
Rumah...
Selesai makan malam, akhirnya Umi bergegas membereskan tempat di meja makan begitu pula dapur. Dengan gesitnya tidak sampai 15 menit pun selesai terkendali.
Perut sudah terisi penuh dengan makanan, mereka berdua berjalan ke ruang tv. Di meja terletak buah anggur begitu juga jeruk yang disediakan untuk camilan selama menonton tv.
"Bi, gak pergi tidur?" tanya Umi berdiri di samping sofa.
"Enggak Mi, kan baru makan tadi."
"Iya sudah. Umi pergi ke kamar yah, besok Umi mau ke pengajian terdekat sini," ujarnya sembari meninggalkan tempat.
Abi menatap diam, ia pun tiba-tiba teringat dengan putri bungsunya Mery yang selalu seperti Uminya. Mery lebih menyukai tempat pengajian ditimbang bermain yang tidak ada faedahnya bagi Mery.
Setelah mendengar Umi mengatakan hal tersebut, sosok Mery yang sangat dirindukan oleh kedua orang tuanya ini selalu ada dalam pikirannya. Manja yang sewaktu kecil itu membuatnya benar-benar rindu yang membatu.
Nak, bagaimana keadaanmu sekarang. Abi kangen...
Tok.. Tok.. Tok..
"Assalamualaikum."
Suaranya nyaring terdengar di ruang tv. Abi yang sedang memikirkan Mery seketika buyar dalam halusinasinya. Ia pun pergi untuk membuka pintu.
__ADS_1
Siapa malam-malam gini bertamu? Dalam hati Abi bertanya, Abi langsung bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu. Namun, di tengah jalan ia langsung bertolak pikiran. Abi berjalan menuju jendela kaca, ia lebih memilih untuk mengintip dahulu siapakah orang yang sedang bertamu itu.
Srakk...
"Ya Allah," terkejut Abi langsung menutup gorden bergegas mencari kunci dan membuka pintu.
Cetak!
"Assalamualaikum Bi, apa kabar? Umi dimana?" tanya sosok paruh baya sembari membawa tas gendongnya.
"Tery? Ini kamu nak?" tanya Abi langsung menyambut hangat dan memeluknya.
"Haha, Abi kira siapa? Sama anak sendiri kok lupa?" ledek Tery membalas pelukkannya.
Tery pun langsung masuk menginjakkan kakinya. Selama Mery pergi ke Korea 2 tahun kemudian, Tery meminta Indra untuk membuat rumah di Bali. Pada akhirnya 1 tahun, mereka bisa menempati rumahnya disana.
Sudah hampir 3 tahun Tery tidak pulang ke rumah untuk mengunjungi orang tuanya. Di malam yang sama dengan kepulangannya Mery. Tery bahkan lebih tiba dulu di rumahnya.
***
Mery terjebak macet di jalan tol. Mereka bertiga bukannya kesal karena terjebak kemacetan justru mereka tertawa bercanda selama di dalam mobil. Mery bahkan tidak seperti biasanya gampang terpengaruh dalam candaan yang di buat oleh Anton.
"Haha, coba sekali lagi nih tebak ya. Kenapa komputer butuh mouse?"
__ADS_1
"Ha, kak bisa gak sih lebih gampang?" ketus Wilky kesal.
"Ah, mungkin klo gak pakai mouse gak enak buat gerak-gerak," jawab Mery asal menebak.
"Salah.. Haha bodoh kalian semua. Gitu aja gak bisa!" ujar Anton dengan bangganya.
"Coba, jawabannya apa?" tanya Wilky penasaran.
"Karena kalau pakai elephen terlalu besar buat dipegang, hahaha..," tawa Anton semakin menjadi-jadi sampai wajah pun kemerahan.
"Hah? Wah peak. Gak jelas lu Kak," kesal Wilky meledak.
Mery tertawa terbahak-bahak dengan permainan Anton yang mengada-ngada. Jelas dari wajah cantiknya, Anton tersenyum-senyum sendiri melihat Mery begitu bahagia dan tersenyum lama.
Mereka berdua sama-sama egois, Mery tahu bahwa Anton menyukainya sejak lama. Namun, dirinya bahkan bingung jikalau Anton angkat bicara soal perasaannya. Mery tidak ingin antar-hubungannya renggang hanya karena kecanggungannya. Oleh sebab itu Mery lebih memilih untuk berpura-pura tidak menyadari akan hadirnya cinta dari Anton.
"Mer, udah jam 9 malam nih. Habis ini makan dulu yuk?" kata Wilky.
"Hmm, boleh."
Wilky menatap Anton lamat-lamat seolah-olah memberikan kode kepadanya. Awalnya Anton kebingungan tapi setelah Wilky mengedipkan mata, ia pun memahami akal dari sang adik.
DOWNLOAD NOVELTOON YUK KAK DAN GABUNG DI GROUP AUTHOR, ADA HADIAHNYA JUGA LHO...
__ADS_1