Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
Series 2, bab 56


__ADS_3

Tiada tindakan yang harus mery lakukan, selesai keluar dari rumah sakit mery terdiam diri dikamar. Mery selalu merenungkan dengan apa yang selama ini Ara katakan.


Sudah sampai dirumah pun aku selalu memikirkan tentang suster itu, aku sama sekali tidak mengerti apa hubungan anton bersama suster itu. Dari jarak pandang orang itu sepertinya dia lebih mengenal Anton ketimbang diriku. Oh~ Tuhan ... kenapa aku dibuat bingung seperti ini? Gumam Mery dalam hatinya.


Suasana kamar hening, hanya terdengar suara-suara kebisingan dari luar lamar. Mery bahkan masih mengingat bagaimana tetangganya memaki dan menghinanya. Rasa empati itu bahkan tidak ada dihati mereka apalagi iba.


Kendala seperti itu tidak akan mempengaruhi Mery, ia lebih mengambil positifnya untuk memikirkan bagaimana caranya supaya mereka tidak lain membicarakan tentang dirinya pada masa lalu.


Apakah benar hidup itu pilihan? Jika iya ... maka aku akan lebih memilih kebahagiaan, tidak ada satu orangpun yang menginginkan selalu menderita. Bahkan untuk menghitung kapan terakhir aku bahagia pun tidak bisa.


Mulut begitu juga lidah memang bisa berbohong, tapi tubuh dan hatinya tidak bisa untuk membohongi dirinya. Mery menginginkan sesuatu yang sangat didambakan seorang wanita, menikah, bersosialisasi, karir dan lain sebagainya.


"Mery, ayo keluar dan makan!" teriak Umi bergemang dikamarnya.


"Iya Mi," jawab Mery sedikit mengeraskan suaranya.


Tanpa menunggu lama Mery langsung keluar dari kamar, dimana kamar itu sebagai saksi bisunya selama dalam curhatan hatinya.


"Mery, sini makan dulu. Adelia sudah menunggu kamu dari tadi lho, yakan dek?" ujar Umi sembari mengelus rambut Adelia.


"Hehe ... iya Nek," katanya tersenyum. "Nenek, tante mery cantik ya? Aku mau jadi kaya tante mery, boleh?" lanjutnya menatap mery dengan penuh harap agar mery menjawab pertanyaanya.


"Bisa, kamu juga cantik kaya ibumu. Tapi kamu harus inget, makan yang banyak biar cepat besar, ya!" Kata Umi sambil menaruh sayuran dipiringnya.


"Yaahh ... Nenek. Kan Adelia gak suka sayur~" ngeluhnya mendengus kesal.


"Eh, e ..h anak baik gak boleh gitu ..." lanjut Tery menyeka dahinya, ia menaruh ikan bakar diatas meja makan.


"Ibu, adelia kan sudah besar. Kenapa harus makan sayur?" tanyanya penasaran.


"Karena sayur baik untuk kesehatan. Contohnya seperti wortel ini, memiliki vitamin dan baik untuk mata. Tomat juga bagus walaupun rasanya asam ... tapi kulitmu akan tetap segar! Mau?" jelas Mery tersenyum menatap Adelia.


"Wah~ tante tau gak? bayam juga memiliki zat besi lho. Tapi Adelia gak tau apa itu zat besi? Pas adelia mau tanya sama bu guru, eh ... Bel pulang bunyi triningg, triningg, trining gitu," kata Adelia sambil bersedekap, wajahnya memasang kecewa.


"Zat besi adalah komponen protein yang sangat penting bagi metabolisme dan memproduksi sel darah merah. 70% zat besi di dalam tubuh kita terdapat pada hemoglobin dan myoglobin. Hemoglobin aldaha pengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh lainnya, sedangkan myoglobin berada pada sel otot yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan melepaskan oksigen yang terkandung di dalamnya," jelas Mery bernada rendah namun sangat jelas ketika adelia mendengarkannya.


"Tante ... Adelia masih gak ngerti, apa itu sel? Heh ... apa itu oksigen, hemo .. hemo apa ya? Adelia lupa," rasa kecewanya semakin menurun.


"Aduh~ kalau dijelasin tambah panjang. Nanti makananmu cepat dingin, ayo kita makan dulu yah," ujar Tery memotong obrolan mereka.

__ADS_1


Umi tersenyum melihat sang cucu pertamanya sangat aktif begitu juga rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan sangat meninggi, Umi mengharapkan adelia memiliki sikap yang sangat baik dan pintar.


Di ruang makan hanya tersisa empat wanita, Abi sedang ada tugas diluar kota dalam beberapa bisnis kantornya. Indra sibuk dengan pekerjaannya yang semakin menumpuk sehingga ia tidak bisa pulang lebih cepat.


Satu hari sudah terlewatkan oleh mery selama keluar dari rumah sakit, Anton bahkan tidak datang kerumah Mery. Entah kemana ia pergi setelah mengantarkan mery pulang, Anton bergegas pergi tanpa berpamitan.


Jam sudah menunjukan pukul 21.05, suara jangkrik nyaring berderik. Tery berdiri disamping pintu yang menunggu kedatangan suaminya pulang. Indra sudah cukup lama tidak pulang kerumah, karena pekerjaannya yang cukup padat membuat dirinya menetap dikantornya selama beberapa hari ini.


Aduh~ sudah sekian panjangnya hari mas Indra masih belum pulang juga. Tapi ... bukankah itu lebih bagus ya? Dengan adanya kesibukan dikantor suamiku jadi jarang bertemu dengan mery. Gumam Tery sambil menyenderkan bahunya di samping pintu.


"Sudah malam, sebaiknya aku tidur dulu saja."


***


Suara kicauan burung beo telah membangunkan mery yang terlelap tidur pulas. Adelia masih tertidur disamping Mery, semalam ia ingin menikmati malamnya bersamanya.


Mery sangat senang bisa tidur bersama dengan keponakannya yang lucu dan sangat manis. Cara ia tidur pun sangat mungil, seperti kelinci putih.


"Adelia ..." katanya membangunkan Adelia. "Adelia," sambungnya.


"Sebental ... Lima menit lagi ya," ucapnya dengan mata masih terpejam.


Adelia langsung membuka matanya perlahan, ia mengucek kedua bola matanya yang bulat itu, rambutnya compang-camping berantakan. Air liur yang menempel dipipinya pun tercium sangat tidak sedap.


"Iih ... Adelia ngiler ya?" ejek Mery mengernyitkan dahinya sembari tersenyum.


"Engga kok," ucap Adelia langsung mengusap bagian air liur yang sedikit mengering. "Tante ini apa?" tanyanya.


"Hahaha ... Iihh, ilernya diseka? Haha Adelia, Adelia!" serunya menggoda.


"A .. aghh, tante mah gitu," kesalnya merajuk.


"Ulu ... uluu, anaknya Bu Tery malu nih, Cie!" godanya sambil mencolek lengan adelia yang mungil.


"Adelia mau mandi ahh, biar gak diejek sama tante. Adelia kan mau cantik kaya tante dan gak ileran," katanya langsung turun dari ranjang tempat tidur.


"Ya sudah gih, tante tunggu bau harumnya ya?" katanya melambaikan tangan.


Adelia langsung pergi dari kamar Mery, ia bergegas kekamar mandi tanpa meminta bantuan dari Tery untuk memandikannya. Umurnya masih kecil, tapi belajar untuk mandiri memang cukup bagus bagi seumurannya.

__ADS_1


Tiba-tiba Tery mendengar percikan air dikamar mandi, suara air sangat terdengar dari kamar Uminya. Tery tidur bersama dengan Umi karena Abi ternyata menginap semalam untuk menyelesaikan tugasnya.


Tery langsung keluar dari kamar untuk melihat siapa yang sedang mandi dengan suara yang tidak beraturan seperti itu. Terdengar pula gayung yang berkali-kali jatuh dikamar mandi.


"Halo, siapa yang dikamar mandi?" teriak Tery mengetuk pintunya.


"Adelia Bu!" jawab Adelia berteriak sehingga suaranya bergemang terdengar satu rumah.


Tery langsung membuka pintunya dan melihat apa yang dilakukan oleh anak tersayangannya dan benar saja, Adelia telah menjatuhkan gayung dilantai, sikat gigi terjatuh di kloset kamar mandi. Terlihat pula adelia sedang berusaha mengambil sabun yang jatuh dilantai tapi ia susah meraihnya.


"Adeliaa!!" teriak Tery sangat marah. "Apa yang kamu lakukan? Lihat! sikat gigi ayah kamu jatuh ke kloset!" murkanya langsung mencengkram lengan adelia, ia pun terkejut dengan teriakan sang ibunya.


Mery mendengar teriakan itu, begitu juga dengan uminya. Mery langsung berlari untuk melihat apa yang sedang kakaknya lakukan sehingga teriak sehisteris seperti itu, Umi pun langsung bergegas keluar dari kamarnya.


"Ada apa ini?" tanya Umi langsung menoleh kedalam kamar mandi.


"Mi, lihat cucumu! dia bandel sekali telah menjatuhkan sikat gigi ayahnya kedalam kloset, sabun jatuh kelantai sampai licin begini, gayung juga dan parahnya lagi lihat! shampoo jatuh ke kolam sampai kotor seperti ini," kesal Tery memarahi adelia sampai ia tercengang kaget karena bentakan dari sang ibu.


"Mba, jangan gitu. Adelia kan masih kecil, jangan dimarahi," ucap Mery menenangkan suasana hati sang kakak.


"Iya Tery, liat tuh anakmu sampai mau menangis," ucap Umi menatap Adelia dengan tatapan lembut.


"Apanya? Dia udah bikin kamar mandi ini kaya gini. Dan kamu Dek, heran ya? kenapa gak bilang sama ibu kalau kamu mau mandi, hah? Kan bisa ibu bantuin kamu buat mandi!" bentak Tery sembari melototi anaknya.


"Ma .. maaf Bu, hiks ..." ucapnya sesenggukan menahan air matanya. Adelia merasa terkejut dan tidak berani menatap wajah sang ibu.


"Mba, sudah ... Nanti Mery yang beresin ya," ucapnya sambil menarik tangan Adelia dengan lembut dan langsung memeluknya dalam keadaan telanjang bulat begitu juga basah.


"Ini semua pasti kamu kan, yang suruh adelia mandi sendiri? Dia gak biasanya untuk inisiatif seperti ini Mery!" kesalnya semakin meluap.


"Mba kamu ngomong apa sih? mana mungkin aku menyuruh adelia mandi sendiri."


"Dia itu semalam sama kamu, tidur sama kamu, itu pasti kamu yang nyuruh untuk tidur sendiri kan, heran!"


Mery hanya terdiam tidak menanggapi kekesalan kakaknya itu, Mery langsung memandikan adelia dalam kondisi adelia menangis sesenggukan karena kaget.


Selesai memandikannya, Mery langsung membersihkan kamar mandi dan menguras air didalam kolam tersebut. Dalam keadaan memakai baju tidur panjang, mery tidak memperdulikannya.


Adelia melihat sikap mery yang sama sekali tidak melawan sang ibunya. Ia merasa sangat iba terhadap tantenya karena perbuatan adelia yang tidak disengaja sehingga Mery yang bertanggung jawab atas kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2