Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Series 2, bab 49


__ADS_3

Keesokan harinya..


Mery berdiri di depan pintu kamar Anton sejak subuh tadi. Ia tidak berani untuk mengganggu istirahatnya namun perasaan cemas selalu menghantuinya terus-terusan.


"Lho, Mery? Kok kamu ada di sini?" tanya Wilky yang tiba-tiba muncul.


Ia terlihat bingung dan merasa heran, yang Wilky pikirkan ialah semalam Anton jelas-jelas mengantarkannya pulang. Pagi ini Mery berdiri di depan pintu kamar Anton dan wajahnya terlihat gelisah sekali.


Mery hanya terdiam menatap Wilky lamat-lamat, hanya kedipan mata yang menyapa Wilky. Seketika pembantu yang membersihkan rumah Anton datang menyapa Mery.


"Nona Mery, kata tuan nona sarapan dulu," katanya.


"Kapan dia bilangnya?" tanya Mery bingung.


"Semalam."


"Mer, kau menginap di sinikah? Kenapa nggak bilang sama Aku? Kan kita bisa begadang bareng semalam," seru Wilky sedikit kecewa.


"Ehmm.. Masalahnya, semalam kita juga pulang malam banget Wil. Jadi kita..," ucap Mery terpotong.


"Kalian jadian kah?" seru Wilky kepo.


"Hah!" kaget Mery menganga.


Wilky tersenyum sendiri sembari menggoda Mery, tetapi ia tidak mau mengatakan tentang Anton yang sebenarnya. Wilky akan membiarkan itu terjadi ketika Anton yang angkat bicara.


***


Tery terbangun lebih telat ketimbang orang tuanya, mungkin dia merasa lelah karena perjalanan Bali ke Jakarta. Umi membuka pintu kamar Tery yang masih tertutup rapat, ia menyediakan susu hangat dan sanwich tomat keju kesukaannya.


"Tery, ayo bangun," ucap Umi berkata lembut.


"Ehmm..," jawab Tery mengangguk.


"Hari ini Umi ada pengajian di masjid kampung sebelah. Tery mau ikut?" tutur Umi mengajaknya sembari membelai rambut pirang berwarna kemerahan.

__ADS_1


"Enggak lah Mi, mbak masih ngantuk. Bentar lagi Mas Indra juga jemput Tery pulang ke rumah orang tuanya," jawab Tery masih sayup matanya.


"Oh begitu, ya sudah. Umi berangkat dulu yah?" kata Umi mencium kening Tery.


Tery terbangun kaget ketika Umi menciumnya, Umi masih saja memperlakukan anaknya manja dan ia pun menganggap anaknya selalu kecil. Padahal Tery sudah memiliki keluarga.


Umi keluar dari kamar Tery sembari merapihkan khimar yang ia kenakan. Abi menatap Umi yang sudah terlihat bahwa dirinya siap untuk berangkat ke pengajian.


"Sudah siap Mi?" tanya Abi sembari membaca koran.


"Iya Bi. Oh iya! Itu Tery katanya nanti dijemput sama Indra. Abi enggak pergi kemana-manakan?" tanya Umi mengambil tas selempang berwarna hitam pekat dipenuhi dengan manik-manik lucu.


"Enggak, Abi masih ada janji sama Pak Ridwan mau benerin kabel yang putus itu lho Mi yang di gigit siti."


"Haha, Abi ada aja. Tikus dipanggil siti. Nanti ada orang yang namanya siti pas lewat dikira ngundang lho," gurau Umi sambil duduk disamping kursi kayu yang ada di teras rumah.


"Ya mungkin sih Mi," jawab Abi malu.


***


Anton terbangun dari istirahatnya karena mendengar ribut-ribut suara dari belakang pintu kamarnya. Setelah ia melihat jam ternyata sudah menunjukan pukul 07.30 menit.


"Kenapa ya, mau pulang saja selalu banyak tantangan?" ujar Anton menutupi keheningan.


"Ehmm.. Mungkin author tidak mau Aku bertemu mereka kali," jawab Mery mulai berpikir-pikir.


"Memang kerjaan author kita apaan sih, sampe buat kamu menunda-nunda pulang terus," ketus Anton kesal.


Ya elaahh.. telingaku sakit, berasa lagi digibahin. Lirih author mengibas telinga.


"Oh bentar Ton, Aku mau beli minuman di indosebal. Kali aja author kena dehidrasi," jawab Mery sembari menunjuk toko indosebal di depan.


Anton pun parkir di pinggir jalan dan membuka kunci pintu mobil. Tidak lama Mery keluar dan berjalan menuju toko tersebut. Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang berlari begitu cepat sehingga ia tidak melihat jalan di depan. Anak itu menabrak Mery yang sedang mau membuka pintu.


Bruk..

__ADS_1


"Aduh, sakit papah!" teriak anak kecil itu mulai ingin menangis.


Mery bergegas meraih tubuh anak kecil itu dan membantunya berdiri tegak. Mery mengibas rok yang ia kenakan bagian yang terkena kotoran.


"Kamu tidak apa-apa cantik?" tanya Mery cemas.


"Gak papa tante, tadi Adelia gak hati-hati jadi jatoh deh," jawab anak kecil itu manis.


Mery tersenyum dan menatap lamat-lamat wajah anak itu, ia terlihat mirip seperti seseorang yang pernah ia kenal. Namun, Mery langsung membuyarkan bayangannya.


"Oh iya, di mana papah sama mama kamu? Biar tante anter kamu ya?" bujuk Mery membelai rambut gelombang anak tersebut.


"Mama lagi pergi, aku di sini sama papah. Tapi papah pergi, Adelia cari papah," jawabnya manis sembari melirik kanan kiri.


Seketika Anton datang dengan memakai kaca mata hitam dan memakai switer putih tertulis CHANNEL, Mery meliriknya dan mengisyaratkan Anton supaya ia mau membantu mencari papahnya Adelia.


"Lah? Kenapa harus Aku?" tanya Anton mengangkat alis.


Mery melotot dan bibirnya terlihat sangat kesal, jika Anton tidak membantu anak kecil itu mungkin dia akan dipukul sampai lengannya memar. Terpaksa, akhirnya Anton membantu Mery mencari papahnya Adelia.


"Adelia!"


Teriak sosok paruh baya di belakang Mery dan Anton. Seketika mereka menoleh ke belakang dan melihat siapakah orang tersebut.


"Papah!" sahut Adelia berlari menujunya.


Mery terkejut, ekspresi wajahnya berubah drastis 95% ketika melihat sosok yang di panggil "Papah" itu adalah Indra, Anton pun langsung membuka kaca matanya dan berkali-kali menatap sosok papahnya Adelia itu adalah orang yang pernah dicintai Mery selama 6 tahun lalu.


Mery? Kaukah itu? Lirih Indra berjalan cepat mendekat dimana Mery berdiri bersama Anton. Tidak hanya Mery saja dan Anton yang terkejut atas pertemuan tanpa janji tersebut, Indra pun lebih terkejutnya lagi saat melihat wanita yang pernah ia cintai ada dihadapannya sekarang.


Matanya mulai berkaca-kaca, hati yang sudah terbalut luka dan ia sudah mengobatinya dengan berbagai kesibukan dirinya selama bertahun-tahun, kini terpecah dan hancur bagaikan kepingan kerikil yang berhamburan di jalanan. Mery tidak menyangka bahwa Indra akan memiliki anak dari kakaknya, bahkan anak tersebut tubuh begitu imut dan lucu.


Mereka telah berhasil membangun keluarga kecilnya. Dalam pikiran Mery, mungkin selama dirinya tidak ada, kakaknya dan Indra hidup bahagia apalagi dikaruniai anak kecil yang sangat manis.


"Mery? Kau kembali?" tanya Indra tersenyum dan merasa bahagia bisa bertemu dengannya.

__ADS_1


"Papah? papah kenal tante cantik itu? Kok Adelia gak tau," tutur Adelia sambil memainkan jarinya.


Indra menatap kosong ke arah Mery sembari menggendong Adelia, dirinya pun bingung harus memulainya dari mana. Tidak mungkin jika Indra berkata "Aku merindukanmu." atau "Aku ingin memelukmu."


__ADS_2