Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Season 2, bab 76


__ADS_3

****


Keluarga Mery begitu juga dengan Anton salah satu diantara mereka tidak tahu. Bahwa Dev telah merencanakan sesuatu dan sebulan yang lalu Ara sudah menjadi buronan para polisi sekarang. Dev selalu mengharapkan kabar tentang keberadaan Ara cepat terungkapnya dan bisa di penjarakan seumur hidup atas tuduhan pembunuhan.


Sebelum di laporkan oleh petugas kepolisian, dev juga sudah mengira bahwa Ara sudah kabur terlebih dulu ketika ia melihat Vivian saat itu. Karena Ara tahu siapa Vivian, bahkan jika Ara melihat Dev saat itu juga. Kemungkinan Ara akan kabur selamanya dan tak akan kembali lagi. Namun, perasaan adalah perasaan.


Dev masih mencemaskan dengan Mery pada pernikahannya. Setelah pernikahan itu berjalan dengan baik. Dev akan mengajak pasutri itu pergi dari Jakarta. Melainkan Dev akan mengajak Mery dan Anton ke Jogja. Di mana Tery dan Mery dibesarkan semasa kecilnya.


"Dev, apakah sudah ada kabar dari kepolisian?" tanya Vivian yang tengah duduk bersama sang suaminya menikmati dengan film Hollywood.


"Belum, masih dalam pencarian." jawabnya singkat.


"Hebat juga tuh orang yah~ bisa bertahan selama sebulan menjadi buronan!" seru Vivian membanggakan Ara yang tengah menjadi buronan. "Tapi Dev, apakah keluarga Mery ada yang tahu soal ini?"


"Sepertinya tidak!" jawabnya lebih singkat dari biasanya. Wajah Dev terlihat datar menatap jendela kaca dengan pemandangan gedung-gedung dan berbagai kendaraan terlihat mengecil.


"Why?" ucap suami Vivian yang bernama Lucas menyahuti jawaban Dev. Ia pun menoleh, berjalan mendekat ke pasangan yang sedang asyik bermesraan. Dev menatap makanan ringan di atas meja.


"Karena masalah itu tidak ada kaitannya dengan keluarga, dia mencoba membunuh Tery karena ingin melihat bahwa Indra menjadi duda dan Indra turun ranjang dengan targetnya. Setelah itu, dia bisa menguasai diri untuk mendekatkan lagi pada Anton. Tujuan yang sebenarnya adalah itu. Oleh karenanya, aku mencoba memancing dia dengan menyetujui Mery dengan Anton. Bukan Mery yang kujadikan umpan. Tapi Anton," jelas Dev menatap dingin pasutri di depannya.


Vivian menggelengkan kepalanya sembari tersenyum paksa. Suami Vivian bahkan hanya tercengang dengan jawaban yang begitu sadis. Rencananya tidak bisa di duga, sulit untuk Vivian rangkai dalam kata-katanya. Ternyata sebulan yang lalu dia sudah bereaksi begitu awal.


"Dev, rencanamu begitu sulit kupahami. Aku bangga memiliki sahabat sepertimu, tapi ... Apakah itu tidak keterlaluan?" kata Vivian menatap Dev, yang sudah menantikan jawabannya.


"Vivian, kau ini pintar! Dokter ahli jantung yang sangat keren bagi dunia medis. Bagaimana kau tak bisa meraih tangkapan dari kataku? Ayolah ..." ucap Dev mengejek, mencoba memberi kode pada Vivian untuk berpikir.


Vivian dan suaminya mencoba untuk berpikir mengikuti dari kata awal, ia berusaha keras sehingga mengetuk ketuk meja dengan sendok berkali-kali. Sang suami Vivian pun ikut berpikir karena mencoba untuk memecahkan dari ucapan tersebut. Vivian tersenyum, mengangguk-angguk dan membulatkan matanya.


"Haha..." tawanya seketika terdengar lirih, "Dev, kau sungguh melakukannya? Itu sungguh luar biasa!" seru Vivian langsung meloncat-loncat di atas sofa. Sang suami terheran-heran melihat sang istri berjingkrak-jingkrak seperti kera mendapatkan pisangnya dengan perasaan senang tertawa lepas.


"Apa yang dia pikirkan?" tanya Lucas menatap Dev bingung. Dev hanya mengangkat bahunya berpura-pura tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dev menyeringai meninggalkan mereka dengan perasaan senang.


"Sayang, apa yang kau pikirkan?" tanya Lucas mencoba untuk menghentikan kegirangan sang istri. Vivian langsung menatap daun pintu yang sudah merapat. Ia kembali anggun seperti biasanya lali Vivian kembali menatap sang suami mencoba berkata jujur padanya.


"Sebenarnya Aku juga belum tau apa maksudnya, aku hanya berpura-pura tahu saja!" jawab Vivian menyengir. Lucas langsung terduduk lemas, tidak percaya apa yang dilakukan oleh sang istrinya. Bersikap bodoh seolah mengerti dari Dev. Tetapi nyatanya tidak sama sekali. Lucas menepuk jidatnya menggeleng seraya tidak percaya.


****


Srak, srak, srakk ... Suara buku yang di robek oleh seseorang. Indra mencoba melihat di ruang bermain Adelia. Baru satu hari ia di rumah bersama sang anak. Tetapi merasakan kesepian yang mendalam. Suara itu berasal dari Adelia yang tengah terbaring di lantai menuliskan sesuatu di buku tersebut. Namun, beberapa kali juga ia menyobek buku tersebut.


"Adelia, sedang apa kamu, Nak?" tanya Indra berusaha duduk di samping Adelia.


"Ayah! Coba lihat, tulisan Adelia bagus tidak?" seru Adelia langsung menunjukan tulisannya diiringi gambaran satu anak kecil beserta wanita dewasa di sampingnya.

__ADS_1


"Ma syaa Allah, indah sekali nak. Bagaimana kamu bisa menuliskan cerita ini?" ucap Indra mencoba membanggakannya.


"Tante Mery yang mengajarkan," jawabnya sambil tersenyum senang. Adelia kembali menatap gambarannya dan mengelus lembut wanita dewasa tersebut. Adelia seketika terdiam, sampai Indra pun merasakan dan memahami isi hatinya. Tetapi Adelia pasti tidak mengakuinya, dia berusaha untuk tegar dengan perkataannya bahwa dirinya telah membenci dia. Namun, hati kecilnya selalu merindukan sosok teman bermain. "Ayah, bolehkah Adelia meminta sesuatu?"


"Katakan Nak, apa pun yang kamu mau. Ayah akan melakukannya untukmu!" jawabnya langsung meraih punggung kecil Adelia.


"Apa pun?" ucapnya memastikan, indra mengangguk bersemangat sembari tersenyum.


"Ayah, aku ingin tante. Tante Mery mendampingi ayah dan aku! Selayaknya seorang ibu dan istri. Apakah boleh ayah?" Indra seketika terdiam dari senyumannya. Wajah yang berbinar seketika buram dengan permintaan Adelia. Sulit dipercaya jika keinginannya itu tercapai. Indra berusaha tersenyum untuknya dan mencium kening Adelia. "Gak bisa ya, Yah? Adelia tau kalau tante akan segera menikah dengan om Anton kan? Tapi apakah ayah ikhlas untuknya? Adelia tidak mau melihat ayah sedih."


Indra menahan tangis dalam kelopak matanya yang sudah berkaca-kaca. Indra tidak tahu apakah perkataan sang anaknya bisa tersampaikan atau tidak. Takdir selalu membuatnya bertanya, bahkan angin saja malas untuk menceritakan apa yang ada dalam pikiran dirinya.


Bintang seraya tersenyum dan gembira melihat Adelia anak tercintanya menginginkan yang sulit di lakukan walau kata apa pun tidak mempan untuk ia lakukan. Suara desiran air laut di Bali menyisakan gelombang yang begitu indah di malam hari. Indra dan Adelia menatap air laut di hiasi dengan bintang yang ribuan jumlahnya begitu dengan bulan menjadikan pergantian sinar mentari.


****


Bukan Anton namanya jika ia hanya terdiam saja melihat sang adik menangis merasa bersalah padanya karena ia di teror oleh seorang wanita yang tidak di kenalinya. Anton bergegas pergi ke ruang pemantau dan melihat cctv sebelum ia sampai di rumahnya. Terekamlah dia di cctv tersebut. Namun wanita itu menggunakan masker susah untuk di kenalinya. Tetapi Mery samar-samar seperti mengenalnya. Lekuk tubuh wanita itu seperti sering di jumpainya.


"Kau mengenali orangnya?" tanya Mery menepuk meja.


"Sepertinya tidak. Aku sama sekali tidak kenal dengannya," ucap Anton menggelengkan kepala seraya berpura-pura tidak mengenalnya. Kenapa Ara menerori Wilky. Padahal tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Gumam Anton dalam hatinya.


"Anton, aku ingin pulang." Mery memasang wajah muram, ia hanya terdiam dengan bola mata yang masih menatap layar cctv tersebut. Anton pun mengangguk mengajaknya pulang ke rumah. Tepat jam sembilan malam, mery sampai di rumahnya dengan selamat. Abi dan Umi turut senang melihat calon pasangan pengantin ini pergi bersama. Tetapi Anton tidak mengetahui dari wajah Mery yang selalu di lekuk sedari di rumahnya.


"Umi Abi, anton pulang dulu ya!" pamit Anton sembari mencium tangan kedua orang tua Mery.


"Senang, umi." Jawab Mery singkat, ia tidak menoleh ke arahnya. Mery hanya menatap satu arahan saja. "Oh iya, umi. Di mana Dev?" lanjutnya menanyakan Dev.


"Ada, dia baru saja pulang. Katanya habis pergi ke hotel menemui Vivian, kamu temui gih."


Mery langsung bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar tamu, terlihat di sana tubuh yang angkuh meniduri ranjangnya. Dev tertidur atau berpura-pura tidur tidak tahu, yang jelas Mery datang menghampirinya dan mengambil sebuah sapu lidi yang biasa di gunakan untuk membersihkan kasur. Mery berusaha menjahili Dev, dengan memukul kasur yang lenggang untuk ia mengagetkan Dev.


Buk, buk, buk... Suara pukulan terdengar keras. Dev hanya tersadar lalu kembali tidur kembali. Mery sangat kesal melihat respon yang tidak memuaskannya. Akhirnya Mery berusaha keluar dari kamar Dev.


"Gaya kamu untuk mengerjaiku ketika tidur sudah jadul, mana mungkin aku kaget oleh kamu yang ke sembilan puluh enam kalinya!" seru Dev tiba-tiba terduduk di atas kasur sembari tersenyum menatap Mery saat ia memalingkan wajahnya karena terkejut. Mery tersenyum-senyum sendiri. Menyadari apa yang di katakan oleh Dev.


****


Kamar terlihat gelap di penuhi oleh alat medis. Satu tubuh memenuhi ranjang di atasnya. Vivian mengecek kestabilan pada orang tersebut. Ruangan itu tersembunyi hanya orang tertentu yang bisa memasuki ruangan tersebut. Tubuh sang pasien itu mulai merespon sedikit demi sedikit tetapi Vivian tidak boleh gegabah karena ia harus terus memantau keadaannya. Jika lepas dari pemantauan itu akan membahayakan nyawanya.


Sulit di jelaskan jika tiba-tiba ia kehilangan nyawanya saat itu. Untungnya sebelum hari itu terjadi, vivian lebih dulu melangkah lebih maju. Tidak ada yang tahu bahwa Tery masih bisa di selamatkan. Kecuali Dev sendiri.


****

__ADS_1


Pagi sinar mentari menyelimuti Jakarta. Mery dan Dev bangun lebih awal. Mereka memiliki janji masing-masing bahwa hari minggu ini Dev mengajak Mery keluar rumah dan berolah raga bersama di luar. Awalnya Abi menolak, karena dengan kondisi Mery yang melemah takut terjadi sesuatu. Tetapi Dev sendiri adalah dokter ia meyakinkan Abi untuk itu, umi pun menyetujuinya.


"Mery! Cepat, nanti keburu siang!" teriak di luar teras depan rumah.


"Tunggu sebentar, Dev!" balasnya nyaring di dalam kamar Mery. Setelah dua menit kemudian, mery keluar dari kamarnya dan berpamitan pada Abi dan Umi. Dev, menatap baju yang di kenakan oleh Mery seketika Dev tertawa kecil menatapnya.


"Apa yang kamu lihat, Dev?" ucap Mery bingung sembari memeriksa dirinya.


"Kenapa kamu memakai jaket yang begitu longgar? Dan celana training longgar juga Mer? Nanti yang ada lemak kau merosot, kulit kamu bakal kaya nenek-nenek karena kendur!" ejek Dev tertawa lepas.


"Dev jangan bercanda! Aku mana mungkin menunjukan lekuk tubuhku?" ucap Mery kesal. Dev pun langsung terdiam. Mery memang sangat jarang menggunakan pakian ketat. Ia menyukai pakaian longgar, bagi Mery pakaian ketat akan terlihat telanjang lalu di umbar sepanjang perjalanan. Itu sangat memalukan bagi Mery sendiri.


"Oke baiklah, ayo! Ini sudah jam tujuh lebih. Akan kurang enak jika siangan kita berolah raga. Nanti sarapan kita makan di taman sana saja," katanya langsung berlari kecil. Mery mengikuti.


"Dev, aku ingin cerita padamu. Tapi apakah kamu bisa menjawabnya?" ucap Mery sedikit meremehkan pada Dev.


"Katakan saja," jawabnya sembari berlari kecil. Dev tidak peduli pada apa yang akan di ceritakan oleh Mery karena apa yang dia tanyakan pasti tidak jauh dari Anton. Selain topik itu, tidak ada lain lagi padanya.


"Dev, kapan kamu akan menikah?" Deg! Pertanyaan yang tak terduga keluar begitu saja pada Mery. Seketika Dev langsung berhenti dari lariannya ia segera mengatur pernapasan karena terkejut dengan pertanyaan itu. Mery pun mengikuti sambil mencuri-curi pandang pada Dev.


"Kenapa kamu tanya itu?" jawab Dev bernada rendah dengan tatapan dinginnya.


"Aku hanya tanya, Dev~. Jika kamu tidak ingin menjawabnya maka lupakan saja!" saut Mery kembali lari langsung meninggalkan Dev. Seketika Dev hanya terdiam melihat punggung Mery yang terus berlari menjauh darinya.


Mer, pertanyaan kamu sangat sederhana tapi sulit untuk aku menjawabnya. Maafkan aku ya? Gumam Dev dalam hati. Dev langsung berlari menyusul Mery.


Mery dan Dev berlari selama setengah jam, mereka tiba di taman yang sudah di penuhi oleh keramaian berbagai orang berolah raga. Dev menatap berbagai penjual kaki lima di sebelahnya banyak sekali, berbagai ketoprak, bubur ayam, kacang hijau, soto ayam, pecel dan goreng-gorengan. Semua sarapan tersedia di sana.


"Dev, kau sudah lapar belum?"


"Yah, sedikit. Kamu?" saut Dev sembari duduk di kursi bawah pohon mangga.


"Kalo gitu makan yuk? Aku ingin makan bubur ayam, sepertinya enak!" seru Mery menatap sang penjual bubur ayam sepuluh langkah dari Dev.


"Tapi, aku gak mau itu~" ucapnya manja.


"Apaan si Dev, kalau kamu gak mau bubur terus apa?" kesal Mery menatap berbagai penjual makanan di dekatnya. "Dev, dev, dev coba deh kamu lihat itu! Enak kayanya," seru Mery menepuk lengan Dev menyuruhnya untuk melihat yang di tunjuk oleh Mery. Dev pun menoleh, penjual kue-kue si kakek tua di seberang jalanan dekat dengan Alfamart.


"Itu~" tunjuk Dev ragu-ragu.


"Iya, kenapa? Kasihan itu kakek. Padahal sudah sesepuh tapi perjuangannya untuk hidup sungguh luar biasa. Demi menghindari dari haram, ia rela berdagang dalam kondisi seperti itu kan, Dev?" ucap Mery lembut seraya matanya berkaca-kaca melihat kakek tersebut. "Dev, coba bayangkan. Jika kakek itu adalah Abi, bagaimana perasaanku? Terasa hancur sekali Dev."


"Hei, ini masih pagi. Kalau kau kasihan kamu biss memborong semua jualannya!" seru Dev menyemangati Mery. Ia menoleh, melototi Dev yang berusaha menghibur Mery.

__ADS_1


"Dev, kamu tidak borong kah?"


"Hah? Aku! Aku ... Aku kan... Aku mau makan ketoprak!" ucap Dev terpatah, ia berusaha memalingkan wajahnya. "Oke, aku pes... Pesan duluan ya!" gugupnya.


__ADS_2