tawa kecilnya, mereka selalu membisikan tentang dev dari ia membereskan barang sendirian dan membawa sampai ke tempat di mana dion tinggal.


Di depan rumah kardus dion terlihat ada riska dan hanna hanni sedang duduk sembari bermain gelitik-gelitikan. Tiba saja mereka melihat adelia yang lari terlebih dulu saat mery melepaskan gendongannya.


"Kenapa kalian datang ke sini lagi?" tanya dion yang baru keluar dari rumah kardusnya. Mery tersenyum sembari menatap leon yang di pangkuan riska.


"Kami membawakan sesuatu untuk kalian," ucap mery tersenyum sampai terlihat gigi putihnya.


"Wah! Benarkah?" sahut riska merasa senang dan langsung menatap bingkisan kardus, dev membuka kardus itu dengan cater yang ia bawa di saku celananya. Adelia tersenyum sembari menahan napas. Sebab bau yang sangat menyengat hampir membunuh hidung kecil adelia.


"Wow, ada baju baru? Mainan? Dan wah ... Ada makanan juga! Apakah ini buat kita?" ucap dion sangat senang, wajahnya berbinar kegirangan. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca melihat seisi kardus itu bagaikan harta baginya. "Kenapa kalian begitu baik pada kami ... Hiks," lanjut dion mengusap air matanya.


"Jangan nangis, pakailah pakaian baru kalian. Dan sebelum itu kalian harus mandi dulu. Nah! Sabun, sikat gigi, shampoo ada di tas kecil ini. Bawa baju kalian dan mandilah. Kami akan mengajak kalian jalan-jalan," jelas dev sembari menyodorkan alat mandi dan handuk kepada dion. Ia pun bergegas pergi ke kamar mandi umum dekat perbatasan rel kereta.


Setengah jam berlalu mery, dev dan adelia menunggu mereka selesai mandi. Dan benar saja wajah mereka terlihat bersih dan wangi. Mereka pun saling bertatap muka menebarkan gigi mereka. Dion dan riska yang lebih besar dari leo dan kedua adik angkat mereka sangat berterima kasih kepada mery dan dev. Mereka tidak tahu lagi harus bagaimana mengutarakan rasa senang mereka.


"Kakak, terima kasih. Dion dan riska tidak tahu lagi bagaimana membalas perbuatan baik kalian. Aku hanya anak jalanan, tidak memiliki orang tua maupun pendidikan. Tapi kalian memberikanku kebahagiaan yang tak terduga. Aku kira Allah tidak mendengarkan doa anak sepertiku ... Hiks," keluh kesah dalam hati dion sembari menangis tersendak-sendak. Mery mendekat dan mengusapkan air matanya. Mery kemudian memeluk tubuh dion yang begitu kuat dan tangguh hatinya. Mery sangat bangga kepada dion.

__ADS_1


"Kakak sangat bangga padamu dion. Kau begitu kuat hati begitu juga tangguh, tubuhmu begitu kokoh seperti gedung. Bahkan gedung kalah ketimbang keteguhan hatimu, nak!" ucap mery tersenyum dan mencoba memberikan pelukan hangat kepada dion. Riska pun mengikutinya dan memeluk mery dari belakang tubuhnya. Adelia merasa cemburu akhirnya dia juga memeluk mery. Dev hanya terdiam, ia tidak tahu harus melakukan apa lagi padanya.


__ADS_2