
4 bulan, kemudian...
Hari ku di penuhi oleh berbagai kesibukkan yang sangat padat. Empat bulan lalu, seusai Aku sembuh dari sakitku. Aku langsung mengikuti lomba yang di tunjuk oleh Ustadzah.
Setelah Aku belajar dan terus belajar soal hafalan. Seminggu kemudian Aku mengingat soal pelajaran yang telah hilang di memori ku, sudah kembali lagi. Namun, hanya sedikit.
Hanya sedikit yang Aku ingat, dan soal Lela. Aku sangat jelas mengingatnya. Semua itu karena keseringan bersama dengan dirinya sehingga Aku mampu mengingat semua itu.
Selebihnya sampai sekarang Aku tidak mengenal dan tidak mau mengingatnya lagi. Cukup untuk sampai di titik ini, aku mensyukuri yang ada.
Hidupku terasa kembali normal. Semua yang ku lakukan sama dengan santri yang lainnya.
Pada hari ini adalah hari di mana orang tua menjenguk anaknya dan bahkan ada juga yang menjemput untuk menyambut hari libur. Walaupun hanya satu dua hari, mereka tetap akan menjemput anaknya karena ingin berkumpul bersama.
Sekarang Aku sedang duduk di depan pintu asrama, sembari menatap sejauh mata memandang. Aku melihat kegembiraan anak santri di sini yang sudah berjumpa dengan orang tuanya.
Willy sudah bertemu dengan Kakaknya, ia tidak bisa di jemput langsung oleh orang tuanya karena sedang ada di luar negeri.
Lela masih membereskan pakaiannya yang ingin ia bawa pulang, dan menggantinya dengan yang baru di rumahnya nanti.
Sedangkan Putri, baru saja ia di jemput dan pergi bersama orang tuanya. Wajah Putri terlihat memerah merona saat melihat orang tuanya datang menghampirinya.
Aku masih terdiam memaku, sembari menunggu Abi, Umi dan Kak Tery menjemputku. Namun, sudah lewat 2 jam ini. Mereka sama sekali belum terlihat batang hidungnya.
Harapanku, aku bisa cepat pulang dan merebahkan tubuhku di rumah yang baru di Jakarta. Kemungkinan banyak sekali nantinya perubahan di dalam rumah.
Dan berbagai cerita dari Umi yang selalu memarahi Kak Tery, dia kan anak perawannya Umi yang selalu menganggap Umi itu bawelnya setengah mati.
Aku jarang sekali di marahi oleh Umi, karena apa? Karena Aku jarang di rumah pastinya.
Bunyi telefon tiba saja membuyarkan haluanku di depan pintu. Tiba saja Ustadzah ada di depanku yang sedang berusaha mengangkat telefonnya.
__ADS_1
"Halo, assalamu'alaikum! Oh iya baik Pak, saya sudah ada di depan asramanya. Nanti ku sampaikan pesannya. Baik Pak, Waalaikumussalam" Jawab Ustadzah yang sedang menelfon, tak sengaja Aku mendengarkannya.
Ustadzah berjalan mendekatiku sembari menutup telefonnya dan menatapku dengan wajah tersenyum. Ia sepertinya ada hal penting yang ingin Ustadzah katakan padaku.
"Mery, apa kamu sibuk hari ini?" Tanya Ustadzah sambil melihat jam tangannya.
"Eng, enggak Umi. Ada apa yah?" Tanyaku
"Bisa bantu Umi beresin di ruang aula enggak? Soalnya Umi harus ada pertemuan wali santri dulu sebentar." Ujarnya kepadaku.
"Boleh sih. Tapi kenapa saya Umi? Kok tumben. Biasanya juga Pak Tono yang membersihkan tempat aula itu." Tanyaku heran.
"Pak Tono sedang sibuk hari ini. Jadi Umi tidak bisa memberatkan pekerjaannya. Tolong yah Mer. Sebentar aja kok." Rayuan Umi, memasang wajah memelas.
Aku menggangguk, dan langsung bangkit dari tempat dudukku tadi. Aku berjalan sembari mengibas-ibasi gamisku yang terkena debu di lantai.
Umi berjalan di sampingku dan merangkulku dari belakang. Lalu wajah Umi selalu menatapku dengan senyuman yang penuh dengan tebakkan.
"Umm.. Umi, ini" Kataku pelan dan ragu-ragu. Tiba saja Umi langsung membuka percakapannya denganku.
"Mery, tolong bantu Umi yah bereskan ini. Kamu lihat kan ada buku yang bertumpukkan di pojok sana" Sembari menunjuk buku yang bertumpukkan. "Tolong rapihkan yah!" Lanjutnya lalu tersenyum padaku, ia pun pergi meninggalkanku di aula sendiri.
Aku pun mengiyakan perintah Ustadzah dan sambil menganggukkan kepala. Aku mulai berjalan menuju tumpukkan buku tersebut dan meraih lap yang ada di atas meja Ustadzah.
Buku itu terlihat kusam dan ada sedikit debu yang menempel di plastiknya. Saat Aku mulai membuka plastik itu, ternyata buku itu keluaran baru. Buku ini untuk semester 2 nantinya.
Aku tersenyum dan mulai membereskan semuanya. Mengelap satu persatu buku dan memasukkannya ke dalam rak yang sudah ternamai dari segi judul buku dan susunannya.
Brakk!
"Ahh!" Teriakku kesakitan lalu terjatuh dengan buku yang ingin ku taruh di tempat.
__ADS_1
"Woi, kalo jalan liat pake mata!" Teriak suara pria itu menutupi wajahnya dengan tumpukkan buku yang ia bawa.
"Ini sudah pake kacamata malah, bukan pake mata lagi." Sambil memegang kacamata, balas teriakku bangkit dari lantai karena tabrakan yang tak di sengaja itu.
Pria itu lalu menaruh buku di atas meja dan berusaha ingin membantuku untuk bangun. Tetapi sudah terlanjur Aku kesal kepadanya lalu Aku langsung menempiskan tangannya.
"Cewe tidak tahu basa-basi, bukannya terima kasih malah di cuekin." Ujarnya sembari berbalik badan.
Saking keselnya, Aku remas kertas sobekan di sekitar. Aku hari ini yang penuh kejutan tak terduga, dari menunggu orang tua yang tak belum kunjung datang, ustadzah memberikan tugas membersihkan buku ini dan lagi bertemu lalu tabrakan dengan cowo yang sama sekali tidak tahu meminta maaf dengan kaum hawa sepertiku.
"Hey!" Teriakku sambil melemparkan gumpalan kertas ke wajahnya.
Pria itu langsung terdiam di tempat, dimana dia berdiri menuju keluar pintu aula. Aku pun langsung tertegun. Aku baru teringat bahwa Aku dengannya adalah beda tempat. Bagaimana bisa dia masuk ke area santri wati?
Seketika pria itu berbalik badan dan menatapku dengan tajam. Ia berjalan menuju ke arahku dengan membawa kertas yang ku remas karena saking kesalnya itu, ia pun mendengus kesal dan terlihat wajahnya yang menahan amarahnya itu.
"Dasar cewe culun, berkacamata!" Teriaknya menumpahkan amarahnya di depanku.
Serasa ada angin ribut yang datang secara tak di undang, bumi yang berputar serasa berhenti seketika. Padahal pria itu tampan, tapi sayang. Kelakuannya kaya kucing liar.
"Bodo amat culun, yang penting sehat! Wlee" Balasku sembari meledek meled dengannya.
Dia pun lalu tertawa dan menatapku geli. Sepertinya dia sedikit gila, mengapa juga di Pondokkan. Oh yah! Benar saja. Mungkin orang tuanya tidak kuat mengasuhnya karena tingkah lakunya yang super aneh ini. Gumamku menggerutu.
"Aku baru tau ada santri wati seperti kau. Haha!" Ejeknya menudingku, sembari tertawa geli.
"Apaan si, gak jelas banget loh. Pergi sana, pergi. Pergi!" Teriakku sembari mendorongnya keluar pintu aula.
Benar, dia mungkin sedang bermood aneh. Aku hanya menjawabnya dengan ejekkannya. Mengapa dia tertawa geli seperti itu, bukankah itu aneh? Aku benar-benar kesal hari ini. Sambutan yang penuh dengan kejengkelan yang hakiki begini.
Ustadzah pun sama sekali tidak memberi tahuku, mengapa orang tuaku sampai sekarang ini belum menjemputku. Setidaknya mereka menelfon lewat telefon Pondok ini dan memberikkan alasan yang tepat, karna terlambat menjemput.
__ADS_1