
Seketika Adelia terbangun dari tidurnya, karena mendengar kebisingan di ruang tamu dan mendengar isakan tangis. Adelia pun bangkit dari ranjang berusaha untuk turun. Adelia berjalan pelan sembari mengucek kedua matanya yang sepat.
Terlihat tante yang dia banggakan terduduk diam sembari menangis menatap jendela. Adelia bingung mengapa Mery menangis begitu sedih. Dia berpikir, apakah yang Mery tangisi ada hubungannya dengan kedua orang tuanya? Adelia berjalan mendekat dan menepuk pundak Mery.
"Tante Mery?" katanya lembut.
Mery seketika terkejut mendengar suara kecil bisikan lembut dari samping. Mery buru-buru menghapus air matanya dan berusaha untuk tersenyum.
"Eh, adelia sudah bangun ya?" ucapnya.
"Tante nangis ya? Apa Adelia nakal? Adelia nakal ya tante pas tidur tendangin tante?" dengan ucapan polosnya, membuat Mery seketika sedikit terhibur olehnya. Ia pun akhirnya menggendong Adelia dan memakunya.
"Engga sayang, tadi ada cerita yang bikin menyetuh tante. Jadi sampe kebawa nangis. Hehee" katanya berusaha untuk tersenyum.
"Wah, cerita apa tante. Adelia boleh dengar? Ceritain dong!" seru Adelia langsung meronta-ronta dipangkuannya, Mery tersenyum dan menggangguk memulai untuk bercerita.
"Rasulullah saw. Bersabda : Ada seorang ibu sedang menyusui anaknya, tiba-tiba lewat penunggang kuda yang mengenakan tanda kebesaran, sang ibu pun berkata. Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia. Namun, sang bayi kemudian berhenti menet** dan memalingkan mukanya menghadap sang penunggang kuda sambil berkata. Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia." cerita berhenti, mery menatap Adelia tersenyum.
"Gitu doang?" tanya Adelia.
"Haha ... Mau lanjut?" tanya Mery.
"Iya dong tante. Aku penasaran kenapa bayi itu tidak mau seperti penunggang kuda itu. Kan bisa jadi dia itu tampan dan gagah." Ujar Adelia berpikir mengkhayal.
"Hahaha" tawa Mery.
Tiba saja, indra datang dan mendengar sang anak berseru senang mengobrol dengan Mery. Indra pun membuka pintu sedikit dan mendengarkan obrolan mereka lebih tepatnya ialah menguping pembicaraan mereka. Mery tidak mengetahui bahwa Indra datang kembali ke rumah. Akhirnya Mery melanjutkan ceritanya yang tadi.
"Setelah itu, sang bayi menet** kembali. Beberapa saat kemudian, saat sang ibu bertemu dengan hamba sahaya yang sedang disiksa, ia pun berkata. Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia. Sebagaimana yang terjadi di awal, sang bayi pun berkata sambil memandang sang budak. Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia. Karena kesal, sang ibu pun berkata kepada anaknya. Saat aku berdoa agar kamu seperti penunggang kuda itu, kamu tidak mau. Tapi, giliran aku berdoa agar kamu tidak seperti budak itu, kamu malah ingin seperti dirinya? Sang bayi pun berkata. Wahai ibu, sesungguhnya penunggang kuda yang mengenakan tanda kebesaran itu adalah orang yang sombong di antara orang-orang yang sombong. Sedangkan hamba sahaya itu, dia dituduh berzina, padahal tidak. Dia dituduh mencuri, padahal juga tidak. Bahkan hamba sahaya itu berkata, cukuplah Allah sebagai pelindungku."
Cerita kisah dari seorang bayi yang memiliki mata hati itupun selesai. Seraya Adelia memikirkan hal yang membuatnya sulit untuk dia tangkap. Akhirnya ia menoleh dan menatap sang tantenya.
"Tante, masa bayi bisa ngomong sih?" tanya Adelia sontak membuat Mery terkejut. Iya juga ya, gumam Mery mulai berpikir.
"Ya ... Tante juga gak tau. Mungkin bayinya ajaib," ucapnya berusaha membela diri.
"Hahaha tante bisa aja," tawa Adelia pecah, mereka pun akhirnya saling tertawa bersama setelah beberapa hari Mery selalu diam diri.
Indra sedari tadi menguping seketika menahan tawanya, mendengar cerita darinya dan berceloteh dengan keponakannya terlihat lucu. Namun sayang, indra datang hanya memastikan mereka baik-baik saja.
Akhirnya Indra kembali ke rumah sakit untuk melihat perkembangan sang istri. Walaupun sebenarnya tidak ingin pergi. Tapi kewajiban sebagai seorang suami harus ia lakukan.
Matahari hampir mulai terbenam penuh, Anton menatap langit-langit berwarna biru di sertai oleh awan putih kemerahan. Air laut berwarna biru muda kian hampir terlihat menghitam. Cahayanya mulai redup seakan hari berganti malam.
__ADS_1
Anton duduk menatap keindahan sang pencipta-Nya, angin meniup kencang mencoba membisikan kenangan di telinganya. Menatap kosong air laut, air bergelombang mencoba untuk menghiburnya dalam kesepian.
Anton mencoba untuk berpikir jernih tentang bagaimana mengatasi masalahnya dengan keluarga Mery. Dalam keadaan Tery di rumah sakit dan Mery yang sedang dalam emosinya yang tinggi.
Entah bagaimana caranya membuat mereka percaya akan ceritanya. Anton tidak bisa pulang ke rumahnya, karena jika ia pulang Wilky akan berisik menanyakan kabarnya.
Seseorang berdiri dari rumah panggung, seraya menatap keindahan lautan di sore hari. Ia menatap beberapa pohon kelapa yang bergoyang karena angin.
Hembusan angin telah menyegarkan dalam tubuhnya. Orang itu menatap Anton dari kejauhan, melihat wajah Anton seperti orang yang kesepian dan masalah berat yang menimpanya. Namun, orang itu mencoba untuk tidak peduli padanya.
Aarrghhtt ....
Seketika Anton teriak sekencang-kencangnya melepaskan rasa kegundahan di hatinya. Beban dalam hati seakan hilang seketika. Orang yang menatap Anton tadi terkejut dibuat kaget oleh Anton. Akhirnya ia pun memutuskan diri untuk mendekati dan mengajaknya mengobrol sebentar.
"Tempat ini memang cocok untuk orang seperti anak muda. Cobalah untuk menangis jika kau sanggup mengeluarkannya," ujar seorang pria yang wajahnya keriput menua, tinggi badannya dan wajahnya tersenyum lepas.
Anton menoleh, menatapnya lamat-lamat. Lalu kembali lagi menatap gelombang air laut. Terlihat satu dua kepiting berjalan miring mencari lubangnya untuk berlindung dari ombakan air.
"Paman siapa? Bagaimana paman tau saya banyak masalah?" tanya Anton tidak menatap wajah seorang pria tua itu.
"Saya Koh Guan, asal dari Cina. Saya hidup sebatang kara di Indonesia karena istriku wafat di sini ketika kami melepaskan semua kebahagiaan kami," ucapnya.
"Kenapa tidak pulang ke negaramu sendiri?" tanya Anton penasaran, kini wajahnya menoleh ke arahnya. Pria yang bernama Koh Guan seraya duduk disamping Anton. Pandangannya menatap ke depan melihat senja yang begitu mengagumkan.
"Di mana anakmu?" tanya Anton lagi.
"Mereka di jemput oleh kakeknya. Mereka takut cucu mereka akan hidup susah denganku dengan kehidupan yang serba pas-pasan."
Anton mengangguk-angguk. Dengan mulut yang masih terkunci rapat tentang masalahnya. Ia tidak bisa berkata-kata dan bercerita seperti Koh Guan itu. Namun, Koh Guan paham betul.
Di usia seperti Anton adalah saat-saat di mana memiliki masalah pribadinya yang susah untuk di ucap. Apalagi soal pernikahan. Koh Guan menatap Anton dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
Terlihat cara gaya berpakaiannya sangat cool dan seperti anak orang kaya. Koh Guan tersenyum menatap kembali langit yang mulai menghitam. Matahari sudah tidak terlihat lagi, menyisakan cahayanya berwarna orange kekuningan.
Koh Guan tersenyum, begitu juga dengan Anton. Mereka menyaksikan senja di sore hari begitu memukau keindahannya.
"Namun istriku adalah anak pengusaha sukses. Kami saling jatuh cinta ketika kami bertemu di kantor ayah istriku. Kami awalnya menikah siri. Namun, setelah di karuniai anak akhirnya kami mencoba meminta restu dari orang tua istriku. Mereka awalnya tidak suka denganku, seorang OB menjadi mantu keluarga kaya itu sangat memalukan bagi keluarganya. Tapi berhubung kami memiliki dua anak kembar. Akhirnya mereka menyetujui kami untuk menikah sah," jawab Koh Guan tersenyum.
"Di mana anakmu?" tanya Anton lagi.
"Mereka di jemput oleh kakeknya. Mereka takut cucu mereka akan hidup susah denganku dengan kehidupan yang serba pas-pasan."
Anton mengangguk-angguk. Dengan mulut yang masih terkunci rapat tentang masalahnya. Ia tidak bisa berkata-kata dan bercerita seperti Koh Guan itu. Namun, Koh Guan paham betul.
__ADS_1
Di usia seperti Anton adalah saat-saat di mana memiliki masalah pribadinya yang susah untuk di ucap. Apalagi soal pernikahan. Koh Guan menatap Anton dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
Terlihat cara gaya berpakaiannya sangat cool dan seperti anak orang kaya. Koh Guan tersenyum menatap kembali langit yang mulai menghitam. Matahari sudah tidak terlihat lagi, menyisakan cahayanya berwarna orange kekuningan.
Koh Guan tersenyum, begitu juga dengan Anton. Mereka menyaksikan senja di sore hari begitu memukau keindahannya.
"Namun istriku adalah anak pengusaha sukses. Kami saling jatuh cinta ketika kami bertemu di kantor ayah istriku. Kami awalnya menikah siri. Namun, setelah di karuniai anak akhirnya kami mencoba meminta restu dari orang tua istriku. Mereka awalnya tidak suka denganku, seorang OB menjadi mantu keluarga kaya itu sangat memalukan bagi keluarganya. Tapi berhubung kami memiliki dua anak kembar. Akhirnya mereka menyetujui kami untuk menikah sah," jawab Koh Guan tersenyum.
"Di mana anakmu?" tanya Anton lagi.
"Mereka di jemput oleh kakeknya. Mereka takut cucu mereka akan hidup susah denganku dengan kehidupan yang serba pas-pasan."
Anton mengangguk-angguk. Dengan mulut yang masih terkunci rapat tentang masalahnya. Ia tidak bisa berkata-kata dan bercerita seperti Koh Guan itu. Namun, Koh Guan paham betul. Di usia seperti Anton adalah saat-saat di mana memiliki masalah pribadinya yang susah untuk di ucap. Apalagi soal pernikahan. Koh Guan menatap Anton dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Terlihat cara gaya berpakaiannya sangat cool dan seperti anak orang kaya. Koh Guan tersenyum menatap kembali langit yang mulai menghitam. Matahari sudah tidak terlihat lagi, menyisakan cahayanya berwarna orange kekuningan. Koh Guan tersenyum, begitu juga dengan Anton. Mereka menyaksikan senja di sore hari begitu memukau keindahannya.
******
Ting ... Pesan chating masuk di ponsel mery. Ia yang tengah duduk di atas kasur sibuk bermain dengan Adelia pun menoleh sekejap ke ponselnya. Tangannya menjulurkan ke arah ponsel tersebut. Satu pesan telah di terima namun mery masih ragu untuk membacanya. Sudah dua hari ia mengharapkan balasan dari sang umi dan abinya bahkan indra saja tidak menghubunginya sama sekali.
Mery akhirnya mencoba untuk memberanikan diri membuka pesan tersebut. Seketika wajahnya terlihat biasa, matanya mulai berkaca-kaca. Adelia menyaksikan perubahan wajah pada mery. Ia pun mencoba mendekati dan menggeserkan tubuhnya mengarah ke mery. Tante kenapa ya? Gumam adelia menatap isi ponsel tersebut.
"Mery maafkan umi, untuk beberpa hari ini umi tidak pulang. Umi sangat mengkhawatirkan keadaan mbak kamu. Umi harap mery memaklumi umi dan abi ya? Jaga diri kamu baik-baik nak. Umi sayang mery. Begitu juga jaga adelia, jangan sampai tau ibunya sedang kritis di rumah sakit. Umi minta, kamu jangan pergi ke rumah sakit. Akan lebih baik kau di rumah nak." Begitulah isi pesan dari sang umi pertama kalinya setelah kejadian kecelakaan pada tery.
"Tante kenapa?" tanya adelia mengerutkan alis tipisnya.
"Gak papa sayang. Ini pesan dari ibu kamu. Katanya ibu lagi ada banyak urusan di luar, jadi gak bisa pulang nemenin adelia." Mery berbohong, demi menutupi kebenaran yang sebenarnya begitu juga demi kondisi sang kakak dan keluarganya mery harus memutarkan otaknya supaya adelia tidak selalu menanyakan ibu ayahnya. Berharap mereka cepat pulang dan menceritakan setiap harinya selama di sana. Mery merasa bahwa dirinya sama sekali tidak berguna, terdiam diri di rumah bersama adelia. Terlihat jelas seperti pengasuh tanpa bayaran.
"Gak papa tante. Kan masih ada tante mery yang selalu nemenin adelia," ucap adelia tersenyum polos. Seketika wajahnya berubah ketika memalingkan wajah ke pandangan mery. Mery awalnya ikut tersenyum namun melihat ponakannya seperti menyembunyikan sesuatu mery sedikit curiga.
"Ada apa? Kok kelihatan sedih?" tanya mery mengelus rambut adelia.
"Gak tau tante. Jantung adelia deg-degan cepat banget, kaya mau copot."
"Kamu sakit sayang?" mery seketika langsung terkejut, mendengar pengakuan adelia. Entah apa dia mengetahui firasat seorang anak atau hanya pikiran belaka. Mery langsung memeluk adelia dengan penuh kehangatan.
"Tante, ibu orangnya seperti apa si waktu kecil?" tanya adelia mendongakkan kepalanya ke atas menatap mery.
"Dulu ibu kamu itu rajin banget menabung, sholat, ngaji, dan membantu tante kalau kesulitan mengerjakan PR. Ibu kamu suka memancing, dia suka sekali bergaul dengan cowo saat sekolah SD dulu. Kalau nenek marah, ibu kamu cuma nyengir sambil minta maaf sama nenek," ucap mery menidurkan adelia di ranjangnya, mery pun mengikuti. Mereka tergeletak diatas ranjang yang sama sambil menatap langit-langit dinding di hiasi dengan lampu yang sedikit redup.
"Wah mancing, ayah juga suka mancing tante. Tapi ..." kata adelia tidak dilanjutkan. Seperti ingin mengatakan sesuatu yang berat untuknya.
"Kenap sayang? Kok berhenti? Ayo dong, jangan ada yang di tutup-tutupi sama tante." Mery mencoba menghibur adelia, akhirnya adelia sedikit tersenyum menatap lamat-lamat pada mery. Mery mencoba memberikan kode kepadanya agar mau jujur.
"Sebenarnya ayah sama ibu sering sekali berantem tante, adelia suka sedih. Seperti tidak ada cinta di antara ayah dan ibu. Kata bu guru menikah itu harus di dasari dengan cinta kan? Harusnya ayah ibu nikah itu karena cinta. Tapi kenapa yang adelia lihat itu ibu suka marah-marah sama ayah. Tapi ayah sama sekali gak membalas marahnya ibu. Ayah memilih diam dan memelukku lalu membawa adelia masuk ke kamar adelia. Ibu jarang tidur bareng ayah. Lebih seringnya tidur ayah sama adelia."
__ADS_1