Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 32


__ADS_3

Kepalaku tidak sakit lagi setelah ingatanku mulai kembali, aku langsung berontak meronta-ronta di pelukkan Anton. Aku berusaha bangkit darinya. Aku ingin mengejar apa yang seharusnya milikku.


"Lepaskan Aku!" kataku mulai berontak, berteriak.


"Lepaskan!" Teriakku dengan membentak.


Anton langsung terdiam saat Aku berteriak padanya, dia sama sekali tidak menghalangiku lagi. Tanpa berkata padanya Aku langsung berlari dan menyebrangi jalan.


Anton masih duduk terpaku di pinggir jalan beserta orang-orang yang melihatnya. Aku sudah membuatnya malu seketika, egoisku sangat parah.


Aku berlari sambil menoleh ke belakang. Apakah Anton akan mengejarku atau tidak, aku masih berlari melangkahkan kakiku untuk bergegas cepat sampai di pelaminan Mas Indra.


Tapi Aku juga mengharapkan bahwa Anton ikut bersamaku. Apakah Aku terlalu keras dengannya sehingga dia tidak mengejarku seperti tadi.


"Dasar Anton bodoh!" kataku mulai berjalan berbalik arah.


Aku akhirnya balik lagi ke tempat Anton, aku tidak bisa meninggalkannya disana. Dengan nafas yang terpenggal, kaki sempoyongan Aku tetap berjalan untuk melihatnya.


Sesampai di gang yang sudah terlihat di taman itu, anton tidak ada di tempat tadi. Aku mulai merasa bersalah padanya, sebelumnya dia-lah yang membantuku.


"Anton!" Teriakku mencari-cari.


Ya Allah, aku sangat merasa bersalah padanya. Aku berharap bisa bertemu dan berjumpa dengannya. Aku ingin meminta maaf atas teriakkan ku padanya.


Aku masih mencari di sekeliling taman, tapi dia tidak ada. Aku mulai berputus asa untuk mencarinya, itu semua salahku. Aku tidak seharusnya meninggalkan dia, anton pasti kecewa terhadapku.


Seiring berjalannya waktu, aku kembali lagi ke tempat dimana Aku jatuh tadi. Aku berjalan menunduk sembari menangis putus asa. Aku memang terlalu egois.


Kalaupun Aku kembali kerumah, mas Indra pasti sudah menikah dan sudah menjadi suami sah-nya Kak Tery. Aku harus bagaimana menyikapinya jika bertemu setiap hari di rumah.


"Anton, tolong maafkan Aku." Kataku lirih sambil menangis terisak-isak.

__ADS_1


Aku duduk di atas batu, dimana batu itu pernah di duduki oleh Anton. Aku tidak bisa melihat wajahnya saat Aku membentaknya.


Aku melihat ekspresi wajahnya yang terlihat kecewa dan sedih karenaku. Aku telah menyakiti hatinya, anton adalah salah satu teman terbaikku sekarang. Dia banyak membantuku tapi Aku menyakitinya.


"Heh, culun! Nangis kok di pinggir jalan sih."


Suara itu tiba-tiba muncul, aku mendongak ke atas dan langsung bertatapan muka dengannya. Anton membungkuk sambil menatapku lamat-lamat.


Dia tiba-tiba datang di hadapanku dan menatapku sambil memegang air minum. Aku juga menatapnya dengan keadaan wajahku yang berderaian air mata.


Sontak Anton melihat air mataku yang mengalir, suaraku terisak-isak sedu. Seketika Anton langsung melemparkan air minumnya dan mengambil sapu tangan di kantong celananya.


Ia melipat sapu tangan itu yang berwarna biru muda, ada tulisan Channel yang sangat bermerek. Lalu Anton langsung menghapus air mataku yang sedang mengalir di pipiku.


"Jangan menangis, air mata wanita itu sangat mahal. Aku tidak bisa melihat wanita di hadapanku menangis seperti ini." Ujar Anton sambil menyapu air mataku dengan sapu tangan miliknya.


Aku tidak bisa mengira bahwa Anton sangat baik padaku, aku mengira bahwa dia adalah orang yang terjail yang pernah ku lihat. Tapi sekarang, hanya dialah yang memahami posisiku.


Tidak bisa kubayangkan bagaimana jadinya jika Aku mengatakan bahwa ingatanku sudah kembali pada Mas Indra. Bagaimana reaksi dia misalkan mengetahui ini.


Aku langsung menangis lagi, dan sangat ingin ku adukan pada Anton. Tapi rasa sakitku lebih dalam di banding dengan air mata yang ku keluarkan. Aku tidak bisa bercerita tentang Mas Indra dengannya sekarang.


"Jika kamu ingin bercerita. Maka ceritakanlah, aku bisa membantumu" Ucap Anton menatapku.


"Anton, misal orang yang kamu cintai itu menikahi saudara kandungmu. Bagaimana kamu menyikapinya?" Kataku dengan nada terpenggal karena diiringi suara isakkan.


"Aku akan memukul dan memberi pelajaran, aku akan memotong-motong tubuhnya seperti Ibuku memotong wortel." Canda Anton sedikit geram.


Aku langsung tertawa dibuatnya, dia memberikan ekspresi yang sangat mengerikan sambil memperagakan dia sedang memotong sayur.


"Haha, janganlah. Kasian dianya" Kataku mulai merasa terhibur.

__ADS_1


Anton langsung tersenyum dan tertawa di hadapanku, senyuman yang selalu dia sembunyikan. Kini Aku menyaksikan kedua kalinya. Tapi ini berbeda, dia seperti terlihat sangat bahagia saat bercanda denganku.


"Anton, tolong rahasiakan soal Ingatanku yah. Aku tidak mau bahwa Indra tau soal ini. Aku tidak mau kebahagiaan Mbak Tery sebentar" Tuturku memasang wajah memelas.


Anton mengangguk dan mengiyakan permintaanku. Aku pun langsung bangkit dari batu itu dan berjalan beriiringan dengan Anton.


Aku menuju pulang kerumah dengan keadaan siap menerima semua takdir. Aku akan berlapang dada jika melihat Kak Tery bahagia.


Kami Kakak beradik, jika di antara kami tidak ada yang mau mengalah, lalu siapa yang akan menjadi orang yang suka menganyomi selain kedua orang tuaku.


Memang sejak kecil, jika apa yang di inginkan Kak Tery itu selalu harus ia dapatkan. Tapi saat berebutan denganku, dia yang selalu mengalah duluan.


Mungkin ketika kami beranjak dewasa, kami akan menemukan cintanya masing-masing. Namun, takdir mengubah apa yang kita impikan. Allah memberikan cinta orang yang sama.


Aku menyesal karena sudah mencintai dia tanpa ikatan, pada akhirnya Akulah orang yang paling sakit. Walaupun rasa cintaku kepada Mas Indra masih tumbuh. Aku akan berusaha move on darinya.


Dengan bantuan dari Anton, mungkin Aku juga bisa melupakan kenangan pahit selama mengenalnya.


Setelah berjalan bersama Anton, akhirnya sampai juga di depan rumah. Kebetulan Aku melihat tenda pesta yang sangat meriah di depan rumahku.


Tamu-tamu masih bersorak meriah senang melihat kebahagiaan yang kedua orang tuaku adakan acara pernikahan Kak Tery tanpa Aku.


Aku terbaring lemas di rumah sakit, sedangkan yang di rumah tertawa riang, bercanda bersama tamu undangan mereka dan lagi kebahagiaan Kak Tery yang di sampingnya sudah pasti adalah Indra.


Tiba-tiba anak kecil berlarian di hadapanku. Mereka tidak sengaja menabrakku sehingga Aku terjatuh di atas kerikil yang cukup tajam. Tanganku terkena kerikil itu, lalu keluar darah yang cukup banyak.


Anton sontak kaget dan langsung membantuku untuk bangun, tapi tubuhku tidak berdaya. Tenagaku seketika menghilang terbawa arus kebahagiaan di atas deritaku.


Tamu-tamu yang sedang tertawa seketika terdiam membisu menatapku yang sedang bersujud kesakitan. Sedangkan Anton masih berusaha membujukku untuk bangkit.


"Mery!" Teriak seseorang terdengar sangat samar-samar.

__ADS_1


Aku tidak kuat menerima kenyataan pahit ini. Semua orang tertawa, tapi bagaimana denganku yang seperti ini. Bahkan Abi hanya tercengang melihatku yang hanya berjarak sepuluh meter darinya.


__ADS_2