
Lima menit kemudian, Umi keluar dari ruangan Mery begitu juga Dokter. Indra yang tadinya sedang duduk cemas langsung bangkit ketika melihat pintunya terbuka.
"Ah, Umi. Bagaimana keadaan Mery?" tanya Anton.
"Nona Mery tidak apa-apa, ia hanya kelelahan dan butuh istirahat," ujar Dokter.
"Mery hanya kecapean mungkin Ndra, jadi dia pingsan," tutur Umi bicara pelan.
Indra akhirnya merasa sedikit lega, ia pun mulai membuka pintu ruangan Mery tapi Umi tiba-tiba menahan tangan Indra untuk tidak masuk kedalam.
Indra menurut, ia tarik kembali keniatannya untuk bertemu Mery. Umi hanya ingin menjaga jarak diantara Indra dan anak bungsunya, ia tidak mau jika ada kesalahpahaman diantara kakak beradik.
"Indra, sebaiknya kamu pulang saja. Istri dan anakmu menunggumu dirumah."
"Tapi Mi, Mery bagaimana?" tanya Indra cemas.
"Jangan khawatir, sebentar lagi Abimu akan datang dengan Anton," ujarnya sambil menepuk pundak Indra.
Dia lagi? Gumam Indra kesal, alisnya mengerut, ekspresi wajahnya berubah. Indra tidak mengerti mengapa Anton selalu saja mengelilingi Mery.
Umi yang menatapnya jauh lebih memahami apa yang Indra rasakan cuma Indra sudah menjadi kepala keluarga. Umi hanya ingin memiliki ikatan kedua keluarganya harmonis penuh kehangatan, tidak seperti masa lalu waktu itu.
Disilangnya waktu, Indra pulang dengan motornya sedangkan Anton dan Abi baru saja datang memasuki pintu rumah sakit, Anton melihat Indra sekilas. Dia? Kenapa ada disini? Ah.. Sudahlah, Mery lebih penting dari dia. Gumam Anton.
"Umi, Mi.. Bagaimana keadaan Mery?" tanya Abi cemas.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mery hanya kelelahan saja," kata Umi sambil melirik pintu ruangan Mery.
__ADS_1
Anton langsung bergegas masuk kedalam ia melihat Mery terbaring di atas ranjang rumah sakit. Kantong matanya memang sedikit menghitam. Saat Anton berusaha meraih tangan Mery, bibir Mery seperti ingin membicarakan sesuatu.
"Ja.. Jangan, aku.. Takut," ucap Mery mengigau.
Anton sangat khawatir kepadanya, ia pun meraih kening Mery dan bagian pipinya. Tubuh Mery terasa sangat panas.
"Dokter!" teriak Anton diruangan membuat Abi dan Umi langsung membuka pintu dengan tergesa-gesa.
Abi melihat wajah Mery seperti bukan hanya kelelahan, tapi ia juga demam tinggi. Umi yang sangat-sangat mencemaskan keadaan Mery langsung berlari menuju ke Dokter yang sedang menyiapkan obat untuk Mery.
"Dokter, Dokter!" teriak Umi kebingungan.
"Ibu, ada apa Bu?" tanya suster mencoba membuat Umi sedikit tenang.
"Anakku, dia.. Dia demam tinggi, tolong Sus," ujar Umi sambil menunjuk kamar ruang inap.
Anton bingung, Mery selalu mengigau kata "Jangan, aku takut" itu membuatnya benar-bemar frustasi, sebenarnya apa yang ada didalam mimpinya itu. Anton mencari cara agar Mery sedikit tenang.
"Jangan takut, disini ada Aku, Anton..," ucap Anton berusaha membisikan di telinga Mery.
Mery langsung tersadar membuka matanya, ia menatap Anton dan langsung meraih untuk memeluknya, dengan suhu tubuh yang panas Anton pun terkejut dibuatnya.
Tubuhnya gemetar hebat, nafasnya tarik ulur dengan cepat. Mery seperti orang habis berlari 10 km memutari lapangan, hijabnya pun basah karena keringat yang ia keluarkan.
Anton membalas pelukan dari Mery, ia mencoba untuk menenangkannya. Abi melihat sikap Anton benar-benar sangat perhatian pada Mery maka dari itu sejak awal ia mempercayai Anton seutuhnya untuk menjaga Mery selama diluar negri.
"Permisi, saya akan cek nona Mery terlebih dulu," ucap Suster memisahkan pelukan Mery dengan Anton.
__ADS_1
Ah, mengganggu saja... Kata Anton sedikit membatin. Suster pun memeriksakan suhu tubuh Mery, mata dan lidah selalu menjadi andalan deteksi para anggota medis untuk pasiennya.
Suster itu lalu menoleh ke arah Anton, wajahnya sangat datar menatap Mery, ia pun memalingkan pandangannya dan menatap Mery. wajahnya berpandangan ke atas sedangkan matanya masih sayup dengan bibir gemetar.
"Apakah anda suaminya?" tanya Suster menatap Anton.
"Sedikit lagi...," ujar Anton ragu dan menoleh ke arah Abi dan Umi.
"Memangnya kenapa?" tanya Umi heran, "Kami ini orang tuanya, kenapa tanya dengan bocah itu." Umi menunjuk jarinya ke arah Anton, ia hanya merasa kesal saja. Padahal orang tuanya jelas ada disamping Anton, tapi yang ditanya hanya Anton saja, bahkan pertanyaan itu melenceng tidak benar.
"Ah tidak Bu, maksud saya. Jika benar tuan itu adalah suaminya. Maka kewajiban sebagai suami harus menjaga nona Mery dengan baik, karena ia sedang demam tinggi. Kami akan mengecek ulang kalau sudah 3 jam. Jika panasnya tidak turun, maka kami akan melanjutkan untuk tes darah nona Mery," jelas Suster itu dengan detail.
"Tes darah?" tanya Abi.
"Iya Pak, takutnya gelaja nona Mery itu adalah DBD atau penyakit lainnya. Karena dilihat dari tubuh nona Mery terlihat tidak sehat," katanya.
"Ya iyalah gak sehat, kan dia lagi dirawat," jawab Anton.
"Uusstt, Anton diam kau, bocah!" bisik Umi menggerutu.
Suster itu langsung tersenyum menatap Anton sedari tadi, ia selalu melirik kearahnya. Abi yang memperhatikan lirik mata dari Suster itu sepertinya mengenal Anton sejak lama, entah dari teman saat kuliahnya atau sewaktu masa sekolahnya. Hanya saja Anton-lah yang terlalu memerhatikan Mery sedari ia masuk ke kamarnya.
Baca juga novel baruku ya kak
judul : My Beloved Twins
kasih like, komen dan ratingnya jugaš¤ jangan lupa untuk klik gambar hati ⤠supaya tidak ketinggalan update selanjutnya see you..
__ADS_1