
****
Rumah duka telah memasangkan bendera berwarna kuning, rumah sudah mulai ramai dengan tetangga yang melayad untuk mendoakan Tery. Berbagai lantunan ayat al Qur'an terdengar lembut di telinga tidak lain dari surah yasin.
Jasad Tery di kerumuhin oleh orang-orang yang sedang mengaji. Umi bersandar di dekat pintu sembari menyisakan suara tangisan mengilu, begitu juga Abi yang sedang sibuk mengurus liang kubur yang sedang dalam penggalian. Indra memaku sang anak dalam melamunnya juga Indra seketika melirik ke arah Mery yang sedang mengaji.
"Apa yang kau tatap?" ucap Anton menengahi pandangan Indra. Adelia menatap dingin tidak suka kedatangan Anton. "Tidak perlu egois untuk urusan cinta, sebenarnya kau masih suka kan dengan Mery? Dan mungkin saja kau berpikir Mery sekarang di lindungi oleh Dev? Susah untuk menghadapinya. Tapi kamu tidak akan bisa menghadapinya."
Seketika Anton duduk di sebelah Mery mengikuti membaca Al Qur'an. Mery melihat Adelia yang sedang dalam pangkuan sang ayahnya. Tetapi wajah Adelia terlihat datar menatap sang ibunya biasa saja. Entah dalam hatinya menangis atau bagaimana. Yang jelas menatap Adelia, mery seakan melihat sang kakak kembali.
"Ya Allah, andai saja Adelia tidak membenciku. Aku akan menjaganya sepenuh jiwaku, sama halnya kakakku menyayangiku sewaktu kecil. Dia selalu menjagaku tanpa luka sedikit pun, ketika aku terluka ia akan merasa lebih sedih dari pada yang terluka. Ya Allah, semoga kakakku berada di sisimu, ampuni semua kesalahannya dan terimalah ia dalam beribadah. Aamiin," gumam Mery dalam hati sembari mendoakan sang kakak.
****
Cuaca mendung menyelimuti Ibu Kota Jakarta. Awan nampak menghitam, terlihat akan hujan deras di pagi hari. Umi duduk di meja makan sembari menatap dinding yang di hiasi oleh foto. Mery ikut menatapnya dan foto itu saat kami masih kecil berusia lima belas tahun, terlihat sangat akrab dan tanpa merasakan masalah yang telah terjadi beberapa bulan dan tahun.
Mery menyadarinya, bahwa kehilangan seseorang memang sangat menyedihkan. Sewaktu penguburan Tery bahkan salah satu keluarga tidak ada yang ikut ke pemakaman, kecuali Dev. Dev bersama dengan Vivian yang mengikuti dan memimpin pemakanan Tery. Umi tidak bisa melihat sang anak terkubur di dalam tanah. Terpendam bahkan gelap. Umi tidak bisa membayangkan itu semua, maka sedari itu tidak ada seorang pun keluarga Tery tidak ada yang mengikutinya.
****
Hotel...
Dev dan Vivian terduduk di meja makan sambil membicarakan kasus meninggalnya Tery. Vivian masih menyelidiki beberapa jam yang lalu dan sekarang dokumen tentangnya dan cctv di ruang ICU masih aktif sejak Tery masuk ke dalam ruangan tersebut. Dev mencoba menyalakan DVD tersebut.
Dalam video yang di ambil dari cctv tersebut Ara yang memaksa seorang dokter dan mengancam tentang pekerjaannya begitu juga dengan keluarganya. Dev menatap dingin terhadap Ara, perempuan berwujud iblis telah masuk perangkap Dev. Yang tidak lain adalaj dokter terkenal di luar negeri begitu juga kotanya.
"Bagaimana tanggapanmu, Dev?" tanya Vivian masih menatap dokumen yang ada di genggamannya.
"Kita harus menjebak Ara melalui Anton. Jika Anton bisa mengajaknya di hotel kita ini maka, ia tidak akan bisa ke mana lagi. Kecuali kabur dan menjadi buronan polisi. Aku tidak peduli dia akan hidup atau mati di tanganku. Yang jelas dia telah menyakiti kedua sahabatku," ucap Dev dingin.
"Oke, bagaimana dengan kepulanganku?" tanya Vivian lagi.
"Segitu kangennya kah kau dengan suamimu? Ayolah, bantu aku sebentar. Jika bukan keahlianmu. Aku mana mungkin panggil kau begitu jauh!" ejek Dev yang masih menjomblo.
"Dev~ kau tau itu. Aku baru saja menikah satu bulan yang lalu. Dan kau juga menghadirinya, kau juga mendapatkan buket bunga pernikahan. Jadi, kapan kau akan menikah? Umur kamu sudah cukup untuk menjadi seorang ayah." Vivian mencoba mengorek isi hati Dev, sudah lama berteman dengannya namun Dev tidak pernah sekalipun menyukai seorang wanita. Vivian mengira bahwa Dev adalah seorang gay. Tetapi sebenarnya bukan, dia menyukai orang lamanya. "Apakah kau menyukai salah satu diantara mereka, Dev?"
"Apa yang kau bicarakan? Kita sedang membahas kasus, bukan jodoh!" seru Dev kesal.
"Mengapa kau begitu kesal, Dev. Aku hanya tanya apakah kau suka diantara mereka atau bukan. Itu saja!" balas Vivian membela diri.
"Itu tidak penting Vi, aku hanya sahabat di mata dia. Bukan lebih dan bukan kurang, ahh sudahlah~ lupakan masalah itu. Kita kembali ke awal." Dev berusaha menutupi hatinya, hanya Vivianlah yang bisa merasakan keberadaan Dev orang yang seperti apa. Tery dan Mery mengenal Dev sewaktu kecil, tapi tidak saat dewasanya. Vivian sangat mengerti perasaan Dev. Tetapi dia mengorbankan segalanya.
"Dev, bagaimana dengan dia? Apakah kita harus menyembunyikannya?"
"Vivian, kau banyak sekali pertanyaan. Soal dia biarkan kita yang melakukannya. Kita dokter ahli, jangan biarkan dia untuk selalu merasakan kesakitan," ucap Dev berusaha meyakinkan dirinya. Vivian mengangguk, lalu mematikan video yang telah diputar lama. Dev kemudian berpamitan untuk pulang ke rumah Mery, terlihat Vivian hampir menggodanya lagi tetapi Dev menghindarinya.
****
Satu bulan kemudian, kehilangan Tery mulai sedikit tidak terasa lagi. Umi dan Abi sudah mengikhlaskan kepergian Tery begitu juga dengan Indra. Koper besar sudah di depan rumah, indra berpamit pulang di rumahnya bersama Adelia. Ia tidak bisa tinggal bersama dengan mertuanya sedang rumah yang sebenarnya berada di kota lain.
"Umi, indra pamit ya?" ucap Indra mencium tangan Umi dan sambil tersenyum, umi mengangguk melepaskan. "Abi, indra pamit dulu ya. Indra bawa Adelia," lanjutnya bergilir mencium tangan Abi dan memeluknya.
"Iya pergilah, jaga cucuku dengan baik ya?" ucap Abi sedikit berkaca-kaca dan tersenyum menatap Adelia dan Indra. "Di pernikahan Mery saya harap kamu menghadiri sebagai kakak ipar Mery ya, Ndra?"
__ADS_1
Mery tersenyum melepaskan kepergian Indra walau pum sedikit merasa kehilangan karena Adelia juga ikut bersamanya. Adelia masih tetap diam terus dengan Mery tidak pernah berbicara sama sekali dengannya. Dev berdiri tepat di belakang Mery menatap dingin terhadap Adelia. Ia tidak peduli bahkan memalingkan kepalanya dan berlanjut menggendong tas kecil berwarna merah bergambar barbie.
"Tuh anak susah sekali di pelototin," ucap Dev kesal.
"Dev~ apa yang kau lakukan. Biarkan saja," ucap Mery menyikut perut Dev.
"Sudah kuduga kau akan membelanya!" ucap Dev cemburu terhadap perhatian Mery dengan Adelia. Mery menggelengkan kepalanya, bersikap seperti anak kecil di hadapan Mery sudah terbiasa Ia melihat Dev seperti itu.
Matahari mulai muncul di permukaan, indra harus cepat sampai ke bandara. Tanpa ada yang mengantarkannya Indra tetap tersenyum melepaskan kepergian mereka. Mungkin satu atau dua tahun mereka akan kembali lagi ke Jakarta. Dev tersenyum melepas tertawa kecil, melihat kedua orang yang benar-benar membuatnya kesal sudah pergi menginjakkan kakinya di sini.
"Ayah, apakaj tante Mery akan marah dengan Adelia?" tanya Adelia duduk tenang di dalam mobil taxi. Indra menoleh tersenyum padanya, dan mengelus lembut rambut Adelia.
"Mungkin tidak, tante kamu adalah orang yang istimewa. Dia tidak pernah sekali pun merasa dendam terhadap orang lain. Apalagi denganmu, orang yang paling dia sayang."
"Benarkah?" ucap Adelia memastikan.
"Iya, tentu." Indra seketika terlihat sedih wajahnya.
Menatap jendela kaca mobil tersebut menatap berbagai aktivitas orang di luar, mobil yang menyimpanginya dan kendaraan kecil roda dua menyampinginya. Indra teringat sewaktu dia masih menyatakan cinta terhadap Mery. Namun, terjadi suatu kesalahan yang sangat ironis untuk Mery. Tetapi, mery begitu tangguh dan kuat hatinya. Dia bisa mengalahkan semua isi hatinya. Di banding dengan Indra yang masih lemah iman. Indra diam-diam masih menyimpan perasaan untuk Mery.
"Apakah ayah pernah suka padanya?"
Deg, pertanyaan yang sangat bisa membaca pikiran seorang ayahnya. Indra seketika terkejut ketika Adelia menanyakan pertanyaan yang seharusnya tidak di ucapkan oleh anak seusianya.
"Tidak sayang, kamu jangan bercanda!" seru Indra gugup, peluh keringat dingin seketika menetes di tangan Adelia yang sedang menggenggap erat tangan sang ayah.
"Ayah jangan bohong! Wajah ayah mengatakan bahwa ayah sangat mencintai tante Mery, sebenarnya ayah juga tidak mencintai ibu kan?" ucap Adelia lembut memastikannya lagi pada Indra.
"Sayang, bagaimana kau tau soa itu?" ucap Indra gugup.
Adelia seketika terdiam lagi. Menatap jalanan yang sedikit terlihat karena tubuh Adelia yang masih kecil susah untuk melihat luasnya jalanan di depan. Indra terbengong melamunkan apa yang di desakkan oleh Adelia sang anak tercinta. Indra sebenarnya sudah merasa tenang karena tidak ada yang bisa menghalangi jalan cintanya. Tapi sayangnya Indra sedikit terlambat selangkah dengan Anton.
****
Kesibukan mulai di rasakan oleh Anton dan Mery. Mereka berbelanja cincin pernikahan di desainer yang biasa merancang perhiatan milik sang paman Anton. Saat lepas kepergian Indra dan Adelia. Satu jam kemudian Anton menjemput dengan mobil sport miliknya. Mery merasa senang akhirnya ia bisa menikah dengan orang yang dia suka.
Salah satu toko pernikahan telah membuat mata Mery terbuka lebar-lebar. Mery langsung menarik Anton memasuki toko tersebut. Sepatu pernikahan terlihat sangat elegan, mery menyukai sepatu tersebut, tetapi Anton tidak menyetujuinya.
"Sepatu itu kurang bagus, Mery!" seru Anton menggelengkan kepalanya.
"Tapi ini terlihat indah Anton, coba kau lihat. Bagus kan?" ucap Mery tersenyum sambil memakai sepatu itu dan bergaya di hadapan Anton.
"Tidak, tidak Mery. Itu terlalu pendek. Pernikahan kita harus mewah dan kau harus terlihat cantik," nada lembut Anton memasang wajah tak senang melihat sepatu yang pendek sekitar 1cm saja.
"Kau harus tau, nikah itu tidak harus selalu mewah. Aku hanya mengharapkan pernikahan kita ini berjalan dengan lancar," ucap Mery tersenyum mengangkat alisnya berulang kali. Anton tertawa kecil menatap wajah unik pada Mery. "Hei, mengapa kau tertawa, hah?" kesalnya menatap dingin.
"Mau sampai kapan kau memanggilku dengan sebutan hei,kamu,kau, anton,? Apakah tidak ada panggilan yang sedikit romantis untukku, Mery tersayang~" goda Anton mendekatkan dirinya dan saling bertatapan wajah. Pengurus toko tersebut seketika merasa malu sendiri karena melihat kedua pasangan bermesraan di depannya.
"Anton! Jauhkan! Wajahmu!" seru Mery menggertakan giginya, "Hehehe, maaf ya!" permintaan maaf Mery terhadap pengurus toko tersebut. Seketika Mery langsung menarik telinga Anton agar tersadar apa yang dia lakukan di tempat umum.
Bahkan mereka masih bukan muhrimnya. Mery selalu menjaga jarak dengannya tetapi Anton seperti tidak sabar untuk cepat menikah dengan Mery. Mery pun tersenyum tertawa kecil, setelah menarik telinga Anton. Mery seketika berlari cepat untuk menghindarnya. Anton pun mengejar Mery sembari tertawa menggodanya.
***
__ADS_1
Uap kopi tercium harum, secangkir kopi masih terisi penuh. Dev belum menyeruput kopi tersebut di sore hari. Entah dalam kediamannya memikirkan sesuatu yang sangat berat. Vivian menatap Dev dari ruang tamu sejak siang Dev datang mengunjungi Vivian. Tetapi tidak ada satu katapun yang di ucapkan oleh bibirnya.
Vivian datang menghampiri Dev mencoba untuk bertanya apa yang sedang terjadi sehingga ia terdiam murung dekat jendela. Ia mengambil secangkir kopi yang sudah di siapkan lima menit yang lalu.
"Sepertinya ada yang lagi galau, kan?" sindir Vivian, sambil menyodorkan kopi.
"Iya, mulai pengacau datang. Suamimu bukankah akan ke sini?" tanya Dev mencoba memalingkan pembicaraan.
"Oh iya! Satu jam lagi, Dev. Aku harus pergi sekarang." Vivian langsung tersadar bahkan penerbangan sang suami akan segera tiba di Indonesia. Satu jam waktu Vivian pergi ke bandara. Dengan terburu-buru, vivian langsung mengambil tas berwarna pink dan langsung menyusul sang suami dengan gugup berlari cepat.
"Iya, begini lebih baik. Sendirian dan sunyi ..." kata Dev lirih menatap pintu yang baru saja Vivian keluar.
****
Suara langkah kaki terdengar lantang dari kamar Wilky, ia sedang mengerjakan tugas dari pekerjaanya. Di rumah hanya pelayan saja. Itu pun mereka sudah waktunya istirahat. Wilky penasaran dengan suara langkah kaki tersebut. Suaranya terdengar sangat jelas dan dekat dengan kamar Wilky. Wilky mengira bahwa itu adalah Anton yang baru saja pulang dari perbelanjaan bersama Mery. Tetapi di sisi lain, suara langkah kaki itu terdengar bukan suara sepatu pria. Melainkan suara sepatu heels wanita berukuran 3cm.
Kemudian, wilky bergegas menaiki ranjang merobohkan diri untuk berpura-pura tertidur. Suara langkah kaki tersebut berhenti tepat di depan pintu kamar Wilky. Ia mulai cemas, keringat dingin menemani ketakutannya.
Cetak~ Suara pintu terbuka. Wilky lupa untuk mengambil ponselnya yang tertinggal diatas meja kerja. Seseorang berjalan pelan dan sangat berhati-hati. Ia berdiri tepat di laci meja belajar Wilky. Wujudnya perempuan. Memakai dress pendek, memiliki rambut pirang dan panjang bergelombang. Seketika orang itu pun diam-diam mengambil ponsel milik Wilky. Memeriksa isi pesan dalam media sosialnya.
Kecerobohan Wilky jarang terjadi, tetapi kali ini ia lupa untuk mengunci ponselnya. Orang tersebut sedikit mengeluarkan suara isakkan tangis yang pilu. Wilky justru ketakutan, dia mengira bahwa orang itu adalah hantu sang ibunya.
Brumm~ Suara mobil Anton terdengar samar dari kamar Wilky. Wanita itu langsung berjalan cepat melihat di teras bawah. Dan benar, ada Anton dan Mery yang sedang tertawa lepas. Mereka terlihat bahagia membawa barang belanjaannya.
"Tidak tahu diri! Lihat saja Mery, aku akan memusnahkan orang yang kau cintai terutama juga pada Anton." Suara berat telah menguasai dirinya. Wanita paruh baya itu langsung keluar dari kamar Wilky, dan bergegas kabur dari rumah Anton.
"Itu ... Itu ... Wanita itu hantu kah? Ya Ampun, dia menangis melihat ponselku. Memang apa yang dia lihat!" gumam Wilky langsung bangkit dari ranjang dan berjalan menuju meja kerjanya. Ponsel masih menyala. Terlihat di layar ponsel Wilky tertulis dengan warna merah cerah di media sosialnya. "Aku akan membunuhmu!" tulisan yang ditulis di sosial media Wilky lalu mengirimkannya kepada Anton. Seketika Wilky sangat syok dan merasa takut.
Wanita itu sepertinya sangat dendam sekali dengan sang kakak, wilky tidak tahu bagaimana memberitahu Anton. Sedangkan pesan itu sudah di baca oleh penerimanya. Wilky harus menjelaskan pada Anton bahwa rumahnya telah di masuki oleh hantu wanita.
"Kak Antoonnn!!!" teriak Wilky dari bilik daun pintu kamarnya.
Semua pelayan yang sedang beristirahat di kamarnya seketika langsung berlari menuju ke kamar Wilky untuk melihat apa yang sedang terjadi. Anton dan Mery mendengar teriakan sang adik dari garasi mobil. Mereka saling bertatap wajah dan segera berlari tanpa memperdulikan barang belanjaannya yang terlempar berserakan di lantai saat mereka mencoba untuk berlari.
"Wilky? Wil, apa yang terjadi? Where are u?" teriak Anton berlari di anak tangga diikuti oleh Mery. Ketika Anton sampai di depan kamarnya, sang pelayan sudah berkerumun di kamar Wilky. "Apa yang terjadi?" tanya Anton cemas.
"Tu ... Tuan, kami juga tidak tahu. Ketika kami ke sini nona sudah terbaring pingsan di depan pintu!" gugup salah satu pelayan gemeteran. Anton yang mendengarnya sangat kesal dan geram terhadap pelayannya yang menjaga Wilky sangat tidak benar. Bahkan pingsan pun mereka tidak tahu begitu juga hanya di pelototi saja.
"Anton. Cepat! Angkat Wilky dan tolong ambilkan minyak kayu putih dan satu gelas air putih juga ya," ucap Mery meminta tolong pada pelayan. Mereka mengangguk, dan langsung berlari memenuhi perintah sekaligus melarikan diri dari Anton.
"Wil, bangun wil!" panggil Anton terhadap Wilky. Mery melihat ponsel Wilky masih menyala dan menatap di layarnya. Terlihat pesan itu bahwa Wilky mengirimkan pesan kepada Anton dan tertulis mengancam membunuhnya. Mery terkejut dan langsung menyodorkan isi ponsel kepada Anton. Seketika Anton terdiam, melihat ponselnya di saku celana. Anton melihat bahwa ponselnya tidak sengaja membuka sendiri pesan dari Wilky.
"Apa maksudnya dengan ini?" tanya Mery cemas dan khawatir.
"Jangan berpikir berlebihan, mungkin saja Wilky tidak sengaja mengirim pesan itu!" seru Anton berusaha berpikir positif tentang adiknya.
Seketika pelayan yang bertubuh mungil datang membawakan satu gelas air putih dan di sampingnya ada minyak kayu putih. Tanpa di suruh, pelayan itu menyodorkan bawaannya. Mery menatap dan tersenyum padanya, tak lupa pula ia mengucapkan terima kasih padanya.
"Ehm... Ini .. Di mana?" tanyanya menatap semua isi ruangan di kamarnya sendiri, anton dan Mery saling bertatapan. Dan mencoba untuk menanyakan sesuatu pada Wilky.
"Wil, kenapa kamu mengirimkan pesan ini?" ucap Anton sambil menunjukan ponselnya yang di ancam mati.
Wilky menggeleng, wajahnya terlihat merah padam. "Itu bukan Aku kak, itu wanita itu yang nulis ..." ucap Wilky gemeteran. Seketika Anton langsung bingung dengan apa yang di ucapkan oleh kata wanita itu. Tidak lama, wilky langsung memeluk erat Mery. "Mer, aku mohon jaga kak Anton. Aku takut dia terjadi sesuatu padanya. Aku mohon ... Hiks," katanya dengan menangis di pelukkannya.
__ADS_1
"Maksud kamu, ada orang lain yang masuk ke kamar kamu gitu?" tanya Anton mencoba untuk mengintrogasikan sang adik, mery langsung menahan tangan Anton dan menggeleng seraya mengisyaratkan bahwa pertanyaan itu jangan di teruskan. Takut membuat Wilky sangat mencemasi keadaan Anton. "Baiklah, tenang Wil. Kakak di sini, jangan khawatir oke?"