Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 22


__ADS_3

20 Menit Aku membersihkan debu yang menempel di buku ini akhirnya selesai juga. Tetapi Ustadzah tidak melihatku atau menghampiriku kesini. Selesai membersihkan, aku pun keluar dari aula lalu pergi ke asrama.


Setelah memakan waktu beberapa menit, aku langsung membuka pintu yang tidak terkunci itu dan melemparkan tubuhku di atas ranjang. Aku menghembus nafas panjang dan mengaturnya dengan tenang.


Sedikit demi sedikit rasa lelah pun menghilang. Ini sudah jam 11 siang, kenapa orang tuaku belum sampai juga? Pikirku tiba saja melintas.


Aku langsung bangun dan duduk di atas kasur, seluruh tubuhku terasa lengket dan bau seperti debu. Mungkin saat Aku membersihkan buku, debu itu menempel di hijab dan gamisku.


Seketika rasa ingin menyegarkan diri pun melintas di pikiran, dan tanpa memikirkannya yang panjang. Aku langsung menarik handuk di gantungan dekat kasurku.


Aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Menyegarkan diri dengan air dingin, sabun harmony yang murah tapi wanginya tidak murahan dengan semerbak baunya jeruk segar.


Seluruh tubuhku terasa segar walaupun hanya memegang dan mencium wanginya sabun batangan itu.


Setelah Aku selesai mandi, aku bergegas masuk kamar asrama yang jaraknya sangat dekat. Aku masih menggunakan handuk dan tetap memakai gamis begitu juga dengan hijab. Tidak mungkin kan Aku keluar telanjang hanya menggunakan handuk saja.


Aku mulai membuka lemari bajuku dengan rasa senang. Tetapi saat ku lihat, lemari itu kosong. Sama sekali tidak ada baju yang tersisa satupun untukku.


Semua milikku hilang, tidak mungkin jika Lela, Putri dan Willy pergi dengan orang tuanya membawa bajuku. Sangat tidak mungkin.


Dimana gamisku? Dimana semua pakaian dalam ku? Mau tidak mau, aku pun masih tetap menggunakan gamis yang bau debu ini. Bagaimana bisa baju tidak ada yang tersisa untukku.


Semua tempat sudah berusaha Aku cari dan sangat teliti Aku menatapnya. Tetapi tetap saja tidak ada satupun yang tersisa.


Aku bingung harus mencarinya kemana lagi, siapa yang membutuhkan pakaian segitu banyaknya? Masa iya setan! Pikirku menggerutu kesal.


***


Masih di hari yang sama, hanya saja beda jam. Sekarang sudah hampir pukul jam 2 siang, tapi tetap saja tidak ada seorang pun yang menjemputku pulang.


Sewaktu Aku sakit, mereka tidak menjenguk. Sewaktu Aku mengikuti lomba, abi tidak datang. Dan sekarang, aduh. Semuanya mendadak membuatku kesal. Sedari siang pun tidak ada makanan.


Sekarang Aku benar-benar lapar, sangat lapar. Cacing di perutku sudah menendang perutku sehingga katak pun berbunyi secara bersamaan. Monster di perutku mengaum sangat kencang.


Aku mulai beranjak ke dapur untuk melihat. Kali saja keberuntunganku sangat bagus di dapur, aku bisa menanyakan kepada Bibi Yang bertugas membuat masakan yang selalu lezat itu. Ahh! Pikiranku kacau jika sedang lapar begini.

__ADS_1


Aku berjalan mengendap-ngendap seperti orang yang takut ketahuan. Bahkan jalanku sampai tidak bersuara. Aku hanya takut, jika Ustadzah melihatku menuju ke dapur. Karena di sini ada larangannya.


"Sudahlah, lebih baik kau pergi saja. Jika mau kopi, kau bisa buat sendiri sesuka hati. Aku sibuk hari ini" Suara Bibi bergemang di dapur, terdengar sangat kesal pada seseorang.


"Buatkan Aku kopi satu kali lagi. Aku sangat mengantuk, ayolah" Lesu suara pria itu seperti Pak Tono.


Aku mulai cekikikkan di balik pintu, lucu sekali Pak Tono merayu Bibi yang sangat pemarah itu. Tapi bagaimana Aku masuk ke dapur yah? Gumamku mulai mencari akal.


"Ahh, aku tau." Kataku pelan. Aku langsung mengambil batu kecil yang ada di sekitarku. Lalu ku lemparkan ke arah mobil Pak Tono yang tergeletak di bawah pohon mangga.


Jika Aku bisa memancing mereka keluar, maka Aku akan lebih mudah untuk mengambil beberapa makanan untukku. Pikiranku sangat sempit jika sudah merasa kelaperan seperti ini.


Satu, dua, Tig..


Dorr!!


"Ahh! Dor," Teriakku histeris, latah.


"Hayoloh, ngapain. Mau maling yah" Ucap seseorang di belakangku.


Dia hanya menyengir sembari menatapku lamat-lamat. Entahlah, nasib sial apa hari ini bisa bertemu dengannya dengan hal yang sangat menjengkelkan. Rasanya ingin sekali memukulnya sampai terjatuh ke lantai. Tapi sayang, dia pria. Aku bukanlah tandingannya.


"Heh culun, ngapain luh Ngendap-ngendap kaya maling sih. Mau nguping yah? Dosa tau!" Katanya. "Lagian kamu kan cewe dan .. Emmm" Aku langsung menutup mulutnya dengan tanganku.


"Berisik! Kau diam saja. Kalau sampai Bibi dan Pak Tono dengar pembicaraaan kita. Awas kamu!" Kataku mengancam.


Dia hanya mengangguk dan langsung terdiam setelah tanganku lepaskan dari bungkama mulutnya yang bawel itu.


Aku baru saja mau melemparkan batu ke arah mobil itu, tapi gagal dibuat kaget oleh kelakuan jahilnya. Aku berusaha mencoba untuk melemparkan batu yang kedua, sedangkan pria itu masih di membelakangiku dengan diamnya.


Satu, dua, tig..


"Pak Tono, ada cewe gila disini!" Teriaknya menuju ke arah dapur dan berusaha lari dari teriakkannya barusan.


"Iishh, Uusstt.. Usstt. Dasar bodoh!"

__ADS_1


Mau tidak mau Akupun ikut dengannya dan berlari terbirit-birit karena takut ketahuan oleh Pak Tono. Sumpah, aku benar-benar kesal dengan cowo itu. Siapa dia. Dia selalu menggagalkan rencanaku untuk mengambil beberapa makanan di dapur.


Setelah lariku dengannya sudah cukup jauh dari dapur, terkuras semua tenagaku hanya untuk berlari seperti maling yang tertangkap basah.


Cowo itu pun merukuk sembari mengatur nafasnya dengan terengah-engah. Begitupun denganku. Aku merasa lemas dan sangat haus saat ini. Minum yang sangat ku butuhkan.


Tiba-tiba Ustad dan Ustadzah datang menghampiri kami yang sedang terengah-engah tidak jelas.


"Sedang apa kalian di sini?" Tanya Ustad mengangkat alis kanannya.


"Kami sudah mencari kalian dimana-mana. Dan kebetulan sekali kamu ada di sini Mery, Anton." Lanjut Ustadzah sedikit kesal.


"Ah? Siapa Umi tadi? Anton!" Kataku heran.


"Na'am. Di samping kamu adalah Anton. Dia Santri baru di sini." Ucap Ustad menjelaskan.


Oh, Anton namanya. Nama yang sangat mudah di pahami dan sangat mudah di ingat. Aku tiba saja langsung tersenyum dan melihat wajahnya yang sedikit dingin menatapku sembari bersedekap.


Aku mengodekan mataku dengan tunjukkan tangannya, tidak sopan jika ia bersedekap dan bersikap angkuh kesombongan di hadapan mereka.


Tapi Anton hanya mengangguk sekali yang menandakan bahwa dia tidak memahami maksudku.


"Apa si, gak jelas banget!" Kata Anton memecahkan keheningan dengan gas level tujuh.


Ucapannya benar-benar seperti ayam geprek, pedasnya berlevel-level. Mengapa orang seperti dia di masukkan ke Pondok seperti ini. Yang benar saja?


"Anton!" Tungkas Ustad menatap Anton.


Tapi tidak ada sedikit perubahan di wajahnya. Ia masih sama bersedekap dan lirikkan yang sangat tajam kepadaku dan Ustad.


"Mery, umi memberitahukan bahwa kamu tidak bisa di jemput oleh Abi dan Umi kamu. Mereka sibuk, maka dari itu kamu dan Anton akan pulang hari ini juga dengan di antarnya mobil Pak Tono. Bagaimana?" Kata Ustadzah membalikkan pandangan.


"Apa? Sama dia" Kataku sembari menunjuk jari ke arahnya.


Seketika Anton tersenyum dan menatapku yang penuh keusilan lalu ia tunjukkan dengan mengodekan alisnya yang terangkat-angkat tidak jelas.

__ADS_1


__ADS_2