Antara Aku & Kakak

Antara Aku & Kakak
bab 26


__ADS_3

Masih menunggu kabar dari Indra yang mengejar Kak Tery. Entah mereka sudah bertemu atau belum, sudah berbicara atau belum, sudah memastikannya atau belum.


Kenapa Aku begitu peduli dengan urusan mereka? Mereka bukannya hanya teman ya. Aneh sekali jika Kak Tery marah hanya karena teman cowonya dekat denganku.


Seketika Umi membuka pintu kamar dan menghampiriku yang masih terbaring di atas ranjang. Aku tersenyum sembari menahan sakit di bagian kepala.


"Ada apa Umi? Kok kelihatan murung" Kataku mengernyitkan alis.


"Dek, sebenere koe nang opo toh. Kok iso kaya kiye? Umi khawatir lho Nduk!" Jawab Umi sembari duduk di sampingku berbaring.


"Lho? Umi malah takon adek Mi? Kan Umi yang paling paham Adekkan" Jawabku datar.


Umi tertegun sama persis ekspresi saat Abi mendengar jawabanku tadi pagi. Ia masih menatapku lamat-lamat sambil mengelus kepalaku.


Aku mulai merasa sangat sakit di bagian belakang kepala. Aku seperti tertidur di atas batu. Kepalaku terasa sangat keras, tapi Aku mencoba untuk menahan rasa sakitnya di hadapan Umi.


Aku mulai membalikkan pembicaraanku dengannya, dari pada membahas soal yang sama sekali Aku tidak mengerti justru mereka bertanya padaku soal-yang membingungkan.


"Umi, sebenarnya Kak Tery sama Indra itu temenan kan? Kok Kak Tery kaya kelihatan kesel sih klo Indra deket sama Aku."


Aku menatap Umi sangat lama dan ingin mengetahui yang sebenarnya. Tetapi Umi justru terlihat bingung, wajahnya datar saat Aku bertanya tentang hubungan mereka.


"Kamu lupa?" Tanya Umi.


Lalu Aku masih berpikir dari kata "Lupa" Apa maksudnya? Bukannya kata Ustadzah itu saya amnesia dan mereka sudah tahu yah. Kok Umi justru bertanya Aku lupa? Gumamku membatin.


Akhirnya Aku mengambil keputusan untuk mengetahui jawabannya. Aku akan berpura-pura melupakan semua itu, dan mulai mencari tahu jati diri Kak Tery sesaat Aku ada di Pondok.


Aku-pun langsung menganggukkan kepala seolah-olah Aku lupa tentang itu. Tapi memang pada dasarnya Aku juga sudah lupa-kan? Haha, aneh memang.


"Ya Ampun dek, indra sama Kak Tery kan minggu depan mau menikah. Tapi mereka sedang bertengkar semenjak kedatangan Adek di rumah. Kak Tery cemburu sama kamu nduk." Jawab Umi berseru.


What? Menikah! Sejak kapan. Sejak kapan Kak Tery menyembunyikan kabar gembira ini, kenapa dia tidak memberi tahuku.


Oh! Yah, aku ingat. Terakhir hari itu Abi dan Kak Tery datang ke Pondok. Dan mereka membicarakan yang tidak Aku pahami. Tapi kenapa Aku melupakan pembicaraan itu?


"Sejak kapan mereka hubungan mi?" Kataku menyelidik.


"Sejak pertemuan pertama mereka dek, pas waktu di rumahnya Om Jaya. Kan kamu juga ikut pas itu" Jelas Umi sembari tersenyum.

__ADS_1


Ikut! Ikut kemana Aku. Kapan Aku di ajak? Segini banyaknya-kah memori ku yang hilang. Bagaimana bisa Aku melupakan hari terpenting Kak Tery.


Aku hanya melupakan bagian yang berkaitan dengannya. Apa ini? Menyebalkan sekali jika Aku melupakan semua tentangnya, aku bisa-bisa di kutuk oleh Kakakku sendiri.


"Terus Umi, .." Kataku kepentok sama Suara Abi yang tiba-tiba muncul di kamarku.


"Lah. Opo seh dek. Koe koh kepo sing wes koe ngerti." Ujarnya sambil bersender di tembok kamarku.


Umi tersenyum menatapku dan sekilas menatap Abi. Abi kali ini adalah pengganggu obrolanku dengan Umi. Jelas saja, dimana Aku membutuhkan info, Abi malah datang dan bilang begitu saja.


"Oh iyo! Koe dino iki ulang tahun tah dek. Sing kepiro saikine?" Umi berseru menggenggam lenganku.


Aku hampir saja kaget setengah mati di buatnya, seketika Abi tertawa melihat wajahku yang spontan dengan ekspresiku tertegun. Umi pun langsung tertawa dengan ekspresiku.


Seketika itu juga, kak Tery langsung masuk saja di kamar tanpa mengetuk pintu. Nafasnya terpatah-patah seperti sedang di kejar oleh anjing liar.


"Ada apa Mbak?" Tanya Abi mulai cemas.


"Eng.. Enggak papa Bi. Hehe" Jawabnya gugup.


Tok. tok. tok..!!!


Permintaan maaf itu terdengar seperti suara Indra yang sedang berusaha membujuk Kak Tery. Ada apa lagi dengan mereka yah? Pikirku melintas seketika.


"Tery jangan gitu. Buka pintunya, kasian Indra" Ujar Umi mulai menenangkan Kak Tery.


Kak Tery sontak langsung terdiam dan membungkukkan kepalanya. Dia mulai membuka pintu kamar sembari menggigit bibirnya.


Cetak!


Suara kunci pintu terbuka, kak Tery mulai menarik pintu itu perlahan. Separuh tubuh Indra pun mulai terlihat. Kenapa berbagai masalah ada di kamar sih? Emangnya tidak ada ruangan lain yah. Batinku protes.


"Sudah mending Mery keluar aja. Kali aja Kak Tery pengen di kamar. Ayo Umi bantu Adek." Ajakku menggenggam tangan Umi yang masih duduk di sampingku.


Suasana terlihat canggung, kak Tery terdiam membungkuk dan Indra menatapku dengan rasa bersalah. Abi mencemaskan keadaan Kak Tery.


Aku pun mulai membujuk mereka untuk menceritakan dengan baik-baik. Bukan seperti anak kecil yang berantem lalu baikkan lagi dan berantem lagi.


Aku tau mereka sudah dewasa, justru itu masalah berbagai macam harus di bicarakan dengan seksama. Bukan seperti kucing dengan tikus.

__ADS_1


Begitu juga denganku, urusan mereka adalah tanggung jawab mereka. Mereka tidak mesti dan bahkan tidak membutuhkan Aku untuk menganyomi permasalahan mereka-kan?


Jadi Aku hanya inisiatif untuk memberikan kesempatan kepada mereka dan membicarakan permasalahan mereka. Kak Tery sudah dewasa, indra pun sama. Mereka tau apa yang terbaik untuk mereka.


Aku berusaha turun dari ranjang dan menarik tangan Umi dan Abi untuk keluar bersamaku. Mereka butuh ruang untuk menceritakan masalahnya.


Saat Aku mulai meninggalkan kamar, baru saja di depan pintu. Kak Tery langsung menarikku dan tetap ada di dalam kamar ini.


"Jangan! Bantu Aku yah" Ujarnya memohon.


"Tapi Tery! Dia.." Kata Indra terpotong.


"Cukup! Aku tau apa yang Aku lakukan." Katanya kesal.


Fiks. Aku di situ sebagai nyamuk. Umi dan Abi justru keluar lebih dulu di banding Aku. Mereka malah meninggalkan Aku saat Aku di tahan oleh Kak Tery. Firasatku mengatakan bahwa Aku harus kabur.


Tapi sayang, Aku sedang ada di genggam tangannya Kak Tery dan di sisi lain kepalaku juga masih terasa sakit.


Semoga saja perdebatan antar-mereka tidak menimbulkan sakit kepalaku tambah parah. Aku berharap semoga antar pasangan ini cepat kelar, tapi kenapa Aku suka menatap Indra yah?


"Katakan sekarang di hadapanku dan juga adikku!" Kata Kak Tery terlihat sinis dan sangat marah.


Wajahnya memerah seperti udang rebus, bibirnya gemetar seperti orang kedinginan di kutub. Aku menatap bolak-balik wajah mereka karena posisiku juga ada di tengah-tengah.


Indra langsung tertegun dengan perkataan Kak Tery barusan, dan ia pun menghembuskan nafas panjang. Memang ada apa denganku? Kenapa masalah mereka menimpahkan ke Aku juga.


"Ak. Aku.. Aku menyukaimu!" Ucap Indra pelan.


Deg! Jantungku serasa berhenti begitu juga dengan waktunya. Suasana mulai sangat hening. Aku sakit, hatiku sakit. Apa ini? Apa barusan Indra mengatakan sesuatu?


.


Halo! Maaf baru bisa Updte sekarang. Author mulai sibuk😵 pening palaku kalo lihat kerjaan menumpuk.


#Sabar yah, kalau menunggu Update.


Baca cerita Author lainnya :


PSK Jatuh Cinta (New)

__ADS_1


2 episode


__ADS_2