
"Katakan padaku Anton, apakah kau membenciku? Aku sampai sekarang masih sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya. Setelah aku mendengar bahwa kau akan melamar mery, hatiku serasa terpukul," ujar Ara menggenggam kedua lengan Anton.
Ara menatapnya dengan penuh harapan agar ia bisa kembali lagi dipelukannya. Tapi keyakinan hatinya Anton untuk memantapkan diri menikahi mery adalah tujuan sejak ia mengenal apa arti cinta yang sebenarnya.
"Tidak, aku tidak bisa kembali lagi seperti dulu. Aku sudah mencintai Mery. Aku tidak mungkin mengkhianatinya," katanya mengibas tangan Ara dilengannya.
Setelah Anton mengungkapkan apa yang seharusnya ia katakan pada Ara, Anton meninggalkan Ara sendirian di lantai bawah. Ara terdiam memaku sembari menatap tubuh Anton yang semakin menjauh darinya.
"Anton!!! Aku bersumpah akan menghancurkan pernikahan kalian. Akan kupastikan kalian tidak akan bahagia selagi aku masih hidup! camkan itu Anton!" teriaknya sambil menangis meneteskan air matanya.
"Aku akan menunggu itu," ucap Anton dengan santai sembari melanjutkan perjalanannya naik anak tangga.
Aku tidak menyangka kau akan melakukan itu Ra, tapi apapun yang akan kau lakukan untuk menghancurkannya maka cintaku kepada mery semakin kuat. Karna itu adalah tantangan yang sebenarnya.
***
Suara adzan mulai berkumandang, waktunya Mery untuk bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Tetapi ketika ia masuk kedalam, mery melihat Indra bersama putrinya yang sedang mengajari anaknya menggambar.
Rasa sedikit canggung karna perasaan sebagai adik ipar yang lajang menjadikan diri Mery malu ketika berpapasan dengan Indra.
Sikap macam apa ini? Aduh~ Aku berharap mas Indra tidak melihatku lewat ya Allah. Gumam Mery sembari berjalan pelan dihadapan Indra.
"Mery?" sapa Indra dengan rasa sedikit heran.
"Eh, iya mas?" ucapnya terpatah.
"Engga jadi deh," katanya sedikit menahan senyum.
Mery melanjutkan jalannya dengan rasa sedikit bingung, disisi lain Tery memperhatikan tingkah laku sang adik yang merasa senang ketika teguran sapa dari sang suaminya itu. Ini tidak bisa dibiarkan, Mery harus cepat menikah dengan Anton. Gumamnya kesal.
Usai sholat maghrib, Umi pun menyiapkan makan malam bersama kedua putrinya Mery dan Tery. Mereka melakukannya layaknya satu keluarga tanpa ada selisih permusuhan.
__ADS_1
"Waktunya makan malam~" suara umi menggema di seluruh ruangan.
"Yey asyikk ..."
Indra dan Adelia berjalan menuju meja makan Tery menyiapkan satu buah piring untuk sang suami dan menyiapkan nasi dipiringnya. Mery memperhatikan sang kakak yang melayani suaminya dengan baik, tapi raut wajah Indra memasang pandangannya dengan biasa-biasa saja.
"Aku mau duduk bersampingan sama tante Mery, bolehkan Yah?" kata Adelia langsung mendekati Mery.
Indra menatap wajah Mery dan mery membalasnya dengan anggukkan tersenyum, Tery semakin kesal dibuatnya ia mengira bahwa sang adik sedang menggoda suaminya dengan merayu sang putri kecilnya.
"Adelia, sini duduk sama Ibu aja ya, Nak. Biarkan tante Mery menikmati makan malamnya. Kamu jangan ganggu," kata Tery menekan bahu Adelia sedikit mengeras.
Adelia terkejut, ia mengerti apa yang dimaksud sang Ibu untuk tidak terlalu dekat dengan tantenya. Apalagi kendala ibu dan ayahnya selalu berantem dikala tidak ada nenek dan kakeknya.
"Baik bu ..."
"Lho, kenapa mbak? Mery makan terakhir juga gak papa kok. Kasian adelia pengen sama Aku."
"Gak usah, kamu makan aja makananmu."
"Oh iya Dek, kapan Anton melamar kamu? Sudah disiapin semuanya?" tanya Tery menengahi.
Uhuk ... uhuk...
Mendengar Mery akan dilamar oleh Anton, indra seketika terkejut dan langsung tersendak oleh makanannya. Ia batuk karena terkejut bahwa wanita yang disukainya akan menjadi milik orang lain.
Tery sudah menduganya bahwa Indra akan terkejut seperti itu, ia sengaja bertanya demikian supaya indra tau bahwa wanita yang disukainya sejak dulu akan menikahi pria lain. Dengan begitu Tery tidak perlu repot untuk mencemaskan keadaan.
"Benarkah Mery akan dilamar dengan Anton?" tanya Indra memastikan, menggenggam erat sendok yang ia pegang. Ya Allah, apakah ini sebuah pengakhiran? Mery katakan tidak Mer, plis katakan tidak. Gumam Indra menggertak giginya.
"Iya mas, Anton akan melamar Mery besok lusa. Tapi Mery tidak tau pasti jamnya kapan," jawab Mery tersenyum senang.
__ADS_1
Indra seketika langsung lemas, ia menyenderkan tubuhnya dikursi. Tatapan matanya seketika berkaca-kaca menahan air matanya.
"Ayah kenapa?" tanya Adelia menggenggam pahanya.
"Ah, tidak nak. Ayah cuma ikut senang mendengarnya," ujar Indra memastikan dirinya tidak mengungkapkan yang semestinya.
Abi hanya terdiam menatap percakapan kedua putrinya yang sedari tadi memanas walau hanya ucapan yang simple dan perkataan yang berhati-hati. Tetapi ia juga menyadari bahwa Indra pasti merasa sakit hati karena Mery akan menikah dengan Anton. Lebih baik seperti ini, mery menikah akan membuat Indra melupakan sepenuhnya. Gumam Abi sambil melanjutkan makanannya.
***
Kring... kring...
Dering telepon bunyi diponsel Anton, menandakan mendapatkan panggilan luar. Anton tertidur pulas dikamarnya sedangkan ponselnya ada disampingnya.
"Aduh, siapa sih?" gerutu Anton mengucek kedua matanya sambil mencari letak ponselnya.
Bip ....
Halo... Anton, anton tolong cepat datang kesini, Ara demam tinggi ... Suara ditelepon Anton, ia pun langsung melotot terkejut dan bangkit dari kasurnya, mencari kunci mobil untuk segera pergi ke rumah Ara.
Ia khawatir dengan keadaan Ara, selepas pulang dari rumahnya. Hujan deras mengguyur seisi kota Jakarta sedangkan Ara pulang tanpa membawa kendaraannya.
Aduh, bodohnya Aku kemarin suruh dia pulang dalam keadaan hujan deras begitu. Dia kan tidak tahan dingin, itu sebabnya dia sakitkan? Gumam Anton langsung turun tangga dan berjalan menuju garasi.
"Kak, kamu mau kemana? Wilky ikut!" sapa Wilky langsung mengejarnya.
"Kamu mau kemana? pagi buta udah rapih begitu?" tanya Anton menyalakan mobil.
"Mau pergi sama temen, hehhe hari ini kan libur jadi aku mau full hangout bareng temen," jawabnya sambil menyengir, "Lah, kakak sendiri mau kemana? pagi buta gini, belum mandi pula udah pergi aja?" lanjutnya.
"Rahasia ... Anak kecil gak boleh tau," kata Anton sedikit menunjukan senyumannya.
__ADS_1
Anton pun langsung menginjakkan gasnya dan pergi bersama Wilky, setelah di depan perjalanan beda arah. Wilky turun dari mobil Anton dan ia pun tanpa membuka jendela kacanya langsung pergi begitu saja meninggalkan sang adik di halte bus.
"Iishh ... Aneh banget sih punya kakak laki-laki. Kalau ada apa-apa susah ditebaknya," gerutu Wilky sambil menatap jauh mobil sang kakak.