
****
Rumah sakit ...
Abi sedang keluar mencari makan siang, umi juga mengikuti abi mencari makanan yang cocok dengan selera mereka. Hampir empat hari mereka tidak pulang, empat hari juga mery hanya mendapatkan kabar dari rumah sakit sekali. Indra masih menunggu tery siuman dari masa kritisnya. Kini dokter membiarkan mereka untuk menjenguknya. Namun, dengan cara bergantian. Hanya satu orang saja yang diperbolehkan untuk masuk ke ruang ICU.
"Kapan kamu akan sadar? Terbaring di rumah sakit berhari-hari? Apakah kamu tidak merindukan anak kita? Adelia sudah menunggu lama kamu di rumah. Bagaimana kamu bisa tega meninggalkan dia sendirian. Tery aku mohon cepatlah siuman." Indra menggenggam tangan tery begitu erat, air matanya hampir tumpah di pipinya.
Tiba saja salah satu orang masuk tanpa mengetuk pintu. Siapa lagi kalau bukan suster ara yang selalu mengecek keadaan tery dalam masa kritisnya. Berharap indra tidak salah sangka padanya dan bisa menyembuhkan tery lebih cepat. Belum di pastikan bahwa tery akan terbangun, karena tery tidak memberikan tanda-tanda pada dokter bahwa dia telah sembuh dari masa kritisnya.
"Indra, aku minta tolong kau keluar sebentar. Aku akan mengganti perban di kepalanya tery dan memeriksanya sebentar," ucap ara menepuk pundak indra dengan pelan, indra menoleh sebentar dan akhirnya ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar.
"Tolong, sembuhkan istriku ra," ucap indra sedih.
Ara mengangguk seraya mengiyakan permohonannya. Indra tidak tahu kelakuan jahat seperti ara itu. Ia hanya tahu ara menjadi suster handal bagi para dokter, tapi kebenarannya tidak seperti itu. Dokter itu bekerja sama dengan ara, ia menyuapi dokter itu dengan uang jutaan dan mengancam keluarga dokter tersebut. Awalnya menolak, tapi ketika ara mengancam istrinya yang sedang hamil anak ke tiga. Dokter itu langsung setuju padanya, kebetulan pemilik rumah sakit itu ialah ayahnya.
"Tery bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kamu sudah merasakan obatnya? Tentu tidak bukan? Kali ini aku akan memberikanmu sekali lagi dan kamu akan merasakannya bagaimana reaksi obat ini dengan menyentuh jantung dan organ tubuhmu yang lain~" hina ara, ia kemudian mengambil suntikan dan menyuntiknya pada infus yang sedang di pakai oleh tery.
Tery seketika menggerakan jarinya dengan pelan, menandakan bahwa dirinya telah siuman. Namun, ara terlanjut mencampuri obat pada infusnya. Tery seketika merasakan kejang-kejang dalam waktu satu menit. Ara hanya terduduk manis menatap tery yang sedang menderita. Bahkan sesekali ara tersenyum, rasa kebencian terhadap mery dan keluarganya sungguh membesar. Hanya karena Anton bisa balik ke pelukkannya ara menyakiti orang yang pernah bersamanya.
Kejang tery terhenti, jarinya tak lagi bergerak. Namun, napas tery masih normal seperti biasanya. Ara tersenyum dan tertawa senang. Kemudian ara membuka perban yang ada di kepalanya, membuka perlahan dan akhirnya telah terlihat luka bagian di kepalanya. Ara hanya membuang bekas perban. Namun, ara tidak membersihkan luka dan memberikan obat pada luka tery. Ia hanya membuang dan membungkus kembali luka itu. Tidak ada satu suster yang lainnya masuk ke kamar tery selain dokter yang bekerja sama dengan ara begitu juga dengan ara sendirinya.
"Oke selesai, aku sudah membantumu kakak tersayangnya mery. Sekarang giliran kamu membantuku. Membantu untuk lenyap di kehidupan mery dan mery akan merasa sangat bersalah padamu dan menikahi suamimu, penggantimu~" Ara membisikkan ucapannya kepada tery namun tidak ada respon sedikit pun padanya. Ara keluar beserta membawa alat medisnya.
"Kau sudah selesai memeriksanya?" tanya indra ketika melihat ara keluar dari kamar mery.
"Iya, aku permisi dulu. Masih banyak pasien yang harus kutangani. Kamu bersabarlah. Tery akan baik-baik saja nantinya," ucap ara tersenyum. Yah ... Nanti di surga. Gumam ara dalam hatinya. Ia kemudian pamit pada indra dan meninggalkannya.
****
"Eng... Pak, kok belum sampai si?" tanya dev gelisah.
__ADS_1
"Sabar Mas, ini masih macet. Lagian mau ke mana mas dari tadi muter-muter terus ya?" tanya balik sopir menatap dev dari kaca spionnya.
"Mau ke teman. Tau alamat ini?" sodor dev memberikan alamat rumah mery. Sopir itu menggeleng seraya tidak percaya dengan dev. Alamat yang sedang di tuju sudah di depan mata. Untungnya sang sopir menanyakan tujuannya. "Mas, alamat ini mah di daerah sini. Noh, di sono noh ... Yang ada gang kecil. Masuk aja, trus tanya tetangga sekitar alamat itu. Saya juga orang sini mas," jelas sang sopir tersenyum lebar.
"Kenapa gak dari tadi, Pak?" kesal dev mendesah.
"Masnya aja yang gak bilang, heh."
Dev langsung membayar dan berusaha turun dari mobil di tengah kemacetan jalan besar, ia harus menyeberang beberapa langkah dari mobil dan kendaraan bermotor. Banyak orang yang meneriakinya, tetangga yang melihat pun berlari memanggil dev dengan sebutan 'Woi!', dev tidak perduli, ia masih melanjutkan jalannya ketika hampir berbelok masuk ke gang kecil.
"Mas, mas! Kalau mau nyeberang jangan begitu mas. Takut jadi kena korban selanjutnya." Salah satu seorang wanita tua menggendong anaknya berusia sekitar 2 tahun. Ia menarik lengan dev ketika sedang berjalan. Dev menoleh, ia merasa bingung apa yang di maksudnya.
"Ajal ada di tangan Allah, kenapa harus takut?" ucap dev langsung meninggalkan wanita tua itu. Orang pun menatap dev dengan begitu egoisnya dev berkata demikian. Mereka saling bertatap muka lalu mengabaikannya kembali.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya dev sampai di depan rumah mery. Terlihat sederhana, tidak besar maupun kecil. Dev tersenyum setelah berbagai ujian telah ia lewati dari bertemunya anton, sopir dan beberapa ibu-ibu menatapnya. Ketika dev berusaha untuk menanyakan alamat mery seketika wajah mereka langsung berubah dan menjawab sadis.
Dev mulai melangkahkan kakinya menuju teras, dev menaruh koper berwarna hitam itu di atas kursi depan rumahnya. Dev mulai mengetuk pintu rumah namun seketika daun pintu itu terbuka sendiri, terlihat anak kecil telah membukanya terlebih dulu. Siapa lagi kalau bukan Adelia.
Dev hanya terbengong berdiam diri di depan pintu. Dandanan pakaian keren wajah yang tampan, tinggi badannya. Tapi sangat di sayangkan, di mata adelia dev di pandang sebagai pengemis yang meminta uang untuk makan. Seketika pintu itu terbuka lagi, kini terlihat lebih lebar dari sebelumnya. Dev bisa melihat dalam rumah mery.
"Om, eh ... Ini beras satu kilo dan uangnya lima ratus perak. Adelia cuma punya ini. Tadi tante kasih beras, katanya untuk makan, di terima ya Om," kata adelia tersenyum menyodorkan beras dan uang miliknya. Dev hanya menatap adelia dengan tatapan kosong. Dalam hati dev berkata, "ganteng-ganteng di bilang pengemis sama anak kecil? Gengsi dong!"
Adelia diam seketika, ia merasa bahwa orang yang ada di depan matanya berusaha untuk menggoda sang tantenya. Adelia mencoba untuk menghalangi dev untuk masuk ke rumahnya.
"Teman kecil, tolong panggilkan pemilik rumah ini ya?" ujar dev tersenyum paksa.
"Gak, om siapa?" ketus adelia langsung mengecilkan daun pintu yang terbuka lebar.
"Om teman pemikik rumah ini anak kecil," ucap dev kini sedikit kesal, kebetulan dev sama sekali tidak suka dengan anak kecil. Bagi dirinya anak kecil akan sangat merepotkan.
"Pergi sana. Ini bawa berasnya. Adelia sibuk sama tante," ucap adelia langsung menaruh berasnya di lantai. Dev semakin kesal dibuat oleh anak kec itu. Akhirnya dev langsung menggendong adelia dan menaruhnya di punggung yang besar itu. Adelia berteriak meminta tolong kepada mery. Mery yang mendengar teriakan adelia langsung lari dari dapur dengan keadaan masih menggunakan celemek di tubuhnya.
__ADS_1
"Adelia kau kena ... Aduh!" teriak mery menabrak dev yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah. Mery berpapasan dengannya ketika mery terburu-buru tanp melihat jalan ke depan.
"Mery?" tanya dev langsung melemparkan adelia ke sofa panjang di ruang tamu. Adelia merasa sangat jengkel dengan dev.
"Si ... Siapa kamu? Kenapa main masuk ke ru... Rumahku? Dan kenapa kamu tau namaku, hah?" gugup mery mengangkat tangannya yang sedang memegang serokan untuk memasak. Mata mery terbelalak melotot ketakutan.
"Heh cindil, ini aku! Dev, kau gak ingat aku? Temanmu ini dari bayi," ucap dev menonyol kening mery.
"Cindil kau bilang? Aku sudah besar bukan cindil lagi, dasar jakung!" kesal mery meronta-ronta. "Ngomong-ngomong, benarkah kau dev? Teman sewaktu aku kecil? Kenapa sekarang kau banyak berubah?" lanjutnya.
"Ah, benar kan dugaanku. Kau akan melupakanku selepas sekolah smp. Jahat sekali kau mer, btw ini anak siapa si? Dari tadi dia kira aku pengemis lho," gerutu dev melirik adelia yang sedang menyimak pembicaraan mereka dengan bersedekap kesal.
"Apa? Kau di anggap pengemis? Hahaha," ejek mery menertawakan dev. "Adelia tidak akan mengenalmu, karena dia baru melihatmu, jakung!"
Dev tersenyum membalas ejekan mery, "hei, kau gak lihat apa? Ketampananku bertambah, tinggi badanku juga. Tapi aku lihat kau tidak ada bedanya. Masih cindil indil... indil..." ejeknya meledek menjulurkan lidahnya.
Mery kesal, ia pun tidak tahan dengan ejekannya. Mery langsung mengangkat alat masak yang ada di genggamannya dan ingin memukulnya dengan sangat keras. Persahabatan mereka masih seperti dulu, saling mengejek namun tetap tidak memiliki rasa dendam sama sekali.
"Pertanyaanku belum di jawab tadi," ujar dev melirik ke arah adelia.
"Oh, dia keponakanku. Namanya adelia, anak mbak tery." Mery tersenyum dan berjalan menuju ke arah adelia. Adelia menjulurkan tangannya meminta agar mery menggendong dalam pelukkannya. Wajah mery seketika terdiam dan terlihat sedih. Mendadak ingatan tentang sang kakak kembali lagi. Mery masih menunggu kabar dari orang-orang yang ada di rumah sakit. Mery menggendong adelia lalu berjalan menuju ke kamar.
Mery menyuruh adelia untuk tetap di kamarnya sebelum mery membuka pintu untuknya, adelia menurut dan mengangguk paham. Dev dan mery berlanjut menceritakan kejadian dari awal pertemuan mereka dengan indra sampai mery hilang ingatan, bertemu dengan anton, belajar di luar negeri, sampai di titik tery mengalami kecelakaan. Dev hanya terdiam memaku sambil mendengar cerita dari mery, air matanya pun tumpah ruah di pipinya. Dev merasa sangat kasihan terhadap mery. Hidupnya menderita, kebahagiaan tidak menyapanya. Dev sangat kesal dengan abi dan umi mery. Mereka begitu hanya peduli terhadap tery, namun tidak pada mery. Rasa kekesalannya begitu meronta di lubuk dev, dia berpikir jika saja dev datang lebih awal mungkin kejadiannya tidak seperti ini.
"Bagaimana kamu bisa bertahan seperti ini, mer? Kau bodoh kah? Sejauh yang aku kenal tentang kamu adalah kamu cerdas, kamu pintar. Kenapa kamu jadi lemah seperti ini?" tegas dev langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia kesal melihat sahabat lamanya menjadi seperti kukang.
"Aku hanya berusaha untuk mematuhi perintah orang tuaku, dev. Mau bagaimanapu. Mereka aku harus tetap berusaha mematuhinya. Aku juga tidak mau seperti ini dev, tolong aku ... Bawalah aku pergi dari Jakarta. Kumohon!" Mery menangis mengisak-isak, ia bingung harus bagaimana melihat kondisinya yang seperti ini. Mery berharap tery cepat sadar dari masa kritisnya dan bisa kembali menjaga adelia dengan baik seperti dulunya.
"Tenanglah... Tenang, aku akan membantumu tentang masalah ini. Aku yakin kau bisa melewati semua ini. Tidak akan ada masalah jika tidak ada solusi. Setelah masaah di sini selesai. Aku akan membawamu pulang ke Jogja. Kita lakukan selayaknya dulu kita masih kecil."
Dev berusaha menenangkan hati mery. Mery mendongakkan wajahnya menatap dev yang begitu peduli terhadapnya. Mery merasa terlindungi ketika dev datang di kehidupannya. Setelah cerita yang begitu ngeri untuk di ucapkan bagi mery akhirnya terselesaikan juga. Mery mengusap air matanya dengan wajah tersenyum.
__ADS_1
"Oh ya, dev. Aku masak banyak hari ini. Apakah kau mau makan? Atau kau mau istirahat dulu?" mery menawarkan masakan buatannya sambil bangkit dari tempat duduk dengan wajah yang terlihat senang menyambut kedatangan dev.