
Sebelum membaca bab 60, mohon baca ulang di pengumuman 2 yah☺ karena ada perubahan pengumuman, kalian akan tau isi pengumuman tersebut. terima kasih🤗
______________________________________________
Terbaring lemas dengan suhu tubuh yang panas, Ara merasakan sangat kedinginan dan tubuhnya bergetar hebat. Kedua orang tuanya bingung karena Ara disuruh ke rumah sakit tidak mau, ia hanya ingin pergi ketika Anton yang mengantarnya.
"Ara kenapa kamu masih keras kepala. Tubuhmu sudah panas seperti ini," ucap sang ayah panik.
"Ayah, Ara mau pergi kalau Anton yang mengantarkan kerumah sakit. Ara gak mau pergi yah," ucap Ara dengan bibir yang gemeteran.
Sang ibu pun panik dan mencemaskan keadaan anak bungsunya. Ia berharap Anton cepat datang kerumahnya dan membawa anaknya pergi kerumah sakit. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada putri bungsunya.
Brum ...
Suara mobil terdengar didepan gerbang rumah Ara, seketika Ara tersenyum. Ia yakin bahwa yang datang adalah Anton, kekasih lamanya. Ara sangat paham wataknya Anton jika mendengar Ara sakit, sesibuk apapun dia akan datang menghampirinya.
Anton melakukan hal seperti itupun sama dengan Mery, Anton terpaksa datang karna ia pun merasa bersalah padanya membiarkan Ara pulang sendirian dalam keadaan hujan deras.
"Wah Anton benar - benar datang, itu tandanya dia masih sayang sama kamu Nak," kata sang ibu merasa lega.
"Iya bu, aku percaya anton akan datang untukku."
Ara pun akhirnya langsung bangun dari tempat tidurnya, ia bergegas membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya. Namun, ketika ia berusaha turun dari ranjang Ara hampir terjatuh dan kebetulan Anton membuka pintu kamar Ara yang jelas ia melihat Ara akan terjatuh.
Anton pun langsung berlari dan membantu Ara bangun dari ranjangnya dan mempapahnya keluar dari kamar. Ara merasa sangat senang, wangi parfum Anton membuat dirinya teringat masa - masa dimana dia selalu bersama dengan Anton. Anton tanpa memperdulikan tatapan Ara langsung mengajaknya pergi ke rumah sakit.
***
__ADS_1
Cuaca cerah memang pantas untuk menjemur pakaian maupun kebugaran jasmani, Mery sangat menyukai hal tersebut. Namun, ditengah paginya ia juga harus mencuci pakaiannya yang sudah menumpuk dikeranjang pakaian.
Mery membersihkan kamarnya dengan mengelap jendela dan menggantikan sprei tempat tidurnya, ia menyukai sprei bermotif seribu bunga mawar berwarna merah muda. Dipasangnya sprei tersebut menambah akan keindahan tempat tidurnya.
Mery pun membawa beberapa pakaian kotor dan sprei yang harus dibawa ke laundry, Mery melakukan pekerjaan membersihkan rumah, ia belajar ketika usianya masih remaja. Mery belajar mandiri saat dipondokan. Teringat hal itu ia pun menjadi merindukan sahabat lamanya.
"Ah selesai, tinggal cuci semua pakaian ke mesin cuci. Eh bentar, tapi kok sedikit ya?" Gumam Mery menatap pakaian kotornya dikeranjang.
"Mery? ada apa kok ngelamun?" tanya Indra tiba - tiba berdiri dihadapan Mery.
"Anu mas, baju yang mau dicuci cuma sedikit. Kayanya kurang kalau dimasukin ke mesin cucinya," nada Mery sedikit kecewa.
"Oh, kalau gitu boleh gak saya titip beberapa baju yang kemarin saya bawa dikantor?"
"Boleh mas, tapi ..." ucap Mery terpotong.
Indra pun langsung meninggalkan tempat ia berdiri dan memasuki kamarnya. Setelah ia keluar, Indra membawa seragam kantornya yang sudah lecek. Mery sedikit gugup karena harus mencuci pakaiannya dan pakaian Indra dalam satu tabung mesin cuci.
Apa gak papa aku cuci pakaian mas Indra? Gumam Mery sedikit ragu, ia pun tersenyum paksa ketika dihadapan Indra. Indra hanya menyerahkan pakaianya tak lupa pula ia mengucapkan kata terima kasih kepada Mery.
"Oh iya Mer, kamu yakin mau menikah dengan Anton?" pertanyaan Indra seketika muncul dibibirnya ketika ia berbalik badan dan menanyakannya kepada Mery. Mery hanya terkejut bahwa pertanyaan itu keluar darinya.
"Iya mas, lagian umur mery sudah matang. Waktunya untuk menikah dan memiliki pasangan dunia akhirat. Memangnya kenapa mas?" tanya Mery menyelidik.
"Aku hanya memastikan bahwa Anton baik untukmu," ucap Indra dengan nada merendah.
"Apa? kenapa mas?" Mery tidak memperhatikan ketika Indra menjawabnya, ia mengharapkan bahwa Indra mengulangi ucapannya tadi. "Mas ..." lanjutnya.
__ADS_1
Deg, jantung seketika berdetak cepat seakan Indra tidak bisa mengontrolnya dengan baik. Rasanya sangat senang ketika Mery memegang lengan Indra dengan lembut, danlagi suara dengan nada lembut telah mencairkan rasa cemasnya saat mendengar Mery akan menikah.
Tetapi hatinya seketika ingin menolak dengan panggilan "Mas" itu dibibir tipisnya, Indra tidak percaya bahwa Mery akan menyetujui lamaran Anton. Apalagi sore nanti Anton akan datang beserta kedua orang tuanya untuk melamar wanita yang disukainya.
Hati Indra seperti tertusuk ribuan jarum yang memanah dengan bersamaan, lehernya seperti menelan air liur yang dipenuhi oleh kerikil kecil sehingga melukai tenggorokannya hingga terluka. Entah Mery telah melupakan rasa cinta kepadanya atau ia hanya ingin melupakan Indra.
"Mas? mas Indra kenapa? kok diam," kata Mery telah membuyarkan lamunan Indra.
"Mery," ucap Indra sembari melihat suasana dirumahnya, ia hanya melihat Mery dan dirinya dirumah. "Apakah kamu telah melupakanku sampai kamu menerima lamaran Anton?" lanjutnya dengan menatap wajah Mery penuh dengan kesedihan.
"Apa maksud mas Indra? mana mungkin aku menyukai pria yang sudah beristri?" kaget Mery langsung menempiskan tangan Indra.
"Tapi kamu bilang, kamu menyukaiku kan? Aku juga. Tapi kumohon jangan Anton yang kau nikahi."
"Mau Anton ataupun bukan, itu bukan urusanmu mas. Aku punya pilihan tersendiri. Kau hanya kakak iparku, tidak ada urusannya dengan dirimu," nada Mery sedikit meninggi.
"Mery, kau wanita yang baik. Carilah pria yang baik untukmu," ucap Indra mengerutkan alisnya.
"Maksudmu! Anton bukan pria yang baik sedangkan kau baik? Dan aku tidak pantas menikahinya karena dia tidak lebih baik darimu?" kesal Mery langsung membalikkan badannya, "Mas, dengarkan baik - baik. Selama aku ada di Korea, dialah yang selalu menjagaku, melindungiku bukan kau! Jadi, aku berhak membalasnya dengan mencintainya."
"Sungguh? kau mencintainya?" tanya Indra memastikan
Mery seketika terkejut dan langsung menelan air liurnya dengan hati yang resah ketika Indra bertanya apakah ia mencintai Anton atau tidak. Mery pun tidak tau sejak kapan ia mulai mencintainya yang jelas dalam hatinya Mery selalu merasa tidak enakkan dengan Anton karena ia selalu ada disisinya.
Selalu membantunya ketika dirinya sedang dalam masa sulit, selalu menjaganya ketika dirinya dalam bahaya dan selalu ada ketika Mery butuh. Namun, jika pertanyaan itu menyangkut soal perasaan, Mery pun masih bingung untuk menjawabnya.
"Itu ... itu bukan urusanmu, yang jelas Aku akan menikahinya," ucap Mery ketus dan langsung berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Indra kecewa dengan apa yang dikatakan oleh Mery, ia yakin bahwa Mery tidak mencintai Anton. Cintanya hanya untuk dirinya tetapi disisi lain Indra pun sudah berkeluarga. Indra tidak mungkin mengkhianati Tery hanya karena keegoisannya.